Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Piala Kemenangan
"Hufff.... akhirnya selesai juga, mereka cukup merepotkan walaupun jumlahnya sedikit." Ucap Kerta Sena sambil mengelap keringat di dahinya.
"Tuan Sena, rencana selanjutnya apakah anda yakin akan melaksanakannya, aku rasa rencana itu terlalu beresiko... bagaimana kalau kita kembali berperang dengan Negara Harimau?" Ujar Wiratama.
Rencana selanjutnya yang di perintahkan Permaisuri Senja cukup licik, mereka di suruh untuk mefitnah bahwa pasukan dari Negara Harimau yang melakukan ini semua termasuk yang membunuh Niskala dan membunuh Samudra.
"Jalankan saja perintah dari Permaisuri Senja, malam itu bukankah kau sudah setuju? Dan kita sudah merencanakannya matang matang?"
"Tapi Tuan, bagaimana kalau kita kalah? Negara Harimau memiliki banyak penyihir berbakat. Saat tragedi di jembatan Ne, kami semua dapat bertahan juga karena adanya Niskala. Sekarang ia sudah tidak ada, kekuatan tempur kita berkurang drastis. Dan sebenarnya aku sedikit bingung, kenapa Permaisuri Senja tidak memberitahukan alasan mengapa dia ingin menghancurkan Negara Harimau?"
"Raja Kala Dewangga tidak sebodoh itu, aku yakin sekali ia tidak langsung terang terangan menyerang Negara Harimau... dia butuh waktu untuk merekrut penyihir berbakat untuk menggantikan posisi Niskala dan membangun kekuatan untuk menghancurkan negara Harimau. Sekarang lebih baik kita bawa semua mayat ini ke istana."
Adegan berpindah, Salah satu pasukan Hierarki terlihat berdiri di samping tubuh Niskala yang tak sadarkan diri dengan mulut dan dada yang berlumuran darah.
Ia menatap tubuh Niskala lama, tampak bola matanya tidak seperti manusia, melainkan membentuk celah sempit seperti mata predator.
Sshhh!!
Suara desisan ular yang sangat lirih terdengar, tampak seekor ular keluar dari celana orang itu dan merayap pelan mendekati leher Niskala dan mengigitnya begitu saja.
"Kau tidak boleh mati di sini, aku akan memanfaatkanmu untuk menghancurkan Negara Garuda dan membunuh Raja Kala Dewangga." Batin sosok itu. Ya! ular yang mengigit leher Niskala menyerap racun Atra Vanenum.
"Sihir Atra Vanenum, bagaimana bisa Senja memiliki sihir kegelapan? Bukankah fraksi penyihir gelap sudah tidak ada di zaman sekarang. Hmmm... tidak hanya itu, ia mengkombinasikan racun di dalam sihir Atra Vanenum, aku harus berhati hati dengannya. Tidak, tidak... aku tak perlu mengkhawatirkannya, aku juga memiliki sekutu yang kuat aku yakin sekali dia mampu melawan Senja."
Sosok itu kemudian menatap Wirata, Kerta Sena, dan para bawahan Wirata, "para kroco kroco pengecut ini, tidak perlu di khawatirkan. Mereka tidak lain hanyalah pengecut yang beraninya main di belakang. Sebentar lagi, akan aku tunjukan kepada kalian, Negara Garuda bagaimana rasa sakit yang sebenarnya. Kalian semua juga harus merasakan penderitaan yang aku alami."
Bergotong royong mereka membawa jasad jasad dari bawahan Niskala, termasuk Niskala. Mereka kemudian terbang menuju ke kerajaan Nirlata yang berada di negara Garuda.
"Aku benar benar tidak sabar mendapatkan hadiah yang di janjikan oleh Permaisuri Senja, Pedang Tanjau Hitam." Batin Kerta Sena. Ya alasan ia mau membantu Permaisuri Senja itu semua karena ia di janjikan sebuah artefak yang sangat kuat. Selain itu ia juga memiliki dendam mendalam dengan Raja Kala Dewangga, itu semua karena ia tidak di pilih menjadi pewaris tahta oleh ayah mereka.
Bisa di bilang Raja Kala Dewangga jauh lebih kuat di bandingkan dengan Kerta Sena, sehingga Raja Dewangga yang di pilih untuk meneruskan kerajaan Nirlata.
