Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Kekecewaan Rindiani
Setelah puas berbelanja dengan Rohana kini aku harus kesekolah Rindiani menjemputnya, hari ini dia setelah sekolah ada kelas piano jadi pulangnya lebih sore dari biasanya. kebetulan sekali tempat les piano ini jadi satu gedung dengan sekolah Rindiani jadi dia tinggal diantar gurunya ke tempat les.
Meskipun masih TK anakku sangat suka bermain piano, bahkan dia sendiri yang meminta untuk dileskan saja agar semakin mahir dalam memainkan alat musik itu.
"Sayang capek?" Tanyaku pada Rindiani saat dia baru keluar dari tempat les piano.
"Iya ma, Rindiani laper hihi" Ucapnya dengan senyuman menampilkan giginya yang kecil- kecil dan rapi itu.
"Mau makan apa sayang?"
"Emhh ayam goreng kriuk boleh ma?" Tanyanya dengan mata berbinar.
"Boleh tapi ini terakhir di minggu ini ya sayang, kan gak boleh terlalu sering makan ayam goreng kriuk" Ucapku karena aku tak mau anakku sering mengkonsumsi makanan junkfood itu.
"Siap ma" Jawabnya dengan menempelkan tangan mungilnya dikening.
Aku melajukan mobilku dengan santai ke resto ayam goreng favorit Rindiani, salah satu brand ayam goreng ternama di negara ini.
Sesekali aku melirik ponselku yang masih memantau lokasi mas Raditya, lokasinya masih berada di area kantor dan ternyata sehabis dari pusat perbelanjaan tadi dia tidak langsung ke kantor tapi ke salon selama kurang lebih dua jam.
Beberapa saat kemudian mobil yang ku kendarai sudah sampai di resto favorit anakku, kami segera masuk ke dalam dengan bergandengan tangan. Wajah putriku terlihat sangat bahagia sekali, entahlah aku tak tahu lagi setelah perceraian ku dengan mas Raditya apa anakku masih sebahagia ini.
Aku memang berencana menggugat cerai suamiku jika semua aset dan harta yang kami miliki sebagian besar jatuh ke tanganku bahkan semuanya bila perlu..! Katakanlah aku wanita egois, bukan aku melakukan ini semua demi putri kecilku Rindiani.
Aku tak rela jika jalang itu bahagia diatas penderitaan Rindiani yang harus kehilangan kasih sayang papanya.
"Maa..mau pesan apa?" Suara Rindiani membuyarkan lamunanku.
"Emm mama pesen burger aja sayang, kamu terserah mau yang mana bebas untuk hari ini" Ucapku dengan tersenyum kearahnya.
Dengan senang hati Rindiani memesan paket ayam goreng isi dua, kentang goreng, burger dan es krim entahlah itu semua dihabiskan olehnya atau aku yang akan menghabiskannya seperti yang sudah-sudah.
"Hmm enak sekali ma" Ucap Rindiani sambil mengunyah ayam goreng hingga mulutnya penuh.
"Pelan-Pelan sayang, mama nggak minta kok" Ucapku.
"Taa Renata..." teriak seseorang dari kejauhan, lantas aku menoleh ke suara tersebut.
"Rendi...?" Gumamku.
"Hai taa apa kabar?" Ucapnya saat sudah ada di dekat mejaku.
"Kabar baik, kamu kapan pulang ke Indonesia?" Tanyaku karena setahu ku Rendi masih mengurusi perusahaan papanya di Singapura setelah lulus kuliah.
"Hmm baru sebulan aku di sini, by the way ini anakmu?" Tanyanya dengan menunjuk ke arah Rindiani.
"Halo omongan aku Rindiani anak mama paling cantik" Ucapnya dengan nada centil, oh sungguh anakku kenapa kamu berkata dengan demikian.
"Nama yang cantik sesuai dengan wajahnya, ihh lucu kamu. Perkenalkan nama om Rendi teman mama sewaktu kuliah dulu" Ucap Rendi.
Rindiani hanya manggut-manggut saja karena kini mulutnya kembali penuh dengan makanan.
"Oh ya Taa ada yang mau aku tanyakan sama kamu" Ucapnya tiba-tiba menjadi serius.
"Apa?" Tanyaku dengan menautkan kedua alisku.
