Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Masa Lalu Yang Pahit
Setelah memastikan seluruh kotak berisi ikan dan hasil laut lainnya sudah diterima dengan baik oleh staf gudang Resto Kembang Desa, Langit kembali masuk ke dalam mobil boxnya. Ia sempat menoleh sekilas ke arah pintu belakang, berharap bisa melihat lagi sosok Dinara, namun wanita itu sudah hilang entah kemana.
Dengan napas panjang yang dihembuskan pelan, Langit memutar kunci kontak dan menjalankan kendaraannya keluar dari area restoran.
Sepanjang jalan menuju pintu keluar kawasan itu, pikirannya masih tertinggal sedikit di sana. Ada rasa puas yang aneh di hatinya karena bisa melihat Dinara, memastikan wanita itu baik-baik saja, meski terlihat sangat lelah.
Saat mobilnya melaju mendekati perempatan jalan besar, pandangan Langit tak sengaja tertuju pada bangunan megah yang sedang diselesaikan pembangunannya. Plang besar bertuliskan SELAYA RESTO sudah terpasang kokoh di bagian depan, cat luarnya sudah rampung, dan para pekerja terlihat sibuk memoles bagian akhir.
Namun, bukan bangunan kokoh itu yang membuat kaki Langit perlahan mengurangi tekanan pada gas. Matanya menangkap dua sosok yang sedang berdiri di pinggir trotoar tepat di depan gerbang bangunan itu.
Langit menyipitkan matanya, memfokuskan pandangan, lalu perlahan menepikan mobilnya ke sisi jalan yang agak sepi, seolah berhenti sebentar untuk memeriksa sesuatu di dasbor, padahal matanya tak lepas dari dua orang itu.
Ia mengenali mereka. Sangat mengenali.
Laki-laki yang berdiri tegak dengan seragam kerja rapi dan tas kerja di tangan itu adalah Tri Bayu. Dan wanita yang sedang berdiri di sampingnya, berkerudung rapi, berpakaian sopan itu adalah Haura.
Mas Tri terlihat sedang membungkuk sedikit, menatap wajah istrinya dengan ekspresi yang berusaha terlihat lembut. Tangannya terulur merapikan letak kerudung Haura yang sedikit berantakan. Gerakannya hati-hati, penuh perhatian, seolah sedang merawat benda rapuh. Mas Tri sengaja mengantar Haura sampai ke sini, padahal jalurnya berlawanan dengan arah ke tempat kerjanya. Ia rela datang terlambat ke kantornya hari ini, rela dimarahi atasan atau dipotong gajinya, semata-mata untuk menebus kesalahan dan kemarahan Haura kemarin sore.
Pertengkaran hebat yang membuat televisi pecah dan rumah berantakan itu masih terbayang jelas di kepalanya, dan ia berusaha sekuat tenaga merayu kembali hati istrinya itu.
Mas Tri mengusap perut Haura sebelum ia pergi meninggalkan resto yang belum jadi itu.
Haura tersenyum, senyum yang sangat indah dilihat orang luar. Ia mengangguk, lalu mencium punggung tangan suaminya itu dengan gerakan yang dibuat-buat sangat sopan dan manis.
Interaksi itu seolah ingin membuat kesan jika mereka adalah pasangan sakinah mawaddah dan warrahmah. Pasangan idaman meski usia mereka sudah tak muda lagi.
"Iya, Mas. Makasih ya sudah antar. Masnya juga hati-hati ya kerja, jangan terlalu lelah," jawab Haura dengan nada suara yang sangat halus, berbanding terbalik dengan nada tinggi dan amarah yang ia keluarkan kemarin di dalam rumah mewah mereka.
Mas Tri mengangguk puas, merasa damai karena istrinya sudah kembali manis seperti biasa. Langit melihat semuanya. Dari awal Mas Tri datang, memperlakukan Haura bak ratu, sampai keduanya berpisah jalan.
Dengan gerakan cepat, Langit menyalakan kembali mesin mobilnya dan melaju kencang meninggalkan perempatan itu.
