NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peraturan Di Dalam Sangkar

​Kanaya berdiri kaku di tengah ruang tamu apartemen penthouse milik Arkan yang luasnya mungkin tiga kali lipat rumah ayahnya. Tempat ini tidak terasa seperti rumah tapi lebih mirip galeri seni yang dingin dan mati.

​Januar meletakkan koper kecil milik Kanaya di dekat sofa kulit. "Semua kebutuhan Mbak Kanaya sudah disiapkan di dalam kamar utama. Pak Arkan tidak suka barang-barang berserakan di ruang tengah."

​Kanaya hanya mengangguk kecil. Pikirannya masih tertinggal di sel tahanan ayahnya. "Kapan ayah saya dipindahkan ke rumah sakit?"

​"Prosesnya sedang berjalan, Mbak. Besok pagi Pak Baskara sudah berada di kamar VIP Rumah Sakit Medika," jawab Januar tenang sebelum melangkah pergi meninggalkan Kanaya sendirian di ruangan luas itu.

​Keheningan menyergap. Kanaya tidak berani menyentuh apa pun. Ia merasa seperti penyusup di tengah kemewahan ini. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara langkah sepatu yang berat dan berirama terdengar dari arah koridor.

​Arkan muncul. Ia sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang digulung hingga siku. Wajahnya tetap datar, tanpa ada sedikit pun kehangatan menyambut istri barunya.

​"Jangan hanya berdiri di situ seperti patung," tegur Arkan sambil berjalan menuju meja bar untuk menuang air mineral. "Anggap saja tempat ini penjara barumu. Bedanya, di sini kasurnya lebih empuk."

​Kanaya mengepalkan tangan di samping paha. "Aku mau bicara soal kontrak tadi. Ada beberapa hal yang tidak aku mengerti."

​"Tidak ada yang perlu dimengerti. Kamu hanya perlu patuh. Aturan nomor satu di rumah ini adalah jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izin."

​"Dan aturan untukmu apa?" balas Kanaya berani. "Apa kamu akan terus memperlakukanku seperti barang jaminan di depan orang-orang?"

​Arkan berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti ancaman bagi Kanaya. Ia berhenti tepat di depan Kanaya, memaksa wanita itu mendongak.

​"Di depan publik, kamu adalah istri tercinta Arkan Dirgantara. Kamu harus tersenyum, bergelayut di lenganku, dan membuat semua orang percaya kalau aku sangat memujamu," bisik Arkan dengan nada mengejek. "Tapi di dalam sini, saat pintu tertutup... kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya alat untuk menjaga citraku."

​"Aku bukan alat!" Kanaya menyentak. "Aku manusia, Arkan. Aku punya perasaan!"

​Arkan tertawa kecil, suara tawanya terdengar hambar. "Perasaan? Perasaan itu yang membuatmu bodoh dan mau ditipu oleh si pecundang Vandiko. Kalau kamu masih punya harga diri, simpan itu di laci. Di sini, harga dirimu adalah seberapa baik kamu menjalankan perananmu."

​Kanaya menepis tangan Arkan dengan kasar. "Vandiko memang brengsek, tapi kamu jauh lebih rendah dari dia. Kamu menggunakan kesusahan orang lain untuk kepentinganmu sendiri."

​"Memang. Itulah bedanya aku dengan mantan kekasihmu itu. Dia menghancurkanmu tanpa memberi apa pun. Aku menghancurkanmu, tapi aku menyelamatkan ayahmu," Arkan melirik koper Kanaya. "Masuk ke kamar. Bersihkan dirimu. Kamu terlihat menyedihkan dengan baju lusuh itu."

​Kanaya tidak bergerak. Emosinya sudah di ujung tanduk. "Aku mau menelepon Ayah. Aku harus memastikan dia baik-baik saja."

​"Ponselmu sudah disadap, Kanaya," ucap Arkan santai sambil berjalan menuju kamarnya sendiri. "Setiap panggilan yang keluar dan masuk akan dipantau oleh tim keamananku. Jadi, jangan coba-coba mengadu pada siapa pun atau mencoba kabur. Satu kesalahan kecil darimu, dan ayahmu akan kembali ke jeruji besi dalam hitungan menit."

