NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Jam kerja bahkan belum benar-benar selesai ketika seorang sekretaris datang di meja kerja Anjani.

"Anjani, Pak Ren memintamu ke ruangannya sekarang."

Anjani yang sedang meninjau beberapa revisi desain langsung menoleh. "Baik."

Di meja sebelah, beberapa staf langsung saling melirik, karena kalau ada satu hal yang paling ditakuti di perusahaan ini selain tenggat waktu, itu adalah dipanggil langsung oleh Ren Aksara. Apalagi kalau kalimatnya pendek. Kalau pendek berarti suasana hatinya sedang tidak bagus. Kalau suasana hatinya tidak bagus, semoga Tuhan menyertai.

Namun, Anjani sendiri justru terlihat biasa saja. Ia berdiri, merapikan beberapa berkas, lalu berjalan menuju lift. Tidak tahu bahwa di belakangnya, beberapa staf diam-diam menatap dengan ekspresi seperti sedang mengantar seseorang menuju arena gladiator.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Suara Ren terdengar dari dalam. Anjani membuka pintu. Ruangan besar itu masih sama seperti kemarin. Terlalu rapi, dingin, dan mahal. Pemiliknya masih terlihat seperti orang yang sedang mempertimbangkan untuk memecat satu lantai sekaligus.

Ren duduk di belakang meja kerjanya, membaca dokumen. Dia tidak langsung menyuruh duduk apa lagi menyapa. Benar-benar manusia yang seolah alergi terhadap keramahan.

Anjani akhirnya memilih berdiri. Lima detik, sepuluh detik, lima belas detik. Sampai akhirnya Ren bicara.

"Duduk," titahnya pendek, seolah menghemat kata bisa memperpanjang umur.

Anjani duduk, kemudian hening lagi. Kalau ada lomba membuat suasana tidak nyaman, Ren mungkin juara nasional.

Akhirnya pria itu menutup dokumen, mendorong sebuah map ke arahnya.

"Kontrak kerja."

Anjani berkedip. "Kontrak?"

"Menurutmu saya panggil untuk arisan?"

Baik, masih galak seperti biasa.

Anjani membuka map itu. Matanya bergerak membaca beberapa halaman, lalu berhenti. Alisnya langsung terangkat.

"Visual Concept Consultant?"

Ren menyandarkan tubuh. "Hm."

Anjani membaca lagi, lalu membaca sekali lagi. Tulisannya masih sama, tetap Visual Concept Consultant.

"Ini posisi saya?"

"Kalau tertulis nama saya berarti posisi saya."

Anjani menatapnya. "Pak Ren."

"Hm."

"Ini posisi yang cukup tinggi untuk orang yang baru masuk."

Sorot mata Ren datar. "Tidak."

"Cukup tinggi."

"Tidak."

"Cukup."

"Tidak."

Anjani mulai curiga. Pria itu keras kepala sekali untuk hal-hal yang bahkan tidak penting.

"Kenapa bukan lewat HR?" tanya Anjani kemudian. "Biasanya urusan seperti ini HR yang menjelaskan."

Ren terlihat diam sepersekian detik, lalu menjawab terlalu cepat.

"Saya sedang senggang."

Bohong. Dan itu terdengar sangat jelas, karena seluruh perusahaan tahu Ren Aksara bahkan sibuk ketika sedang libur.

Anjani menyipitkan mata. "Benarkah?"

"Ya."

"Pak Ren?"

"Hm."

"Kalau bohong dosa."

"Kalau terlalu ingin tahu juga dosa."

Anjani langsung bungkam. Sementara Ren memalingkan wajah. Gelagatnya masih ampak tenang, padahal sebenarnya sama sekali tidak, karena alasan sebenarnya cukup menyebalkan.

HR perusahaan mereka bernama Arga. Usia tiga puluh tahun, masih lajang, tinggi, ramah, pandai bicara, dan terlalu mudah membuat orang nyaman.

Ren tidak suka. Bukan pada Arga. HR-nya itu bekerja dengan sangat baik. Masalahnya adalah, Ren tidak suka membayangkan Arga dan Anjani duduk berdua di ruangan selama satu jam, ngobrol, tertawa, menjelaskan kontrak, menjelaskan budaya perusahaan, menjelaskan benefit, menjelaskan ini itu. Terlalu banyak menjelaskan. Dan semakin dipikirkan semakin mengganggu. Maka solusi terbaik adalah, Dia sendiri yang mengambil alih. Efisien dan sangat logis. Setidaknya begitu yang ia yakini.

