NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran

Rahim Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Contest / Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:114.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sept

Hanya karena uang, Dira menjual rahimnya. Pada seorang pria berhati dingin yang usianya dua kali lipat usia Dira.
Kepada Agam Salim Wijaya lah Dira menjual rahim miliknya.
Melahirkan anak untuk pria tersebut, begitu anak itu lahir. Dira harus menghilang dan meninggalkan semuanya.
Hanya uang di tangan, tanpa anak tanpa pria yang ia cintai karena terbiasa.

Follow IG Sept ya
Sept_September2020

Facebook
Sept September

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senam Jantung

Rahim Bayaran #20

Oleh Sept September

"Ma ... Ma ... sini Ma!" Agam secepat kilat menarik tubuh mamanya sambil merangkul menuju ke depan. Jangan sampai ketemu istrinya, istri yang nomor dua. Yang masih kecil dan polos itu, si Dira. Bahaya!

Manik matanya menajam, ke sana ke mari merasa panik, ketika melihat kamar tamu terbuka. "Di mana anak itu?" pikirnya sambil terus menuntun sang Mama menjauh. Jangan sampai dua wanita beda usia itu bersua.

Dira mungkin akan lebih cocok jadi cucu mama dari pada anak mantu. Ish, Agam terus clingak-clinguk mencari keberadaan Dira.

"Mama haus, kenapa ditarik ke sini? Huh!" kesal mama.

"Agam ambilin! Mama duduk!"

Buru-buru Agam masuk ke dalam, dicarinya si Dira, gadis kecil yang akhir-akhir ini mampu mengacak-acak hati pria bertubuh tegap, tinggi, dan atletis tersebut.

"Ke mana tuh bocah?" gumamnya sambil mengendarkan pandangan ke sekitar.

"Dira!" bisiknya saat melihat Dira yang baru masuk dari pintu samping.

"Dari mana kamu?" masih dengan suara bisik-bisik.

Dira menduga pasti ada Mas Denis. Jadi Agam bersikap sembunyi-sembunyi seperti itu.

"Ini ... habis dari belakang sama Bibi. Petik buah mangga sama ngarungin buah klengkeng biar buahnya tidak jatuh semua." Jawab Dira dengan polos, sambil menunjukkan ember tanggung yang ia pegang. Satu ember bersisi mangga yang sudah ranum, seranum Dira.

"Ngapain juga kamu itu, kurang kerjaan!" cetusnya sedikit kesal.

"Di rumah ini ... Dira kan memang gak punya kerjaan, Mas. Apa-apa sama Bibi tidak boleh!" terang Dira dengan apa adanya.

"Hiiii ....!" Dengan nada geram. Agam seolah ingin mencubit anak nakal itu.

"Saya bayar kamu itu bukan untuk jadi pembantu! Kamu ngerti tujuan saya menikahi kamu itu untuk apa?" tambah Agam dengan berkacak pinggang.

Dira hanya mengantupkan bibirnya. Mengigit sedikit, dan hal itu tertangkap oleh mata Agam yang super jeli. Pria dengan hati sekeras baja itu pun langsung hilang konsentrasi.

"Agam ... mana minumnya?" teriak Mama dari depan.

"Kamu sembunyi dulu!" Agam langsung tersadar, asik memarahi Dira ia sampai lupa misi utamanya. Yaitu menyembunyikan Dira agar tak terlihat oleh mamanya itu.

"Sembunyi?" Kedua alis bak bulan sabit itu menungkik tajam. Tidak mengerti, mengapa disuruh sembunyi.

"Ada Mama! Saya gak mau ada masalah. Cepat sembunyi!" ujarnya sambil masih clingak-clinguk. Hilang sudah kesan pria penuh wibawa, untuk saat ini.

Dira sendiri lantas mencari tempat yang pas untuk dipakai persembunyian.

"Kamar Bibi!" pikir Dita. Ia pun ingin melangkah menuju kamar asisten rumah tangga suaminya itu.

"Mau ke mana?" bisik Agam saat Dira mulai berjalan.

