NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Serangan Yang Dilancarkan Bismantaka

Pagi hari itu, Jam sudah berdenting sembilan kali. Perhelatan besar-besaran akan dilaksanakan di perusahaan Adiwinata Corporation.

Semua karyawan ikut menantikan berita besar dari petinggi perusahaan. Mereka ingin mendengarkan berita klimaks nasib perusahaan itu. Penurunan itu tidak terjadi dalam satu malam. Ia datang perlahan cukup untuk diabaikan, namun terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.

Saham Adiwinata Corporation terus melemah.

Tidak jatuh,  tapi juga tidak pernah benar-benar naik.

Dan bagi mereka yang memahami permainan ini, itu jauh lebih berbahaya. Karena yang mulai hilang bukan angka melainkan kepercayaan.

Banyak yang menyesalkan kalau perusahaan besar itu harus tumbang. Menurut Berita  yang mereka dengar, perusahaan itu sedang mengalami  ketidakstabilan. Sehingga menimbulkan kegelisahan bagi para investor.  Dan banyak diantara mereka yang pergi.

Namun, aneh. Seperti kemarin diceritakan di bab 19. Meski berita besar  menyeruak di media massa. Baik elektronik maupun media sosial. Tapi, perusahaan itu tetap tenang. Tetap berjalan seperti biasanya. Seolah ada makhluk kasat mata yang menopang perusahaan itu.

Hari itu, seperti yang telah mereka agendakan. Para petinggi di Adiwinata Corporation sedang mengadakan pertemuan rutin yang memang membahas kondisi pasar saham mereka. Ruang rapat utama Adiwinata Corporation terasa lebih sunyi dari biasanya. Layar besar menampilkan grafik dan laporan keuangan.

Semua mata tertuju ke depan, ke arah satu orang. Yaitu Ravian.

Ravian berdiri tegak di ujung meja panjang.

“Seperti yang bisa kita lihat,” ujarnya tenang,

“fluktuasi ini masih dalam batas yang bisa dikendalikan. Kita hanya perlu.....”

“Dalam batas?”

Sebuah suara memotong pembicaraannya.  Beberapa kepala langsung menoleh. Bismantaka bersandar santai di kursinya,

tatapannya lurus ke arah Ravian.

“Maaf,” lanjutnya dengan nada sopan,

“tapi angka ini tidak menunjukkan sesuatu yang ‘terkendali’.”

Ia menggeser tablet di depannya dan menampilkan data lain.

“Penurunan margin di divisi distribusi, gangguan pada rantai suplai dan juga beberapa proyek ekspansi yang tertunda.”

Satu per satu ia sebutkan tanpa menaikkan suara. Namun sudah cukup untuk membuat suasana berubah. Seorang direksi ikut bicara,

“Benar. Kami juga mulai menerima laporan dari beberapa partner yang ragu.”

“Ini bukan sekadar fluktuasi biasa,” tambah yang lain.

Ravian tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke layar, lalu kembali ke arah meja.

“Semua itu sudah dalam pengawasan,” katanya singkat.

Bismantaka tersenyum tipis.

“Saya tidak meragukan kemampuan Anda, Tuan Ravian,” ujarnya halus.

“Namun perusahaan ini tidak bisa hanya bergantung pada ‘pengawasan’.”

Hening.

Kalimat itu tidak terdengar kasar tapi sudah cukup untuk menggeser arah pembicaraan.

“Saya hanya khawatir,” lanjutnya,

“Kita terlalu cepat mengambil langkah besar tanpa fondasi yang benar-benar kuat.”

Beberapa direksi mengangguk pelan. Satu per satu, seolah pendapat itu mulai diterima.

Ravian tetap berdiri di tempatnya. Tenang tanpa ekspresi yang berlebihan.

“Apakah Anda memiliki usulan lain?” tanyanya.

Bismantaka tidak langsung menjawab.

Ia menatap sekeliling ruangan memastikan semua perhatian kini tertuju padanya.

“Stabilitas,” katanya akhirnya.

“Itu yang kita butuhkan saat ini.”

Nada suaranya rendah dan terkontrol.

“Dan stabilitas… hanya bisa dijaga oleh seseorang yang memahami perusahaan ini sejak awal.”

Kalimat itu menggantung di udara. Tidak menyebut nama, namun semua orang sudah tahu maksudnya.

Ruangan itupun kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya posisi Ravian terasa goyah.

*******

Di Mansion Kaelric, suasana masih pagi. Rasanya enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Tangan halus Veliora melingkar di atas perut Kaelric yang berotot. Dengkuran halus terdengar disela bibirnya yang merah jambu.

Kaelric menggeliat bangun, tapi karena tangan Veliora mendekap erat tubuhnya, dia agak kesusahan. Dengan perlahan dia menurunkan tangan Veliora. Dengkuran halus Veliora menyentuh wajahnya. Kaelric pun memandang wajah cantik gadis itu, yang posisinya ada di bawahnya.

Shit!. Kenapa si Joni ikutan bangun?. Kata hati Kaelric. Tapi, suasana tidak memungkinkan. Bukan karena terlalu pagi, tapi dia ingin mengikuti sesi rapat di Adiwinata Corporation. Tentu saja dari pihak Ravian Kestler, yang kini berdiri sendirian disana. Sementara, dirinya dan Eryndor Hale hanya bayangan semata.

Dia bergegas masuk kamar mandi dan menuntaskan hasratnya disana. Lalu ke meja makan untuk sarapan.

Sarapan pun dilakukan dengan tergesa-gesa. Dia hanya menyambar roti panggang dan diminumnya secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaannya.

Setelah itu, dia bergegas keluar menuju mobilnya yang disiapkan Pak Atmo, sopir pribadinya. Sopir pribadi yang sudah lama ikut dengannya. Tapi, jarang dia menyuruh Pak Atmo mengikuti kepergiannya. Yang lebih sering, dia pergi dengan Ravian atau menyetir sendiri.

Kaelric menyukai pribadi sopirnya itu. Diam, tanpa banyak bicara, bukan penjilat, loyalitas pada majikannya yang tinggi. Yang tidak orang tahu, Pak Atmo pernah mengalami suatu hal yang sulit.

(Sedikit cerita tentang Pak Atmo ya?... )

Waktu itu, dia akan masuk penjara karena salah memegang suatu benda. Hingga akhirnya, dia tahu itu adalah milik Bosnya sendiri.

Pak Atmo akhirnya masuk penjara juga. Dan itu tetap dilakukannya karena rasa pertanggungjawaban yang telah dia lakukan. Tapi, waktu itu Pak Atmo menangis di hadapan Kaelric.

"Kenapa kamu menangis?. Bukankah kau sudah tahu, aku tidak ingin seorang pun menyentuh barang yang memang bukan miliknya. Dan juga bukan urusannya!"

"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu."

"Seharusnya, kamu mati!"

Pak Atmo menangis sejadi-jadinya.

"Anak-anak, Tuan. Juga istriku. Saya punya hutang yang harus saya tanggung tiap bulannya. Anak saya yang nomor dua harus menjalani perawatan yang tidak sedikit biayanya. Saya harus membayar angsuran tiap bulannya sekitar 20 juta per bulan."

Akhirnya, transaksi kemanusiaan pun berlaku. Pak Atmo tetap mendekam di balik jeruji besi. Dan Kaelric berjanji akan melunasi semua hutang Pak Atmo.

Tiap hari Kaelric menugaskan beberapa anak buahnya untuk mengawasi keluarga itu dari jarak yang jauh.

Karena, rentenir yang meminjamkan uang pada Pak Atmo selalu mengintimidasi keluarga mereka.

Hingga detik ini, keluarga Pak Atmo masih dalam pengawasan Kaelric. Dia berjanji pada si kecil, anak Pak Atmo. Kalau akan menuntaskan masalah keluarganya dalam waktu dekat.

Anak Pak Atmo yang kecil senang dengan kedatangan Kaelric disana.

Dia hanya ingin, keluarga sederhana itu merasa nyaman. Hanya itu.

****

NB : kita kembali ke cerita ya guys??.. 

Mobil Kaelric dengan disopiri Pak Atmo melaju perlahan. Mercedes-benz S-class itu melaju tenang di jalanan ibukota yang padat.

Mobil berhenti tanpa suara di depan pintu.

Mercedes-Benz S-Class hitam itu tampak sederhana, setidaknya bagi mereka yang tidak benar-benar mengerti.

Namun bagi yang tahu itu bukan sekadar kendaraan. Itu adalah pilihan seseorang yang tidak perlu membuktikan apa pun.

Hari itu dia ke kantor. Agak siang, memang. Dia terlambat bangun pagi itu. Veliora yang manja, menuntut perhatian lebih kepadanya.

Begitu masuk kantor, semua orang yang berpapasan dengannya menundukkan kepala. Dia begitu disegani, tapi bukan macam orang yang gila hormat.

Dia langsung menuju ruang kerjanya. Dia duduk di kursi kerjanya sambil memeriksa beberapa berkas untuk dipelajari.

Sementara itu di  ruang rapat Adiwiyata Corporation. Rapat berakhir tanpa keputusan pasti. Namun suasananya sudah berubah.

Tatapan yang tadi netral, kini mulai penuh pertimbangan. Ravian keluar dari ruangan tanpa tergesa. Langkahnya tetap sama. Nampak tenang. Seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Di dalam ruangan, Bismantaka masih duduk di tempatnya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

Ia tahu, hari ini adalah awal dari kemenangannya.

Namun di luar itu

Ravian berhenti sejenak di koridor. Tatapannya jatuh pada layar ponsel di tangannya.

Satu pesan masuk. Singkat. Tanpa nama.

Ia membacanya sekali, lalu sudut bibirnya bergerak sangat tipis.

Hampir tak terlihat. “Biarkan mereka percaya.”

Layar ponsel kembali gelap. Dan tanpa berkata apa pun, Ravian melangkah pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!