NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Presisi di Antara Sela Rantai

Matahari sore di Universitas Wikerta mulai turun, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung Fakultas Teknik. Cahaya itu menciptakan bayangan panjang yang dramatis di sepanjang selasar, menyinari partikel debu yang menari di udara.

Area parkir mulai melompong, hanya menyisakan beberapa kendaraan yang setia menunggu pemiliknya menyelesaikan urusan di perpustakaan atau sekadar menyelesaikan laporan praktikum yang tak kunjung usai.

Di salah satu sudut parkiran, sebuah motor matic krem berdiri kontras di antara jajaran motor besar anak Teknik yang tampak maskulin dan gahar. Motor itu tampak seperti tamu asing di wilayah yang didominasi oleh deru mesin ber-cc besar dan aroma logam panas.

Kirana berjalan menyusuri selasar dengan langkah teratur. Bahunya sedikit miring karena beban tas yang penuh dengan buku-buku teori sastra yang tebal. Pikirannya masih melayang pada diskusi kelas tadi tentang semiotika dan makna di balik narasi, sampai pandangannya tertumpu pada sosok yang sedang berjongkok di samping motornya.

Laki-laki itu mengenakan kemeja PDL Teknik yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kuat namun cekatan.

Di sampingnya, terdapat sebotol cairan pembersih, kaleng pelumas rantai, dan beberapa kunci pas yang tertata rapi di atas kain alas. Ia tampak sangat konsentrasi, seolah-olah motor matic krem itu adalah objek penelitian yang sangat krusial, lebih penting daripada proyek robotika mana pun di lab.

"Lagi ngapain?" suara Kirana memecah keheningan parkiran yang mulai sepi.

Bima tidak menoleh. Ia menyemprotkan cairan pelumas ke sela-sela rantai motor Kirana dengan presisi yang menakutkan. Setiap tetesan pelumas seolah dihitung dengan kalkulasi matang agar tidak ada yang terbuang sia-sia. "Ngasih pelumas. Gue bilang semalam mau kasih, kan? Gue nggak suka punya utang omongan, apalagi soal mesin."

Kirana berdiri di samping motornya, melipat tangan di dada. Wajahnya tetap datar, menatap Bima dengan tatapan menyelidik yang dingin. "Gue nggak minta, Bim. Gue pikir chat semalam itu cuma formalitas soal motor mogok. Lo nggak perlu repot-repot nungguin di sini cuma buat urusan sepele kayak gini."

Bima akhirnya berdiri. Gerakannya pelan namun mantap. Ia menyeka tangannya yang menghitam karena oli dengan kain majun yang sudah dekil. Ia menatap Kirana, matanya yang tajam dan tak terbaca bertemu dengan mata Kirana yang tetap tenang namun menjaga jarak.

"Gue nggak suka sesuatu yang nggak tuntas. Rantai motor lo kering, kalau dibiarin bakal ngerusak komponen lain. Itu logikanya. Masalah sepele buat lo, tapi masalah fungsional buat gue," sahut Bima tanpa nada defensif. Suaranya rendah, beradu dengan suara angin sore yang bertiup di sela-sela gedung.

Kirana terdiam sejenak. Ia teringat Danu yang tadi juga sempat menawarkan bantuan serupa saat mereka berpapasan di depan fakultas.

Danu memang pintar, sangat ahli dalam teori-teori akademis dan selalu punya kutipan bijak untuk setiap situasi. Namun, Danu jarang—atau mungkin tidak pernah—menyentuh langsung hal-hal teknis yang kotor seperti ini. Danu lebih suka memberikan saran logis dari buku yang dibacanya, menyarankan Kirana untuk membawa motornya ke bengkel resmi di akhir pekan.

Sementara Bima? Laki-laki ini berbeda. Ia tidak memberikan saran atau kutipan. Ia langsung terjun dengan tangan kotor, berurusan dengan oli dan debu jalanan hanya untuk memastikan sebuah rantai motor tidak mengeluarkan bunyi yang mengganggu.

"Rem belakang lo juga udah gue kencengin dikit. Tadi agak dalam, bahaya buat turunan depan gerbang kampus yang curam kalau lagi hujan," tambah Bima datar, seolah-olah menjelaskan hukum termodinamika di depan kelas.

"Makasih," jawab Kirana singkat. Ia tidak tersenyum sedikit pun. Baginya, bantuan tetaplah bantuan, sebuah gestur yang ia hargai secara fungsional, tapi tidak mengubah fakta bahwa Bima adalah sosok yang sering membuatnya merasa tertekan dengan sikap kaku dan diktatornya di laboratorium. "Tapi lain kali nggak usah begini. Gue bisa urus sendiri."