"Kamar Bibi!" Dira pun sama, ia bicara dengan pelan seperti orang yang sedang bisik-bisik.

Sementara itu, Mama yang sudah dilanda kekeringan dan sangat haus. Sudah tidak sabar, Agam ini lamban sekali. Ambilin minum saja kaya ngantri di kasir indoapril. Lama banget! Mama pun memilih menghampiri putranya itu.

Tap tap tap

Kaget, ketika mendengar derap langkah yang makin dekat.

Agam dan Dira tentunya merasa panik, kamar Bibi masih agak jauh. Mereka gak ada waktu lagi ke kamar itu. Hanya ada kamar mandi di dekat sana.

Buru-buru, Agam menarik lengan Dira. Mengajak gadis itu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dapur. Tidak sebesar kamar mandi di kamarnya. Karena bukan kamar mandi utama, hanya untuk pegawai di rumah itu saja.

Saat Mama tiba, dua mahluk itu sudah ada di dalam kamar mandi yang sempit tersebut.

"Mas Agam! Ngapain ikut sembunyi?" Dira menatap aneh pada suaminya.

Seperti orang bodoh, Agam juga tak habis pikir. Untuk apa ia ikut masuk di kamar mandi itu bersama Dira?

"Agam? Ke mana itu si Agam?" Mama mencari-cari anaknya itu.

Melihat pintu terkunci, Mama pun mengira Agam ada di dalam sana.

Tok tok tok

"Katanya mau ambilin minum. Eh ... malah ke kamar mandi!" cetus Mama setelah mengetuk pintu kamar mandi itu.

Mama pun mengambil minum sendiri di dalam kulkas. "Ke mana juga pembantu di rumah ini? Ish ... sepertinya aku harus membawa Agata cepat pulang ke rumah ini!" gumam Mama setelah meminum jus kemasan dari dalam kulkas.

Dari samping, Bibi penjaga rumah masuk.

"Nyonya!" pekik Bibi. Kaget pagi-pagi, Ibu dari tuannya kok sudah main ke rumah.

"Ke mana saja sih Bik!" gerutu Mama.

"Ini Nya, panen mangga!"

"Hem ... yasudah. Tolong bikinin teh herbal. Kepala saya rasanya pusing."

"Baik, Nya!"

Mama pun berlalu, ia kembali ke ruang tamu. Sedangkan Agam dan Dira, keduanya kini bisa keluar.

Saat Agam sudah keluar duluan dan akan disusul oleh Dira, tiba-tiba Mama datang lagi ke dapur. Spontan Agam masuk lagi, kaget karena terdorong oleh Agam yang membuka pintu kembali. Dira pun akhirnya sedikit terpental.

Tangan gadis itu tak sengaja menyentuh kran di belakang tubuhnya. Dan byurrr...

Air dari shower pun lolos begitu saja menguyur Dira dari atas sampai bawah.

"Agam, kamu mandi ya?" tanya Mama.

"Ah ... iya Ma," jawab Agam dengan gugup, bukannya apa-apa. Pemandangan di depannya saat ini bikin jantungnya cenat-cenut.

"Kenapa gak di kamar kamu sendiri?"

"Rusak! Airnya mampet!" Agam asal menjawab.

"Jangan lama-lama ya, Mama mau ngomong penting!"

"Iya!" Mulutnya berkata iya, tapi otak pria itu sudah traveling ke mana-mana.

Klek

Agam mematikan shower yang semula mengucur deras itu.

Ditatapnya Dira lekat-lekat, sambil menelan saliva. Tangannya menyibak rambut yang menutupi mata gadis itu.

Menggoda, betul-betul sangat menguji dirinya. Sempat terbesit di benak Agam. Jangan-jangan Dira sengaja menyalakan shower itu. Sengaja berniat menggoda dirinya, lagi!

Sedangkan Dira, yang tidak tahu fitnah keji di dalamn kepala suaminya itu hanya menahan rasa dingin yang menyerang.

Ia bahkan tak terpengauh ketika Agam menyentuh kulit pipinya yang lembut itu. Ia hanya ingin keluar dan ganti baju.

