Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RIZKY SENDIRI DI RUMAH KOSONG
Malam setelah Arini dan Tara kembali ke rumah Bu Siti, Rizky berdiri di teras belakang rumah lama mereka, menyaksikan bulan yang bersinar terang di atas pepohonan yang sudah mulai gugur daunnya.
Udara malam terasa dingin, dan dia menarik jaket tipisnya lebih erat ke tubuhnya. Rumah yang baru saja dipenuhi dengan suara tawa dan candaan keluarga kini kembali sunyi dan sepi.
Dia masuk ke dalam rumah dan mematikan lampu satu per satu, menyisakan hanya satu lampu kecil di ruang tamu yang memberikan cahaya redup.
Meja makan yang baru saja mereka gunakan untuk makan malam masih bersih, dengan sisa-sisa makanan yang telah dia simpan di lemari pendingin.
Dia duduk di kursi yang biasanya ditempati Arini, merasakan bagaimana tempat itu terasa kosong dan dingin tanpa kehadiran istri nya.
Rizky pergi ke kamar tidur utama dan melihat seprai baru yang dia pasang beberapa hari yang lalu – warna biru muda yang disukai Arini dengan renda halus di tepinya.
Dia meraih bantal yang biasanya digunakan istri nya dan menciumnya, harap bisa merasakan sedikit pun aroma parfum favoritnya yang khas.
Namun yang dia rasakan hanya baunya yang baru dari seprai yang belum pernah digunakan.
Dia mengambil kotak kecil yang tersimpan di laci meja malam dan membukanya – di dalamnya ada surat-surat cinta yang pernah dia kirimkan kepada Arini saat mereka masih pacaran, serta foto-foto lama dari saat mereka pertama kali menikah dan saat Tara baru lahir.
Dia melihat foto Arini yang sedang menyusui Tara dengan wajah yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan, dan rasanya seperti ada batu berat yang menekan hatinya.
"Saya sungguh menyesal dengan apa yang telah saya lakukan," bisiknya pelan sendirian di kamar yang sunyi. "Saya telah merusak semua kebahagiaan yang kita miliki bersama. Saya hanya berharap ada cara untuk mengubah masa lalu dan memperbaiki semua kesalahan saya."
Pada hari berikutnya, Rizky bangun lebih awal dari biasanya. Dia mandi dengan cepat dan kemudian pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk sarapan dan makan siang.
Saat dia berjalan di lorong pasar yang ramai, dia melihat banyak pasangan muda yang sedang berbelanja bersama atau keluarga yang sedang menikmati sarapan pagi bersama-sama. Setiap kali melihat mereka, dia merindukan kehidupan yang dulu dia miliki bersama Arini dan Tara.
Setelah berbelanja, dia kembali ke rumah dan mulai memasak sarapan – bubur ayam dan telur balado yang disukai Arini.
Dia menyiapkan piring dan sendok dengan rapi di meja makan, lalu duduk sendirian menyantap sarapan nya.
Makanan yang biasanya rasanya nikmat kini terasa hambar di lidahnya tanpa kehadiran keluarga nya.
Setelah sarapan, dia mulai bekerja di halaman depan rumah – memangkas rumput yang sudah mulai tumbuh tinggi, membersihkan taman bunga, dan memperbaiki pagar kayu yang sedikit rusak.
Saat dia sedang bekerja, tetangga sebelah yang bernama Pak Joko datang dengan membawa secangkir kopi hangat.
"Kabar baik nih Rizky, rumah kamu makin cantik aja ya," ujar Pak Joko dengan senyum ramah. "Kapan kamu dan keluarga kamu mau balik tinggal di sini? Kami semua merindukan suara tawa Tara yang selalu menghidupkan lingkungan ini."
Rizky menerima kopi dengan rasa terima kasih dan duduk bersamanya di teras depan.
"Saya tidak tahu kapan tepatnya Pak. Arini dan Tara masih tinggal bersama ibu nya untuk sementara waktu. Kami sedang melalui masa yang sedikit sulit, tapi saya berharap bisa segera kembali hidup bersama seperti dulu."
Pak Joko mengangguk dengan penuh pengertian. "Kita semua pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup kita, anak muda. Yang terpenting adalah kamu benar-benar menyesal dan berusaha untuk memperbaiki kesalahanmu. Saya melihat betapa kamu telah berubah dan betapa kamu mencintai keluarga kamu. InsyaAllah, Arini akan melihatnya dan kamu bisa kembali bahagia bersama."
Setelah Pak Joko pergi, Rizky kembali bekerja memperbaiki rumah. Dia menghabiskan seluruh hari untuk mengecat ulang tembok rumah yang sudah mulai mengelupas, membersihkan saluran air hujan yang mampet, dan memperbaiki atap yang sedikit bocor.
Saat matahari mulai terbenam, dia berdiri di depan rumah yang sudah jauh lebih cantik dan rapi dari sebelumnya, namun dia tidak bisa merasakan kebahagiaan apa pun karena rumah itu masih kosong tanpa kehadiran orang-orang yang dicintainya.
