Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pekerjaan Tambahan
Pagi datang begitu cepat. Langit bahkan masih tampak gelap saat Alena sudah terbangun dari tidurnya.
Seperti biasa, wanita itu langsung sibuk mencuci pakaian di belakang rumah, lalu menyiapkan sarapan sederhana untuk Kai sebelum berangkat bekerja.
Hawa dingin dari arah pantai menyusup masuk melalui celah-celah rumah kayu mereka. Angin pagi membuat jemari Alena terasa sedikit membeku, namun wanita itu tetap bergerak tanpa mengeluh sedikit pun.
Baginya, rasa lelah bukan lagi sesuatu yang perlu dipikirkan selama kebutuhan anaknya masih bisa terpenuhi.
Setelah semua pekerjaan dapur selesai, Alena segera masuk ke kamar mandi kecil di samping rumah untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar dengan seragam kerjanya yang sudah rapi. Rambut panjangnya diikat sederhana, sementara wajah lelahnya tetap berusaha menampilkan senyum hangat seperti biasanya.
Wanita itu tersenyum saat mendapati sang anak sudah mengenakan seragam sekolahnya. Kai duduk di meja makan kecil sambil menunggu ibunya datang.
"Ma, tumben jam segini udah rapi?" tanya Kai.
Alena menganggapnya hanya dengan senyum kecil lalu kemudian duduk di samping anaknya. "Sayang, Mama memang ada keperluan sebelum masuk sif pagi."
Kai sedikit mengerutkan keningnya, pasalnya sang ibu tidak pernah sepagi ini meskipun ada sif pagi.
"Ma, jangan capek-capek ya, dan bilang sama kedua Ibu Kai, jangan terlalu memikirkan festival Kai," ucap anak itu tiba-tiba seolah tahu dengan usaha sang ibu.
"Gak akan," sahut Alena sambil menyembunyikan wajah gugupnya. "Kita gak akan capek kok, Kai tenang saja ya."
Anak itu hanya mengangguk meskipun ada sesuatu lain di dalam hatinya yang masih belum bisa ia utarakan.
"Ya sudah sekarang kita sarapan dulu ya," ajak Alena akhirnya.
Kai hanya mengangguk tangannya meraih piring yang sudah berisi nasi dan lauk sederhana masakan sang ibu.
Anak itu begitu lahap, tidak pernah protes dengan makanannya dan hal yang membuat Alena senang, Kai selalu menghabiskan makanan yang sudah dimasak ibunya.
"Makasih ya Ma, pagi ini perut Kai kenyang, berkat masakan Mama yang paling enak sedunia," ucap anaknya itu.
Alena tersentuh, matanya sedikit mengembun, selama anak itu tumbuh dalam asuhannya belum pernah sekalipun Kai tidak menghabiskan makanannya.
"Sama-sama Sayang, Mama akan selalu senang masak untuk kamu," sahutnya dengan cepat.
"Kai berangkat sekolah dulu ya," pamitnya sambil beranjak dari kursinya.
"Hati-hati ya Nak," ucap Alena.
Lalu memeluk tubuh anaknya singkat, dan mengantar sang anak sampai ke teras rumah saja.
Sementara di tempat lain, Anne dan Senna yang rumahnya memang bersebelahan ternyata sudah jauh lebih siap dibanding pagi-pagi biasanya.
Senna yang biasanya terkenal paling santai, cerewet, bahkan sering datang mepet jam kerja… kali ini justru terlihat paling sibuk sendiri sejak subuh tadi.
Wanita itu mondar-mandir sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan.
“Ya Tuhan, semoga Bos belum datang duluan,” gumamnya panik sendiri.
Sementara Anne yang biasanya selalu tenang pun sampai rela bangun jauh lebih pagi demi mengejar waktu. Wanita itu bahkan sudah berdiri rapi di depan pagar rumah saat Senna keluar.
“Gimana? Sudah siap?” tanya Senna cepat.
Anne mengangguk santai. “Sudah dong.”
“Ya sudah ayo berangkat! Mumpung Bos katanya datang pagi ini.”
Keduanya pun segera berjalan bersama menyusuri jalan kecil dekat pesisir. Udara pagi masih terasa dingin, namun langkah mereka justru penuh semangat.
Karena hari ini… mereka sedang memperjuangkan mimpi anak mereka.
