Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN BESAR
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Detik-detik terasa begitu berat seiring berjalannya waktu, seolah setiap langkah yang diambil adalah langkah menuju sebuah pertarungan besar yang nyawanya menjadi taruhan utama. Di dalam koridor gedung pusat perusahaan yang biasanya ramai oleh aktivitas karyawan, saat ini terasa begitu sunyi dan mencekam. Hanya terdengar suara langkah kaki para tim keamanan yang bergerak cepat namun teratur, disertai dengan suara napas yang tertahan oleh rasa tegang. Setiap wajah yang terlihat di sana menunjukkan kekhawatiran yang mendalam, namun di saat yang bersamaan juga memancarkan tekad untuk melindungi apa yang menjadi tanggung jawab mereka.
Di lobi utama, Dante berdiri di tempatnya, matanya mengawasi setiap pergerakan pasukannya dengan sangat teliti. Di sampingnya, Pak Herman sedang sibuk memantau monitor pengawas dan radio komunikasi, wajahnya berkeringat dingin namun tetap berusaha tenang untuk mengkoordinasikan langkah selanjutnya. Keputusan yang diambil Dante beberapa saat yang lalu, mengubah strategi pertahanan secara mendadak, memang sangat berisiko dan kontroversial. Namun, melihat fokus dan keyakinan yang dimiliki atasannya, Pak Herman sadar bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempertanyakan kepemimpinan, melainkan saatnya untuk mendukung sepenuh hati.
"Tim A sudah berada di posisi pengawasan di lantai atas, Pak. Mereka melaporkan situasi masih tampak tenang dan tidak ada aktivitas mencurigakan dari pihak luar maupun di dalam gedung," lapor salah satu petugas sambil menunjuk layar monitor yang menampilkan berbagai sudut gedung. "Begitu juga dengan Tim B yang dikirim ke ruang data utama. Mereka melaporkan keadaan aman dan terkendali."
Dante mengangguk pelan, namun wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelonggaran. Justru sebaliknya, keningnya semakin berkerut dan pandangannya semakin tajam. Musuhnya bukanlah orang bodoh yang akan menunjukkan tujuannya secara terang-terangan. Mereka pasti sedang menunggu waktu yang paling tepat untuk melancarkan serangan, di saat pertahanan sedang paling lemah atau fokus sedang teralihkan.
"Bagaimana dengan Tim C dan Tim D yang dikirim ke lokasi utama sasaran kita? Apakah sudah mencapai lokasi dan bersiaga?" tanya Dante dengan suara rendah namun tegas.
"Sudah, Pak. Mereka baru saja melaporkan telah sampai di lokasi penyimpanan cadangan di lantai bawah tanah nomor tiga. Mereka bersembunyi di posisi yang strategis dan masih dalam mode diam, menunggu perintah selanjutnya atau menunggu musuh menampakkan diri," jawab Pak Herman sambil memeriksa radio komunikasi di tangannya.
Dante menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengusir rasa gugup yang masih tersisa di dadanya. Harapannya semoga keputusan yang ia ambil kali ini adalah keputusan yang tepat. Jika dia salah, maka akibatnya akan sangat fatal, nyawa banyak orang dan masa depan perusahaan yang telah dibangun susah payah bisa hancur seketika. Namun, jika dia benar, maka dia tidak hanya berhasil menggagalkan rencana jahat musuh, tetapi juga membuka jalan untuk mengungkap kebenaran di balik semua kekacauan ini.
Sementara itu.
Di tempat yang jauh dari keramaian, di sebuah ruangan rahasia yang gelap dan dingin, sang dalang di balik semua kekacauan ini sedang mengawasi jalannya rencananya melalui monitor pengawas rahasia yang disusupkan. Wajahnya dipenuhi oleh senyum puas yang sangat licik. Dia melihat pasukan keamanan Dante seolah sedang berjalan mengikuti jejak yang telah ia buat. Dia mengira bahwa jebakannya sudah berhasil memancing pasukan keamanan ke tempat yang diinginkannya, sehingga jalannya untuk melakukan serangan di lokasi sebenarnya menjadi terbuka lebar.
"Akhirnya kau jatuh juga, Dante. Kau masih terlalu muda dan naif untuk melawanku. Nikmatilah momen ketenangan ini, karena sebentar lagi semuanya akan berubah menjadi neraka," gumam orang itu dalam hati, matanya menyala dengan sorot mata yang jahat dan penuh kebanggaan diri. Dia segera memberi perintah melalui alat komunikasi kepada pasukannya yang sudah bersembunyi di lokasi sasaran. "Maju. Jalankan rencana B. Saatnya kita mengakhiri permainan ini."
Di tempat lain, di sebuah gudang tua di pinggiran kota yang sepi dan gelap, Pak Adam masih terikat di kursinya dengan wajah yang babak belur dan tubuh yang lemah. Namun, di matanya masih tersisa nyala api semangat dan tekad yang kuat. Dia tidak akan menyerah begitu saja meskipun kondisinya sangat terjepit. Tiba-tiba, salah satu penculiknya menerima pesan melalui alat komunikasi, dan wajahnya berubah menjadi senyum licik.
"Syukurlah. Kabarnya operasi utama sudah berjalan. Itu berarti tugasmu sudah selesai, Pak Adam. Dan sekarang, giliranmu untuk menerima hukuman akhir," ujar salah satu penculik itu dengan suara yang mengerikan sambil menodongkan senjatanya ke arah Pak Adam.