Bima tidak membantah. Ia hanya memungut kaleng pelumasnya dan memasukkannya ke dalam tas perkakas. Ekspresinya tetap seperti robot; efisien, tanpa emosi yang meluap, namun sangat hadir di sana.

Kirana naik ke atas motornya. Ia menyalakan mesin matic-nya. Detik itu juga, ia menyadari perbedaannya.

Suara mesin itu kini terdengar jauh lebih halus, hampir tanpa suara gesekan yang biasanya mengganggu pendengarannya. Ia merasakan tuas remnya, dan Bima benar, posisinya sekarang terasa sangat pas dengan kekuatan genggaman jemarinya. Tidak terlalu keras, namun memberikan respons yang instan.

"Udah kan? Gue mau balik," ucap Kirana, sambil membetulkan posisi tas sastranya agar tidak merosot.

"Ya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut di tikungan depan kantin, pasirnya lagi banyak," sahut Bima pendek. Ia segera membereskan alat-alatnya dengan gerakan mekanis yang terlatih dan beranjak menuju motor besarnya yang terparkir tak jauh dari sana.

Kirana memakai helmnya, mengunci talinya hingga berbunyi klik, lalu menutup kaca helm yang gelap. Tanpa kata perpisahan tambahan, ia memutar gas dan melesat pergi. Baginya, Bima tetaplah orang asing yang kaku, seseorang dari planet Teknik yang bahasanya terdiri dari angka dan baut, sangat berbeda dengan dunianya yang dipenuhi metafora dan interpretasi rasa.

Sementara itu, Bima masih berdiri di parkiran. Ia tidak langsung naik ke motornya. Ia hanya berdiri di sana, mematung, melihat bayangan motor krem Kirana yang perlahan mengecil dan akhirnya menghilang di balik gerbang kampus. Matanya menyipit, memperhatikan bagaimana motor itu melaju dengan stabil setelah ia sentuh tadi.

Bima menyalakan mesin motor besarnya yang menderu keras, getarannya terasa hingga ke dadanya, membelah keheningan parkiran sore itu. Ia menarik kopling, memasukkan gigi, dan mulai bergerak keluar. Namun, pikirannya tidak benar-benar fokus pada jalan raya di depannya.

Di kepalanya, ia sudah mulai melakukan simulasi mental. Ia memikirkan alasan teknis apa lagi yang bisa ia gunakan untuk memastikan motor Kirana tetap dalam kondisi prima. Mungkin soal tekanan ban? Atau mungkin soal filter udara yang sudah waktunya dibersihkan?

Bagi Bima, menjaga motor itu adalah alasan paling logis untuk tetap bisa memastikan pemiliknya—gadis sastra yang selalu dingin dan sulit dibaca itu—tetap berada dalam "pengawasannya".

Ia tahu Kirana tidak suka dicampuri urusannya, tapi Bima juga tahu bahwa mesin tidak pernah berbohong. Dan selama motor itu membutuhkan perawatan, Bima akan selalu punya alasan untuk muncul, dengan tangan kotor dan kunci pas di genggamannya.

Ia melaju membelah kemacetan sore, merasa puas karena setidaknya untuk besok, ia tahu motor itu tidak akan mogok lagi. Dan baginya, kejelasan teknis itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan pikirannya yang biasanya selalu penuh dengan rumus-rumus rumit.

Perjalanan pulang terasa berbeda bagi Kirana. Setiap kali ia menarik tuas rem, ia teringat pada jemari Bima yang bergerak cekatan tadi.

Ada rasa aman yang menyusup secara diam-diam setiap kali ia merasakan motornya merespons dengan sempurna. Ia mencoba menepis perasaan itu dengan memikirkan tugas esainya, namun suara mesin yang halus seolah terus mengingatkannya pada sosok laki-laki yang rela berjongkok di parkiran berdebu hanya untuk sebuah utang omongan.

Di satu sisi, Kirana merasa terusik dengan kehadiran Bima yang seolah merayap masuk ke dalam rutinitasnya. Di sisi lain, ia tidak bisa memungkiri bahwa presisi yang ditawarkan Bima memberikan sebuah kepastian yang jarang ia temukan pada orang lain. Bima tidak banyak bicara, tapi apa yang ia kerjakan selalu nyata.

Sesampainya di kosan, Kirana memarkirkan motornya di garasi yang sempit. Sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah rantai motornya yang kini tampak bersih dan berkilau karena pelumas baru. Ia menarik napas panjang, lalu memalingkan muka.

"Cuma motor, Kirana. Cuma masalah teknis," gumamnya pada diri sendiri sebelum melangkah masuk ke dalam kamar, berusaha kembali ke dunianya yang dipenuhi buku, dan mencoba melupakan aroma oli yang entah kenapa masih terasa menempel di ingatannya.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!