"Hmm kamu baik baik saja kan dengan suamimu?" Dia sedikit berbisik ke arahku mungkin saja takut terdengar Rindiani.
"Jangan bahas disini" Jawabku karena aku tak mau Rindiani jadi bertanya-tanya tentang papanya.
"Ohh sory lain kali kita bahas karena ada yang mau aku tunjukkin sama kamu. Aku pesan makanan dulu, boleh kan ikut gabung disini?"
"Silahkan saja Rendi, nanti kita atur waktu yang pas untuk membicarakan masalah tadi" Jawabku.
Cukup lama kami bertiga makan bersama disini, kini aku akan segera pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kasihan Rindiani harus segera istirahat karena dia pasti capek sekali sehabis sekolah langsung les dan saat ini masih diluar rumah hanya untuk sekedar makan siang.
"Ma, hari minggu kita jadi kan berenang bareng papa?" Tanya Rindiani saat kami sudah ada dijalan pulang.
"Nanti mama tanya dulu ke papa ya kak, kalau papa ada kerjaan renang bareng mama aja gak apa kan?" Tawarku karena aku ragu apa iya mas Raditya mau menyempatkan waktunya untuk renang bersama dengan Rindiani, sudah dua kali dia mengingkari janjinya untuk berenang bersama dengan putri kecilku ini.
"Iya ma, tapi kalau bisa mama bujukin papa ya. Udah lama Rindiani pengen renang bareng papa, tapi papa selalu sibuk padahal dirumah tapi gak mau diajakin renang. Aneh" Gerutu Rindiani.
"Kan papa meskipun libur di rumah juga masih mengerjakan tugas kantor nak" Ucapku dengan sabar memberi pengertian pada Rindiani.
"Iya ma, yaudah kalau papa sibuk sama mama aja gak apa" Ucapnya.
Akhirnya anakku yang menggemaskan ini mau menuruti kata-kataku, aku gak mau dia kecewa untuk kesekian kalinya karena mas Raditya mengingkari janjinya. Entahlah apa yang dia lakukan di dua weekend minggu kemarin karena seharian dia berada diruang kerjanya dan keluar jika akan makan saja.
Bahkan kemarin aku mendengar alasan dia yang berencana akan ke golf hari minggu bukan? Entahlah itu benar ke golf atau malah kencan dengan sekretaris barunya.
●●●●●●●●●●
Hari sudah malam tapi mas Raditya belum juga pulang, entah apalagi alasannya malam ini yang jelas aku akan tegas jika menemukan bau parfum yang seperti kemarin ataupun noda lipstik itu.
"Mending aku istirahat sebentar, nanti kalau mas Raditya datang dia pasti membangunkanku" gumamku karena mata terasa berat dan ngantuk apalagi saat ini sudah hampir tengah malam.
Tak terasa aku memejamkan mataku hampir semalaman, karena di saat aku bangun Bi Rahmi sudah memasak beberapa makanan dan tersaji dimeja makan.
"Sayang, maafin mama yang telat bangun jadinya tidak bisa ngajakin kamu jogging deh" Ucapku sambil menyisir rambut Rindiani.
"Ya ma no problem, tadi pagi kakak juga males mau jogging ngantuk hehe"
"Mau di ikat model apa ini ka?"
"Hmm ikat dua aja ma, sama pakai pita warna Pink yang baru beli kemarin ya" Ucapnya dan langsung ku angguki.
Jangan tanya mas Raditya kemana, karena dia masih ngorok didalam kamar. Entah jam berapa dia datang, aku sama sekali tak mendengar suara mobilnya.
"Mas, bangun udah siang. Gak nganter?" Tanyaku sembari membangunkan mas Raditya.
"Ngantor agak siangan aja sayang, badan mas capek banget rasanya" Jawabnya dengan masih memejamkan mata.
"Emang habis ngapain?"
"Ya kerjalah, aku tadi malam lembur sampai tengah malam"
"Ohh pantesan aku tidak tahu jam berapa kamu sampai rumah mas"
"Hmm kalian nanti sarapan duluan aja gak usah nunggu mas, mas mau lanjutin tidur bentar.
"Loh kamu gak jadi anterin Rindiani lagi?"
"Kamu ajalah sayang, biasanya juga gitu kan? Udah aku ngantuk ini malah diajakin ngobrol..!"