Pak Adam menelan ludahnya dengan susah payah, keringat dingin mengalir deras di tubuhnya. Dia sadar bahwa nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Namun, di saat yang bersamaan, dia berdoa dalam hatinya semoga Dante dan pasukannya bisa menyadari jebakan ini dan menghentikan rencana jahat itu tepat pada waktunya. Dia berharap pengorbanannya dan segala kesulitan yang dia alami tidak akan menjadi sia-sia.
▪️▪️▪️▪️▪️
Kembali ke gedung pusat perusahaan, suasana semakin terasa menegangkan. Waktu terus berjalan mendekati waktu yang diprediksi sebagai waktu pelaksanaan serangan oleh musuh. Tiba-tiba, radio komunikasi di tangan Pak Herman berbunyi nyaring, dan suara anggota tim terdengar panik dan terburu-buru dari seberang sana.
"Lapor Pak! Ada aktivitas mencurigakan! Di pintu masuk bawah tanah, terlihat beberapa orang berselimut pakaian tebal membawa barang-barang besar mencurigakan sedang mencoba masuk dengan menyamar sebagai petugas teknisi!" teriak suara di radio itu.
Darah Dante seketika mendidih. Itu tandanya musuh sudah mulai bergerak. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, dia segera memberi perintah dengan tegas dan cepat.
"Segera blokir jalan masuk itu! Jangan biarkan mereka masuk lebih jauh! Dan perintahkan pasukan di lokasi penyimpanan cadangan untuk segera bergerak dan mengepung mereka! Tangkap mereka hidup atau mati, tapi pastikan misi mereka gagal!" teriak Dante dengan suara lantang, matanya menyala dengan api pertarungan.
Operasi penangkapan segera berlangsung. Di koridor bawah tanah yang gelap dan sempit, terjadi pertarungan sengit antara pasukan keamanan dan pasukan musuh. Suara teriakan, suara benturan benda keras, dan suara tembakan senjata api memecah kesunyian malam itu. Pasukan musuh yang menyadari bahwa rencananya telah bocor dan mereka terjebak dalam kepungan, akhirnya nekat melakukan perlawanan mati-matian untuk meloloskan diri. Namun, pasukan keamanan yang sudah bersiap dan memiliki keunggulan jumlah serta strategi, perlahan namun pasti mulai mendesak pasukan musuh tersebut.
Di tempat kejadian, Pak Herman mengawasi jalannya pertarungan melalui laporan dari radio komunikasi dengan napas tertahan. Rasa cemas dan khawatir akan keselamatan anak buahnya sangat besar, namun dia sadar bahwa ini adalah pertarungan yang harus dimenangkan demi keselamatan orang banyak.
"Kita harus menangkap pemimpin mereka atau orang yang paling tinggi jabatannya. Kita butuh informasi darinya untuk membongkar jaringan ini lebih dalam lagi," perintah Pak Herman kepada pasukannya.
Di tengah kekacauan pertarungan itu, salah satu anggota pasukan keamanan akhirnya berhasil melumpuhkan salah satu pemimpin pasukan musuh dan mengamankannya. Namun, beberapa pasukan musuh lainnya masih berusaha melarikan diri sambil melakukan perlawanan.
Sementara itu, di ruang pengawasan pusat, Dante masih berdiri di tempatnya, matanya terus memantau situasi melalui layar monitor dengan sangat fokus. Wajahnya masih sangat tegang, meskipun dia tahu bahwa pasukannya sudah unggul dan dalam posisi menguntungkan. Dia tahu, pertarungan di lapangan hanyalah awal dari masalah yang sebenarnya. Dia masih harus menghadapi dalang di balik semua ini, dan dia masih harus menyelamatkan Pak Adam serta mengungkap kebenaran yang sebenarnya.
Namun, satu hal yang pasti, hari ini dia berhasil memenangkan babak pertama pertarungan ini. Dia berhasil menggagalkan rencana jahat musuhnya dan menyelamatkan nyawa banyak orang. Namun, dia sadar bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Musuhnya pasti akan melakukan serangan balas yang lebih dahsyat dan licik. Dan dia harus bersiap untuk menghadapinya dengan kekuatan yang lebih besar dan strategi yang lebih matang.
Di tempat lain, sang dalang yang melihat kegagalan pasukannya melalui laporan bawahnya, sangat murka dan marah luar biasa. Dia membanting barang-barang di ruangannya dengan amarah yang tak tertahankan.
"Sialan! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagaimana mereka bisa tahu rencana kita? Apakah ada pengkhianat di pihak kita?" teriaknya dengan suara yang menggelegar, wajahnya merah padam menahan amarah. Dia sadar bahwa kekalahannya hari ini telah membuka celah bagi Dante untuk mengetahui kebenaran dan mengungkap jaringannya. Dan itu berarti bahaya besar sedang mengancamnya. Dia harus segera memikirkan langkah selanjutnya untuk menyelamatkan diri dan membalas kekalahannya ini.
Malam itu, meskipun pertarungan di gedung pusat telah usai dan situasi mulai kondusif kembali, namun suasana di hati kedua belah pihak masih sangat panas dan penuh dendam. Perang ini baru saja memasuki fase yang lebih rumit dan berbahaya. Dan pertarungan yang sebenarnya untuk memperebutkan kekuasaan dan kebenaran baru saja akan dimulai.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^