Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Langkah Pertama Di Tanah Celestia
Keheningan Hutan Wyrm kembali mencekam setelah raungan para Ogre padam sepenuhnya. Arthur berdiri tegak, menyeka darah monster yang menciprat ke pipinya dengan punggung tangan yang masih terbungkus zirah besi. Ia menatap Alice cukup lama, sepasang mata birunya yang tajam seolah sedang menimbang, apakah gadis di depannya ini adalah anugerah dari surga ataukah ancaman yang tersembunyi di balik wajah cantiknya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arthur tiba-tiba. Suaranya berat, menuntut jawaban yang pasti.
"Dan bagaimana bisa seorang gadis dengan pakaian aneh sepertimu berada di jantung Hutan Wyrm sendirian tanpa pengawal?"
Alice tersentak, jemarinya yang ramping meremas jubah tipisnya.
"Aku... aku tidak tahu," jawabnya jujur, suaranya nyaris tenggelam dalam desiran angin.
"Aku Alice. Aku terbangun di tengah hutan ini begitu saja. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa sampai di sini."
Arthur menyipitkan mata, mencari secercah kebohongan di wajah gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah kelelahan yang mendalam dan binar kejujuran yang rapuh.
"Duduklah," perintah Arthur, kali ini nadanya sedikit melunak. Ia memberi isyarat kepada sisa prajuritnya untuk segera membentuk perimeter pengamanan.
"Kau pucat pasi. Mana-mu habis hanya untuk dua mantra aneh tadi. Itu membuktikan kau bukan pembunuh bayaran."
Alice menyandarkan punggungnya pada batang pohon ek tua yang berlumut. Napasnya mulai teratur meski jemarinya masih gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang terasa asing, jemari seorang penyihir, bukan lagi jemari seorang gamer.
"Aku butuh informasi tentang dunia ini jika ingin bertahan hidup," batinnya dalam diam.
"Tanpa pengetahuan, aku hanya akan menjadi mangsa berikutnya."
"Tuan," panggil Alice dengan wajah lelah,
"Aku... aku benar-benar kehilangan ingatanku. Bisakah kau ceritakan padaku tentang tempat ini? Dunia macam apa ini sebenarnya?"
Arthur menancapkan pedang raksasanya ke tanah—bunyi logam yang menghujam bumi terdengar solid—dan duduk di hadapan gadis itu. Ia mengambil sebilah ranting kecil dan mulai menggambar peta kasar di atas tanah lembap.
"Kau berada di Benua Vlagria. Ini adalah titik didih bagi tiga kekuatan besar. Jika kau benar-benar kehilangan ingatan, maka kau baru saja mendarat di tempat paling berbahaya di dunia."
Arthur menunjuk ke arah timur.
"Kita berada di wilayah Kerajaan Eltra Celestia. Kami dipandu oleh ramalan kuno dan kesetiaan pada Dewa Lama. Bagi kami, pengabdian pada Ilahi adalah segalanya."
Ia menggeser rantingnya ke arah utara.
"Lalu ada Kyzant. Mereka bangsa yang tertutup, paranoid, dan membentengi diri dengan teknologi militer. Mereka tidak percaya pada dewa, mereka hanya percaya pada ilmu pengetahuan."
Terakhir, ia menunjuk ke arah barat.
"Dan Varkass. Tempat berkumpulnya ras-ras yang terbuang yang mencoba mempertahankan kesetaraan. Ketiganya saat ini berada di ambang perang. Satu percikan saja, dan seluruh Celestia akan terbakar habis."
Alice mendengarkan dengan saksama. Di dalam pikirannya, ia mencoba mencocokkan informasi ini dengan lore game yang pernah ia baca di layar monitor pada tahun 2105. Namun, ada yang salah. Deskripsi Arthur terlalu detail, terlalu "berdarah". Tidak ada sensor sistem, tidak ada batasan dialog NPC. Semuanya terasa berdenyut dengan kehidupan.
"Apakah... tidak ada perdamaian?" tanya Alice pelan.
Arthur tertawa getir.
