NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Layar ponsel pintar milik Tiara memancarkan cahaya terang di dalam kamar belakangnya yang sempit. Matanya yang dirias tebal menatap tanpa berkedip pada deretan foto liburan Adila di Paris yang kini mendominasi beranda Instagram. Setiap usapan jarinya pada layar terasa seperti siraman air raksa yang membakar hatinya. Foto Adila yang sedang tersemak anggun mengenakan mantel cashmere mahal di depan Menara Eiffel, foto tumpukan tas belanjaan dari butik Chanel, hingga kemegahan jet pribadi Keluarga Wijaya benar-benar membuat dada Tiara sesak oleh rasa iri yang teramat pekat.

"Sialan! Kenapa harus dia yang punya semua ini?!" jerit Tiara tertahan, melemparkan ponselnya ke atas kasur busa yang tipis.

Napasnya memburu. Kemurkaan Tiara sudah mencapai ubun-ubun. Selama sepuluh tahun ini, dia selalu memandang rendah Adila, menganggap kakak iparnya itu hanyalah wanita yatim piatu miskin yang beruntung bisa dinikahi oleh kakaknya, Revan, yang seorang eksekutif muda berkelas. Namun kini, kenyataan membalikkan telapak tangan dengan begitu kejam. Adila adalah seorang putri mahkota dari konglomerat nomor satu, sementara keluarganya sendiri kini terancam menjadi gelandangan di rumah yang sangat sederhana ini.

Brak!

Tiara menarik sebuah koper kain tua dari atas lemari pakaian, lalu membukanya dengan kasar di atas kasur. Tanpa memedulikan kerapian, ia mulai merenggut baju-bajunya dari gantungan dan memasukkannya ke dalam koper secara acak. Suara kegaduhan dari kamar Tiara langsung memancing perhatian Mama Revan yang sedang membuat teh di dapur.

"Tiara? Kamu sedang apa, Nak? Kenapa berisik sekali?" tanya Mama Revan sembari membuka pintu kamar anak perempuannya. Wanita itu seketika mematung saat melihat tumpukan baju dan koper yang terbuka. "Kamu... kamu mau ke mana?"

Tiara tidak menoleh, tangannya tetap sibuk melipat baju dengan gerakan menyentak. "Aku mau keluar dari rumah ini, Ma! Aku mau pergi!"

"Pergi? Mau pergi ke mana kamu?! Rumah kita sedang susah, Tiara, jangan menambah pikiran Mama!" suara Mama Revan mulai meninggi, panik melihat anak bungsunya bersiap angkat kaki.

Tiara menghentikan gerakannya, lalu berbalik menatap Mamanya dengan mata merah penuh kemarahan. "Menambah pikiran Mama?! Ma, sadar tidak sih? Rumah ini sudah seperti neraka! Sempit, panas, pengap dan setiap hari isinya cuma makian dari Papa karena hutang bank Mama yang menumpuk! Ditambah lagi harus melihat muka perempuan pembawa sial itu di sini setiap hari!"

"Tiara, jaga bicaramu! Meisya adalah teman kecil kakakmu!"

"Aku tidak peduli!" teriak Tiara meluapkan seluruh kesal yang terpendam. "Gara-gara membela anak orang lain di dalam perutnya itu, kita semua kehilangan Mbak Adila! Tadi aku melihat Instagram Mbak Adila, Ma. Dia sedang liburan mewah di Paris bersama keluarga aslinya, Keluarga Wijaya! Dia anak konglomerat, Ma! Kalau saja Mas Revan tidak selingkuh, kita sekarang sudah tinggal di istana, bukan mendekam di rumah tua yang sempit ini!"

Tiara menyabet tas selempangnya, menutup resleting koper dengan paksa, lalu menyeretnya keluar kamar tanpa memedulikan tangisan ibunya. "Aku mau tinggal di kos temanku di dekat tempat kerja. Aku tidak mau ikut melarat di sini. Urus saja benalu kesayangan Mas Revan itu sampai rumah ini disita bank!"

Brak! Suara pintu depan yang dibanting keras oleh Tiara menandakan perpisahan yang menyakitkan, meninggalkan Mama Revan yang terduduk di lantai ruang tamu sambil menangis histeris.

Di saat yang bersamaan, atmosfer yang tidak kalah menyesakkan sedang terjadi di dalam mobil Avanza sewaan yang dikendarai oleh Revan. Pria itu mencengkeram kemudi dengan wajah sekaku papan, matanya menatap lurus ke jalanan aspal yang padat menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak.

