Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PUING-PUING DI PERSIMPANGAN JALAN
Suara hantaman logam berat yang beradu di tengah kesunyian malam itu terdengar begitu memekakkan telinga, memecah keheningan jalanan pinggiran kota yang diguyur gerimis tipis. Truk kontainer raksasa tanpa lampu depan itu menghantam tepat di bagian lambung samping kanan mobil Alphard hitam milik Dafa Mahardika. Daya dorong yang luar biasa besar membuat kendaraan mewah seberat lebih dari dua ton itu sempat terseret beberapa meter di atas aspal yang basah, sebelum akhirnya terguling dua kali dan berakhir dalam posisi terbalik di dekat pembatas jalan.
Asap putih tebal seketika mengepul keluar dari kap mesin mobil yang ringsek parah. Pecahan kaca kristal antipeluru berserakan layaknya butiran es di atas permukaan aspal yang hitam. Suasana di sekitar persimpangan jalan itu mendadak hening kembali, hanya diiringi oleh suara tetesan air hujan dan deru mesin truk kontainer yang perlahan-lahan dimatikan oleh pengemudinya.
Pintu kemudi truk terbuka. Dua orang pria bertubuh tegap dengan tudung jaket hitam melangkah turun, masing-masing memegang senjata api jenis pistol semi-otomatis di tangan mereka. Langkah kaki mereka bergerak cepat namun waspada mendekati bangkai mobil Alphard yang terbalik, memastikan tidak ada tanda-tangan kehidupan dari dalam sana.
"Pastikan target utama mati. Baskoro tidak mau ada kesalahan kedua kalinya malam ini," bisik salah satu pria dengan nada suara yang dingin sarat akan kekejaman.
Namun, belum sempat mereka melangkah lebih dekat ke arah pintu belakang mobil, sebuah suara benturan keras dari dalam kabut asap seketika menghentikan gerakan mereka. Pintu bagian belakang mobil Alphard yang telah penyok itu mendadak ditendang dengan kekuatan yang luar biasa dari arah dalam hingga engsel besinya terlepas total dan menghantam aspal.
Dari dalam kepulan asap putih dan cairan oli yang bocor, sesosok tubuh tegap melangkah keluar dengan perlahan. Dafa Mahardika berdiri tegak di atas kedua kakinya, mengabaikan fakta bahwa mobil mewahnya baru saja dihantam oleh truk berkekuatan puluhan ton. Jaket kulit hitamnya tampak robek di bagian bahu, dan beberapa tetes darah segar mengalir perlahan dari luka robek kecil di pelipis kanan wajah tampannya, memberikan kesan yang teramat liar dan berbahaya pada penampilannya malam itu.
Sistem keamanan ganda dan pelat baja antipeluru dari mobil khusus Mahardika telah menyelamatkan nyawanya dari kematian instan. Dan kini, predator yang terluka itu telah keluar dari sarangnya dengan amarah yang mengkristal sempurna di balik sepasang mata elangnya yang pekat.
"Dia... dia masih hidup?! Tembak!" teriak salah satu pembunuh bayaran itu panik saat melihat aura menindas Dafa yang justru semakin membumbung tinggi di tengah kepulan asap.
BANG! BANG!
Dua selongsong peluru melesat membelah rintik hujan. Namun, dengan insting bertarung yang telah terlatih sejak muda, Dafa sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke samping, berguling di atas aspal basah memanfaatkan puing-puing mobil sebagai perisai alami.
Di saat yang sama, tangan kanan Dafa bergerak secepat kilat merogoh pistol berperedam suara yang terselip di balik pinggang celananya. Tanpa perlu membidik terlalu lama, ia menarik pelatuk dua kali berturut-turut dengan ketenangan seorang malaikat maut.
PHUT! PHUT!
Dua suara tembakan halus yang nyaris teredam oleh suara rintik hujan menggema. Peluru pertama menembus tepat di lutut kanan pria berbaju hitam di sebelah kiri, membuatnya langsung ambruk berlutut di atas aspal sembari melolong kesakitan. Sementara peluru kedua melesat akurat menghancurkan pergelangan tangan pria kedua yang memegang senjata, membuat pistolnya terlempar jatuh ke dalam saluran air.