"Perdamaian itu rapuh, Alice. Dunia ini sedang tidak stabil. Anomali sering terjadi, monster merajalela, dan ramalan mulai berbicara tentang kehancuran. Itulah mengapa kehadiranmu dengan sihir yang 'berbeda' ini sangat mencurigakan."
Alice tertegun. Kata "anomali" dan "tidak stabil" bergema di kepalanya. Ia menyadari kenyataan pahit: ini bukan sekadar MMORPG. Di sini, rasa sakit itu nyata, dan kematian adalah titik tanpa kembali.
Ia mendongak, menatap mata Arthur dengan keyakinan yang baru tumbuh.
"Tuan, aku tidak tahu mengapa aku di sini. Tapi aku tahu aku tidak akan bertahan hidup sendirian di hutan ini." Ia menggenggam erat tongkat kayunya yang sederhana.
"Tolong... antarkan aku ke kota. Bawa aku ke tempat di mana aku bisa mendapatkan jawaban."
Arthur terdiam sejenak. Ia tampak ragu, namun nurani ksatria di dadanya tak tega meninggalkan gadis itu sendirian di zona maut. Ia menghela napas panjang, menyerah pada rasa iba.
"Baiklah, Nona. Ikutlah bersamaku. Aku dan pasukanku akan kembali ke kota terdekat. Kau bisa beristirahat di sana," ucap Arthur, menatap lekat wajah Alice.
Alice perlahan bangkit berdiri sembari membersihkan debu yang menempel pada jubah penyihirnya yang kotor.
"Terima kasih," ucapnya singkat.
"Kapten, maaf mengganggu." Seorang prajurit muncul dari balik bayangan pohon, memecah suasana.
"Ada apa?" tanya Arthur seraya menoleh.
"Kuda sudah dipersiapkan, Kapten. Kita siap berangkat menuju kota perbatasan," ujar prajurit itu sembari memberikan hormat militer yang kaku.
Seekor kuda berwarna cokelat dengan corak putih di bagian dada berjalan mendekat, dituntun oleh prajurit lain.
"Ayo Alice, naiklah." Arthur mempersilakan wanita itu menaiki pelana.
Alice memalingkan wajahnya, tampak kikuk dan serba salah.
"Maaf Tuan... Aku tidak bisa menunggangi kuda. Ahaha..." Ia tertawa kecil yang terdengar canggung, berusaha keras menutupi rasa malunya sebagai orang modern yang hanya mengenal kendaraan bermesin.
Arthur tertegun sejenak, sebelum akhirnya, dengan gerakan yang lugas, ia mengangkat tubuh Alice yang terasa seringan kapas dan mendudukkannya di atas punggung kuda tersebut.
"Ee.. Eeeh...!" Alice terkejut, jantungnya berdegup kencang. Namun, ia tidak memberontak. Dalam sekejap, ia sudah berada di atas pelana dengan posisi duduk menyamping yang anggun.
Arthur kemudian menaiki kuda yang sama, duduk tepat di belakang Alice. Tangannya terulur memegang tali pengekang, secara tidak langsung mengunci tubuh Alice di dalam dekapan lengannya yang kuat agar gadis itu tidak terjatuh.
Pssshhh....
Wajah Alice seketika memerah semerah tomat matang, seakan-akan ada uap panas yang mengepul keluar dari kepalanya.
"Tuan... A... Apa tidak ada cara duduk selain... ini?" Ia memalingkan wajah ke depan, berusaha keras agar Arthur tidak melihat rona di wajahnya.
"Tenanglah, Nona. Ini posisi terbaik bagi mereka yang tidak terbiasa menunggangi kuda," jawab Arthur dengan nada datar yang terdengar sedikit menggurui.
Alice hanya terdiam, mencoba memproses sensasi hangat dari punggung sang ksatria yang bersentuhan dengan tubuhnya. Menunggangi kuda dengan posisi ala tuan putri dan dikawal seorang ksatria gagah adalah skenario otome game yang tak pernah ia bayangkan akan dialaminya secara nyata.
"Woaaah... Apa ini? Ru-ru-rute kesatria klasik? Ahahha... Ahahaha..." Alice membatin, dirinya berperang di dalam hati.
"Prajurit, mari kita berangkat! Hiaah!"
