Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 END OF ARC 1
BAB 26
Begitu kami melangkah menuju pintu rumah, Tante Ruth menyempatkan diri memungut beberapa potong kayu bakar yang sebelumnya tertinggal di dekat teras. Angin musim dingin yang sedari tadi menggigit kulit kami langsung memudar begitu kami masuk ke dalam dan menutup pintu kayu rapat-rapat. Tante Ruth segera berjalan menuju perapian, menata kayu-kayu itu untuk melanjutkan rencananya merebus air panas.
Aku baru saja bersiap melangkah menuju kamar Paman Boaz untuk meracik sisa ramuan, namun langkahku terhenti. Dari arah kamarnya, Kakek Ezra keluar membawa sebuah kain linen putih dengan jumbai panjang di ujung-ujungnya.
"Buat apa kain itu, Kek?" tanyaku penasaran.
Kakek Ezra menghentikan langkahnya dan menatap kain di tangannya dengan raut wajah teduh. "Oh, ini namanya Tallit, Nona. Selendang doa. Saya akan keluar sebentar menyusul Tuan Goran dan Nona Mila untuk mendoakan jiwa orang-orang yang sedang dikuburkan itu."
Aku terdiam sejenak, mengagumi betapa luasnya hati rabi tua ini. Di tengah dunia yang kejam ini, ia masih memiliki empati untuk musuhnya. "Oh, ya sudah. Nanti setelah ini selesai, aku akan bantu beresin bengkel Paman Boaz ya, Kek."
Kakek Ezra tersenyum hangat. "Terima kasih banyak, Nona Qatilah."
Siang harinya, setelah semua sisa kekacauan pagi dibereskan, rumah terasa jauh lebih tenang. Kakek Ezra sedang khusyuk berdoa di ruangannya, sebuah ruangan dengan meja miring dan tumpukan gulungan perkamen yang pernah kulihat sebelumnya. Tante Ruth, yang mulai kelelahan menahan berat kandungannya, memutuskan untuk beristirahat di kamar almarhum anaknya.
Sementara itu, Goran yang sudah selesai mandi tampak duduk bersila di ruang tamu. Pria raksasa itu sedang membongkar dan merapikan barang-barang bawaan kami yang masih tersisa di gerobak tarik.
Di depan perapian yang menyala hangat dan bergemeretak, aku duduk merapikan dan menyisir rambut keemasan Mila yang juga baru selesai kumandikan dengan air hangat. Sambil menyisir setiap helai rambutnya yang lembut, aku mulai bersenandung pelan.
Sebuah melodi dari kehidupanku yang dulu mengalir begitu saja. Itu adalah lagu dari seorang diva legendaris bernama Celine Dion, lagu tentang keyakinan dan pantang menyerah. Karena aku sudah lupa sebagian besar liriknya, aku hanya menggumamkan nada pada bagian reff-nya yang menghentak namun mengayun lembut.
Hmm-mm-hmm...
Mila, yang sudah sangat hafal dengan ritme aneh ini karena sering mendengarnya dariku, ikut memiringkan kepalanya. Dengan suaranya yang mungil, ia menyambung senandungku dengan nada yang pas. Suara dengungan kami berpadu dengan gemeretak kayu bakar, menciptakan kedamaian yang terasa begitu mahal di tanah bersalju ini.
Namun, keheningan nyaman itu tiba-tiba dipecahkan oleh celetukan Mila.
"Kak, lihat. Ada tikus," ucapnya tiba-tiba.
Tanganku yang memegang sisir seketika berhenti. Senandung kami terputus.
"Hah? Mana? Ya ampun!"
Aku menoleh mengikuti arah telunjuk Mila. Seekor tikus salju berbulu abu-abu tebal baru saja menyelinap cepat ke arah celah pintu ruangan persediaan makanan keluarga Ezra.
"Goran! Lihat itu!" tegurku cepat.
"Apa? Itu cuma tikus," balas Goran acuh tak acuh, tanpa mengalihkan pandangannya dari barang-barang di depannya.
Aku langsung berdiri dan berjalan menuju ruang persediaan, mengikuti arah hilangnya tikus tadi. Begitu pintu kayunya kubuka, firasatku terbukti benar. Aroma gandum dan debu langsung menyapa hidungku, disusul oleh suara cicitan ribut dari sudut gelap. Ada banyak tikus yang sedang berpesta di sekitar karung-karung makanan.
"Goraaaan!" panggilku setengah berteriak.
"Apa lagi?" dengus Goran dengan nada malas, namun langkah kakinya yang berat terdengar mendekat.
"Lihat! Karena kau membiarkan mayat-mayat itu bergeletakan semalaman di halaman, tikus-tikus dari hutan yang mencium bau darah sekarang pindah ke sini!" omelku.
