NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Sangkar emas di Rumah Mawar

’Sial! Kenapa ragaku seberat lumpur?’ batin Nara geram.

Meskipun matanya setajam elang, otot-otot Seol-Ah hanyalah untaian benang yang lemah. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh batu jembatan yang licin. Pegangannya terlepas.

BYURRR!

Tubuh kecil itu menghantam air kanal yang sedingin es. Paru-parunya mendadak tersumbat. Ia mencoba meronta, namun raga ini tidak tahu cara berenang. Ia tenggelam, terseret arus ke dasar kanal yang gelap, hingga sebuah tangan kasar merenggut kerah bajunya dan menyeretnya kembali ke atas perahu.

"Seol-Ah! Apa kau sudah gila?!" teriak pria mandor perahu itu, napasnya tersengal karena baru saja menyelam.

"Kau itu buta! Bagaimana bisa kau berpikir untuk memanjat jembatan? Kau mau mati, hah?!"

Nara (Seol-Ah) terbatuk-batuk, memuntahkan air kanal yang pahit. Ia menggigil hebat, namun amarah di hatinya jauh lebih panas daripada rasa dingin itu.

‘Tenaga dalamku hilang, kekuatan fisikku pun lenyap. Aku benar-benar terjebak dalam sangkar daging yang rapuh,’ batinnya penuh frustasi.

Melihat pria itu terus memaki, Nara segera mengatur raut wajahnya. Ia kembali memasang tatapan kosong, pura-pura meraba udara dengan tangan gemetar. Ia kembali menjadi Seol-Ah yang malang.

"Maafkan hamba, Tuan... hamba... hamba hanya takut mendengar suara keras di atas tadi," ucap Nara dengan nada memelas yang dipaksakan.

Pria itu mendengus, tidak curiga. "Dasar pelayan sial. Gara-gara kau, bajuku basah kuyup! Cepat keringkan dirimu, kita sudah sampai di dermaga kedai. Jika kau melakukan kesalahan lagi, aku akan menjualmu ke rumah bordil terdekat!"

Nara menunduk, membiarkan rambutnya yang basah menutupi matanya yang kini bisa melihat segalanya. Ia mengepalkan tangannya di balik kain baju yang lembap.

‘Teruslah bicara, Pak Tua. Begitu aku mendapatkan kekuatanku kembali, lidahmu adalah hal pertama yang akan kupotong,’ desis Nara dalam hati.

Perahu itu merapat di dermaga kedai makan yang ramai.

Di sana, di tengah kerumunan orang, Han-Seol baru saja tiba dengan langkah gontai. Ia melintas di atas jembatan bata. Ia sempat berhenti, menatap kerumunan yang tampak asing setelah bertahun-tahun ia mengasingkan diri di gunung salju.

Pandangannya jatuh ke bawah, ke arah perahu yang baru saja membuat keributan. Ia melihat seorang gadis pelayan yang basah kuyup tengah menyeka wajahnya.

Gerakan tangan gadis itu tidak tampak seperti pelayan yang pasrah; ada ketegasan dan sisa-sisa keangkuhan di sana.

Han-Seol menatapnya sekilas, merasa ada sesuatu yang ganjil dari pendar energi di sekitar gadis itu, namun ia segera membuang pikiran tersebut. Ia punya urusan yang lebih mendesak: bertahan hidup.

Takdir baru saja menarik benang merahnya; sang penyihir tanpa energi dan sang pembasmi tanpa raga kini berada di bawah langit yang sama.

–––

Di sebuah kedai makan terpencil di dermaga, si pria paruh baya meletakkan nampan berisi seekor ayam panggang utuh di depan Seol-Ah.

BRAKK!

Suara nampan itu sengaja ia buat keras untuk mengejutkan "gadis buta" tersebut.

"Makanlah yang banyak, Seol-Ah. Anggap saja ini perjamuan untuk merayakan nyawamu yang baru," ucap pria itu sambil meneguk arak murahan hingga tumpah di dagunya.

Nara hanya mengangguk-angguk kecil, berpura-pura kikuk dan ketakutan. Perut Seol-Ah memang terasa sangat lapar, ritual pemindahan jiwa semalam seolah menyedot seluruh cadangan energinya.

