NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 32 - PANGGILAN TITAN : LIORA

A/N : ini adalah POV Liora disaat yang hampir bersamaan dengan situasi Arven di tambang. Jika kalian ingin langsung menuju ke scene kebangkitan Astraeus, silahkan skip dan lanjut ke BRAKENFORD ARC 33 - KEHENDAK TITAN

—T28J

...⚙⚙⚙...

...Sesuatu yang harus ia lindungi menunggunya di sana…...

...…dan seseorang yang ia khawatirkan justru berlari menuju arah yang sama....

...⚙⚙⚙...

Beberapa saat sebelum ledakan biru di tambang...

Liora menerjang jalan tanah sempit yang becek. Sepatu botnya menghantam lumpur, mengirimkan cipratan cokelat ke batang-batang pinus di sekelilingnya. Di kejauhan, Brakenford membara. Cahaya api dari rumah-rumah yang hancur berkedip liar, menampar bayangan pohon hingga bergoyang patah-patah di atas tanah.

Di tangannya, tidak ada lagi Valkyra. Senjata mekanis itu hancur lebur saat melawan Man-Slayer tadi. Mekanismenya rusak parah, bilahnya retak tak berbentuk. Kini ia menggenggam tombak mekanis tua, senjata cadangan para penjaga desa yang ditemukannya di jalan.

Di lengan kirinya terpasang tameng buatan Eldric Valen. Cakram logam dengan inti kristal di tengahnya. Saat aktif, selaput cahaya biru transparan menutupi permukaannya, siap menahan serangan.

^^^*gambar buatan AI^^^

Langkah Liora terhenti mendadak. Debu tipis terangkat di depan ujung sepatunya. Di hadapannya berdiri bengkel Arven, atau apa yang tersisa darinya.

Liora mematung. Matanya menyapu puing-puing. Balok kayu patah berserakan, paku-paku mencuat dari serpihan kayu yang retak. Sebagian dinding roboh ke arah luar, meninggalkan rangka bangunan yang terbuka menganga. Pintu bengkel tergeletak miring dengan satu sisi yang hangus menghitam. Tanah di halaman tercabik, membentuk jalur kasar dari pagar hingga ke dalam bengkel. Batu-batu kecil terpental dan menumpuk di sisi-sisi goresan parit itu.

Liora berlari langsung ke pintu bengkel. Kakinya menendang serpihan kayu hingga terpental ke samping. Ia menerobos masuk. Debu berhamburan saat bahunya menyenggol rangka pintu yang retak. Di dalam, meja kerja terbalik dan peralatan berserakan. Roda gigi kecil berguling pelan saat tersenggol langkahnya.

Sepatunya menginjak serpihan kayu. Ia diam sebentar, menajamkan telinga menembus hening yang mencekam.

“Arven...?”

Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Matanya menangkap sesuatu di tanah. Seekor Nightclaw Stalker tergeletak kaku dengan tubuh terbelah dua.

Langkah Liora berlanjut ke sisi lain bengkel. Seekor Stonefang Ravager jatuh menyamping. Rahangnya terbuka setengah dengan gigi batu yang retak dan berserakan di tanah. Bagian kepalanya amblas ke dalam, membentuk cekungan dalam yang merusak struktur tengkoraknya. Tanah di bawah tubuh raksasa itu retak, membentuk pola pecahan yang menjalar keluar dari titik benturan.

Liora berhenti tepat di depan Bonebreaker Brute dekat pagar. Tubuh raksasa itu tergeletak tanpa gerak dengan lengan besar yang menancap dalam ke tanah, menciptakan lubang di sekitarnya. Tulang pelindung di punggungnya retak terbuka, dan rahang bawahnya hancur tergeser keluar dari posisi normal.

“Tidak mungkin...” bisiknya pelan.

Ia melangkah lebih dalam dan sepatunya menginjak sesuatu yang basah. Liora berhenti dan menunduk. Darah. Cairan itu meresap ke tanah kayu yang retak, warnanya masih gelap dan belum mengering sepenuhnya. Liora berlutut, tangannya menyentuh permukaan itu. Dingin. Lengket. Napasnya tersangkut di tenggorokan.