Suara Arthur menggema, disusul ringkikan kuda yang mulai melangkah mantap. Rombongan itu perlahan keluar dari kegelapan Hutan Wyrm menuju wilayah kedaulatan Eltra Celestia, menuju sebuah tempat bernama Kota Silph.
Di tengah perjalanan, mereka melintasi Desa Tura.
Pemandangan hijau segera menyambut mata. Terlihat beberapa warga desa yang sibuk di ladang, menanam gandum yang melambai ditiup angin sepoi-sepoi.
Seorang pria tua menghampiri rombongan itu saat melihat Arthur dan Alice menunggangi satu kuda bersamaan.
"Hooo... Patroli seperti biasanya ya, Tuan Arthur?" sapa pria tua itu sambil berjalan mendekat.
Arthur menghentikan kudanya sejenak, diikuti oleh para prajurit di belakangnya.
"Ahaha... Iya, Pak Kepala Desa. Hari ini benar-benar melelahkan," sahut Arthur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya Tuan membawa 'sesuatu' yang tidak biasa hari ini," ucap kepala desa itu sembari melirik ke arah Alice yang duduk dengan anggun.
Tubuh Alice sempat menegang sejenak sebelum akhirnya kembali rileks. Ia menoleh ke arah kepala desa dan melambaikan tangan dengan canggung.
"Mata Anda jeli sekali, Pak Kepala Desa. Dia Alice. Tanpa bantuannya, mungkin aku dan prajurit lainnya tidak akan pulang dengan selamat ke kota," ucap Arthur sembari mengangguk pelan, menunjukkan sikap ksatria yang penuh hormat.
"Hmmm, begitu ya... Anda beruntung sekali, Tuan Arthur," ujar kepala desa. Ia kemudian membawakan sebuah keranjang berisi roti gandum dan menyodorkannya kepada Alice. "Makanlah, Nona. Terima kasih sudah menyelamatkan ksatria kami ini."
"Terima kasih, Pak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan." Alice menerima keranjang yang penuh dengan roti gandum tersebut.
"Berhati-hatilah di perjalanan, Tuan Arthur, Nona cantik." Kepala desa melambaikan tangan, yang dibalas dengan lambaian serupa oleh Alice dan para ksatria lainnya.
Kuda kembali melangkah perlahan menyusuri jalan setapak menuju kota perbatasan. Padang rumput hijau terhampar luas di sisi kiri dan kanan jalan.
"Jadi, Tuan Arthur, kau memang sering berpatroli ke area berbahaya itu?" tanya Alice sembari membagikan roti dari keranjang kepada para prajurit berkuda lainnya.
"Begitulah, Nona. Tugasku adalah memastikan setiap jengkal tanah Celestia aman dari gangguan apa pun," jawabnya dengan senyum bangga.
"Ooh..." gumam Alice dengan nada kagum. Seketika, roti yang ia bagikan telah ludes dilahap oleh para prajurit yang mengambilnya langsung dari pangkuannya.
"Astaga, kalian lapar sekali, ya?" goda Alice.
"Uhukk! Maaf, Nona Muda..." Salah seorang prajurit di sampingnya tersedak karena malu.
"Pertarungan tadi benar-benar membuat kami... lapar. Saya minta maaf," ucapnya dengan nada memelas.
Arthur menghela napas.
"Sepertinya kalian harus didisiplinkan lebih keras lagi." Ia berbicara tanpa menoleh, tetap fokus pada jalan di hadapannya.
"Besok aku akhmmm...!"
Suara Arthur teredam oleh sebuah roti yang tiba-tiba dijejalkan Alice ke dalam mulutnya.
"Sudahlah, kau juga butuh asupan nutrisi. Pertarungan tadi pasti membuatmu lelah, kan, Tuan Ksatria?" Alice menatapnya dengan tangan yang masih menyodorkan roti ke mulut sang ksatria.
"Hmm... Vvaiklah... Khalian mmm... Slamuat..." gumam Arthur sambil mengunyah roti pemberian Alice. Kejadian itu memicu tawa hangat dari para prajurit di sekitar mereka.
Mereka terus bergerak menuju kota perbatasan. Perjalanan Alice untuk mencari jawaban di dunia yang kejam ini baru saja dimulai.
cape😅