******
Keesokan harinya, subuh masih sangat pekat di atas langit Kecamatan Kukusan. Kabut tebal masih menyelimuti dermaga dan pasar induk, membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Mas Langit sudah berdiri di lapaknya, memeriksa catatan dan kualitas ikan yang baru saja dibongkar dari kapal, sama seperti hari-hari biasa.
Namun, ada yang terasa kosong. Biasanya di jam-jam begini, suara langkah kaki tegas dan sapaan datar namun ramah akan terdengar mendekat. Dinara. Tapi hari ini, sampai keramaian mulai memuncak, sosok itu tak terlihat juga.
Pandangan Langit terus tertuju ke arah jalan masuk pasar, berharap melihat jaket biru tua yang biasa dipakai wanita itu muncul di balik kerumunan. Yang datang justru Mas Ferdi. Pria itu berjalan cepat dengan senyum lebar di wajah, terlihat sangat puas.
"Matur nuwun, Mas!" seru Ferdi begitu sampai di depan lapak Langit, langsung menjabat tangan pemuda itu dengan antusias. "Kemarin itu pesanan dadakan yang Mas penuhi dengan sempurna, benar-benar menyelamatkan muka kami. Acaranya lancar jaya, semua tamu dari pemerintahan itu suka sekali dengan olahan seafood yang kami suguhkan. Mereka sampai tanya, dari mana kami dapat pasokan ikan yang segar dan berkualitas tinggi begitu."
Langit mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang dan datar seperti biasa.
"Itu memang tugas saya, Mas Ferdi. Saya sudah berjanji menyediakan yang terbaik, maka saya penuhi. Tidak usah terlalu dipikirkan," jawab Langit singkat, lalu kembali menuliskan sesuatu di bukunya.
Mas Ferdi tertawa kecil, lalu menepuk bahu Langit dua kali.
"Masya Allah, tetap saja rendah hati. Padahal kalau Mas Langit tidak mau bantu cari sisa stok di kapal-kapal saat itu, kami bisa kocar-kacir kemarin." Ferdi diam sejenak, lalu melihat sekeliling lapak, mencari-cari sosok yang biasanya selalu ada di sampingnya. Ia menoleh kembali ke arah Langit.
" Hari ini pesanan seperti biasanya Mas."
" Ya. Sudah dipersiapkan sama si Ahmad, silakan di cek dulu. "
" Oke Mas. Hari ini saya cek sendiri, Mbak Ra nggak bisa datang kesini. " ucapnya sambil membuka peti ikan.
Jantung Langit seolah berhenti berdetak sepersekian detik. Ia mengangkat wajah, berusaha menahan rasa penasaran yang meluap-luap di dadanya, berusaha terlihat biasa saja, berusaha menyembunyikan betapa ia menunggu kabar itu.
"Ada acara lagi di restoran sampai dia nggak sempat ke sini?" tanya Langit dengan nada setenang mungkin, meski di dalam hatinya ia berharap dan cemas sekaligus.
Ferdi menggeleng, wajahnya berubah sedikit menjadi lebih serius.
"Bukan, Mas."
" Lantas kenapa?" Nada suara Langit sedikit meninggi karena tidak sabar ingin tau kabar Dinara. " Apa dia sakit? "
Ferdi tersenyum simpul melihat reaksi terbuka itu. Sebagai lelaki, sebagai orang yang sudah lama bekerja dan bergaul, ia paham benar arti tatapan dan reaksi berlebihan seperti itu. Tanda-tanda benih-benih rasa suka yang mulai bermekaran, jelas sekali terpampang di wajah kaku pemasok ikan itu.
"Iya Mas, dia sakit," jawab Ferdi pelan sambil mengangguk mengiyakan. "Kata Mela, dia kecapekan ditambah kurang tidur selama persiapan kemarin. Pulang dari restoran langsung demam tinggi dan pusing. Jadi hari ini dia harus istirahat total di kontrakan."
