NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Kesalahan Kecil

Acara makan malam itu baru berakhir sekitar pukul sepuluh malam.

Bagi Alya, tiga jam terakhir terasa seperti ujian mental tanpa henti.

Ia harus terus tersenyum.

Terus berdiri di samping Raka.

Terus berpura-pura nyaman di tengah pandangan orang-orang yang diam-diam menilainya.

Dan yang paling melelahkan—

Vanessa beberapa kali sengaja mendekati mereka.

Kadang hanya sekadar menyapa.

Kadang menyisipkan komentar halus yang terdengar seperti sindiran.

Namun setiap kali itu terjadi, Raka selalu memotong percakapan dengan dingin sebelum situasi bertambah rumit.

Alya tidak tahu harus merasa lega… atau justru semakin bingung.

Karena semakin lama, sikap Raka semakin sulit dipahami.

Mobil melaju meninggalkan hotel dalam kesunyian.

Cahaya lampu kota terlihat samar dari balik jendela, sementara Alya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil menghela napas panjang.

“Saya resmi lelah.”

Raka yang duduk di sebelahnya melirik sekilas.

“Baru satu acara.”

Alya langsung menoleh tidak percaya.

“Baru satu acara katanya.”

Nada protesnya membuat sudut bibir Raka bergerak tipis lagi.

Sangat kecil.

Namun kali ini Alya benar-benar melihatnya.

Dan entah mengapa, itu membuatnya sedikit kesal.

“Kamu menikmati penderitaan saya, ya?”

“Tidak.”

“Tapi kamu hampir tersenyum.”

“Saya tidak tersenyum.”

“Pembohong.”

Senyap sesaat.

Dan anehnya… suasana di dalam mobil terasa lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

Namun rasa ringan itu tidak bertahan lama.

Karena begitu mereka tiba di rumah, Raka langsung kembali menjadi dirinya yang dingin dan tenang seperti semula.

“Ada jadwal makan malam keluarga besok malam,” katanya sambil melepas arlojinya begitu mereka masuk ke dalam rumah.

Alya yang sedang melepas sepatu hak tingginya langsung membeku.

“…Keluarga?”

“Ya.”

Jantung Alya langsung terasa mencelos.

“Mengapa mendadak sekali?”

“Mereka ingin bertemu dengan Anda.”

“Bisakah aku pura-pura sakit?”

“Tidak.”

Jawaban cepat itu membuat Alya menghela napas frustrasi.

“Dunia kamu benar-benar tidak memberi kesempatan bernapas, ya.”

Raka berjalan menuju ruang kerjanya sambil berkata singkat, “Biasakan.”

Lalu pria itu menghilang di balik pintu.

Alya berdiri di ruang tengah sambil memijat pelipisnya.

“Biasakan, biasakan…” gumamnya pelan dengan nada kesal. “Dia pikir semua orang robot seperti dia?”

Mira yang kebetulan lewat hampir tersenyum mendengarnya.

“Nona Alya mau teh hangat?”

Alya langsung mengangguk cepat.

“Mau. Sangat mau.”

 

Malam semakin larut.

Namun Alya belum bisa tidur.

Pikirannya terlalu penuh.

Vanessa.

Keluarga Raka.

Pandangan orang-orang tadi.

Dan yang paling mengganggunya—

Cara Raka berdiri di dekatnya saat Vanessa mulai menyindir.

Pria itu seperti… melindunginya.

Padahal mereka hanyalah pasangan kontrak.

Alya membalik tubuhnya di atas ranjang.

“Jangan mulai berpikir aneh-aneh,” gumamnya pada diri sendiri.

Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas detail-detail kecil itu muncul di benaknya.

Cara Raka menggenggam tangannya di depan media.

Cara pria itu selalu memastikan dirinya tidak sendirian di acara tadi.

Dan pandangan dinginnya pada Vanessa.

Tok tok.

Suara ketukan pintu mengejutkannya.

Alya langsung duduk.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Dan untuk pertama kalinya—

Raka masuk ke kamarnya.

Alya secara refleks langsung tegang.

Pria itu masih mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung, membuat penampilannya terlihat lebih santai dibandingkan biasanya.

Namun justru itu yang sedikit mengalihkan perhatian Alya.

“Ada apa?” tanyanya cepat.

Raka berjalan masuk beberapa langkah.

“Saya ingin bicara.”

Tentang apa?

Namun Alya tidak sempat bertanya karena Raka sudah meletakkan beberapa berkas di meja dekat sofa.

“Besok akan ada pertemuan keluarga besar saya,” katanya langsung. “Anda perlu mengetahui beberapa hal.”

