NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3_Mahkota Untuk Aurora

Matahari di Kerajaan Noxvallys tidak pernah benar-benar terasa hangat. Cahayanya selalu terhalang oleh kabut abu-abu yang menggantung rendah, menciptakan suasana suram yang seolah menelan harapan siapa pun yang tinggal di dalamnya. Bagi Ara, pagi ini tidak ada bedanya dengan ribuan pagi sebelumnya. Ia terbangun dengan rasa perih yang masih berdenyut di punggungnya akibat cambukan tempo hari. Luka-luka itu mengeras dan terasa kaku saat ia mencoba menggerakkan bahunya untuk memakai pakaian pelayannya yang kasar.

Ara melangkah menuju cermin kecil yang sudah retak di sudut gudang. Ia menatap pantulan dirinya; wajah yang penuh noda debu arang, namun tetap tidak bisa menyembunyikan sepasang mata biru yang jernih. Setiap kali ia menatap matanya sendiri, Ara merasa seperti melihat orang asing.

"Siapa kau sebenarnya, Ara?" bisiknya lirih pada kesunyian.

Pagi itu, istana sedang sibuk luar biasa. Raja Malakor Valeska akan mengadakan perjamuan kecil, dan Putri Morena telah memerintahkan semua pelayan untuk bekerja tanpa henti. Ara ditugaskan untuk membersihkan aula bawah yang penuh dengan debu bertahun-tahun. Tempat itu adalah gudang penyimpanan barang-barang kuno yang sudah tidak terpakai, sebuah tempat yang dijuluki 'Lubang Debu'.

Sambil memegang sapu lidi dan kain kusam, Ara mulai bekerja. Di tengah kepulan debu yang membuatnya terbatuk, ia melihat sebuah peti kayu kecil yang tergeletak di pojok ruangan. Secara tidak sengaja, tangannya menyentuh permukaan peti itu, dan seketika sebuah kilasan ingatan menghantam kepalanya dengan keras.

Suara tawa bayi... aroma bunga lili yang manis... dan tujuh bayangan pemuda yang mengelilinginya...

Ara terhuyung dan memegang kepalanya yang mendadak pening. Mimpi buruk itu kembali lagi. Mimpi yang selalu berulang setiap kali ia memejamkan mata. Dalam mimpinya, ia selalu berada di sebuah tempat yang penuh cahaya, sangat berbeda dengan Noxvallys yang gelap. Ia melihat seorang wanita cantik dengan mahkota berkilau yang memeluknya erat, lalu tiba-tiba semuanya berubah menjadi merah darah dan ia ditarik paksa ke dalam kegelapan.

"Kenapa... kenapa mimpi itu terasa begitu nyata?" Ara terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya.

Ia meraba dadanya, memastikan Pulpen Cendana Emas masih terselip aman di balik bajunya. Setiap kali ia merasa takut atau bingung, benda itu seolah memberikan ketenangan. Baginya, pulpen itu bukan sekadar benda mati; itu adalah satu-satunya saksi bisu bahwa ia pernah menjadi seseorang yang berharga sebelum debu Noxvallys menutupi identitasnya.

"ARA! Keluar dari sana sekarang!" suara melengking Nyonya Bertha memecah lamunannya. "Kau harus pergi ke pasar pusat! Putri Morena ingin kau membelikan sutra biru terbaik untuk gaun pestanya. Jika kau kembali tanpa sutra itu, jangan harap kau bisa makan malam ini!"

Ara segera menyeka keringatnya dan berlari keluar. Pergi ke pasar pusat adalah perjalanan yang cukup jauh, namun bagi Ara, itu adalah napas kebebasan. Setidaknya di pasar, ia bisa melihat orang-orang luar dan sedikit melupakan siksaan Putri Morena.

Ia mengenakan jubah lusuh dengan tudung kepala yang ditarik rendah untuk menutupi rambut pirang pucatnya yang mencolok. Dengan langkah cepat, ia berjalan menyusuri jalanan berbatu menuju pusat kota. Di sepanjang jalan, ia melihat kemiskinan dan ketakutan penduduk Noxvallys di bawah kepemimpinan Raja Malakor yang kejam. Ara merasa hatinya hancur, ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang ingin berteriak melawan ketidakadilan ini, namun ia hanyalah seorang pelayan yang tak berdaya.

Sementara itu, di gerbang utama pasar pusat, tujuh pria dengan kuda-kuda tinggi dan gagah baru saja tiba. Mereka mengenakan jubah perjalanan yang tebal untuk menutupi zirah emas mereka agar tidak menarik perhatian mata-mata kerajaan. Alistair, yang kini berusia 30 tahun, memimpin dengan tatapan tajam yang menyapu setiap sudut pasar.

"Ingat," Alistair berkata dengan suara rendah namun penuh wibawa. "Kita di sini bukan untuk berperang, tapi untuk menemukan jejak adik kita. Gunakan insting kalian. Jangan biarkan satu detail pun terlewat."

