Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sumpah di Bawah Moncong Senjata
Bab 20: Sumpah di Bawah Moncong Senjata
Aroma hangit mesiu yang tertinggal di teras malam itu mendadak menguap, digantikan oleh aura dingin yang mematikan di dalam ruang tengah Mansion Dirgantara. Langkah kaki Adrian yang berat menyeret Aline masuk ke dalam ruangan yang sepi, jauh dari jangkauan anak-anak dan para pelayan yang sedang sibuk mengamankan area luar.
KLIK.
Suara mekanisme senjata api itu terdengar begitu nyaring di dalam keheningan. Aline tidak bergerak satu inci pun saat moncong pistol hitam pekat milik Adrian kini menempel tepat di dahi atasnya, tepat di antara kedua matanya.
Adrian berdiri tegak bagai malaikat pencabut nyawa. Sepasang mata elangnya berkilat penuh amarah, kecurigaan, dan rasa frustrasi yang mendalam. Laporan dari kepala keamanannya tentang "gadis tanpa foto masa kecil di desa" ditambah dengan ketenangan luar biasa Aline di bawah hujan peluru tadi telah mendorong kecurigaan Adrian ke titik puncaknya.
"Katakan padaku sebelum aku menarik pelatuk ini, Nona Sanyoto," suara bariton Adrian bergetar rendah, sarat dengan ancaman yang tidak main-main. "Siapa kau sebenarnya? Klan mafia mana yang mengirimmu untuk menyusup ke rumahku? Apakah kau yang memberikan koordinat pertahanan mansion kepada bajingan-bajingan tadi?!"
Aline menatap lurus ke dalam lubang gelap moncong pistol di depannya. Di balik lensa kacamata tebalnya yang berdebu, otaknya yang setajam komputer siber langsung menganalisis situasi dalam hitungan milidetik. Ini adalah ujian keselamatan terbesar di babak pertama ini. Jika ia meleset sedikit saja dalam merespons, atau jika ia keceplosan menyebutkan nama Kak Rena, seluruh penyamarannya akan hancur dan plot penyelidikannya akan mati sebelum berkembang.
Ia harus mempertahankan topeng gadis desanya, namun menaikkan level ketangguhannya agar masuk akal dengan tindakan penyelamatannya tadi.
Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan-lahan mulai mengalir, membasahi pipinya dan jatuh melewati bingkai kacamata tebalnya. Tubuhnya gemetar, namun sepasang matanya tidak berkedip menghindari tatapan Adrian.
"T-Tuan Besar..." bisik Aline, suaranya parau dan sarat akan keputusasaan yang teramat dalam. "Di desa saya... di lereng gunung... setiap musim panen, kami selalu diserang oleh kawanan babi hutan liar yang besar-besar. Bapak saya, tetangga-tetangga saya, semuanya keluar bawa senapan berburu... Peluru berterbangan, suara dor-doran itu sudah biasa saya dengar sejak kecil, Tuan..."
Aline menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan emosi yang meledak-ledak. "Tadi... waktu peluru-peluru itu datang, saya ndak mikir apa-apa lagi. Saya ndak mikir nyawa saya sendiri. Saya cuma ingat, Tuan Besar sudah baik sekali mau mempekerjakan saya di sini, memberi saya makan, memberi saya tempat tinggal... Saya cuma mau membalas budi dengan menjaga Tuan Muda Kenzo dan Nona Muda Keira!"
Adrian tidak menurunkan senjatanya, namun rahang tegasnya tampak mengetat mendengarkan pembelaan tersebut.
"Kau tidak menangis atau histeris saat peluru menyapu beton di dekat kepalamu. Itu bukan sekadar refleks menghadapi babi hutan, Aline!" desak Adrian, matanya menyipit tajam, mencoba mencari getaran kebohongan di manik mata gadis itu.
Aline justru melangkah satu tapak maju, membiarkan dahinya menekan lebih keras pada moncong pistol dingin Adrian. Ia menatap lurus ke dalam manik mata hitam kelam milik sang bos mafia dengan tatapan pasrah yang teramat murni.
"Kalau Tuan Besar tetap ndak percaya... kalau Tuan berpikir saya ini orang jahat yang mau mencelakai anak-anak..." Aline berbisik dengan sisa suaranya yang bergetar hebat, air matanya kian deras mengalir. "Tembak saja saya sekarang, Tuan... Tembak saja saya jika Tuan Besar mengira saya berniat menyakiti Tuan Muda dan Nona Muda... Saya lebih baik mati di tangan Tuan daripada dituduh sebagai pengkhianat di rumah ini..."
Adrian membeku.
Di bawah sorot lampu ruang tengah yang temaram, ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Aline. Di sana, ia tidak menemukan kilat kelicikan, tidak ada binar kemenangan dari seorang mata-mata musuh, dan tidak ada niat jahat. Yang ada hanyalah kepasrahannya yang teramat jujur dan binar ketulusan untuk melindungi anak-anaknya.
Perang batin di dalam dada Adrian bergejolak hebat. Insting mafianya berteriak bahwa latar belakang gadis ini masih menyimpan teka-teki besar yang belum terpecahkan, namun sisi manusianya—yang selama ini tertidur sejak kematian Rena—merasa lumpuh oleh ketulusan yang ditunjukkan Aline.
Perlahan, dengan gerakan yang terasa berat, Adrian menurunkan moncong pistolnya. Ia mengembuskan napas panjang, memutar tubuhnya membelakangi Aline untuk menyembunyikan getaran emosi di wajahnya sendiri.
"Kembali ke kamarmu, Nona Sanyoto," ucap Adrian, suaranya kembali dingin dan datar, mencoba membangun kembali dinding pembatas di antara mereka. "Dan bersihkan lukamu."
Aline membungkuk dalam-dalam dengan tubuh yang masih tampak gemetar. "B-Baik, Tuan Besar... Terima kasih karena tidak menembak saya..."
Ia berbalik dan berjalan dengan langkah cepat yang sedikit tertatih menuju koridor pelayan. Namun, begitu bayangan tubuhnya tenggelam di balik kegelapan lorong dan posisinya tak lagi terlihat oleh Adrian, isak tangis Aline langsung berhenti seketika.
Gadis itu menegakkan punggungnya. Ia menyeka air mata di pipinya dengan ujung apron krem menggunakan gerakan yang teramat tenang dan dingin. Di balik lensa kacamata tebalnya yang buram, sepasang matanya berkilat penuh kemenangan taktis yang mutlak.