Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 3.
Di sisi lain istana.
Evelyn berdiri di depan jendela, hujan membasahi taman di luar. Ia memejamkan mata, lalu masuk ke ruang ajaib. Hamparan hijau itu menyambutnya lagi, begitu tenang dan sunyi. Namun hari ini... ia merasakan sesuatu yang berbeda, seperti ada yang memanggilnya lebih dalam.
Evelyn berjalan melewati rumah kayu, langkahnya berhenti di depan bagian yang sebelumnya tidak ada. Sebuah pintu kecil dan tertutup.
Ia mengernyit. “Aku tidak melihat ini sebelumnya…”
Tangannya menyentuh gagang pintu, saat dibuka angin dingin langsung menyapu wajahnya. Di dalamnya bukan lagi taman, melainkan ruangan batu. Gelap gulita dan di tengahnya ada sebuah meja. Di atas meja terdapat satu benda, pisau kecil berwarna hitam.
Evelyn mendekat, ada sesuatu yang aneh dari benda itu. Bukan sekadar senjata, tapi lebih seperti sebuah alat. Ia mengambilnya perlahan. Dan saat jari-jarinya menyentuh gagangnya, sebuah sensasi tajam menjalar ke seluruh tubuhnya.
Gambar-gambar muncul di kepalanya, darah dan pertempuran. Wanita berpakaian ratu berdiri di atas singgasana, matanya dingin. Tangannya... memegang pisau yang sama.
"Ruang ini bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk memilih siapa yang layak hidup!" Suara itu bergema.
Evelyn terengah-engah, ia membuka matanya. Tangannya masih menggenggam pisau itu. Namun sekarang ia mengerti, Ruang Ajaib ini bukan hanya tempat penyembuhan, tapi juga tempat kekuasaan. Dan kekuasaan, tidak pernah benar-benar bersih.
Senyum tipis muncul di wajahnya. “Baiklah. Kalau begitu… aku tidak akan ragu lagi.”
Di luar, hujan semakin deras. Dan di dalam istana, dua wanita mulai bergerak. Satu dengan senyum lembut, dan satunya lagi dengan tatapan dingin. Keduanya tahu, mulai hari ini… tidak ada lagi jalan mundur.
Pagi datang dengan kabut tipis. Istana terlihat tenang, seolah semua orang sedang menahan nafas mereka.
Evelyn duduk di depan meja rendah, di tangannya ada pisau hitam itu. Ia memutarnya perlahan, cahaya tidak memantul dari permukaannya tapi seperti menyerap segalanya.
“Yang Mulia…” Seorang kasim tua masuk. “Kabar dari luar, Selir Clara sakit mendadak.”
Evelyn tidak terkejut. “Gejalanya?”
“Pusing, muntah, dan tubuh melemah.”
Evelyn tersenyum tipis... racun.
Ia berdiri. “Siapkan aku.”
Tak lama kemudian, Evelyn memasuki paviliun Clara.
“Ratu datang!” Para pelayan panik melihatnya
Clara terbaring di ranjang, wajahnya pucat. Matanya setengah terbuka. Saat melihat Evelyn, ia langsung menangis.
“Yang Mulia… saya tidak bersalah…”
Evelyn duduk di sampingnya, menatap Selir Clara dengan wajah tenang. “Memang tidak.”
Semua orang terdiam.
Evelyn mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya, sebuah pil kecil dari ruang ajaib.
“Minum ini.”
Clara tampak ragu, tapi pada akhirnya ia menelan pil itu. Beberapa saat kemudian nafasnya mulai stabil, wajahnya perlahan mendapatkan warna.
Para pelayan terkejut.
“Yang Mulia… ini—”
Evelyn berdiri, tatapannya menyapu ruangan. “Siapa pun yang memberi racun ini… tidak akan berhenti sampai semua orang di istana ini mati!”
Semua orang langsung pucat, kata-kata itu bukan ancaman... itu peringatan.
Di luar paviliun, Sophia berdiri di kejauhan melihat semuanya. Senyumnya perlahan menghilang. “Dia… menyembuhkan racun itu?”
Tangannya mengepal pelan, itu bukan racun biasa. Tidak mungkin disembuhkan dengan mudah. Kecuali...
Mata Sophia menyipit. “Dia menyembunyikan sesuatu.”
Evelyn berjalan kembali ke istana utama. Namun pikirannya jauh, ia memikirkan tentang ruang ajaib. Tentang pisau dan tentang suara seseorang yang ia dengar di ruangan itu.
“Ruang ajaib ini... memilih pemiliknya. Kalau begitu, aku akan jadi pemilik terbaik yang pernah ada.”
Senyum dingin muncul. “Dan siapa pun yang menghalangi… tidak akan punya tempat untuk hidup.”
...*****...
Langit sore berwarna kelabu, awan menggantung rendah di atas istana seolah menahan hujan yang belum jatuh.
Evelyn sedang duduk di paviliunnya, membaca gulungan laporan yang diberikan kasim Bernard. Tentang pajak, tentang hasil panen dan juga tentang wilayah yang mulai kekurangan makanan.
Ia menghela napas pelan. “Kerajaan ini lebih rapuh dari yang terlihat…”
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar, seluruh pelayan langsung berlutut.
“Yang Mulia Raja datang!”
Evelyn tidak langsung menoleh, ia hanya menutup gulungan itu perlahan. Jari-jarinya rapi, gerakannya tenang. Seolah ia sudah menunggu, pintu terbuka.
Udara di ruangan berubah saat akhirnya pintu terbuka, seorang pria masuk dengan langkah pasti.
Raja Alexander Vale.