Anjani kembali membaca kontraknya, lalu berhenti di bagian tertentu. Matanya membesar.

"Tunggu."

Ren mengangkat alis. "Apa?"

"Kenapa gaji saya segini?"

Ren menatap angka yang dimaksud dan menjawab santai. "Kurang?"

Anjani hampir tersedak. Kurang katanya. Kurang?! Nominal itu bahkan jauh lebih besar daripada penghasilan Satriya ketika masih menjadi karyawan biasa dulu.

"Pak Ren."

"Hm."

"Saya baru masuk."

"Ya."

"Belum ada pengalaman kerja formal."

"Ya."

"Belum membuktikan apa-apa."

"Sudah."

Anjani mengernyit. "Saya baru satu hari."

"Satu hari cukup."

"Untuk apa?"

Ren menatapnya datar. "Untuk membuktikan bahwa saya tidak salah merekrut."

Deg. Entah kenapa, kalimat Ren barusan sederhana. Tidak romantis dan tidak juga lembut. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Anjani merasa ada seseorang yang percaya pada kemampuannya. Bukan sebagai ibu yang mengurus rumah, tapi sebagai dirinya sendiri.

Anjani. Hanya Anjani.

Dan anehnya, ketika melihat ekspresi Anjani berubah sedikit lebih hidup, ada sesuatu dalam dada Ren yang terasa lebih tenang. Seperti seorang kolektor yang akhirnya berhasil mendapatkan karya langka yang sudah lama ia incar. Bukan karena memilikinya, tapi karena karya itu akhirnya berada di tempat yang semestinya. Di tempat yang bisa membuatnya bersinar lagi.

Meski tentu saja, kalau ada yang bertanya, Ren akan menyangkalnya sampai mati. CEO galak itu lebih mudah mengakui dirinya salah rapat miliaran rupiah daripada mengakui bahwa ia sengaja mengambil pekerjaan HR hanya supaya Anjani tidak duduk berdua dengan pria lain.

Suasana berubah ketika pintu terbuka tiba-tiba tanpa ketukan dan permisi.

Brak.

Seorang anak kecil masuk dengan wajah datar khas keturunan Aksara.

"Sore."

Perhatian Ren yang tadinya di Anjani langsung beralih. Melihat sosok yang datang ia mengernyit.

"Sae."

"Hm."

"Kamu datang sama siapa?"

"Supir."

Ren menatap. Sae membalas menatap. Dua manusia bermuka datar itu saling pandang seperti dua negara yang sedang mempertimbangkan perang.

"Kamu datang ke kantor tanpa bilang?"

"Iya."

"Kalau mau bertemu harus buat janji."

Sae berkedip.

Ren lanjut datar. "Saya orang sibuk."

Anjani langsung menunduk. Bahunya mulai bergetar menahan tawa, karena Ren baru saja berbicara kepada anak kandungnya sendiri seperti CEO yang sedang menolak proposal kerja sama.

Sae memiringkan kepala. "Lalu aku harus kirim email?"

"Minimal."

"Telepon sekretaris?"

"Lebih baik."

"Aku enam tahun."

"Itu bukan alasan."

Anjani langsung menutup mulut, tapi terlambat, karena tawa kecil lolos juga. Melihat pemandangan itu sudut bibir Sae terangkat tipis, seperti berhasil memenangkan sesuatu.

Ren menghela napas. "Kamu ke sini ngapain?"

Sae langsung berjalan. Bukan ke Ren, tapi ke Anjani, lalu berdiri di samping kursinya, seperti anak kucing yang sudah menentukan manusia favoritnya.

"Aku cari Tante."

Ren langsung menyipitkan mata. "Papa ada di sini."

"Iya."

"Kenapa tidak cari Papa?"

Sae berpikir sebentar. "Karena aku tidak butuh apa-apa dari Papa."

Kejam sekali. Anjani bahkan hampir tersedak. Sementara Ren memejamkan mata beberapa detik. Mungkin sedang menghitung sampai seratus agar tidak menjual anaknya ke sirkus.

