Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka Kotak Pandora dan Duel Satelit Nasional
Suasana di dalam toko servis komputer "Darwin Jaya" mendadak berubah dingin mencekam. Koh Darwin yang tadinya mau sok akrab nawarin kopi, langsung ciut. Dia jalan mundur pelan-pelan sampai punggungnya mentok ke tumpukan monitor tabung usang di pojokan. Aura militer dari Genta bener-bener gak main-main. Pria berjas hitam itu masih membungkuk hormat sembilan puluh derajat di depan meja kerja Kenji yang berdebu.
Kenji gak langsung merespon. Dia ngerobek bungkus permen karet baru, memasukkannya ke dalam mulut, lalu menatap koper titanium hitam di atas meja loaknya.
Klik! Klik!
Genta negakin badan lalu nempel tempelin jarinya ke sensor sidik jari koper. Penutup koper titanium itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara desisan angin yang halus. Di dalamnya, gak ada tumpukan uang atau emas batangan. Cuma ada sebuah perangkat silinder perak kecil dengan ukiran logo petir emas khas Zeus, dikelilingi lampu neon biru yang berkedip konstan.
Core-Z0. Jantung siber buatan Kenji sendiri yang sempat dia sembunyikan di server rahasia Narendra Group sebelum pura-pura mati tiga tahun lalu. Perangkat gokil yang bisa bikin kecepatan laptop biasa melonjak sampai sepuluh ribu kali lipat melebihi komputer militer.
"Narendra Group berhasil ngamanin ini dari markas rahasia Anda di Kalimantan sebelum Aliansi Hitam mengendusnya, Tuan Zeus," bisik Genta pelan banget, mastiin Koh Darwin di pojokan gak denger sepatah kata pun.
Kenji senyum sinis. Jarinya bergerak ngambil silinder perak itu, lalu dicolokkin langsung ke samping laptop titanium Zeus-01 miliknya.
Wushhhh!
Detik itu juga, kipas pendingin laptop Kenji berputar maksimal sampai kedengeran suara desingan halus. Layar laptopnya yang tadinya cuma nampilin barisan kode hijau biasa, mendadak berubah total jadi warna hitam pekat dengan lambang petir merah menyala di tengahnya. Indikator sinyal di sudut layar langsung melonjak drastis nembus batas maksimal. Monster siber itu sekarang udah dapet taring aslinya lagi.
"Pluto... jadi pengkhianat itu udah mulai gerak?" tanya Kenji, nadanya super datar tapi sanggup bikin Genta menelan ludah dengan susah payah.
"Benar, Tuan," Genta langsung nyalain tablet militernya, nampilin grafik digital yang berkedip merah. "Lima menit yang lalu, Satelit Palapa-X milik badan siber nasional kena bajak. Seseorang dari luar negeri lagi mencoba ngambil alih jalur orbitnya. Kalau dalam tiga puluh menit mereka berhasil, satelit itu bakal jatuh nabrak atmosfer bumi, dan seluruh jaringan komunikasi, militer, sama bank di Indonesia bakal mati total!"
"Gila... ini mah kiamat!" Koh Darwin yang diam-diam nguping langsung lemas sampai merosot duduk di lantai toko.
Kenji gak mau buang waktu. Dia menarik kursi plastiknya yang reyot, mbetulin letak sandal jepitnya, lalu meletakkan sepuluh jarinya di atas papan ketik.
"Satelit nasional kita bukan mainan yang bisa disentuh sama tikus tanah kayak dia," ucap Kenji dingin.
Tuk!
Satu ketukan enter pertama dari Kenji langsung menyalakan sistem pertahanan Red Lightning. Jari-jarinya mulai menari di atas kibor dengan kecepatan yang gak masuk akal. Suara ketukan kibornya terdengar cepet dan berirama kayak rentetan tembakan senapan mesin yang memecah kesunyian toko loak.
Lewat bantuan Core-Z0, kesadaran siber Kenji seolah melesat nembus kabel serat optik bawah laut, melompati ribuan kilometer, dan langsung meluncur ke luar angkasa, menjebol masuk ke sistem internal Satelit Palapa-X.
Di dalam jaringan satelit itu, Kenji langsung disambut sama lautan kode ungu pekat yang bergerak liar mencoba mengunci sistem kemudi. Itu ciri khas Pluto—kode beracun yang dirancang buat merusak sistem dari dalam.
"Mau ngunci jalur orbit? Murahan," cibir Kenji di depan layarnya.
Kedua tangan Kenji bergerak makin brutal. Di layar monitornya, belasan kotak obrolan perintah terbuka dan tertutup dalam hitungan milidetik. Kenji gak cuma bertahan, tapi dia bikin sebuah jalur hantu yang langsung membalikkan serangan racun digital Pluto kembali ke pemiliknya sendiri.
