NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: UTANG 500 JUTA = HARGA DIRIKU

Namaku Siska. Umurku baru 20 tahun minggu lalu. Seharusnya di umur segini aku sibuk skripsi, nongkrong sama teman, atau pacaran kayak cewek normal lain. Tapi hidupku hancur dalam semalam. Semuanya gara-gara satu kata: UTANG.

Jam 3 pagi, pintu kamarku digedor kencang. Aku kebangun dengan jantung deg-degan. Ayah masuk dengan wajah pucat, mata merah, dan badan gemetaran. Dia langsung jatuh berlutut di depan kasurku.

"Siska... Nak... Maafin Ayah," suara ayah serak. Air matanya jatoh ke lantai. Seumur hidup, aku belum pernah lihat ayah senangis ini. Bahkan waktu ibu divonis kanker stadium 3 tahun lalu, ayah masih kuat. Tapi malam ini, dia hancur.

"Ada apa Yah? Ayah kenapa?" Aku pegang bahu ayah. Tangannya dingin banget kayak es.

Ayah angkat kepala pelan-pelan. "Ayah... Ayah punya utang 500 juta sama Tuan Arga. Bos di kantor. Pinjem buat biaya operasi ibumu tahun lalu, Nak. Ayah janji balikin 3 bulan. Tapi proyek ayah gagal total. Uangnya habis."

Darahku berdesir. 500 juta? Itu angka yang nggak pernah kebayang sama aku. Gaji ayah cuma 4 juta per bulan. Butuh 10 tahun lebih buat lunasin itu tanpa makan.

"Terus Yah? Tuan Arga nagih?" tanyaku lirih.

Ayah angguk. Tangisnya makin kencang. "Dia kasih waktu sampe besok jam 12 siang. Kalo nggak lunas, dia bakal laporin ayah ke polisi. Pasal penipuan, Nak. Ayah bisa masuk penjara 6 tahun."

Duniaku runtuh. Penjara? Kalau ayah dipenjara, siapa yang kerja? Siapa yang bayarin kemoterapi ibu tiap bulan? Ibu pasti mati mikirin ayah. Aku remas selimut kenceng-kenceng sampe tanganku putih.

"Terus... Terus kita gimana Yah?" Suaraku udah bergetar.

Ayah diam lama. Dia kayak nahan sesuatu yang susah banget diomongin. Setelah 5 menit, akhirnya dia buka suara dengan nada pelan banget, hampir berbisik.

"Tuan Arga... Dia ngasih satu jalan keluar, Nak." Ayah genggam tanganku erat. "Dia bilang... Dia mau lunasin semua utang ayah 500 juta. Anggap nggak pernah ada. Syaratnya cuma satu."

"Apa Yah?" Aku udah nebak. Firasatku nggak enak.

Ayah tutup mata. Air mata ngalir di pipinya yang keriput. "Kamu... Kamu harus nikah sama dia. Besok. Secara resmi di KUA."

Jantungku berhenti sedetik. Nikah? Sama Tuan Arga? Om-om umur 40 tahun yang jadi bos ayah? Yang punya istri meninggal 5 tahun lalu? Yang mukanya selalu datar kayak nggak punya perasaan?

"GILA YAH! AKU NGGAK MAU!" Aku lepasin tangan ayah. Aku mundur sampe punggungku mentok tembok. "Umur dia dua kali lipat umur aku! Aku bahkan nggak kenal dia! Ayah tega jual aku?!"

"AYAH NGGAK ADA PILIHAN LAIN, SISKA!" Ayah teriak. Pertama kali seumur hidup dia bentak aku. "Kamu mau lihat ayah busuk di penjara?! Kamu mau ibu mati karena nggak ada biaya berobat?! Kamu pikir ayah mau kayak gini?!"

Kami berdua diam. Cuma ada suara tangisan kami di kamar sempit itu. Dari kamar sebelah, kedengeran suara ibu batuk-batuk. Batuk kering khas penderita kanker paru. Setiap batuknya kayak nusuk jantungku.

Aku inget setahun lalu, waktu ibu pertama kali didiagnosis. Dokter bilang peluang hidup cuma 30% kalo nggak kemoterapi rutin. Biayanya 15 juta sebulan. Ayah jual motor, jual tanah warisan, pinjem ke semua saudara. Masih kurang. Jalan terakhir ayah ya pinjem ke bosnya: Tuan Arga Pratama.