Ia mulai berakting meraba-raba meja, lalu setelah "menemukan" ayam itu, ia melahapnya dengan rakus. Ia menyobek daging dengan gerakan yang efisien—gerakan seorang pembunuh yang tahu cara mengisi tenaga dengan cepat.

Si pria tua mencondongkan tubuh, bau arak dari mulutnya menusuk hidung Nara. "Dan satu lagi... kau tahu, Seol-Ah, mendiang nenekmu itu meninggalkan tumpukan utang yang sangat banyak padaku. Bunga utang itu sudah menggunung seperti Gunung Niskala."

Nara menghentikan kunyahannya. Matanya yang di balik kelopak tetap waspada.

"Aku punya ide bagus. Kau akan bekerja di Rumah Mawar. Kau punya suara merdu, bukan? Kau akan bernyanyi di sana, menghibur para petinggi penyihir. Kau bisa makan enak setiap hari di sana," lanjut pria itu dengan nada menjilat yang palsu.

‘Rumah Mawar?’ pikir Nara cepat.

‘Jantung informasi kaum penyihir. Jika aku di sana, aku bisa mengawasi gerak-gerik Han-Gyeol dan pengikutnya. Baiklah, aku akan ikut dalam permainan bodoh ini.’

Setelah selesai makan, pria itu menuntun Seol-Ah menuju bangunan megah yang dihiasi lampion merah menyala. Bunga mawar merambat indah namun berduri di dinding batunya—persis seperti tempat itu sendiri.

Seorang wanita cantik setengah baya dengan hanbok sutra elegan telah menunggu. Ia adalah Kim Yeon-Hong, pemilik Rumah Mawar yang pengaruhnya menyentuh hingga ke dalam istana.

"Nona Yeon-Hong, ini dia. Seol-Ah yang saya janjikan," ucap pria tua itu sambil membungkuk rendah.

Kim Yeon-Hong melangkah mendekat. Aroma parfum mawarnya sangat menyengat, hampir menutupi bau amis kanal yang masih menempel di baju Seol-Ah.

Ia mengangkat dagu Seol-Ah dengan ujung kuku panjangnya yang dicat merah. "Jadi ini gadisnya?" suara Yeon-Hong terdengar merdu namun dingin.

Ia mengamati wajah Seol-Ah dengan teliti. "Kulitnya halus, wajahnya murni... dan kebutaan itu memberikan kesan rapuh yang sangat disukai para pria bangsawan. Dia akan menjadi pajangan yang mahal di sini."

"Benar, Nona! Dia sangat penurut," sahut si pria tua.

"Bagus. Ini kepingan emas yang aku janjikan. Sekarang pergi dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di sini," usir Yeon-Hong sambil melemparkan kantong kain kecil yang bergemerincing.

Deg!

Nara terperangah. Tongkat kayu di tangannya bergetar karena cengkeramannya yang mengeras.

‘Membayar mahal? Membeli?’

"Terima kasih banyak, Nona! Semoga usahamu semakin lancar!"

Pria tua itu tertawa girang lalu lari terbirit-birit.

Nara berdiri mematung di tengah halaman.

Amarah membuncah hingga ke ubun-ubun.

Ternyata ia tidak dibawa untuk bekerja membayar utang, melainkan telah dijual sebagai budak penghibur. Ia, sang pembasmi yang ditakuti, baru saja dilelang seperti barang dagangan di pasar.

"Ayo, jangan berdiri seperti patung," ucap Kim Yeon-Hong sambil menepuk pundak Nara dengan kipas sutranya.

"Kau punya nama yang bagus, Seol-Ah. Tapi di sini, kecantikanmu adalah milikku. Mulai malam ini, kau akan mandi dengan air bunga dan belajar bagaimana cara membuat pria mengeluarkan emas dari kantong mereka tanpa perlu kau melihat wajah mereka."

Nara menunduk, membiarkan rambutnya menutupi rahangnya yang terkatup rapat.

"Apa kau bisu juga? Jawab aku jika aku bicara padamu!" Yeon-Hong sedikit menekan suaranya.

"Baik... Nona Yeon-Hong," jawab Nara dengan suara Seol-Ah yang paling lembut dan gemetar yang bisa ia buat.

Di dalam hatinya, ia berbisik:

‘Sabar, Nara. Jadilah kelinci yang manis. Begitu tenagamu kembali, wanita ini akan menjadi orang pertama yang akan kau jadikan pupuk bagi mawar-mawarnya.’