Malam itu, dia memutuskan untuk memasak makan malam yang istimewa – sup krim jagung yang disukai Tara dan steak dengan saus jamur yang pernah jadi hidangan spesial untuk ulang tahun Arini.
Dia menyiapkan meja makan dengan sangat rapi, menyala lilin kecil di tengah meja, dan menyiapkan tiga tempat makan seperti biasanya.
Setelah makan malam sendirian, dia mengambil gitar akustik yang sudah lama tidak digunakan dan mulai memainkan lagu-lagu yang pernah dia mainkan untuk Arini saat mereka masih pacaran.
Suara gitar yang lembut memenuhi ruang tamu yang sunyi, dan dia menyanyikan lirik-lirik yang penuh dengan cinta dan rasa rindu kepada istri nya.
Saat tengah malam tiba, Rizky masih belum bisa tidur. Dia duduk di ruang tamu dengan secangkir kopi hangat, melihat foto keluarga yang terpampang di dinding.
Dia memutuskan untuk menulis surat untuk Arini – sebuah surat panjang yang berisi rasa minta maafnya yang tulus, rasa cintanya yang tidak pernah berubah, dan janjinya untuk selalu menjaga dan mencintai keluarga mereka dengan sepenuh hati.
"Sayangku Arini," mulai dia menulis dengan tangan yang rapi. "Saya tahu bahwa kata-kata tidak cukup untuk meminta maaf atas semua yang telah saya lakukan padamu dan pada keluarga kita. Tapi saya ingin kamu tahu bahwa setiap hari saya hidup, saya merasa menyesal dengan apa yang telah saya lakukan dan saya berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang yang lebih baik – baik sebagai suami maupun sebagai ayah."
Dia melanjutkan menulis tentang semua perubahan yang telah dia lakukan dalam hidup nya – bagaimana dia sudah berhenti bekerja lembur tanpa alasan, bagaimana dia mulai menghargai waktu bersama keluarga lebih dari segalanya, dan bagaimana dia telah belajar untuk berkomunikasi dengan lebih terbuka dan jujur.
Dia juga menulis tentang semua rencana yang dia miliki untuk masa depan keluarga mereka – perjalanan yang ingin mereka lakukan bersama, bisnis yang ingin mereka kembangkan bersama, dan semua mimpi yang ingin mereka wujudkan bersama.
Setelah menyelesaikan surat, dia membungkusnya dengan rapi dan menempatkannya di atas meja makan bersama dengan bunga mawar putih yang dia beli dari pasar.
Dia berharap bahwa besok paginya Arini akan datang dan melihatnya, bahwa dia akan membaca surat itu dan memahami betapa tulusnya dia berubah dan mencintainya.
Pada pagi hari berikutnya, Rizky bangun dengan harapan yang tinggi. Dia mandi dan berpakaian dengan rapi, kemudian menunggu di teras depan rumah sambil membuatkan kopi hangat untuk Arini dan sarapan untuk Tara.
Namun jam demi jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda Arini atau Tara yang datang.
Ketika siang hari tiba, dia merasa sedikit kecewa tapi tidak menyerah. Dia mengambil tas kerja dan pergi ke kantor, di mana dia menemukan bahwa proyek "Kemang Asri" telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa – sebagian besar rumah telah diperbaiki dan sebagian besar pembeli telah menyetujui solusi yang ditawarkan perusahaan.
Rina datang dengan senyum lebar dan memberitahunya bahwa perusahaan telah menerima penghargaan untuk keberanian mereka dalam mengakui kesalahan dan memperbaikinya dengan transparan.
"Kamu telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, adik," ujar Rina dengan suara yang penuh rasa bangga.
"Klien dan masyarakat sangat menghargai kesungguhanmu untuk memperbaiki kesalahan dan menjaga nama baik perusahaan. Ini adalah bukti bahwa kamu telah benar-benar berubah dan menjadi pemimpin yang baik."
Rizky mengangguk dengan senyum yang sedikit terpaksa. "Terima kasih Kak. Tapi bagi saya, penghargaan terbesar adalah ketika saya bisa kembali hidup bersama dengan Arini dan Tara. Itu saja yang saya inginkan dalam hidup saya sekarang."
Setelah pulang dari kantor, Rizky menemukan sebuah pesan dari Arini di ponselnya: "Saya sudah melihat suratmu dan bunganya. Saya akan datang ke rumah malam ini untuk membicarakannya bersama. Saya juga akan membawa Tara dengan saya. Cinta kamu, Arini."
Rizky merasa hatinya berdebar kencang dan rasa bahagia yang luar biasa memenuhi dirinya.
Dia segera membersihkan rumah sekali lagi, memasak makanan kesukaan keluarga nya, dan menyiapkan segala sesuatu dengan sangat rapi untuk kedatangan mereka.