NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Motor Mogok Di Tengah Hujan.

Tiga bulan.

Tiga bulan dari hari pertama yang empat ratus dua puluh ribu itu, dan sekarang aku sudah bisa bilang dengan kepala yang tidak tunduk bahwa ini jalan. Pelan, tapi jalan.

Hutang ke Agung sudah aku bayar lunas dua minggu lalu. Aku taruh uangnya di atas meja belajarnya waktu dia sedang mandi, amplop yang sama persis dengan yang dia taruh di meja makan tiga bulan lalu, dengan tulisan di luar cuma, "Makasih, Gung." Dia tidak bilang apa-apa waktu ketemu aku sesudahnya. Cuma senyum sedikit lalu pura-pura sibuk dengan bukunya.

Itu saja. Cukup.

Pelangganku sudah mulai ada yang tetap. Ada pak satpam sekolah yang setiap hari beli dua bungkus untuk dibawa pulang. Ada ibu-ibu warung di sebelah yang suka nitip kalau tidak sempat ke tempatku langsung. Jumlahnya belum besar, tapi ada. Dan ada itu yang penting.

Hari itu aku berangkat seperti biasa.

Subuh, shalat, sarapan seadanya, berangkat jam enam lewat sedikit supaya sempat set up sebelum anak-anak mulai berdatangan. Langit pagi itu mendung, tapi mendung biasa, bukan yang langsung mau hujan. Aku pikir masih aman.

Aku tiba, pasang bagasi, nyalakan kompor, mulai rebus air.

Jam delapan kurang, air sudah mendidih, cilok sudah di panci, dan aku ingat belum shalat dhuha. Ada masjid kecil sekitar dua menit jalan kaki dari tempatku parkir. Aku mematikan kompor dulu, tutup panci, dan jalan ke sana.

Tidak ada orang di sekitar motorku waktu aku tinggal. Aku lihat sebelum masuk masjid. Jalan sepi, sekolah belum buka, masih terlalu pagi untuk lalu lalang.

Empat rakaat. Tidak lama.

Waktu aku keluar dari masjid, awan yang tadi cuma mendung biasa sudah berubah jadi abu tua yang tidak menyenangkan. Aku jalan cepat kembali ke motor.

Semuanya masih ada. Bagasi, panci, kompor, bahan.

Aku nyalakan motor untuk pindah posisi sedikit karena bayangan pohon bergeser.

Motor tidak mau hidup.

Kick starter pertama, tidak ada respons. Kedua, ketiga. Aku cek tangki, masih ada bensin. Cek busi, kelihatannya oke. Tekan-tekan selang bensin. Tidak ada yang kelihatan salah dari luar.

Aku membuka tutup karburator.

Kosong.

Aku menatap ruang yang harusnya berisi karburator itu, dan butuh beberapa detik untuk otakku memproses bahwa ini bukan salah lihat. Karburatornya tidak ada. Diambil orang. Waktu aku shalat dhuha tadi, seseorang mengambilnya. Cepat dan tahu caranya, tidak sampai dua puluh menit, dan sekarang motorku hanya besi yang tidak akan ke mana-mana.

Aku masih menatap ruang kosong itu waktu hujan mulai turun.

Pelan dulu. Satu dua tetes di kepala, di bahu. Lalu dalam tiga puluh detik berubah jadi deras yang tidak mau kompromi.

Kompor mati kena air.

Panci terbuka, cilok yang belum sempat matang kemasukan air hujan, warnanya berubah, bumbunya luntur, tidak layak dijual lagi. Adonan yang belum dimasak di wadah plastik mulai berair.

Anak-anak sekolah mulai datang dengan payung-payung cerah, berlarian ke dalam gerbang, dan beberapa dari mereka melihat ke arahku. Gerobak di tengah hujan, penjual yang berdiri diam dengan muka yang tidak bisa menyembunyikan apa yang baru saja terjadi, motor yang tidak hidup.

Ada yang tertawa.

Bukan tawa jahat yang disengaja. Mungkin cuma anak-anak yang melihat sesuatu yang kelihatan lucu dari sudut pandang mereka, penjual cilok kehujanan dengan muka yang seperti baru ketabrak sesuatu. Tapi tetap saja suara tawa itu masuk ke telingaku dan berputar di sana dengan cara yang tidak enak.

Aku tidak bergerak selama beberapa menit.

Berdiri di bawah hujan, basah kuyup, menatap motor yang tidak bisa jalan dan dagangan yang tidak bisa dijual dan hari yang sudah resmi tidak ada penghasilannya sebelum pukul delapan pagi.

Lalu aku mulai mendorong.

Motor di tangan kiri, tali bagasi di tangan kanan, menarik bagasi yang rodanya tidak dirancang untuk jalan di aspal yang basah dan licin. Beratnya berlipat dua dengan semua peralatan di dalamnya dan sisa bahan yang belum sempat terbuang.

Satu kilometer.

Lebih.