"Tante." Sae menoleh pada Anjani.

"Hm?"

"Besok datang ke sekolahku ya."

Anjani berkedip bingung. "Besok?"

Sae mengangguk. "Ada kegiatan keluarga."

"Oh..." Anjani langsung mengerti.

Acara sekolah yang biasanya mengadakan lomba kecil, pentas, atau kegiatan yang melibatkan orang tua.

"Tapi kenapa Tante?" tanya Anjani pelan.

Sae diam beberapa detik, kemudian menjawab jujur. "Karena aku mau Tante datang."

Ren langsung menyela. "Papa bisa datang."

Sae mengangguk. "Iya."

"Kalau begitu selesai."

"Tapi yang datang harus dua orang."

Ruangan mendadak sedikit lebih sunyi. Ren berhenti bergerak, begitu juga dengan Anjani.

Sae masih berdiri tenang. Matanya turun ke lantai dan berkata. "Harus ayah dan ibu."

Deg.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu Sae, Anjani melihat anak itu terlihat seperti anak seusianya. Bukan bocah kecil yang suka berdebat. Bukan manusia mini bermulut tajam. Bukan musuh bebuyutan satu atap Ren. Hanya anak enam tahun yang sadar keluarganya tidak lengkap.

"Aku tahu Papa sibuk." Sae mengusap ujung bajunya. Gerakan kecil hampir tidak terlihat. "Dan aku nggak punya ibu."

Kalimat itu keluar begitu saja dengan tenang tanpa menangis. Namun justru karena itulah rasanya jauh lebih menyakitkan.

Anjani langsung menunduk. Dadanya terasa sesak, karena tiba-tiba ia teringat Bella. Teringat bagaimana anaknya sekarang memanggil orang lain Mama. Dan untuk sesaat, ia tidak tahu siapa yang lebih menyedihkan. Dirinya atau anak kecil di depannya.

Ren menyandarkan tubuh. Tatapannya ke Sae dalam, lalu pria itu berdeham pelan. Mungkin karena tidak terbiasa menghadapi hal-hal seperti ini atau mungkin karena untuk pertama kalinya ia sadar, anaknya ternyata memikirkan hal tersebut selama ini.

"Tapi kalau Tante keberatan aku nggak maksa," ucap Sae tiba-tiba.

Anjani mengangkat kepala. "Hm?"

"Nggak apa-apa." Anak itu mengangguk kecil. "Aku cuma coba."

Sikap Sae yang seperti itu membuat hati Anjani langsung runtuh, karena terdengar seperti seseorang yang sudah terbiasa kecewa.

"Sae."

Anak itu menoleh.

Anjani tersenyum lembut. "Acaranya jam berapa?"

Mata Sae langsung berkedip dua kali, seperti otaknya sedang memastikan ia tidak salah dengar.

"Jadi Tante mau datang?"

Anjani mengangguk. "Iya."

Seketika sesuatu berubah di wajah anak itu, membuat seluruh ruangan terasa lebih hangat.

"Terima kasih," ucapnya pelan, lalu menambahkan. "Aku akan menang besok."

Anjani tertawa kecil. "Memangnya ada lomba?"

"Ada."

"Lomba apa?"

"Aku belum tahu."

Anjani tertawa lagi. Ren memijat pelipis. Anaknya itu kadang benar-benar ajaib.

Namun beberapa detik kemudian, senyum Anjani perlahan memudar, karena satu hal baru saja muncul di kepalanya.

Sekolah Sae sama dengan Bella. Kalau Sae ada di sana, maka Bella juga pasti ada. Dan kalau Bella ada, maka Satriya dan Cintya kemungkinan besar juga akan datang.

Perut Anjani langsung mengencang. Ren menangkap perubahan ekspresi itu. Tentu saja dia menangkapnya. Pria itu terlalu jeli untuk melewatkan hal sekecil apa pun.

"Kalau tidak nyaman, tidak usah datang," ujar Ren tiba-tiba.

Anjani menoleh. Ren tetap terlihat datar seperti manusia yang lahir tanpa fitur romantis. Namun suaranya sedikit lebih rendah.

"Tidak ada yang memaksa."

Sae langsung menoleh cepat. "Papa."