Langit diam. Ia menundukkan kepalanya, menatap catatan di tangannya tapi tidak membaca satu huruf pun. Hatinya terasa sesak.
Ingin sekali rasanya Langit bertanya: Bagaimana keadaannya sekarang? Sudah turun demamnya? Siapa yang merawatnya do kontrakan? Dia makan apa? Minum obat apa?
Seribu pertanyaan berdesakan di ujung lidahnya, tapi gengsinya sebagai lelaki dingin dan kaku itu masih menahannya. Ia takut kalau bertanya terlalu banyak, Ferdi akan tahu perasaannya yang sebenarnya. Ia takut dianggap berlebihan. Akhirnya, ia hanya menggumamkan satu kata kecil.
"Siapa Mela?"
Ferdi terkekeh pelan, makin yakin bahwa perasaan Langit itu nyata.
"Mela itu sahabat baiknya sejak SMA, Mas. Sekarang jadi tetangga kontrakannya juga, sekaligus teman kerja di Kembang Desa. Kata Mela Dinara sudah diantar berobat ke puskesmas dekat sini, sudah minum obat, sekarang lagi tidur nyenyak katanya."
Langit mengangguk pelan lagi, sedikit lega mendengar ada orang yang menjaga wanita itu.
"Oalah..." gumamnya pelan.
Suasana hening sejenak. Ferdi melihat ke arah tumpukan ikan segar yang baru diturunkan.
"Ngomong-ngomong Mas," Ferdi membuka topik baru, nadanya berubah menjadi lebih serius dan rendah. "Mas tau kan resto yang mau launching di perempatan jalan itu? Yang bangunannya besar, cat putih bersih, nama plangnya Selaya?"
Langit mengangkat wajah, matanya tajam. Ingatannya langsung melayang ke pemandangan yang ia saksikan kemarin pagi.
"Tahu. Kemarin aku sempat lihat langsung bangunannya. Kenapa?"
"Itu Selaya Resto itu, mereka nggak minta pasokan ikan ke Mas Langit kan?" tanya Ferdi hati-hati.
Langit menggeleng cepat, tegas.
"Tidak. Dan meski mereka minta, aku tidak akan ambil pesanan mereka."
"Baguslah kalau gitu, Mas," ucap Ferdi lega, lalu ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, berbisik agar tak didengar orang lain. "Mas tau tidak siapa yang jadi manajer di sana? "
Langit diam, menatap Ferdi menunggu penjelasan.
" Nggak tau. "
" Namanya Haura, penampilannyaa syar'i, tutur bahasanya lembut tapi kelakuannya kayak titisan dajjal" ujar Mas Ferdi.
"Astagfirullah Mas Ferdi. Pagi-pagi begini kok malah bahas gosip begini?" potong Langit, meski hatinya berdebar kencang karena ia sudah menduga hal itu.
"Ini bukan gosip, Mas! Ini fakta sejarah yang jelas-jelas terjadi di depan mata. Dia itu p3lakor alias perebut suami orang. Dia sudah berhasil memporak-porandakan rumah tangga Mbak Dinara sama mantan suaminya." ujar Ferdi bersemangat.
Mas Langit menatap Ferdi tanpa sadar, seperti serang menantikan cerita berikutnya.
"Dulu Mbak Dinara itu yang nemenin suaminya dari nol. Dari ngontrak kecil, makan seadanya, kerja banting tulang, sampai laki-laki itu jadi punya jabatan dan mapan kayak sekarang. Pas sudah enak hidupnya, eh dia minta izin poligami sama Haura. Alasannya agama, alasannya ingin punya keturunan, pengen menyempurnakan agama dan memberikan surga buat Mba Ra. Padahal itu akal-akalan dia aja!"
Ferdi menghela napas kesal, lalu melanjutkan dengan nada sedih. Mas Langit semakin tertarik dengan cerita Mas Ferdi. Padahal awalnya dia nggak mau gosip.