Goran melipat tangannya yang berotot besar, menatapku dengan sebelah alis terangkat. "Bagaimana bisa kau menyalahkanku? Itu kan salah para perampok sialan itu karena datang kemari."
Aku tertegun sejenak, memproses logikanya yang aneh namun tak bisa dibantah, lalu tertawa kecil. "Iya juga, ya. Hahaha, maaf, maaf."
Mila yang diam-diam sudah menyusul dan berdiri di belakangku menarik ujung jubahku. "Terus mau diapain, Kak?"
"Mau nunggu apa lagi? Ayo kita angkat dan amankan makanan yang belum dimakan tikus!"
Kami bertiga pun langsung sibuk mengangkut karung-karung gandum dan persediaan lainnya keluar dari ruangan itu. Suara hiruk-pikuk kami rupanya menarik perhatian Kakek Ezra yang baru saja selesai berdoa. Ia keluar dari ruangannya dengan raut wajah kebingungan.
"Ada apa ini, Tuan Goran?" tanyanya saat melihat karung-karung bertumpuk di lorong.
"Lumbungmu diserang tikus-tikus hutan," jawab Goran santai sambil memanggul dua karung sekaligus di bahunya.
"Ya ampun! Terima kasih sudah membantu memindahkan yang belum termakan," ucap Kakek Ezra dengan wajah memucat.
"Hmm..." Aku mengetuk dagu, berpikir sejenak. "Kek, kita buat lumbung baru saja, ya?"
"Lumbung baru?" ulang Ezra kebingungan.
Goran langsung menoleh padaku. "Apa maksudmu seperti lumbung yang ada di rumah tebing kita dulu?"
"Yup!" balasku mantap.
Kakek Ezra semakin bingung. "Tapi, Nona... kenapa harus repot-repot membuat bangunan baru? Kan kita tinggal bersihkan saja ruangan ini dari tikus, menambal celahnya, lalu mengembalikan pasokannya ke dalam."
"Pendeta tua, kau ini bodoh sekali," ejek Goran sambil mendengus geli. "Kalau kita taruh di dalam rumah lagi dan tikusnya kembali menyelinap, tenaga kita kan jadi sia-sia saja."
Aku memutar bola mata dan menatap Goran dengan senyum mengejek. "Dulu kau juga berpikir begitu saat kita membuat lumbung pertama kita. Aneh sekali rasanya mendengar ucapan sok tahu itu keluar dari mulutmu sekarang."
Goran seketika terdiam. Mulutnya terbuka sejenak, namun tak ada satu kata pun yang keluar untuk membantah ucapanku. Pria raksasa pembantai itu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan wajah konyol.
Kakek Ezra mengelus janggut putihnya, mencoba menengahi. "Lalu sebaiknya bagaimana, Tuan Goran, Nona Qatilah?"
"Kita buat lumbung panggung yang terpisah di luar rumah. Ya kan, Goran?" pungkasku, menatapnya dengan senyum lebar pemenang.
Goran menghela napas panjang, mengusap wajah kasarnya dengan telapak tangan. "Aaah, malasnya. Dulu aku juga yang harus membangunnya di rumah kita, sekarang aku harus membuat bangunan rumit itu lagi?"
"Aku bantu, Ayah!" sela Mila dengan mata berbinar-binar. "Sekarang kan aku sudah kuat."
"Aku juga bantu kok! Dulu aku kan masih terlalu kecil untuk bantu angkat-angkat balok kayu," tambahku membela diri. "Lagian, ini juga gara-gara kamu tidak langsung mengubur mayatnya semalam."
Goran memutar bola matanya pasrah. "Baiklah, baiklah. Lagipula, meski sudah lewat beberapa musim dingin, kau hanya tumbuh selebar beberapa jari saja memangnya bisa kau bantu-bantu?."
"Hei!" protesku, pura-pura cemberut.
Melihat dinamika keluarga kami yang tak biasa, Kakek Ezra tersenyum lega. "Baiklah. Saya memang tidak tahu seperti apa bentuk bangunan panggung itu, tapi saya juga pasti akan ikut membantu kalian."
Berkat tenaga raksasa Goran yang tak kenal lelah, bantuan dariku, Mila, dan Kakek Ezra, serta peralatan besi yang memadai di bengkel Paman Boaz, lumbung panggung kayu yang kokoh akhirnya berdiri tegak di samping rumah. Sesuai rancanganku, tiang-tiang penyangganya dihaluskan sedemikian rupa dan diberi penyekat kayu bundar di bagian atas, membuat tikus sehebat apa pun mustahil bisa memanjat naik. Seluruh sisa persediaan gandum keluarga Ezra kini telah dipindahkan dengan aman ke dalamnya.