Hari ini, Revan terpaksa mengambil jatah cuti tahunannya dari kantor yang saat ini dia naungi. Beruntung, posisinya sebagai manajer pemasaran masih aman dan dia masih bisa mempertahankan pekerjaannya. Namun, mengambil cuti mendadak di tengah proyek kuartal yang padat sebenarnya sangat berisiko bagi kariernya. Sesuatu yang dulu tidak pernah perlu dia lakukan. Dulu, jika Adila butuh ke rumah sakit atau ada urusan, Adila selalu bisa mengurus dirinya sendiri tanpa pernah merepotkan waktu kerja Revan.

Di kursi penumpang sampingnya, Meisya duduk sembari bersandar lemas, satu tangannya terus mengusap perutnya yang mulai membuncit. Wajahnya nampak sengaja dibuat sepucat mungkin, sesekali mengeluarkan rintihan kecil untuk memancing perhatian Revan. Sementara di kursi belakang, Mama Revan duduk dengan mata sembab setelah ikut mengantar akibat stres memikirkan Tiara yang kabur dari rumah.

Begitu tiba di rumah sakit swasta tersebut, Revan melangkah menuju bagian administrasi untuk melakukan pendaftaran. Sambil menunggu antrean, ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar kartu debit.

"Atas nama Ibu Meisya, total biaya pendaftaran, konsultasi dokter spesialis, dan USG 4D hari ini menjadi dua juta empat ratus ribu rupiah ya, Bapak," ucap petugas administrasi dengan senyuman ramah.

Mendengar nominal tersebut, tangan Revan yang sedang memegang kartu debit seketika membeku di udara. Jantungnya berdesir tajam. "Dua juta empat ratus ribu? Hanya untuk sekali periksa rutin yang tidak sampai satu jam?"

Jujur, dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Revan saat ini mulai merasa sangat berat mengeluarkan uang untuk pembayaran kali ini. Rasa sesak mendadak menghimpit dadanya saat ia harus menggesek kartunya dan melihat saldo tabungannya berkurang dalam jumlah yang signifikan. Otaknya yang dulu tidak pernah berpikir soal uang, kini mendadak menjadi sangat kalkulatif dan penuh perhitungan.

Sembari menunggu struk pembayaran dicetak, sebuah rasa aneh yang sangat mengganjal mulai merayap di hati Revan. Ini adalah rasa asing yang tidak pernah dia rasakan selama sepuluh tahun menikah dengan Adila. Pasca-bercerai, Revan baru menyadari betapa kasat matanya "kemudahan" hidup yang dia nikmati dulu dan bagaimana semua itu sekarang berbalik menjadi beban yang mencekik.

Pikiran Revan langsung melayang mundur ke masa lalu. Dulu, saat masih bersama Adila, Revan dengan sangat mudah membagi jatah uang nafkah miliknya ke Meisya. Mengapa rasanya begitu mudah dan ringan dulu? Jawabannya menghantam otak Revan seperti gada besi: karena dulu, Adila tidak pernah mengusik uang gajinya.

Adila adalah seorang wanita mandiri. Sebagai dokter muda dan asisten riset, Adila punya penghasilannya sendiri yang bahkan sering dipakai untuk menutup kebutuhan rumah tangga mereka. Karena Adila tidak pernah menuntut uang jatah bulanan yang besar, Revan memiliki surplus uang yang melimpah di rekening pribadinya. Kelebihan uang itulah yang dengan ringannya dia potong untuk ditransfer ke rekening Meisya secara sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun. Revan merasa menjadi pria paling dermawan dan hebat saat memanjakan Meisya dengan uang jatah yang sebenarnya tercipta karena kelonggaran yang diberikan oleh Adila.

Namun sekarang, setelah ketok palu perceraian, sistem itu hancur total.

Uang gajinya kini harus dibagi secara nyata dan mandiri. Dia harus membiayai cicilan hutang ibunya, kebutuhan rumah tangga yang kini melonjak dan seluruh biaya hidup Meisya beserta calon bayinya dari nol tanpa ada lagi suntikan dana atau kemandirian dari seorang Adila. Kini, saat uang itu murni keluar dari jerih payahnya sendiri untuk Meisya, rasanya seperti menguras darah dari tubuh Revan. Meisya tidak bekerja, tidak memiliki penghasilan, dan hanya tahu cara meminta, merintih, dan menuntut fasilitas terbaik tanpa pernah tahu seberapa keras Revan harus memutar otak.

"Revan... kok lama sekali di meja kasir?" panggil Meisya yang berjalan pelan mendekati Revan, wajahnya nampak cemberut. "Perutku sudah agak kram ini. Aku mau cepat-cepat diperiksa Dokter spesialis yang paling bagus ya. Aku tidak mau pakai dokter umum."