Jalan kampung yang berbatu di beberapa bagian, got di pinggir jalan yang airnya mulai meluap karena hujan terlalu deras, orang-orang yang berteduh di bawah atap toko menatapku lewat dengan ekspresi yang aku tidak mau terjemahkan karena tidak akan membantu.

Di perempatan dekat warung Pak Soleh, sandalku putus.

Tali yang di antara jempol dan telunjuk kaki itu copot dari solnya, jadi dua bagian yang tidak berguna lagi. Aku berhenti, menatap sandal itu, lalu melepas keduanya, menyelipkan di bagasi, dan lanjut jalan nyeker.

Aspal basah di telapak kaki. Dingin dan kasar dan ada kerikil-kerikil kecil yang sesekali menusuk tapi tidak cukup sakit untuk dijadikan alasan berhenti.

Aku terus jalan.

Lebih dari satu jam total, mendorong motor yang berat dan menarik bagasi yang tidak kooperatif, di bawah hujan yang tidak mau reda, nyeker di aspal basah, sampai akhirnya gang rumahku muncul di depan dan aku bisa berhenti.

Aku parkir motor di depan pagar.

Berdiri di sana sebentar.

Bajuku menempel di kulit dari basahnya. Telapak kakiku kotor dengan lumpur tipis yang sudah mengering di beberapa bagian dan masih basah di yang lain. Tanganku pegal dari mendorong dan menarik lebih dari satu jam. Dan di dadaku ada sesuatu yang sangat sunyi dan sangat penuh sekaligus, sesuatu yang tidak punya nama yang tepat.

Bukan amarah. Sudah melewati fase itu di jalan tadi.

Bukan sedih biasa. Ini lebih datar dari sedih.

Lebih ke... kelelahan yang meresap ke dalam tulang. Kelelahan dari orang yang sudah berusaha dan masih dihadang, yang sudah bangkit dan masih dijatuhkan, yang sudah tahu rasanya mulai dari nol dan ternyata masih harus bersiap untuk kemungkinan harus mulai dari nol lagi.

Aku masuk rumah.

Ibu ada di dapur.

Beliau melihatku dari pintu dapur, satu tatapan dari atas ke bawah, dan tidak bertanya apa-apa. Tidak, "kenapa basah kuyup?" Tidak, "mana hasilnya hari ini?" Tidak, "ada apa?"

Beliau masuk ke dapur lagi.

Suara sendok di panci. Suara air dituang. Lima menit kemudian beliau keluar dengan piring nasi yang uapnya masih naik, lauk sederhana, tempe dan sambal, diletakkan di meja makan dengan cara yang biasa saja tapi tidak ada yang biasa dari cara seorang ibu menyiapkan makan untuk anaknya yang pulang dengan kaki kotor dan baju basah dan muka yang tidak perlu ditanya kenapa.

Aku duduk.

Makan.

Tidak bicara. Ibu duduk di sebelah, tidak bicara juga. Cuma ada di sana. Dan kehadiran itu, kehadiran yang tidak tuntut apa-apa dan tidak minta dijelaskan apa-apa, adalah satu-satunya hal yang membuat makan siang itu bisa masuk ke tenggorokan dengan benar.

Nasi habis.

Aku letakkan sendok.

"Ma."

"Hmm."

"Besok masih ada bahan buat bikin adonan?"

Ibu tidak langsung menjawab. Berfikir sebentar. "Ada tepungnya. Tinggal beli dagingnya."

Aku mengangguk.

Itu saja percakapannya.

Malam itu aku shalat Isya, lalu sajadah Bapak aku gelar di lantai, dan aku shalat dua rakaat tambahan yang tidak terencana, tidak terstruktur, cuma keluar begitu saja dari tubuh yang terlalu lelah untuk berdiri terlalu lama.

Waktu sujud di rakaat terakhir, aku tidak mengucapkan apa-apa.

Tidak ada kata-kata. Tidak ada permintaan yang dirangkai rapi. Tidak ada kalimat yang terstruktur.

Cuma dahi di atas sajadah lusuh Bapak. Cuma diam. Cuma napas yang masuk dan keluar, masuk dan keluar, satu per satu, pelan-pelan menemukan ritmenya sendiri di dalam keheningan yang hanya aku dan langit-langit kamar dan sajadah yang baunya sudah aku kenal seperti mengenal nama sendiri.

Lama aku di sana.

Sampai pegal sudah tidak terasa.

Sampai dinginnya lantai tidak lagi mengganggu.

Sampai napas itu benar-benar tenang.

Bukan tenang karena masalahnya selesai. Karburator itu masih hilang. Sandal itu masih rusak. Besok masih harus cari uang untuk beli karburator bekas dan bahan baru dan memulai lagi dari titik yang hampir sama dengan tiga bulan lalu.

Tapi tenang.

Hanya itu.

Dan untuk malam ini, itu lebih dari cukup untuk bisa tidur dan bangun lagi besok pagi.

1
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!