"Apa."

"Jangan merusak peluangku mendekati Tante."

Anak itu benar-benar tidak tahu cara menghormati ayahnya.

Anjani akhirnya tertawa kecil sambil menggeleng. "Nggak apa-apa." Perhatiannya kembali pada Sae. "Tante akan datang."

Sae mengangguk mantap. "Baik." Kemudian ia menoleh pada Ren. "Catat."

"Apa?"

"Satu ibu berhasil diamankan."

"Sae."

"Iya?"

"Kamu keluar sendiri atau papa lempar?"

Sae masih berdiri di tempatnya. Wajahnya tetap datar, tapi entah kenapa ada sedikit gurat tidak senang di wajah tampannya, namun cukup terlihat oleh Ren yang sudah enam tahun hidup serumah dengannya.

"Sadis," ucap Sae, lalu menghela napas panjang. "Papa besok pasti nggak datang."

Alis Ren langsung terangkat. "Kenapa?"

"Karena sibuk."

"Papa tadi bilang akan datang."

"Tapi biasanya ingkar."

Telak. Anjani refleks menunduk, menahan senyum.

Sementara Ren mulai merasa harga dirinya sedang dipukul menggunakan buku rapor.

Dan Sae belum selesai. "Kalau Papa nggak datang, aku minta Om Raka aja."

Alis Ren langsung menukik tajam.

"Siapa?"

"Om Raka."

"Untuk apa?"

"Gantiin Papa."

Ren menatap anaknya. Anak itu balas menatap. Dua manusia bermuka datar kembali terlibat perang dingin.

"Aku suka Om Raka."

"Aku tidak tanya."

"Dia baik."

"Aku juga tidak tanya."

"Dia sering dengar aku cerita."

Urat di pelipis Ren bergerak. Hanya sedikit, tapi bergerak. Dan tepat saat itu ketukan pintu terdengar.

Tok.

Tok.

"Masuk." Suara Ren terdengar sedikit lebih keras dari biasanya.

Pintu terbuka, lalu masuklah sosok yang sama sekali tidak tahu dirinya baru saja dijadikan bahan perdebatan keluarga.

Raka. Asisten pribadi Ren. Tinggi, rapi, tampan, dan naasnya lajang.

"Pak Ren, saya mau menyerahkan laporan pro--" Langkahnya terhenti. Matanya berpindah dari Ren ke Sae, ke Anjani, lalu kembali ke Ren.

Suasananya aneh. Ia seperti baru saja mengganggu rapat rahasia negara.

"Masuk," ucap Ren datar.

Raka masuk.

"Taruh."

Raka menaruh map.

"Lalu keluar."

Raka berkedip. Biasanya minimal ada pembahasan, revisi, atau ancaman karier, tapi hari ini langsung keluar. Cepat sekali. Sangat tidak efisien.

"Pak... ada beberapa poin yang perlu saya jelaskan."

"Tidak perlu."

"Tapi--"

"Tidak."

Raka makin bingung. Sementara Sae mengangguk kecil, lalu berkata santai.

"Halo Om."

"Halo, Sae."

"Besok kosong?"

Raka tersenyum. "Mungkin."

"Bagus."

Ren langsung menyipitkan mata. "Untuk apa?"

Sae menjawab tanpa dosa.

"Aku mau ajak Om Raka ke sekolah."

Raka membeku. Anjani langsung menunduk. Bahunya mulai bergetar.

Sedangkan Ren tersenyum hambar. Dan justru karena Ren tersenyum, suasananya menjadi jauh lebih menyeramkan.

"Oh." Satu kata berbahaya.

Raka yang sama sekali tidak mengerti apa kesalahannya mendadak merasa ingin pulang dan berganti identitas. Sae sendiri mengangguk puas. Mungkin karena untuk pertama kalinya hari itu, bukan dia yang dimarahi.

"Raka," panggil Ren rendah.

"Bersiaplah untuk perjalanan keluar kota malam ini."

"Hah?" Raka bingung, pasalnya jadwal kerja keluar kota masih Minggu depan.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Seperti biasa, pasti memerah karena melihat bidadari 😃
Ayuwidia
Winda ini mengingatkan aku sama mahasiswi yg cinta berat sama Sagara
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!