Revan menoleh, menatap wajah Meisya dengan pandangan yang tidak lagi selembut dulu. Ada kilatan rasa muak, lelah, dan jengkel yang tertahan di balik sepasang mata Revan.

"Iya, ini sudah selesai dibayar," jawab Revan pendek, suaranya terdengar dingin dan datar saat ia memasukkan kembali kartunya ke dalam dompet dengan gerakan kasar.

"Nanti setelah dari sini, kita mampir ke restoran Jepang yang di mal depan ya, Revan? Aku sedang mengidam makan sashimi salmon segar. Dari kemarin di rumah Tante makanannya cuma tahu dan tempe saja, aku jadi mual," keluh Meisya lagi tanpa tahu diri, menggandeng lengan Revan dengan manja.

Revan menarik lengannya secara halus dari genggaman Meisya, berjalan mendahului wanita itu menuju ruang tunggu dokter dengan langkah cepat. "Nanti kita lihat dulu, uangku tidak sebanyak dulu, Meisya. Kebutuhan rumah Mama sekarang sangat banyak sejak Tiara pergi."

Meisya langsung menghentikan langkahnya, bibirnya mengerucut tajam dengan mata yang mulai berkaca-kaca siap memulai drama air matanya. " Revan kok sekarang jadi perhitungan sekali sama aku dan anak kita?! Dulu waktu masih ada Adila, Mas tidak pernah se-pelit ini kalau transfer uang ke aku!"

Mendengar nama Adila disebut dari mulut Meisya di tempat umum seperti ini, langkah Revan langsung terhenti. Ia berbalik, menatap Meisya dengan sorot mata yang begitu tajam dan dingin, hingga membuat wanita itu langsung bungkam ketakutan.

"Jangan pernah sebut nama Adila lagi dari mulutmu, Meisya," desis Revan dengan suara rendah yang penuh tekanan. "Adila tidak pernah meminta makanan ini dan itu dari gajiku selama sepuluh tahun. Sedang kamu? Kamu bahkan notabennya adalah teman kecilku tapi sudah menghabiskan setengah dari tabunganku. Jadi berkacalah sebelum kamu bicara!"

Revan berjalan pergi meninggalkan Meisya yang berdiri mematung dengan wajah pucat di koridor rumah sakit. Di belakang, Mama Revan hanya bisa mengembuskan napas panjang, meratapi nasib keluarga mereka yang kini mulai retak dari dalam. Penyesalan itu datang bertubi-tubi, mencekik leher Revan di hari cutinya yang melelahkan ini.

1
stela aza
payah bgt udh gitu aja masih di tampung si Memes ,,,, pekok bin bahlul s Revan 🤦
falea sezi
lanjutt
falea sezi
cerai lah oon di usir secara halus gk paham🤣 bego katanya. dokter masak ngemis2 ke laki🤣
falea sezi
mengejar. karir makanya g hamil🤣
falea sezi
10 tahun g hamil. mandul kahh
Suanti
mampus lah kau revan sekalian aja mantan mertua bangun dri pingsan langsung stroke 🤭
Dew666
🩵🩵🩵🩵
cinta semu
syukurin ,salah sendiri jadi suami plin-plan ...sudah dewasa masih aja mau di atur ibu yg mulut ny pedas level 1000... gunakan kedewasaan u untuk berpikir bijak Revan ...dah pulang Sono ...ngadu lagi sm ibu u ...
Sri Widiyarti
lanjut kak semangat up-nya...
Lee Mba Young
lanjut
Dew666
👑👑👑👑
cinta semu
😁😁kaki manusia ...kok q baca ny bisa senyum sendiri ...mungkin efek tegang Krn keluarga Revan nyerang Dil kali😂😂
stela aza
❤️❤️❤️❤️
stela aza
rasakan itu sampah di pungut ,,, istri luar biasa multitalent di buang ,,, pekok ora ketulungan 🤦
Sri Widiyarti
satu kata buat Kel Revan bodoh bela2in perempuan kayak Meisya...🤦🤦🤦
stela aza
lanjut thor up Double y Thor ❤️❤️❤️
stela aza
good job Dila ❤️❤️❤️
stela aza
q suka karakter s Adila ,,, yg tegas pintar dan cerdik ,,, bagaimana menghadapi para benalu dan suami bahlul bin plin-plan ,,, good job Dila
stela aza
stupid bin tongkol sampah loe pungut ,,, punya istri cerdas hebat multitalent loe ganti dg sampah bau busuk bener2 suami bahlul 🤦
Heni Setiyaningsih
untung punya perjanjian pranikah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!