Jubah hitamnya menyapu lantai, wajahnya tampan namun terkesan dingin. Tatapannya tajam seperti pedang yang belum pernah berkarat. Ia berhenti beberapa langkah dari Evelyn, mengamati sang ratu tanpa berkata apa pun.
Evelyn akhirnya mengangkat wajah, tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik tidak ada suara, hanya dua orang yang saling mengukur.
Alexander menyipitkan mata sedikit. Wanita di depannya, benar-benar berbeda. Ia mengenal ratu ini sejak awal pernikahan. Pribadi wanita itu sangat lembut dan pendiam. Bahkan, tidak pernah berani menatapnya lama. Namun sekarang, wanita ini duduk dengan tenang. Tatapannya stabil, tak ada rasa takut. Dan, tidak ada keinginan untuk menyenangkannya seperti biasanya. Seolah, wanita itu... tidak lagi peduli padanya.
“Tubuhmu sudah pulih?” tanya Alexander akhirnya, suaranya terdengar datar.
Evelyn tersenyum tipis. “Belum sepenuhnya, Yang Mulia. Namun tampaknya… takdir belum ingin aku mati.”
Alexander menatap Evelyn lebih dalam, ada sesuatu dalam cara wanita itu bicara. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi mengandung makna lain.
“Takdir?” ulang Raja pelan.
Evelyn hanya mengangkat bahu ringan. “Bukankah menarik? Seseorang hampir mati… lalu bangun seolah diberi kesempatan kedua.”
Alexander melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hingga ia berdiri tepat di depan Evelyn.
“Kesempatan kedua… biasanya tidak datang tanpa alasan.” Ucap Raja.
Evelyn tidak mengalihkan pandangan, ia bahkan menatap balik sang Raja dengan tajam. “Benar.”
“Dan biasanya… digunakan dengan sangat hati-hati.” Senyum kecil muncul di sudut bibir Alexander. Bukan senyum hangat, lebih seperti seseorang yang menemukan teka-teki menarik.
“Pelayan yang kau hukum tadi pagi…” kata Raja pelan. “Kau cukup kejam.”
Evelyn menghela nafas pelan. “Jika aku tidak kejam… aku sudah mati sekarang.”
Jawaban itu cepat, tanpa keraguan.
Alexander mengamati wajah Evelyn, tidak ada kepura-puraan apalagi ketakutan. Seakan wanita ini benar-benar menerima kenyataan itu.
Ia duduk di kursi seberang Evelyn. “Banyak yang mengatakan... kau berubah.”
Evelyn tersenyum tipis. “Apakah Yang Mulia juga berpikir begitu?”
Alexander tidak langsung menjawab, ia menatap wajah Evelyn lama untuk mencari sesuatu. Mencari… jejak wanita yang dulu ia kenal. Namun, dia tidak menemukannya.
“Ya,” jawabnya akhirnya.
Evelyn tidak tersinggung, justru matanya sedikit menyipit. “Perubahan itu buruk?”
“Belum tentu.” Alexander bersandar, tatapannya tetap tajam. “Namun perubahan yang terlalu cepat… biasanya menyembunyikan sesuatu.”
Keheningan turun.
Kalimat Raja bukan sekadar komentar, itu tuduhan halus.
Evelyn tersenyum, kali ini lebih dalam. “Semua orang menyembunyikan sesuatu, Yang Mulia. Termasuk... Anda.”
Tatapan mata Alexander sedikit berubah.
Di luar, angin mulai berhembus lebih kencang. Tirai sutra bergerak pelan, suasana menjadi lebih dingin.
Alexander berdiri, berjalan perlahan mengelilingi meja lalu berhenti di belakang Evelyn. Cukup dekat hingga wanita itu bisa merasakan nafas Raja.
“Kalau begitu… apa yang kau sembunyikan?” Bisik Raja pelan.
Evelyn tidak bergerak, ia tetap duduk. Namun jari-jarinya perlahan menyentuh lengan bajunya, tempat di mana ia menyimpan benda dari ruang ajaib.
Senyum Evelyn muncul lagi. “Jika aku memberitahunya sekarang, bukankah permainan akan menjadi membosankan?”
Alexander terdiam, lalu ia tertawa kecil.
“Permainan, ya…” Suara rendah yang jarang terdengar.
Ia kembali berhadapan dengan Evelyn, tatapannya kali ini berbeda. Bukan hanya curiga, tapi juga ada sebuah ketertarikan. “Baiklah, Ratu. Kalau kau ingin bermain… aku akan ikut.”
Evelyn menatap Alexander tanpa gentar. “Kalau begitu… jangan kalah.”
Raja Alexander tersenyum dingin. “Hati-hati dengan siapa yang kau percayai, Ratu. Di istana ini… musuh tidak selalu terlihat.”
Beberapa saat kemudian, raja pergi.
Pintu tertutup.
Evelyn tetap duduk, tapi perlahan senyumnya menghilang. Tatapannya berubah dalam, ia tahu Raja bukan orang bodoh. Pria itu sudah mulai curiga, dan mungkin lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Evelyn berdiri, berjalan menuju jendela. Diluar, langit kembali menurunkan hujan.
“Semakin menarik…” gumamnya pelan.
Ia menutup mata.
Dan sejenak, masuk ke ruang ajaib. Angin hangat menyambutnya. Namun kali ini ia tidak merasa tenang, karena ia menyadari satu hal. Musuhnya, bukan hanya para selir. Tapi juga pria yang duduk di tahta tertinggi... Raja Alexander Vale.
Evelyn membuka matanya kembali, tatapannya dingin. “Kalau begitu… aku akan naik lebih tinggi.”
*
*
*
Bersambung.
Jangan lupa, Like komen ya 😍
tapi musuh Evelyn di dunia modern, juga musuh keluarga Evelyn di zaman kuno
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili