"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Malam itu, Mansion Valerio dibalut oleh kesunyian yang mencekam. Jam besar di aula utama berdentang dua kali, menandakan waktu telah mencapai titik paling sunyi di dini hari.
Di dalam kamar utama, cahaya rembulan menyelinap masuk melalui celah gorden sutra, membiaskan bayangan perak di atas ranjang king size tempat Azeant dan Veronica beristirahat.
Azeant terbangun bukan karena suara gaduh, melainkan karena sebuah perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya—sebuah insting yang mengatakan ada sesuatu yang salah. Ia merasakan suhu tubuh Veronica yang bersandar di pelukannya tidak lagi hangat seperti biasanya. Tubuh itu terasa dingin, namun lembap oleh keringat yang tidak wajar.
"Vea?" bisiknya lirih, suaranya parau karena baru terbangun.
Tidak ada jawaban. Hanya deru napas Veronica yang terdengar pendek dan tersengal, seolah-olah setiap oksigen yang masuk harus melalui perjuangan yang berat.
Azeant mengerutkan kening. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap dahi istrinya, namun jemarinya justru menyentuh sesuatu yang terasa lengket dan kental.
Azeant tertegun. Ia menarik tangannya kembali. Dalam keremangan, ia melihat ujung jarinya berwarna gelap.
Dengan jantung yang mulai berdegup tidak beraturan, ia menjangkau sakelar lampu nakas di samping tempat tidur.
Klik.
Cahaya kuning temaram seketika menerangi ruangan, dan saat itulah dunia Azeant seolah runtuh di tempat ia duduk.
"Vea... tidak. Tidak, Sayang..."
Bantal sutra putih yang menjadi tumpuan kepala Veronica kini telah berubah warna.
Noda merah pekat menyebar dengan cepat, membentuk pola mengerikan yang kontras dengan seprai mereka yang bersih. Darah itu tidak hanya keluar dari hidung Veronica, tapi juga merembes dari sudut bibirnya yang pucat, membasahi leher dan helai rambutnya.
"Veronica! Bangun! Sayang, buka matamu!" teriak Azeant, suaranya mulai pecah oleh kepanikan yang luar biasa.
Ia menyangga tubuh Veronica, menariknya ke dalam dekapannya. Kepalanya terkulai lemas di bahu Azeant. Wajah wanita itu tidak lagi cantik seperti saat sarapan tadi; kini wajah itu tampak pasi, hampir transparan, dengan bintik-bintik keunguan yang mulai muncul di bawah kulitnya.
Azeant gemetar hebat. Ia berusaha menyeka darah di wajah istrinya dengan tangannya, namun darah itu seolah tidak mau berhenti mengalir. Setiap kali ia menyeka, aliran baru muncul, membanjiri telapak tangannya yang kini merah sepenuhnya.
"Tolong! Seseorang tolong aku!" raung Azeant ke arah pintu, suaranya menggema di lorong mansion yang sunyi.
Ia tidak menunggu pelayan datang. Dengan tenaga yang lahir dari rasa takut yang murni, Azeant mengangkat tubuh Veronica. Istrinya terasa begitu ringan, seolah-olah nyawanya memang sudah menguap sebagian. Ia membungkus tubuh itu dengan selimut tebal, mencoba memberikan kehangatan yang terus menghilang dari kulit wanita itu.
Di luar kamar, kegaduhan mulai pecah. Daddy Alvaro dan Mommy Florence keluar dari kamar mereka dengan wajah bingung yang seketika berubah menjadi horor saat melihat putra mereka berlari di lorong sambil menggendong Veronica yang berlumuran darah.
"Apolo! Apa yang terjadi?!" teriak Alvaro, suaranya bergetar melihat darah yang menetes dari selimut yang dibawa Azeant ke lantai marmer.
"Panggil ambulans! Tidak, Siapkan mobil Dad! Sekarang!" teriak Azeant tanpa menghentikan langkahnya. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena keputusasaan yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Florence menutup mulutnya dengan tangan, air mata langsung tumpah. "Vea... ya Tuhan..."
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Azeant duduk di kursi belakang mobil, mendekap Veronica dengan sangat erat. Ia terus membisikkan kata-kata cinta di telinga istrinya, memohon, memerintah, dan merayu agar wanita itu tidak memejamkan mata.
"Ingat Matthew, Vea. Ingat anak kita. Kau baru saja memulainya, Sayang. Jangan lakukan ini padaku. Jangan tinggalkan aku di saat aku baru saja Memelukmu kembali," bisiknya dengan suara tercekat oleh isak tangis.
Namun, di balik kepanikan itu, ada sebuah tanda tanya besar yang menghantui pikirannya.
Mengapa ini terjadi? Tidak ada luka luar. Tidak ada kecelakaan. Veronica adalah wanita yang paling sehat yang ia kenal.
Apa yang terjadi selama tiga tahun itu?
Azeant menatap wajah istrinya yang masih mengeluarkan darah sedikit demi sedikit. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan "sakit" ini. Ini bukan penyakit biasa. Ada sesuatu yang secara sistematis sedang menghancurkan Veronica dari dalam, sebuah rahasia yang terkunci rapat di balik bibir pucat wanita itu.
Dokter-dokter di IGD segera mengambil alih saat mereka tiba. Azeant dipaksa melepaskan dekapannya. Ia berdiri di koridor rumah sakit, menatap pintu kaca yang tertutup rapat, dengan kemeja putih yang kini dipenuhi noda darah istrinya.
Ia menatap tangannya yang masih memerah. Pikirannya melayang pada Mansion Garfield. Ia ingat bagaimana wanita tua itu menatap Veronica dengan kebencian yang mendalam saat ia menjemputnya tempo hari.
"Jika mereka menyentuhmu dengan cara yang salah... aku akan meratakan mereka dengan tanah," desis Azeant, suaranya dingin dan mematikan di tengah isak tangisnya yang belum reda.
Hasil lab memang belum keluar. Penyebab pastinya masih menjadi misteri medis yang mencekam. Namun bagi Azeant, satu hal yang pasti: kebahagiaan yang baru ia genggam sehari itu kini sedang dipertaruhkan, dan ia tidak tahu apakah ia akan melihat senyum Veronica lagi saat matahari terbit nanti.
Di sudut koridor, Matthew yang dibawa oleh Florence menyusul, balita itu hanya bisa diam, memandang ayahnya yang tampak hancur dengan baju berlumuran darah, tidak mengerti bahwa dunianya sedang berada di ambang kehancuran untuk kedua kalinya.
jd teh celup ka dia disana.... 😂