Mereka semua tampak fokus dengan tujuan mereka hingga tak menyadari bahwa salah satu pasukan Hierarki yang terbang paling belakang keluar jalur dan menghilang begitu saja membawa tubuh Niskala yang tak sadarkan diri.
***
Akhirnya setelah perjalanan cukup lama mereka tiba di gerbang istana Nirlata, semua orang di sana tampak terkejut melihat banyaknya mayat Pasukan Haerarki yang di gendong oleh bawahan Wirata.
"Wirata, kenapa mereka semua bisa mati?" Tanya seorang tetua istana.
"Aku akan menjelaskannya ketika rapat dengan Baginda Raja Kala Dewangga."
"Ini semua, bawahan Niskala, dimana Niskala? Dan Pangeran Samudra? Mengapa tidak ada?" Tanya tetua itu.
Deg!
Jantung Wirata, Kerta Sena dan seluruh bawahan Wirata seolah berhenti berdetak.
Mereka tolah toleh mencoba mencari di mana keberadaan Niskala. Namun jangankan Niskala, orang yang bertugas membawa Niskala tetap tidak di temukan.
"Bagaimana ini Tuan Sena? Niskala hilang! Apakah ada pasukan Hierarki yang berhianat?" Ujar Wirata melalui teknik telepati agar tak di dengar tetua itu.
"Semuanya tetap tenang, kita tidak boleh menunjukan gelagat mencurigakan. Tetap berakting..." ujar Kerta Sena kepada Wirata dan seluruh bawahan Wirata.
"Begini tetua, Niskala dan Pangeran Samudra di bawa oleh pihak musuh sebagai 'piala' atas kemenangan mereka." Bohong Kerta Sena.
Tetua itu tampak marah, "apa?! Beraninya mereka menjadikan Nistala sebagai piala kemenangan mereka!"
"Segera kumpulkan para tetua lainnya dan Raja Kala Dewangga, kita rapat untuk membahas masalah ini dan mencari jalan keluarnya." Ucap tetua itu.
Di ruang rapat suasana begitu tegang, tampak Wirata, Kerta Sena dan seluruh bawahan Wirata berdiri di pojokan ruangan besar nan mewah.
Di depan mereka duduk Raja Kala Dewangga dan para tetua kerajaan Nirlata.
"Kerta Sena, ceritakan yang sejujurnya. Dan di mana Samudra?" Ucap Raja Kala Dewangga. Seorang pria gagah dengan mahkota emas bertengger indab di kepalanya.
Kerta Sena pun mulai menceritakan segala kebohongannya. Ia menceritakan bahwa mereka di serang oleh para penyihir misterius dengan penampilan mirip ninja, Kerta Sena juga menceritakan tentang kematian Niskala karena harus melindungi Samudra dan membawa mayat Samudra dan Niskala sebagai 'piala' kemenangan mereka.
"Bajingan!!!" Teriak Raja Kala Dewangga dengan sangat marah, energi sihirnya meluap luap membuat dinding dan lantai sampai retak.
"Mereka membunuh anakku! Tidak akan aku maafkan mereka!" Ucapnya geram.
"Kita tidak boleh terburu buru, kakak. Para penyihir itu, mereka sering mengandalkan elemen tanah yang merupakan keahlian Negara Harimau, aku pikir mereka adalah pasukan Negara Harimau."
Brak!
Raja Kala Dewangga menggebrak meja, meja itu langsung hancur.
"Karna keparat! Dia melanggar perjanjian damai..."
Karna adalah Raja dari Istana Megah Sangkara. Istana Megah Sangkara adalah istana yang menguasai Negara Harimau.
"Kakak tau sendiri bagaimana kekuatan Negara Harimau, kita tidak bolek terburur buru kakak. Kita harus mencari penyihir berpotensi untuk menggantikan Niskala dan membangun kekuatan super besar untuk membalas dendam!" Ucap Kerta Sena.
Raja Kala Dewangga tak menjawab, ia diam menahan amarah di dadanya karena Putranya tewas.
"Kirimkan elang pengantar pesan kepada Karna perjanjian damai di antara Negara Garuda dan Harimau di batalkan! Tunggu pembalasan dendamku atas kematian Samudra dan Niskala." Ucap Raja Kala Dewangga.
Kerta Sena tersenyum tipis..
***
Waktu berlalu begitu cepat... malam hari tiba..
"Aaakkss... aduh... aduh.... sakit sekali.." suara anak kecil yang merintih menyedihkan terdengar jelas di keheningan dasar jurang.