Tuan Arga itu orangnya dingin. Kata temen-temen ayah di kantor, dia nggak pernah senyum sejak istrinya meninggal. Katanya meninggal kecelakaan. Tapi nggak ada yang berani nanya detail. Dia kaya raya, punya perusahaan properti, rumahnya segede istana di Pondok Indah. Tapi hidupnya kayak kuburan. Sepi.

Dan sekarang... aku harus jadi istrinya? Gantiin posisi almarhumah istrinya?

Aku lihat wajah ayah. Umur 50 tapi udah kayak 70. Rambutnya putih semua. Badannya kurus karena kurang gizi. Dia kerja rodi dari pagi sampe malem buat kami. Kalau dia masuk penjara... aku nggak sanggup bayangin.

Akhirnya, dengan dada sesak, aku angguk. Pelan. Sangat pelan. Air mataku jatoh tapi langsung aku apus kasar. "Iya Yah. Siska mau. Demi Ibu. Demi Ayah nggak masuk penjara."

Ayah langsung meluk aku kenceng. Bahunya guncang hebat. "Maafin Ayah, Nak. Maafin Ayah jadi ayah yang gagal. Ayah janji, kalo ada rezeki, ayah tebus kamu dari dia. Ayah kerja mati-matian."

Tapi aku tahu, itu janji kosong. 500 juta nggak bakal kebayar seumur hidup ayah. Artinya... aku bakal jadi istri Tuan Arga selamanya.

Besoknya jam 9 pagi, mobil hitam Tuan Arga udah nunggu di depan rumah kontrakan kami. Aku cuma bawa satu koper kecil isi 3 baju. Nggak ada acara lamaran. Nggak ada seserahan. Nggak ada tangisan haru. Cuma ada surat perjanjian di atas meja yang udah ditandatangani ayah semalem.

Di KUA, aku salaman sama Tuan Arga. Tangannya besar, kasar, dan dingin. Dia pake setelan jas hitam mahal. Wangi parfumnya menusuk hidung. Mukanya datar. Nggak ada senyum, nggak ada grogi, nggak ada apapun. Kayak lagi tanda tangan kontrak bisnis, bukan nikah.

"Saya terima nikahnya Siska Binti Budi dengan mas kawin 500 juta tunai," suaranya berat dan tegas.

"Sah?" tanya penghulu.

"Sah," jawab saksi-saksi. Semuanya karyawan Tuan Arga.

Aku bengong. Mas kawin 500 juta? Jadi dia beli aku seharga utang ayah? Aku ini istri atau barang gadai?

Selesai akad, dia langsung balik badan. "Masuk mobil. Kita ke rumah." Itu kata pertama dia ke aku sebagai suami. Nggak ada "sayang", nggak ada "selamat ya". Nada dia kayak nyuruh asisten.

Di mobil, kami diem-dieman selama 1 jam perjalanan. Aku lihat keluar jendela, nahan nangis. Kaca mobil gelap, jadi orang nggak bisa lihat aku nangis dari luar. Tuan Arga sibuk main HP. Sesekali teleponan bahas proyek miliaran. Dia nggak sekalipun nengok ke aku.

Sampai di rumahnya, aku melongo. Ini bukan rumah. Ini istana. Pagarnya tinggi, tamannya luas, ada kolam renang di tengah. Tapi... sepi banget. Nggak ada suara apa-apa selain suara sepatuku.

Tuan Arga buka pintu, terus nunjuk ke atas. "Kamar kamu di lantai 2, paling ujung. Sebelah kiri. Kamar aku di sebelah kanan. Jangan masuk kamarku tanpa izin. Jangan berisik. Pembantu datang jam 7 pagi, pulang jam 5 sore. Kalo laper, minta mereka masakin."

Dia ngomong kayak ngasih aturan ke anak kos. Abis itu dia langsung naik ke kamarnya dan banting pintu. Ninggalin aku sendirian di ruang tamu segede lapangan bola.

Malam pertama kami sebagai suami istri. Aku duduk di pinggir kasur ukuran king size di kamar "aku". Spreinya dingin. Wanginya bukan wangi pengantin baru. Wangi kosong. Jam 11 malem, aku denger suara pintu kebuka dari lantai bawah. Aku intip dari balkon. Tuan Arga... gelar bantal dan selimut di sofa ruang tamu. Dia tidur di sana. Nggak sekamar sama aku.

Dia nikahin aku 500 juta... tapi nggak mau nyentuh aku? Nggak mau tidur sekamar? Terus buat apa dia beli aku?

Pertanyaan itu muter-muter di otakku sampe subuh. Dan aku tahu, pernikahan ini nyimpen rahasia busuk yang lebih gede dari sekedar utang 500 juta.

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!