NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Asana di dalam ruangan dosen yang elegan itu kini benar-benar menyerupai medan perang gairah. Bau keringat yang bercampur dengan aroma parfum mahal yang menguap menciptakan atmosfer yang memabukkan.

Ibu Hani, sosok yang selama ini dipuja sebagai dewi intelektual di kampus, kini telah sepenuhnya menanggalkan jubah kewibawaannya. Ia berlutut di hadapan Juan dengan napas yang masih tersengal, namun matanya memancarkan kepatuhan yang liar.

Tanpa membuang waktu, sang dosen janda kembali melahap timun super milik Juan yang masih berdiri tegak menantang, seolah tak mengenal kata lelah meski baru saja menuntaskan ronde pertama.

Juan hanya bisa menyandarkan punggungnya di sofa kulit yang terasa dingin di kulitnya yang panas membara. Tangannya bergerak secara naluriah, mencengkeram rambut Ibu Hani dan mengarahkan setiap gerakan lidah sang dosen yang begitu ahli.

Teknik yang diberikan Ibu Hani benar-benar di luar nalar, membuat Juan harus berulang kali menahan napas agar tidak meledak terlalu dini.

"Sshhh... Ibu benar-benar luar biasa," desah Juan dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.

Mendengar pujian itu, Ibu Hani mendongak sejenak. Rambutnya yang berantakan justru menambah kesan nakal yang tak terbantahkan.

Ia menatap Juan dengan tatapan sayu yang penuh nafsu, bibirnya menyunggingkan senyum genit yang nakal, sebuah sisi gelap dan rahasia yang kini hanya menjadi milik Juan seorang.

Juan yang sudah berada di ambang batas ketahanan, langsung meraih sepasang melon besar milik Ibu Hani yang menggantung bebas tanpa perlindungan.

Ia meremas gumpalan daging padat itu dengan kasar, sementara jemarinya mulai memilin dan mempelintir kacang di puncaknya dengan gerakan yang menuntut.

"Ahhh! Juan... itu... ahh, nikmat sekali!" pekik Ibu Hani. Tubuh moleknya menggeliat hebat, gemetar menerima rangsangan mendadak yang menghujam saraf-sarafnya.

Seolah tak puas hanya dengan posisi itu, Ibu Hani kembali berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia menarik lengan Juan agar ikut beranjak dari sofa.

Dengan gerakan yang berani, ia mengalungkan kedua tangannya yang halus ke leher Juan, sementara Juan langsung merengkuh pinggang ramping sang dosen, menariknya hingga tak ada lagi celah di antara tubuh mereka.

"Jangan biarkan aku menunggu lebih lama lagi, Juan," bisik Ibu Hani dengan napas yang memburu tepat di depan bibir Juan.

"Tentu, Bu. Saya akan berikan jauh lebih banyak dari yang Ibu minta," jawab Juan singkat sebelum kembali menyambar bibir Ibu Hani.

Detik berikutnya, keduanya terlibat dalam percumbuan yang luar biasa panas. Lumatan bibir yang kasar serta lilitan lidah yang liar membuat mereka tampak seperti dua orang yang sedang sekarat karena dahaga dan hanya bisa selamat dengan saling mengisap gairah.

Tangan Juan bergerak liar ke bawah, meremas bemper besar nan montok milik Ibu Hani. Saking gemasnya, Juan beberapa kali menampar bokong itu dengan keras hingga kulit putih mulusnya memerah.

Plak!

Suara tamparan itu menggema nyaring di ruangan kedap suara tersebut, memicu adrenalin yang semakin tinggi.

"Pukul lagi, Juan... aku suka," desah Ibu Hani di sela-sela ciuman mereka, wajahnya tampak sangat menikmati rasa sakit yang bercampur nikmat itu.

Tanpa menunggu perintah dua kali, Juan kembali menghujani bemper hot itu dengan tamparan dan remasan yang kuat. Ibu Hani kemudian mendorong Juan hingga kembali terduduk di sofa.

Dengan gerakan dominan, ia naik ke atas pangkuan Juan, melumat bibir pemuda itu sebentar, sebelum kembali menuntun timun super Juan untuk masuk ke dalam lembah basah miliknya yang sudah sangat licin karena pelumas alami.

Meskipun ini adalah kali kedua, Ibu Hani tetap mendesis perih saat merasakan ukuran Juan yang luar biasa itu kembali meregangkan miliknya maksimal. "Ughhh... tetap saja rasanya seperti dirobek paksa. Punya kamu... terlalu besar, Juan," keluhnya dengan napas tertahan.

"Ibu mau saya berhenti?" tanya Juan sambil menatap tajam ke dalam manik mata sang dosen.

"Jangan pernah berani berhenti!" sahut Ibu Hani tegas.

Setelah menarik napas panjang untuk beradaptasi, ia mulai bergerak. Awalnya perlahan, namun lama-kelamaan ritmenya menjadi cepat dan bertenaga.

Rasa sakit dan nikmat berpadu sempurna, menciptakan sensasi memabukkan yang membuatnya hilang akal.

Ibu Hani menarik kepala Juan ke arah dadanya yang membusung. "Manjakan ini juga, Juan... ahhh!"

Juan yang mengerti langsung menyedot dan meremas melon hot itu dengan rakus. Bak kuda betina yang sedang memacu diri karena haus belaian jantan, Ibu Hani bergerak gila di atas pangkuan Juan, mengejar kenikmatan yang tak terlukiskan.

"Aku sampai Juan... aku sampai!" teriaknya parau saat tubuhnya mulai mengejang hebat untuk kedua kalinya.

Juan yang juga merasakan lahar panasnya sudah berada di ujung tanduk, segera mengangkat tubuh Ibu Hani dan membalikkan posisi mereka dengan sekali sentak.