"Mas, sepertinya Mama sudah ngak ada. Bisakah kita keluar sekarang?" ajak Dira yang sudah basah kuyup.

"Kamu sengaja kan menyentuh kran shower itu?" tuduh Agam, dan tangannya masih membelai rambut Dira yang basah.

Dira hanya memincingkan mata, "Mas Agam ini ngomong apa? Lagian Dira sudah mandi. Ngapain nyalain shower, kan jadi mandi dua kali?" tanya Dira balik dengan spontan.

Agam mendesis kesal, "Bisa-bisanya dia jual mahal!" rutuknya sambil membuang muka.

"Ayo Mas, keluar. Sudah sepi!" Dira ini sudah ngak sabar untuk ganti baju dengan pakaian yang kering.

"Tanggung jawab dulu!"

"Tanggung jawab untuk apa? Dira ngak ngapa-ngapain."

"Jangan lagi seperti ini!" larang Agam tanpa menyebut larangan apa itu. Membuat Dira tak tahu maksud ucapan suaminya.

"Iya, iya ... Dira gak bakal pakai shower kalau mandi. Dira bakal pakai gayung!"

Jengkel, Agam langsung menekuk wajahnya. Sudah persis kanebo usang yang tak bisa dipakai lagi.

Melihat Agam hanya diam, Dira kembali bertanya. "Bolehkan sekarang Dira keluar?" Dira sudah bersiap untuk membuka pintu.

Bruakkk

Agam menekan pintu itu dengan telapak tangan. Dengan sorot matanya menatap tajam ke arah gadis tersebut.

Membuat Dira terkejut seketika. Tubuhnya pun perlahan mundur. Sikap Agam seolah tidak mengijinkan Dira keluar dengan selamat.

Bersambung

Apakah mungkin akan ada senam di dalam sana? Entahlah.

1
Uus Sumartini
jgn pliss biarin aja mati ayahnya jgn smpai batari ngasih ginjalnya
juwita
🤣🤣🤣bukannya jaja miharja yg suka mandang sebelah mata
juwita
agam terlalu kasar dn trs ngungkit kerjaan ibunya dira pdhl dia tau pas mlm pertama dia yg pertama buat dira.
juwita
bkn egois dira hny ingin bersama anaknya. kita pun sm klo ada di posisi dira pasti pergi. apa lg mertuanya sayang sm istri pertama . pasti klo anak dira lahir di ambil sm mrk trs dira di usir. walo pun ada agam g 24 jam agam sm dira
juwita
🤣🤣🤣🤣
juwita
dikira ada yg manggil dek dek dek🤣🤣🤣
juwita
km. yg harus bisa ngemong bknya di marahi trs
juwita
di perumahan elite ada yg pelihara ayam ya🤣🤣🤣🤣
juwita
knpa marah org km yg ngundang dira di rmh tangga km. dira jg istri agam
juwita
udh dpt jatah dr istri muda skrg pindah ke istri tua. nikmatnya punya istri dua. harusnya smbil nyanyi agam🤣🤣
juwita
g enak mkn tp nasi habis sebakul. hehe bercanda thor🤣🤣🙏
juwita
dikira enak pny istri dua🤣🤣🤣
juwita
janin msh segumpal darah bisa flu🤣🤣
juwita
kan km yg nyuruh agam nikah lg. mknya jgn main api kebakar sendiri km yg ngundang org ke 3 masuk ke rumah tangga mu
juwita
bknya mmh nya nyuruh nikah lg jg. cerita aj jujur klo dira bkn pembantu. kasihan dira udh sering di maki sm agam skrg sm emaknya di kira babu😭
juwita
harusnya di jidat dira di tulis istri agam gitu biar g di sangka simpana🤣🤣
juwita
ya g belikan mn ada baju baru
juwita
kasihan sebenernya . dia ky gitu krn kelakuan dia sendiri
juwita
itulah susahnya pny istri dua hati akn bercabang tp enaknya ketika istri pertama marah lari ke istri muda🤣🤣
juwita
pny malu jg tuan arogan🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!