Dalam tiga langkah lebar yang anggun namun mematikan, Dafa sudah berada di depan pria kedua yang kini sedang memegangi tangannya yang hancur. Tanpa memberikan celah untuk meronta, Dafa mencengkeram kerah jaket pria itu, lalu menghantamkan wajahnya ke kap mesin truk kontainer yang panas dengan kekuatan penuh.
BRAK!
Pria itu langsung terkulai lemas tak berdaya di atas aspal dengan hidung yang hancur. Dafa membalikkan tubuhnya, menatap satu-satunya pembunuh bayaran yang masih waras—pria yang kini sedang memegangi lututnya yang tertembak dengan wajah yang pias menyerupai mayat.
Dafa melangkah mendekat, berdiri tepat di depan pria itu hingga bayangan tubuh besarnya yang tegap sepenuhnya mengunci pandangan sang pemburu yang kini berbalik menjadi buruan. Ujung laras pistol Dafa yang masih panas perlahan ditempelkan tepat di tengah-tengah dahi pria berbaju hitam tersebut.
"Siapa yang memerintahkan kalian? Baskoro Sanjaya... atau anak laki-lakinya?" tanya Dafa, suaranya terdengar sangat rendah, bariton, dan dipenuhi oleh tekanan intimidasi yang bisa merenggut sisa napas seseorang.
"B-Baskoro... Tuan Besar Baskoro..." jawab pria itu dengan bibir yang bergetar hebat menahan rasa sakit dan ketakutan yang teramat sangat dalam. "Beliau tahu Anda pergi ke gedung tua... Beliau memerintahkan kami untuk mengadang Anda di jalur ini... Tolong jangan bunuh saya, Pak..."
Dafa menyunggingkan senyum tipis yang teramat kejam di sudut lipsnya. "Baskoro rupanya benar-benar terburu-buru ingin memesan peti mati untuk seluruh garis keturunannya."
Dari arah belakang, suara raungan sirine mobil pengawal Mahardika akhirnya tiba di lokasi kejadian. Tiga mobil sedan hitam yang dipimpin oleh Mikael langsung melakukan pengereman mendadak, mengelilingi area persimpangan jalan yang kini telah dipenuhi oleh sisa pertempuran.
Mikael melompat turun dari mobil dengan wajah yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa saat melihat kondisi Alphard bosnya yang ringsek. "Pak Dafa! Anda terluka?! Maafkan kami, tim pengawal belakang tertahan oleh blokade truk semen di persimpangan sebelumnya!"
"Urus dua tikus ini, Mikael," perintah Dafa dingin, menjauhkan senjatanya dari dahi pria berbaju hitam itu seolah makhluk di depannya tidak lebih dari sekadar noda kotor yang mengganggu pemandangan. Ia mengambil saputangan sutra dari saku celananya, lalu menyeka aliran darah di pelipis wajahnya sendiri tanpa ekspresi kesakitan sedikit pun. "Pastikan mereka masuk ke dalam ruang interogasi bawah tanah kita di markas pusat. Aku mau semua nama pejabat yang menerima aliran dana suap dari Sanjaya Group keluar dari mulut mereka sebelum fajar."
"Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Anda?" tanya Mikael cemas melihat luka di kepala Dafa.
"Siapkan mobil lain. Aku harus kembali ke rumah sakit sekarang juga," ucap Dafa tegas, sifat posesifnya kembali mendominasi pikirannya. Di tengah situasi maut seperti ini, satu-satunya hal yang memenuhi isi kepala Dafa adalah keselamatan Nazya. Jika Baskoro bisa melacak pergerakannya hingga ke pinggiran kota, tidak menutup kemungkinan orang-orang Sanjaya juga akan mengirimkan tim penyusup ke Rumah Sakit Pusat Mahardika untuk mengincar istrinya yang sedang lengah.
Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan mewah hitam lainnya melaju dengan kecepatan tinggi memasuki gerbang utama Rumah Sakit Pusat Mahardika. Dafa melangkah turun dengan langkah kaki yang lebar dan tergesa-gesa, mengabaikan tatapan terkejut dari para perawat jaga yang melihat noda darah kering di pelipis dan kemeja putih sang pemilik rumah sakit yang tampak koyak.
Dafa menaiki lift khusus menuju lantai VIP ICU. Begitu pintu lift terbuka, ia mendapati dua pengawal berbadan tegap di depan kamar Nazya masih berdiri siaga dalam posisi sempurna, membuat ketegangan di pundak besarnya sedikit mengendur.
Pria itu membuka pintu kamar VIP dengan gerakan yang sangat senyap, tidak ingin membangunkan wanitanya. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Nazya tampak masih terbaring lelap di atas ranjang perawatan di bawah pengaruh obat penenang ringan. Wajah cantiknya kini tampak jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam lalu, meskipun sisa-sisa rona pias masih membekas di pipinya.
Dafa berjalan mendekat, duduk di sisi ranjang dengan gerakan yang sangat berhati-hati. Ia menatap wajah tidur Nazya dengan tatapan mata elangnya yang kini melunak sepenuhnya, berganti menjadi sebuah tatapan yang penuh dengan kehangatan posesif yang mendalam. Tangan besarnya yang menyisakan sisa aroma bubuk mesiu terangkat, mengusap dengan teramat lembut helaian rambut hitam Nazya yang menutupi dahinya.
'Tidurlah yang nyenyak, Nazya...' batin Dafa bercakap dalam keheningan malam. 'Semua orang yang pernah menyakitimu, semua orang yang berani mengancam ketenanganmu... malam ini aku pastikan mereka tidak akan pernah memiliki hari esok untuk kembali mengusik hidupmu.'
Merasakan sentuhan hangat yang familier di dahinya, Nazya bergerak sedikit di dalam tidurnya. Janda muda itu perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Begitu indera penglihatannya menangkap sosok tegap Dafa yang duduk di sampingnya, senyum tipis yang pias seketika terbit di bibir ranumnya.
Namun, sedetik kemudian, mata indah Nazya mendadak melebar sempurna saat melihat noda darah kering di pelipis kanan Dafa dan kemeja putih suaminya yang robek di bagian bahu.
"Mas Dafa..." pekik Nazya lirih, rasa panik seketika menghancurkan sisa pengaruh obat penenang di dalam tubuhnya. Wanita itu langsung mendudukkan tubuhnya dengan susah payah, meraih wajah tegas Dafa dengan kedua tangan kurusnya yang gemetar. "Mas... Mas Dafa terluka?! Apa yang terjadi, Mas?! Siapa yang melakukan ini pada Mas Dafa?!"
Air mata Nazya kembali merebak di sudut matanya, dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa jika pria dominan yang kini menjadi seluruh dunia dan pelindung hidupnya itu harus mengalami hal buruk karena dirinya.
Dafa tidak menjawab. Ia justru memajukan tubuh besarnya, mengunci pergerakan tubuh ramping Nazya ke dalam pelukan kekarnya yang teramat erat dan posesif, menenggelamkan wajah cemas istrinya itu di ceruk leher maskulinnya yang hangat.
Namun, tepat ketika Nazya mencoba mendengarkan detak jantung Dafa untuk menenangkan kepanikannya, pintu kamar VIP mendadak diketuk dengan sangat keras dari luar. Mikael melangkah masuk dengan napas yang memburu dan wajah yang luar biasa pias, memegang sebuah ponsel yang masih tersambung pada saluran darurat.
"Pak Dafa... mohon maaf mengganggu," ucap Mikael dengan suara yang bergetar hebat. "Ini... ini tentang kediaman utama Mahardika. Baru saja... sekelompok orang bersenjata tak dikenal melakukan penyerangan fajar dan berhasil menerobos masuk ke dalam rumah. Mereka... mereka membawa pergi Mami Kinanti sebagai sandera!"