NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Jejak Digital dan Langkah Sang Predator

​Akhir pekan bagi Aiswa adalah kemewahan. Akhirnya, ia bisa meliburkan diri dari teriakan lucu murid-muridnya dan instruksi "jangan lari-lari" yang biasa ia teriakkan setiap jam. Hari ini, sahabat-sahabatnya mengajak bertemu.

​Aiswa memiliki lingkaran pertemanan yang cukup, atau sangat ramai. Namanya Sembilan Nyawa (SEMBI-LANN). Sesuai inisial mereka bersembilan yaitu: Shena, Elena, Mikha, Bella, Ilana, Lalita, Aiswa, Nita, dan Nala. Kalau ditambah tiga orang lagi, mereka sudah bisa mendaftar jadi tim sepak bola cadangan. Namun, mengumpulkan sembilan kepala dalam satu waktu itu mustahil. Selalu saja ada yang absen.

​Hari ini, Nala dan Nita berhalangan, sementara Bella dan Ilana baru bisa menyusul siang nanti. Alhasil, Aiswa berangkat lebih awal bersama Elena menuju sebuah mall untuk berburu beberapa barang sebelum mampir ke kafe tempat mereka janjian.

​"Ayo, El, foto dulu! Mumpung pencahayaannya bagus," ajak Aiswa di salah satu sudut mall yang estetik.

Setelah berpose manis, Aiswa langsung mengunggahnya ke Instagram Story. Baru satu menit, tapi Aiswa tidak tahu bahwa satu menit itu adalah awal dari segalanya.

***

​Sementara itu, di sebuah kantor dengan interior serba monokrom yang kaku, Lucas meletakkan sebuah map tebal di atas meja kerja yang luas.

​"Laporan lengkap mengenai Nona Aiswa, Tuan," ucap Lucas formal.

​Devan Argian meraih map itu tanpa ekspresi. Matanya yang tajam menyisir setiap baris informasi, dari riwayat pendidikan, tempat mengajar, detail keluarga Ayah Agus, hingga jejak digital di media sosial. Devan kemudian merogoh ponsel dari saku jasnya, mencari satu nama akun yang tertera di laporan tersebut. Begitu ketemu, ia berhenti sejenak. Ada unggahan cerita baru di sana.

​"Lucas," panggil Devan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

"Jika Saya membuka ceritanya ini, apakah dia akan tahu?"

​"Tentu saja terlihat, Tuan. Siapa pun yang melihat akan masuk ke dalam riwayat penayangan," jawab Lucas jujur.

​Devan mendongak, menatap Lucas dengan sorot mata yang membuat asistennya itu langsung merinding.

"Pertanyaan Saya bukan ke situ."

​Lucas tertegun, otaknya berputar cepat mencari maksud sang bos.

​"Bukankah Saya sudah bilang, amankan akun di ponsel Saya. Buat siapa pun tidak akan tahu jika aku 'menyusup' melalui perangkat ini," ujar Devan dingin, menekankan setiap kata seolah sedang memberi peringatan keras.

​Lucas seketika menunduk.

"Benar, Tuan. Maafkan saya, saya sempat lupa perihal pengaturan privasi khusus yang Anda minta."

​Setelah memastikan "keamanannya", Devan mengetuk layar. Snapgram Aiswa terbuka. Di sana, terlihat Aiswa bersama seorang teman wanitanya sedang berpose di sebuah mal.

Devan mengenali tempat itu. Unggahan itu baru dikirim satu menit yang lalu. Artinya, targetnya masih ada di sana.

​Devan menutup map laporan itu dengan suara berdebam kecil, lalu meletakkan ponselnya.

​"Lucas, siapkan mobil!" perintahnya singkat.

​"Baik, Tuan."

Lucas tidak berani banyak bertanya meski batinnya dipenuhi tanda tanya. Menurut jadwal dari sekretaris, hari ini tidak ada agenda rapat atau kunjungan luar. Apa rencana bosnya kali ini?

​Kali ini pun, Devan memerintahkan Lucas untuk menyetir sendiri tanpa membawa sopir pribadi.