☘️☘️☘️☘️☘️
Tak lama kemudian, ketiganya akhirnya sampai di rumah makan tempat mereka bekerja. Dan benar saja. Sebuah mobil hitam milik pemilik rumah makan sudah terparkir rapi di depan bangunan.
“Waduh… Bos sudah datang,” bisik Senna refleks.
Anne langsung menarik napas kecil mencoba menenangkan diri. Sementara Alena yang baru datang ikut menatap mobil itu dengan sedikit gugup.
Pemilik rumah makan mereka memang jarang datang langsung. Biasanya pria paruh baya itu hanya sesekali muncul pagi hari untuk mengecek kondisi tempat usahanya sebelum pergi lagi mengurus cabang lain.
Karena itulah kesempatan ini tidak boleh mereka lewatkan.
“Kita ngomong sekarang saja sebelum beliau pergi,” ujar Anne pelan.
Senna langsung mengangguk cepat. “Iya, sebelum nyali kita hilang.”
Ketiganya pun segera masuk ke dalam rumah makan. Di sana, pria paruh baya itu terlihat sedang mengecek laporan sambil berbicara dengan salah satu pegawai dapur.
Begitu melihat ketiga wanita itu mendekat bersamaan, ia tampak sedikit heran.
“Tumben kalian datang pagi-pagi begini,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Seketika Senna dan Anne saling dorong pelan satu sama lain, tidak ada yang berani membuka suara lebih dulu.
Hingga akhirnya Alena memberanikan diri. “Maaf Bos… sebenarnya kami ingin bicara sedikit.”
Pria itu langsung menutup map laporannya. “Tentang apa?”
Untuk sesaat suasana terasa canggung. Namun akhirnya Anne mulai menjelaskan dengan pelan dan sopan mengenai keinginan mereka mengambil pekerjaan tambahan.
Mendengar itu, pria tersebut langsung mengernyit.
“Job tambahan?” ulangnya pelan sambil memperhatikan mereka satu persatu.
Tatapannya berhenti cukup lama pada Senna.
“Kalian yakin kuat?” tanyanya jujur. “Kerja di sini saja sudah cukup melelahkan.”
“Kalau buat anak kami, kuat Bos,” jawab Senna cepat tanpa ragu.
Kalimat itu membuat pria tersebut sedikit terdiam, dia sedikit paham dengan kehidupan mereka bertiga.
Sementara Alena mulai menunduk malu. “Kami benar-benar butuh tambahan uang.”
Pria itu menghela napas kecil lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Sebenarnya ada beberapa pekerjaan tambahan…” gumamnya pelan. “Tapi cukup berat.”
Ketiganya langsung saling tatap, seolah mendapatkan sebuah harapan meskipun belum tahu pekerjaannya seperti apa.
“Apa saja Bos?” tanya Anne cepat.
“Membersihkan WC umum belakang setiap malam,” jelasnya. “Lalu mengantar pesanan online sampai tutup.”
Belum selesai sampai di situ, pria itu kembali melanjutkan. “Dan untuk sementara… kasir depan akan saya isi pegawai baru.”
Seketika Senna dan Anne langsung paham maksud ucapan itu.
Artinya, mereka harus turun langsung menjadi pelayan keliling. Padahal selama ini keduanya lebih sering duduk di bagian kasir dan pencatatan pesanan.
Namun tidak ada penolakan sedikit pun dari wajah mereka. Justru Senna langsung mengangguk mantap.
“Kami ambil.”
Anne ikut mengangguk pelan. “Kami akan usahakan yang terbaik.”
Pria itu tampak masih ragu melihat semangat mereka yang terlalu besar pagi itu. Namun entah kenapa… ia juga bisa melihat kesungguhan di mata ketiga wanita tersebut.
Dan tanpa sadar, bibir pria itu perlahan tersenyum tipis.
“Baiklah,” ujarnya akhirnya. “Kalau begitu mulai hari ini kalian resmi ambil shift tambahan.”
Seketika ketiganya langsung tertegun tidak percaya. Mata mereka seolah berbinar bersamaan, seperti baru saja melihat secercah jalan di tengah himpitan hidup yang selama ini terasa sempit.
Bersambung. ..
Beri semangat ya untuk ketiga ibu yang sedang berusaha demi mewujudkan mimpi sang anak.😭😭😭😭
Oh ya Kak sekalian numpang promosi bukunya teman aku punyanya Kak CoVIEVY minta suportnya ya🙏🙏🙏