Kini giliran Juan yang memegang kendali penuh. Ia menggempur dan memimpin permainan dengan ritme yang brutal, cepat, dan dalam.

Ibu Hani yang gairahnya kembali tersulut, memeluk Juan dengan erat dari bawah. Kukunya yang tajam bahkan merobek kulit punggung Juan karena sensasi nikmat yang diberikan Juan benar-benar tiada tara.

"Uhh Juan, kamu benar-benar perkasa sekali... Ibu sudah keluar dua kali, tapi kamu masih belum keluar..." racau Ibu Hani dengan liarnya. Ia kembali mencari bibir Juan, melumatnya dengan rakus hingga terjadi pertukaran ludah yang liar di antara mereka.

Pinggulnya pun terus bergoyang lincah, mengimbangi setiap tusukan dari timun super milik Juan.

"Aku akan sampai..." ujar Juan dengan nada suara yang semakin berat.

"Tembakkan di luar, Juan! Jangan di dalam... aku sedang masa subur!" pekik Ibu Hani dengan sisa kesadarannya, ia khawatir jika Juan kelepasan memberikan benih di dalam rahimnya.

Tidak lama setelah itu, saat merasakan lahar panasnya siap meledak dahsyat, Juan segera menarik keluar senjatanya.

Ia menembakkan lahar panas itu dengan deras, tepat di atas perut mulus Ibu Hani yang bersimbah keringat. Cairan kental itu membasahi kulit sang dosen, menandai berakhirnya pergulatan hebat siang itu.

"Gila... kamu benar-benar membuatku berantakan, Juan," bisik Ibu Hani sambil terkulai lemas di pelukan Juan, membiarkan dadanya naik turun mengatur napas yang tersisa.

Pertarungan gairah di ruang dosen itu akhirnya mencapai titik tenang, namun sisa-sisa ketegangan masih menggantung tebal di udara yang lembap.

Di dalam ruangan yang terkunci rapat itu, aroma tubuh yang bercampur peluh menjadi saksi bisu betapa beringasnya pergulatan antara sang dosen janda dan mahasiswanya.

Juan mengatur napasnya yang masih memburu, menatap Ibu Hani yang terkulai lemas dalam pelukannya. Perut mulus sang dosen masih bersimbah lahar panas miliknya yang kental, berkilau di bawah temaram lampu ruangan.

"Saya hanya menuruti keinginan dari Ibu saja. Bukankah Bu Hani yang terus menggoda saya sejak kedatangan saya ke ruangan ini?" tanya Juan dengan nada mengejek, bibirnya menyunggingkan seringai kemenangan.

Ia merasa kekuatannya tidak berkurang sedikit pun, justru energi dari liontin di lehernya terasa semakin stabil.

Ibu Hani tidak marah mendengar ejekan itu. Sebaliknya, ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang pasrah sekaligus memuja. Sisi intelektualnya telah kalah telak oleh insting wanitanya yang haus akan belaian.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali mengikis jarak, mengalungkan tangannya yang lemas ke leher Juan, lalu melumat lembut bibir seksi pemuda itu.

Juan langsung merespons, membalas lumatan itu dengan dalam hingga keduanya hampir kehabisan napas sebelum akhirnya saling melepaskan.

"Kau membuatku ketagihan, Juan. Kau harus bertanggung jawab," bisik Ibu Hani dengan suara serak yang sangat manja.

Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Juan, mendengarkan detak jantung pemuda yang baru saja menaklukkannya itu. "Ke depannya, kau punya tugas khusus untuk terus memuaskanku. Aku tidak mau tahu, kau harus datang setiap kali aku memanggilmu."

Juan terkekeh pelan, tangannya mengelus punggung mulus Bu Hani yang masih berkeringat. "Tugas khusus, Bu? Apakah ini akan masuk ke dalam penilaian indeks prestasi saya?"

Ibu Hani mencubit kecil pinggang Juan, membuat pria itu sedikit mengaduh. "Jangan bercanda. Ini rahasia kita. Tapi kalau kau servisnya memuaskan seperti tadi... mungkin aku bisa memberikan nilai 'A' mutlak untukmu."

Juan terdiam sejenak, menatap langit-langit ruangan. Di otaknya, ia teringat pada Andre, Doni, dan terutama Raisa yang masih menunggunya di kantin. Ia sadar sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Jika ia tidak segera kembali, kecurigaan akan muncul.

"Saya harus kembali ke kantin, Bu. Teman-teman saya dan Raisa pasti sudah mencari," ucap Juan sambil mulai beranjak untuk merapikan pakaiannya.

Mendengar nama Raisa, mata Ibu Hani sedikit menyipit. Ada kilat cemburu yang lewat, namun ia sadar posisinya. "Raisa si anak konglomerat itu? Sepertinya dia memang sangat menyukaimu."

Ibu Hani bangkit, mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan perutnya dan sisa-sisa percintaan mereka. "Pergilah. Rapikan pakaianmu. Jangan sampai ada aroma parfumku yang tertinggal di lehermu, atau Raisa akan langsung tahu apa yang barusan terjadi di ruangan dosen ini."

Juan memakai kemejanya, mengancingkannya satu per satu dengan tenang. Ia menatap pantulan dirinya di kaca lemari buku, memastikan tidak ada tanda merah yang mencolok. Setelah semuanya rapi, ia menoleh ke arah Bu Hani yang kini mulai mengenakan kembali pakaiannya.

"Sampai jumpa di kelas berikutnya, Bu Hani," pamit Juan dengan nada yang kembali formal, namun dengan tatapan mata yang nakal.

"Sampai jumpa, Juan... jangan lupa tugasku," balas Bu Hani sambil memberikan kecupan jauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!