Jika menyangkut hal "privat", Devan hanya memercayai Lucas.

​"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya Lucas hati-hati setelah mereka membelah jalanan kota.

​Devan menatap lurus ke depan, wajahnya datar tak terbaca.

"Sekolah Zianna."

Lucas hanya mengangguk patuh meski benaknya dipenuhi tanda tanya. Ke sekolah Nona Muda? Untuk apa? Bukankah ini hari libur?

Tanpa menunggu lama, mobil mewah itu membelah jalanan dan sampai di sekolah Zianna. Meski kegiatan belajar-mengajar libur, area kolam renang sekolah tetap ramai karena Zianna mengikuti les renang tambahan setiap akhir pekan.

Jika ada yang bertanya mengapa Devan tetap sibuk di hari libur jawabannya sederhana, dia adalah manusia gila kerja. Namun, minggu ini ia sengaja mengebut semua urusan kantor karena minggu depan ia telah berjanji mengajak Zianna berlibur.

Liburan yang merupakan sebuah "penebusan dosa" karena pada libur semester lalu ia terlalu sibuk hingga rencana liburan dengan sang putri batal total, alhasil Ia didiamkan Zianna seharian penuh. Sebagai permintaan maaf Ia akan mengganti liburan itu di Minggu depan.

Sesampainya di tepi kolam, Zianna tampak heran melihat sosok papanya muncul di saat jam les masih berlangsung. Gadis kecil itu langsung menghampiri Papanya.

"Papa? Kenapa ke sini?"

"Papa mau ajak kamu ke suatu tempat," Ucap Devan.

Namun bukannya senang, wajah Zianna berubah kesal.

"Papaa, kan papa tahu hari ini itu jadwal Zianna les renang, mau ajak ke mana sih," gadis kecil itu menyilangkan kedua tangannya.

Devan berjongkok, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga putrinya. Seketika, wajah kesal Zianna berubah berbinar bahagia. Ia tampak sangat antusias, bahkan sampai menarik-narik ujung jas papanya agar segera menuju mobil.

"Nona, kita ganti baju dulu!" seru Mbak Suci, Baby-sitter Zianna, yang tergopoh-gopoh mengejar.

Setelah berganti pakaian, Zianna berlari kecil menuju mobil. Mbak Suci hendak ikut masuk, namun langkahnya terhenti oleh tatapan tajam Devan.

"Kamu kembali saja ke rumah," perintah Devan mutlak.

"Tapi Tuan, saya pengasuh Nona Zianna. Takut nanti kalau Nona butuh sesuatu atau...,"

Ucapan Suci langsung terputus saat netra dingin Devan menghujamnya. Aura intimidasi itu sanggup membungkam siapa pun dalam hitungan detik.

"Baik, Tuan," cicit Suci sambil menunduk dalam.

Devan kemudian menggendong Zianna dengan lembut, satu-satunya momen di mana sisi hangatnya terlihat. Mereka pun masuk ke dalam mobil.

"Ke mana kita, Tuan?" tanya Lucas saat mesin mulai menderu.

"Mall pusat kota," ucap Devan datar tanpa mengalihkan pandangan dari Zianna yang duduk di pangkuannya.

Lucas mengangguk patuh, tanpa ia tahu kalau itu adalah Mall yang baru saja muncul di unggahan story Aiswa tadi.

"Oh ya, Lucas," panggil Devan tiba-tiba.

"Gaji bulan ini akan saya transfer dua kali lipat sebagai bonus langsung dariku."

Senyum lebar langsung merekah di wajah Lucas. Matanya berbinar membayangkan angka nol yang berderet di saldo rekeningnya. Bonus dari seorang Devan Argian bukanlah recehan, jumlahnya cukup untuk membuat kantongnya tebal seketika.

Memang Boss ini kalau kasih kerjaan suka lupa hari, weekend pun aku harus jadi supir pribadi. Tapi kalau bonusnya begini sih... saldo aman, hati riang! batin Lucas tertawa puas di balik kemudi.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!