"Dan pas cerai pun, Mbak Ra nggak dapat apa-apa, Mas. Tidak ada harta gono-gini, tidak ada rumah, tidak ada emas dan perhiasan. Hakim di pengadilan memutuskan dia cuma dapat nafkah iddah dan mut'ah yang jumlahnya tidak seberapa. Padahal dia yang bikin suaminya sukses. Tapi yang sekarang menikmati rumah besar, mobil bagus, jabatan dan segala kemewahan adalah Bu Haura itu. Umi Dasyim yang pinter nyamar jadi bidadari."
DEG!
Jantung Langit serasa berhenti berdetak. Darah seketika mendidih dan berdesir hebat di sekujur tubuhnya. Mulutnya terasa kering.
Haura...
Jadi benar apa yang dulu pernah ia dengar berbisik-bisik orang. Wanita yang terlihat begitu suci, begitu beragama, begitu lembut itu ternyata memang seorang perebut. Wanita yang ia lihat kemarin sore diperlakukan bak ratu oleh Mas Tri, adalah wanita yang merebut kebahagiaan Dinara, yang membuang wanita baik-baik itu ke jalanan, yang membuat Dinara harus berjuang mati-matian lagi dari nol.
Ya Allah... Haura. Dzalim sekali kamu.
Langit mengepal tangannya kuat-kuat di balik punggung tubuhnya yang kekar. Rahangnya mengeras, ia tak menyangka jika Haura iblis yang memakai kedok agama.
Kenapa Langit kenal Haura?
13 tahun yang lalu, Langit sudah mengagumi Haura karena kecantikan dan tutur bahasanya yang sopan. Langit adalah kakak kelas Haura waktu masa putih abu dulu.
Ia masih ingat betul saat itu ia memberanikan diri datang kerumah Haura, dengan membawakan martabak manis yang ia dapat dari hasil jualan ikan. Namun yang terjadi adalah penolakan dan penghinaan yang luas biasa menyakitkan, bukan hanya dari Haura tapi kedua orang tuanya.
Langit tau ia hanya anak nelayan miskin yang tak pantas di pilih. Tapi hinaan itu ia jadikan semangat untuk meraih kesuksesan hingga bisa berada di titik ini.
Dan sekarang, wanita yang sama itu berdiri di puncak kemewahan hasil curian, berniat menghancurkan satu-satunya wanita yang mulai membuat hati Langit berdenyut lagi setelah sekian lama ia menduda dan menutup diri.
Ya! Langit adalah duda tanpa anak.
Ia memutuskan menikah di usianya yang ke 24 tahun dengan seorang yatim piatu. Mereka membangun bisnis jual beli ikan kecil-kecilan dengan bekerja sama dengan sebuah organisasi pangan. Sayangnya sang istri meninggal saat mereka bisnis mereka meroket.
Dunia benar-benar sempit dengan permainan takdir yang ironis.nLangit mengangkat wajahnya, sorot matanya berubah tajam, dingin, dan penuh tekad.
"Mas Ferdi," panggil Langit dengan suara berat dan rendah.
"Iya, Mas?"
"Jika Resto Kembang Desa butuh apa saja, mulai dari pasokan terbaik atau harga khusus, aku siap bantu."
"Siap, Mas Langit."
Langit membuang pandangannya jauh ke laut lepas. Haura, kamu kira kamu sudah menang? Kamu kira kamu aman di atas kemewahan hasil rampasanmu? Tunggu saja. Selama aku ada di sini, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa menyentuh sehelai rambut pun dari Dinara.
Dan di sudut kontrakan kecil yang sederhana, Dinara sedang terbaring lemah, belum tahu bahwa takdir telah mengaitkan nasibnya dengan masa lalu kelam musuhnya sendiri, dan bahwa di luar sana, ada seorang lelaki diam-diam sedang bersiap menjadi tameng paling kokoh untuknya.
mau ku Author nulis sekali UP 10 Eps 🤭🤭🤭 But I Luv you Thor😍😍😍
buat KA Atta.. mkasih dah buat cerita yg menarik ini, sehat trs dan idenya makin lancar...🙏🥰