​Dada Kanaya terasa sesak. Ia merasa benar-benar tercekik. Kebebasannya sudah dirampas sepenuhnya. Ia berjalan masuk ke kamar utama yang ditunjukkan Januar tadi. Di dalamnya, sebuah ranjang besar dengan seprai sutra abu-abu sudah menanti. Di dalam lemari, sudah berjejer puluhan gaun mahal dan pakaian bermerek yang semuanya bukan seleranya.

​Ia teringat kembali momen saat ia melihat Vandiko mencumbu wanita lain. Rasa sakit itu masih ada, namun kini tertutup oleh rasa takut akan masa depannya bersama Arkan.

​Tok! Tok!

​Pintu kamar diketuk kasar. Belum sempat Kanaya menjawab, Arkan sudah masuk. Pria itu kini hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus polos.

​"Kenapa belum ganti baju?" tanya Arkan ketus.

​"Aku... aku baru mau mandi," jawab Kanaya gugup.

​Arkan berjalan menuju lemari, mengambil sebuah kotak perhiasan kecil dan melemparnya ke atas ranjang. Kotak itu terbuka, memperlihatkan sebuah cincin berlian yang sangat besar dan berkilau.

​"Pakai itu. Besok ada acara makan malam dengan dewan komisaris. Aku tidak mau istriku terlihat seperti gelandangan yang baru saja dipungut dari jalanan."

​Kanaya menatap cincin itu dengan benci. Bagi orang lain, itu mungkin perhiasan impian. Bagi Kanaya, itu adalah borgol emas yang mengikat hidupnya.

​"Kenapa harus besok? Ayahku bahkan belum keluar dari rumah sakit!"

​"Jadwalku tidak diatur oleh kondisi ayahmu, Kanaya," Arkan berbalik arah menuju pintu. "Ingat, besok malam adalah ujian pertamamu. Kalau kamu gagal membuat mereka percaya, jangan harap bisa melihat ayahmu pulang ke rumah."

​Brak!

​Pintu ditutup dengan keras. Kanaya terlonjak kaget. Ia meraih cincin itu dan melemparkannya ke lantai. Namun, sedetik kemudian, ia memungutnya kembali dengan tangan gemetar. Ia tidak punya pilihan. Ia harus bermain dalam sandiwara ini, betapa pun ia ingin berteriak dan memaki dunia.

​Ia berjalan masuk ke kamar mandi, menyalakan pancuran air dengan tekanan paling tinggi. Di bawah guyuran air dingin, Kanaya akhirnya menangis sejadi-jadinya. Suara tangisnya teredam oleh gemericik air.

​Aku harus bertahan, batinnya di tengah isak tangis. Untuk Ayah. Hanya untuk Ayah.

​Setelah merasa sedikit tenang, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Saat ia membuka pintu kamar mandi, ia tersentak. Arkan sedang duduk di sofa kecil di sudut kamarnya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Kenapa kamu masih di sini?" suara Kanaya bergetar, ia merapatkan handuknya.

​Arkan tidak menjawab. Ia berdiri perlahan, mendekati Kanaya. Ruangan itu mendadak terasa sempit. Kanaya bisa merasakan panas tubuh Arkan saat pria itu berhenti tepat di hadapannya.

​"Aku lupa memberi tahu satu hal lagi," ucap Arkan suara rendahnya terdengar mengancam sekaligus dalam. "Di depan orang-orang, kita adalah pasangan yang paling bahagia. Jadi, malam ini... kamu harus belajar bagaimana caranya menatapku seolah-olah kamu sangat mencintaiku."

​Kanaya mendongak, mencoba menunjukkan keberaniannya meski hatinya menciut. "Aku tidak bisa berbohong sedalam itu."

​"Kamu harus bisa," bisik Arkan. Tangannya terangkat, mengusap helai rambut Kanaya yang basah dengan kasar. "Karena di dunia ini, Kanaya... cinta hanyalah soal akting yang bagus. Dan aku adalah sutradara terbaik yang pernah kamu temui."

​Arkan menatap bibir Kanaya sejenak sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Kanaya yang terpaku dengan tubuh gemetar hebat. Malam itu, Kanaya tahu bahwa tidurnya tidak akan pernah nyenyak lagi.

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!