"Aku sudah mencium bau busuk sihir kegelapan di tempat ini sejak kita masuk," gumam Benedict yang berusia 29 tahun, tangannya tetap berada di gagang pedangnya.

"Lihatlah orang-orang ini," Caspian yang berusia 28 tahun menghela napas sedih melihat penduduk yang kurus kering. "Jika Aurora tumbuh di tempat seperti ini, hatiku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."

Mereka turun dari kuda dan mulai berjalan membelah keramaian pasar. Darian, Evander, Fabian, dan Gideon berpencar dalam radius yang tidak terlalu jauh. Meskipun mereka sudah dewasa dan sangat kuat, hati mereka tetaplah tujuh anak laki-laki yang kehilangan adik kecil mereka 18 tahun yang lalu.

Takdir bekerja dengan cara yang sangat halus. Ara baru saja keluar dari toko kain dengan gulungan sutra biru di tangannya. Karena terburu-buru, tudung jubahnya sedikit tersingkap oleh tiupan angin kencang. Di saat yang sama, seorang pangeran licik dari bangsawan lokal Noxvallys, Pangeran Boris, sedang melintas dengan pengawalnya yang kasar.

Boris melihat wajah Ara dan seketika matanya berbinar dengan niat jahat. "Wah, lihat apa yang kita temukan di tengah pasar yang kotor ini. Seorang pelayan dengan wajah secantik bidadari." Boris menarik lengan Ara dengan kasar.

"Lepaskan! Tolong lepaskan saya, Tuan!" teriak Ara ketakutan. Gulungan sutra yang ia pegang jatuh ke atas tanah yang berlumpur.

"Beraninya kau menolakku! Kau hanya seorang budak!" Boris mengangkat tangannya, bersiap untuk melayangkan tamparan keras ke wajah Ara.

Ara memejamkan mata, bersiap menerima rasa sakit yang sudah biasa ia rasakan. Namun, tamparan itu tidak pernah sampai.

Takk!

Sebuah tangan yang sangat kuat menangkap pergelangan tangan Boris di udara. Ara membuka matanya dengan gemetar. Di depannya berdiri seorang pria dengan bahu lebar dan tatapan mata yang sangat dingin. Pria itu adalah Alistair.

"Menyakiti seorang wanita adalah perbuatan pengecut yang paling rendah," ucap Alistair dengan nada suara yang membuat nyali Boris menciut.

"Siapa kau?! Beraninya kau mencampuri urusan bangsawan Noxvallys!" teriak Boris marah, sementara pengawalnya mulai mengepung Alistair.

Dalam sekejap, enam pria lainnya—Benedict, Caspian, Darian, Evander, Fabian, dan Gideon—sudah berdiri di belakang Alistair. Aura keberadaan mereka begitu menekan, seolah-olah tujuh singa sedang mengepung seekor tikus.

"Kami adalah orang-orang yang tidak suka melihat ketidakadilan," sahut Gideon dengan seringai menantang.

Melihat jumlah dan kegagahan ketujuh pria tersebut, Boris yang penakut segera mundur. "Urusan kita belum selesai, pelayan kotor! Ayo pergi!" Boris dan anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru.

Ara gemetar hebat, ia berlutut untuk mengambil sutranya yang kini kotor terkena lumpur. "Terima kasih... terima kasih banyak, Tuan-tuan yang baik," bisiknya dengan suara parau. Air mata mulai menetes di pipinya. Ia takut bukan karena Boris, tapi karena sutra milik Putri Morena telah rusak. Ia tahu siksaan apa yang menunggunya di istana.

Alistair membungkuk, mencoba membantu Ara berdiri. Saat tangannya menyentuh lengan Ara, sebuah getaran listrik yang aneh terasa menyambar jantungnya. Ia menatap mata biru Ara, dan untuk sesaat, dunianya seolah berhenti berputar.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Alistair dengan suara yang mendadak melembut.

Ara mendongak. Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun, ia menatap mata seseorang yang tidak memandangnya dengan kebencian. Di mata pria ini, ia melihat perlindungan. Namun, rasa takut akan Putri Morena lebih besar dari segalanya.

"Saya harus pergi... saya dalam bahaya jika terlambat," Ara segera menarik tudung jubahnya kembali, menundukkan kepalanya, dan berlari menembus kerumunan pasar tanpa menoleh lagi.

Ketujuh pangeran itu berdiri terpaku, menatap punggung gadis pelayan itu yang menghilang di kejauhan.

"Alistair... apakah kau merasakannya juga?" tanya Evander dengan suara bergetar.

"Jantungku... jantungku berdegup sangat kencang saat melihatnya."

"Mata itu," bisik Benedict. "Biru jernih seperti milik Bunda."

Alistair mengepalkan tangannya. "Kita tidak boleh kehilangan jejaknya. Cari tahu di mana gadis itu tinggal. Ada sesuatu pada dirinya yang memanggil jiwaku."

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!