Tiga hari berlalu tanpa kejadian berarti. Untuk pertama kalinya sejak tiba di lembah ini, aku mulai merasa bahwa hidup kami akhirnya berjalan normal.
Siang itu, karena persediaan air minum di rumah menipis dan Paman Boaz masih membutuhkan banyak cairan untuk perawatannya, aku, Mila, dan Tante Ruth memutuskan pergi ke sungai yang pernah Tante Ruth ceritakan. Udara terasa membeku, namun sinar matahari musim dingin cukup untuk menerangi jalan bersalju kami.
Tante Ruth berjalan pelan di sisi kami, sesekali mengusap perutnya yang membuncit. Wajahnya tampak lebih cerah, menikmati segarnya udara luar setelah berhari-hari terkurung merawat suaminya denganku.
Kami bertiga baru saja berjongkok di atas bebatuan tepi sungai dan mulai menyendokkan kendi ke dalam aliran air jernih yang membelah es, ketika pergerakan Mila tiba-tiba terhenti.
Gadis itu perlahan berdiri tegak. Mata birunya menyipit tajam, menatap lurus menembus rimbunan pohon pinus di seberang sungai yang jaraknya cukup jauh.
"Ada orang di sana, Tante!" lapor Mila dengan nada datar, namun ada peringatan dalam suaranya.
Aku langsung mendongak, mengikuti arah pandangannya. Di antara bayangan pepohonan yang tertutup salju putih, samar-samar terlihat siluet beberapa pria berpakaian tebal. Mereka berdiri mematung tanpa suara, seakan sedang mengawasi kami dari jauh layaknya kawanan serigala yang memantau mangsa.
Sebuah firasat buruk merayap dingin di hatiku. Namun, Tante Ruth yang ikut menatap ke arah seberang justru langsung tersenyum menenangkan.
"Ah, tidak usah takut. Itu pasti hanya rombongan penduduk lokal," ucap Tante Ruth lembut. "Ada sebuah desa yang jaraknya sekitar satu hari berjalan kaki dari sini. Di musim dingin begini, para pria dari desa itu memang sering berburu masuk jauh ke dalam hutan."
"Oh, begitu?" tanyaku, masih menatap curiga pada bayangan di seberang.
"Iya," angguk Tante Ruth yakin. "Desa itu juga yang menjadi penyelamat kami jika pedagang keliling tidak melewati lembah. Biasanya, suamiku dan ayah mertuaku akan pergi ke desa itu untuk membarter peralatan besi buatan kami dengan makanan."
Mendengar penjelasan logis dari Tante Ruth yang lebih memahami seluk-beluk area lembah ini, kewaspadaanku seketika mengendur. Yah, itu masuk akal. Hutan ini sangat luas, sangat wajar jika ada pemburu lokal yang kebetulan lewat dan berhenti sejenak karena terkejut melihat kami menciduk air. Aku bahkan sempat merasa malu karena terlalu curiga. Tidak semua orang asing di dunia ini adalah musuh.
"Baguslah kalau begitu," ujarku lega, kembali berjongkok memegang kendi kayuku. "Ayo cepat selesaikan. Air sungainya dingin seka..."
SYUUUT! SYUUUT!
HAP!
Suara desingan tajam membelah angin dengan kecepatan mengerikan.
Sebuah kilatan bayangan melesat di sudut mataku. Aku menoleh dengan cepat ke arah Mila dan melihat tangan gadis kecil itu sudah terangkat ke udara, mencengkeram erat sebuah batang anak panah berbulu hitam tepat sebelum benda itu menghantam wajahnya.
Namun, sebelum otakku sempat memproses dari mana panah itu berasal, jeritan histeris Tante Ruth meledak di telingaku.
"YA HASHEM! NONA, PERUT ANDA!"
Aku tertegun. Kepalaku perlahan menunduk, menatap ke arah jubahku sendiri.
Di sana, menembus lapisan kulit hewan tebal yang kupakai dan tertanam dalam di bagian tengah perutku, sebuah batang panah bergetar pelan. Tidak ada rasa sakit pada detik pertama, hanya sensasi dingin yang luar biasa kejam, yang seolah langsung merampas seluruh udara dari paru-paruku.
Duniaku seketika berputar liar. Suara aliran sungai memudar, digantikan oleh dengung panjang yang menyakitkan di kepalaku. Tubuhku kehilangan keseimbangan dan ambruk terjerembap ke atas kerikil es di tepi sungai.
Hal terakhir yang menembus kesadaranku yang semakin gelap adalah suara auman dan jeritan Mila yang menggetarkan udara musim dingin.
"KAKAAAAAK!"
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