Sementara itu, di sebuah ruang kendali super canggih di pulau reklamasi terpencil, seorang pria muda dengan rambut perak dan pakaian modis lagi duduk santai di kursi kulitnya sambil tersenyum puas. Di depannya ada belasan monitor melengkung yang menampilkan proses pembajakan Satelit Palapa-X yang udah mencapai 85%. Pria itu adalah Pluto, mantan murid sekaligus pengkhianat yang ngejual informasi Zeus demi tumpukan uang Aliansi Hitam.
"Sedikit lagi... Indonesia bakal kehilangan matanya di luar angkasa, dan Narendra Group bakal hancur karena gagal menjaga keamanan nasional," gumam Pluto sambil menyesap wine mahalnya.
Tapi, tepat saat angka pembajakan menyentuh 89%, seluruh layar monitor di depan Pluto mendadak membeku. Warna ungu di layarnya langsung terpotong habis oleh garis kilat berwarna biru dan merah darah.
Bzzzt!
Grafik pembajakan berbalik turun dengan kecepatan drastis: 70%... 40%... 10%... sampai menyentuh angka 0% cuma dalam lima detik!
"Lho?! Apa-apaan ini?!" Pluto langsung panik, gelas winenya tersenggol sampai pecah berantakan di lantai. "Siapa yang intervensi?! Tim siber Indonesia gak mungkin punya kemampuan secepat ini!"
Pluto langsung ngehantam kibornya, mencoba nembakin kode pertahanan baru buat merebut kembali kendali satelit. Tapi gerakannya langsung terkunci total. Komputernya gak merespon sama sekali.
Tiba-tiba, sebuah logo petir merah besar yang sangat dia kenali—logo yang selama tiga tahun ini selalu menghantui mimpi buruknya—muncul di seluruh layar monitor raksasanya.
Deg! Jantung Pluto serasa berhenti berdetak. Wajahnya yang semula penuh kesombongan langsung berubah kaku dan pucat pasi kayak mayat.
"Z-Zeus?! Gak mungkin! Dia udah mati di Pentagon tiga tahun lalu!" teriak Pluto histeris, keringat dingin mulai membanjiri dahi dan punggungnya.
Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, sebuah teks ketikan langsung muncul pelan-pelan di layar utamanya, diketik dari jarak ribuan kilometer oleh tangan seorang pemuda yang lagi duduk di kursi plastik reyot pasar loak:
‘Tiga tahun lalu lu kenyang makan uang haram hasil ngejual gua, Pluto. Sekarang gua balik, dan gua lihat teknik nge-hacker lu gak ada kemajuan sama sekali. Masih sampah.’
"Kurang ajar!" Pluto berteriak marah, mencoba mencabut kabel daya komputernya secara paksa karena panik lokasinya terlacak.
Tapi semuanya udah terlambat. Kenji gak cuma ngebersihin satelit nasional, tapi lewat serangan balik Red Lightning, dia berhasil melacak balik alamat fisik milik Pluto.
Di layar laptop Kenji, sebuah peta satelit dunia langsung melakukan zoom-in dengan kecepatan tinggi, melewati awan, nembus lautan, dan langsung mengunci sebuah titik koordinat merah tepat di sebuah bangunan mewah di pulau reklamasi.
"Dapat lu, tikus kecil," bisik Kenji dengan senyum sinis yang sangat dingin.
Kenji menekan tombol enter terakhirnya dengan santai. Di markas Pluto, seluruh server utama mendadak korslet akibat beban daya berlebih yang dikirim paksa oleh virus Zeus.
Duar! Duar!
Ledakan percikan api menghancurkan komputer-komputer mahal milik Pluto, memenuhi ruangan canggih itu dengan asap hitam pekat. Pluto sendiri terlempar dari kursinya, batuk-batuk di lantai sambil menatap ngeri ke arah satu-satunya layar yang masih menyala, nampilin koordinat lokasinya yang udah bocor total.
Kembali ke toko "Darwin Jaya", Kenji perlahan menutup layar laptop titaniumnya. Aura membunuh di matanya memudar, kembali jadi tatapan layu dan kuyu kayak orang kurang tidur. Dia meregangkan otot-otot jarinya yang agak pegal.
Genta yang berdiri di sampingnya langsung memeriksa tabletnya, lalu menarik napas dalam-dalam dengan rasa hormat yang udah gak bisa diukur lagi. "Satelit Palapa-X udah kembali ke jalur normal, Tuan. Jalur komunikasi aman. Dan... koordinat fisik Pluto udah berhasil kita kunci."
Kenji berdiri dari kursinya, ngambil jaket hitamnya yang usang, lalu menepuk bahu Genta.
"Siapkan helikopter atau apa pun itu, Genta. Bilang sama tim lapangan Narendra Group buat bersiap. Kita gak bakal main di balik layar komputer lagi. Besok malam, gua sendiri yang bakal datang ke pulau itu buat patahin tangan si pengkhianat."
Kenji melangkah keluar toko sambil memakai sandal jepitnya yang putus sebelah, meninggalkan Koh Darwin yang masih melongo tak percaya di lantai. Duel pemanasan luar angkasa udah selesai, sekarang saatnya berburu di dunia nyata.