Nara pun dituntun masuk ke dalam kedalaman Rumah Mawar, sebuah sangkar emas yang indah namun mematikan.

Perjuangannya untuk merebut kembali otoritasnya sebagai singa Niskala baru saja dimulai dari balik tirai sutra.

**** 

Malam di Rumah Mawar adalah muara bagi segala rahasia Niskala. Wangi dupa cendana yang mahal berusaha keras menutupi bau busuk intrik politik di balik pintu-pintu jati yang tertutup rapat.

Bagi Nara, setiap sudut tempat ini adalah medan perang baru.

"Ingat, Seol-Ah," bisik Kim Yeon-Hong sembari memakaikan cadar sutra merah marun pada wajah Nara. Jemarinya dingin, gerakannya cekatan seperti sedang mendandani sebuah boneka porselen mahal.

"Kau adalah misteri baru. Jangan biarkan mereka melihat wajahmu sepenuhnya. Di tempat ini, apa yang tidak terlihat adalah apa yang paling diinginkan. Pikat mereka dengan suaramu, dan emas akan mengalir ke kaki kita."

Nara hanya terdiam, membiarkan dirinya dituntun menuju panggung utama yang terletak di tengah kolam air buatan.

Lampion-lampion merah yang bergantungan memantulkan cahaya di permukaan air, menciptakan bayangan yang menari layaknya hantu.

Nara duduk bersimpuh, meletakkan instrumen dawainya dengan sangat hati-hati—tetap mempertahankan sandiwara sebagai gadis buta yang rapuh.

Namun, di balik kain sutra tipis itu, mata Nara yang tajam mengamati balkon eksklusif.

Di sana, duduk empat sosok yang dijuluki "Empat Musim", pewaris keluarga penyihir paling berpengaruh yang menjadi target dendamnya.

Do-Hyun: Sang Matahari Musim Panas

Duduk dengan gaya santai sambil memutar-mutar cawan perak, Do-Hyun dari keluarga Do memancarkan energi yang meluap-luap.

Garis rahangnya tegas, namun bagi Nara, sorot matanya penuh dengan arogansi yang membakar. Ia adalah matahari yang siap menghanguskan siapa pun dengan sihir api destruktifnya.

"Kenapa panggungnya begitu lama?" gerutu Do-Hyun bosan.

"Kuharap suara 'gadis buta' ini tidak membuatku mengantuk."

Baek Seo-Jun: Angin Musim Gugur

Berbeda dengan Do-Hyun, Seo-Jun duduk dengan ketenangan yang luar biasa anggun. Ia tampak kalem, namun Nara merasakan aura mematikan yang tersimpan rapi.

Seo-Jun bagaikan angin Musim Gugur; indah namun mampu meruntuhkan segalanya tanpa suara. Tatapannya jatuh ke arah panggung, tajam dan menyelidik. Sebagai penyihir dengan bakat paling murni, Seo-Jun seolah memiliki indra keenam yang bisa merasakan bahwa ada frekuensi yang "salah" dari gadis penyanyi di bawah sana.

Jin Chae-Rin: Bunga Musim Semi

Satu-satunya gadis di antara mereka adalah Chae-Rin dari keluarga Jin, pewaris Jinyowon yang keramat. Parasnya luar biasa cantik, seindah bunga yang baru mekar.

Namun, Nara tahu bahwa kecantikan itu adalah kelopak mawar yang penuh duri beracun.

Chae-Rin menguasai teknik penyegelan kuno; ia bisa mengikat raga seseorang hanya dengan lambaian tangan. Ia menyesap tehnya dengan anggun, matanya yang berkilat cerdas mengawasi sekeliling dengan waspada.

Han-Seol: Kesunyian Musim Dingin

Di sudut yang paling gelap, duduk Han-Seol. Ia adalah anomali paling tragis di Niskala. Wajahnya tampan namun pucat dan misterius, persis seperti Musim Dingin yang sunyi.

Tanpa jubah kebesaran penyihir, ia duduk tegak dengan tatapan yang seolah mampu melihat langsung ke dalam rahasia terdalam seseorang.

Nara teringat pertemuan singkat di jembatan tadi siang. Ada secercah simpati yang muncul, namun ia segera menepisnya.

Dia adalah putra Han-Gyeol, batinnya dingin.

Darah pengkhianat itu mengalir di tubuhnya.

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!