Tanpa menjawab mas Raditya aku segera keluar dari kamar dan membawa tas tanganku sekalian, tapi saat aku di ambang pintu aku mundur perlahan karena melihat ponsel mas Raditya tergeletak dinakas.
Dengan segera aku berjalan dengan cara pelan bahkan setengah berjinjit, dengan perlahan aku mengambil ponselnya dan membawanya ke kamar mandi.
Segera ku buka ponsel milik mas Raditya tapi susah sekali, ternyata dia mengganti password ponselnya. Aku hampir saja putus asa dan tiba-tiba terlintas diotakku memakai tanggal lahir Rindiani dan ternyata bisa dibuka. Syukurlah.
Aku tidak membuka chat diaplikasi whatsapp miliknya karena banyak sekali pesan yang masuk, kalau aku buka bisa kentara sekali jika ponselnya habis aku pinjam. Aku hanya menyadap ponsel milik mas Raditya, bahkan semua aplikasi di ponselnya kusadap semuanya agar mudah memantaunya.
"Beres...!! gumamku dan segera mengembalikan ponselnya ke tempat semula.
Aku segera turun ke bawah karena sudah dipastikan jika Rindiani sudah menunggu disana.
"Hai sayang, mau sarapan apa pagi ini?" Tanyaku.
"Nasi goreng aja ma. Oh ya papa anterin kakak kan hari ini?" tanya Rindiani dengan mata berbinar penuh harap.
"Hmm maaf ya kak papa lagi gak enak badan, tadi mama udah bangunin katanya badan papa capek-capek semalam papa lembur cari uang buat mama dan kakak. Jadi kakak diantar mama lagi ya?" jawabku dengan hati-hati sekali takut kalau anakku mendeskripsikan yang berbeda jika ada sedikit saja omongan yang keliru.
"Yaaaa lagi-lagi papa ingkar janji sama kakak ma" Ucapnya dengan nada kecewa.
"Maafin papa ya kak? kakak jangan marah ya sama papa"
"Iya ma, kakak ga marah cuma kecewa sama papa...!" Jawabnya.
"Udah kakak makan dulu nanti terlambat kesekolahnya"
"Iya ma" dengan sedikit malas anakku memasukkan nasi goreng ke dalam mulut kecilnya.
Kami menikmati sarapan dengan perasaan berbeda, Rindiani dengan rasa kecewa kepada mas Raditya dan aku sedikit lega karena bisa menyadap ponsel suamiku.
Beberapa saat kemudian kami berdua sudah selesai sarapan. Bi Rahmi segera mengambilkan tas milik Rindiani yang masih berada di dalam kamar.
"Mama mau buatin bekal dulu buat kakak ya, sebentar aja" Ucapku.
"Iya ma, kakak mau bekal sama sayur capcay ayam goreng dan buahnya jeruk aja ma" Ucapnya.
"Siap tuan putri" Ucapku dan berlalu dari harapannya.
Dengan cekatan aku menyiapkan bekal untuk putriku, aku beri hiasan wortel dan rumput laut di nasi yang ku bentuk kelinci agar Rindiani kalau makan semangat melihat bekal nya yang lucu.
"Bi, tolong kupaskan jeruk dan buah naga ya buat bekal Rindiani" Ucapku dan langsung diangguki olehnya.
Setelah semuanya siap aku langsung mengantarkan putri kecilku ke sekolah. Saat di perjalanan ponselku berdering tapi dengan nada yang berbeda, nada dering yang ku khususkan jika ada pesan atau panggilan masuk dalam ponsel mas Raditya.
"Hmm siapa yang menelepon mas ya" gumamku.
"Nanti ajalah aku lihat, nanggung bentar lagi sampai sekolah" lanjutku.
Beberapa saat kemudian mobil yang ku kendarai sudah sampai di sekolah Rindiani.
"Sayang, semangat ya sekolahnya. Ingat pesan mama sebelum mama jemput jangan pulang duluan kecuali papa yang jemput oke...!" pesanku setiap hari kepada putriku karena takut dia ikut dengan orang asing yang mengaku suruhan kami.
Banyak sekali kan kejadian penculikan seperti itu, jadi aku selalu mewanti- wanti Rindiani jika bertemu orang asing harus hati-hati dan selalu waspada.