Alya menghela napas lega secara diam-diam.

Oh.

Bukan hal aneh.

Hanya pengarahan.

“Baik,” jawabnya sambil turun dari ranjang.

Ia duduk di sofa seberang Raka.

Dan lagi-lagi, suasana langsung terasa formal.

“Paman saya cukup tegas,” kata Raka. “Jangan terlalu menanggapi pertanyaannya.”

Alya mengangguk.

“Baiklah.”

“Ibu saya lebih tenang, tetapi beliau sangat memperhatikan etika.”

“Baiklah…”

“Dan adik sepupu saya suka bicara tanpa berpikir terlebih dahulu.”

Alya menahan tawa kecilnya.

“Keluarga kamu terdengar melelahkan.”

Raka menatapnya beberapa detik.

“Ya.”

Jawaban jujur itu membuat Alya sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka pria seperti Raka akan mengakui sesuatu sejujur itu.

“Apakah mereka tahu tentang… kontrak ini?” tanya Alya pelan.

Pandangan Raka langsung berubah serius.

“Tidak boleh ada yang tahu.”

Nada suaranya tegas.

Dan Alya langsung mengerti—

"Topik ini sensitif".

“Saya tahu,” jawabnya pelan.

Raka menyandarkan tubuhnya sedikit.

“Besok mereka mungkin akan menguji Anda.”

“Menguji?”

“Mereka ingin memastikan Anda pantas.”

Kalimat itu langsung membuat dada Alya terasa tidak nyaman.

Pantas.

Ya.

Ia sudah menduga itu.

Orang-orang seperti keluarga Raka pasti memiliki standar tinggi.

Sementara dirinya?

Hanya wanita biasa dengan kehidupan biasa.

“Apakah kamu juga berpikir saya tidak pantas?” tanya Alya tiba-tiba.

Pertanyaan itu keluar tanpa ia rencanakan.

Dan begitu kalimat itu selesai, ia langsung menyesalinya.

Hening.

Pandangan Raka tertuju padanya beberapa detik.

Dalam.

Sulit dibaca.

Lalu pria itu berkata pelan—

“Jika saya berpikir begitu, saya tidak akan memilih Anda.”

Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.

Jawaban itu sederhana.

Namun terasa… terlalu tulus.

Alya cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

“Yah… setidaknya ada satu orang di rumah ini yang percaya pada saya.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Raka terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.

Namun belum sempat pria itu berbicara, ponsel Alya tiba-tiba berdering.

Alya langsung melihat layar ponselnya.

Rumah sakit.

Wajahnya langsung berubah panik.

“Halo?!”

Raka otomatis memperhatikan.

“Iya, saya Alya.”

Beberapa detik berikutnya, wajah Alya langsung memucat.

“Apa?!”

Ia berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur meja kecil di depan sofa.

“Astaga…”

“Ada apa?” tanya Raka langsung.

Namun Alya terlalu fokus pada teleponnya.

“Iya, saya akan ke sana sekarang!”

Begitu panggilan berakhir, tangannya sedikit gemetar.

“Ibu saya… kondisinya tiba-tiba menurun.”

Wajah Raka langsung berubah serius.

“Kita pergi sekarang.”

Alya mengangguk cepat.

Mereka turun hampir bersamaan.

Dan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Alya tidak bisa tenang.

Tangannya terus saling menggenggam.

Napasnya tidak beraturan.

“Operasinya belum dilakukan…” gumamnya pelan. “Mengapa tiba-tiba…”

“Tenang,” kata Raka.

Namun kali ini nada suaranya tidak dingin.

Lebih rendah.

Lebih stabil.

Dan anehnya… sedikit menenangkan.

Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, Alya langsung keluar tanpa menunggu.

Ia hampir berlari menuju ruang rawat.

Namun karena terlalu panik, langkahnya menjadi tidak stabil.

Dan—

Bruk.

Tubuhnya menabrak seseorang di lorong.

“Aduh—”

“Alya?”

Alya langsung membeku.

Suara itu…

Ia mendongak cepat.

Dan wajah seorang pria muncul di hadapannya.

Pria itu terlihat seusia dengannya, dengan wajah ramah dan mata penuh keterkejutan.

“Alya… benarkah kamu?”

Wajah Alya langsung berubah pucat.

“Dimas…”

Di belakangnya, langkah Raka terhenti.

Dan suasana di lorong rumah sakit itu berubah dalam sekejap.

Karena untuk pertama kalinya—

Raka melihat seseorang yang memandang Alya dengan cara yang berbeda.

Terlalu dekat.

Terlalu mengenal.

Dan pria itu jelas bukan orang asing dalam kehidupan Alya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!