“Arven...”

Tangannya mengepal erat. Ia berdiri cepat. “Idiot...”

Liora berbalik dan keluar dengan langkah cepat. Matanya langsung turun ke tanah, menelusuri jejak kaki di dalam lumpur yang bercampur dengan jejak monster. Ia berjongkok, jarinya mengikuti garis jejak itu. Ada dua pola berbeda, satu pendek dan tidak stabil, sementara yang lain panjang dan menekan tanah lebih keras. Jejak itu terpisah.

Liora mengangkat kepala, menatap dua arah, desa dan tambang. Cahaya obor bergerak di kejauhan desa diikuti suara langkah dan teriakan samar.

“Semoga mereka sudah menemukanmu, bibi...”

Ia menarik napas, lalu menoleh ke arah bukit. Matanya kembali ke tanah. Tetesan darah kecil terlihat. Satu. Dua. Berlanjut mendaki.

“Arven, kau benar-benar bodoh...”

Genggamannya pada tombak mengencang hingga otot lengannya menegang. Ia melangkah, lalu berlari cepat. Tanah lembap terinjak keras, lumpur terlempar ke belakang. Cabang-cabang pinus menyapu bahunya, beberapa patah saat ia menerobos jalur sempit. Jejak itu tetap di depan, semakin dalam dan semakin tidak stabil.

“Jangan mati sebelum aku sampai... Arven.”

Angin malam yang dingin dan tajam menghantam wajahnya, namun ia tidak berhenti. Ia terus berlari menuju tambang di kaki bukit, meninggalkan bengkel yang hancur dalam kegelapan.

Sepatu botnya menghantam tanah keras, memuntahkan kerikil ke belakang. Napasnya memburu, dadanya terasa terbakar, tapi ia tak berhenti. Tidak boleh berhenti.

Jalan di depannya gelap dan penuh puing. Rel besi tua melintang di tanah, banyak yang patah atau terangkat keluar akibat benturan dahsyat. Namun di ujung sana, sesuatu bersinar.

Cahaya biru. Berkelip. Padam. Menyala lagi. Seperti detak jantung raksasa yang berdenyut di dalam perut bumi.

“Arven!”

BOOOM...

Dentuman keras mengguncang tanah. Batu-batu besar lepas dari dinding tebing dan berguling menimpa jalan. Liora melompat melewatinya tanpa mengurangi kecepatan. Tameng mekanis di lengannya berputar sedikit mengikuti gerakannya.

Suara terdengar semakin jelas. Benturan logam, auman monster, dan langkah berat yang menghancurkan tanah setiap kali menyentuh permukaan.

Man-Slayer.

Jantung Liora berpacu lebih cepat. Ia memacu kakinya semakin kencang. Semakin dalam ia masuk, pemandangan di sekeliling semakin kacau. Kereta tambang terbalik, rel melengkung bengkok, mesin bor hancur lebur seperti mainan.

Namun cahaya biru itu terus memanggil. Liora membelok tajam di tikungan. Tiba-tiba, bayangan melompat keluar dari gelap.

Nightclaw Stalker.

Monster itu mendarat tepat di jalurnya, cakar panjangnya menyambar leher. Liora tidak mengerem. Saat cakar itu datang, Liora sudah mengangkat tamengnya. Tubuh Liora berputar cepat, tombaknya meluncur tajam.

SLASH...

Ujung besi menembus dada monster itu. Liora terus berlari maju, membiarkan tubuh musuh jatuh tertinggal di belakang.

Tapi itu baru awal. Dari bayangan-bayangan lain, lebih banyak monster muncul. Night Claw, Stonefang kecil, makhluk-makhluk yang seharusnya tidak berkeliaran di sini kini bergerak massal. Semua menuju sumber cahaya biru.

Night Claw lain melompat dari samping. Liora menghantamnya dengan tameng. Tubuh monster itu terpental menabrak dinding batu. Tombak menusuk tepat ke tenggorokan, darah hitam memercik, tapi matanya tak lepas dari tujuan.

RAAAAAAAWRRR...

Auman itu membuat udara bergetar. Man-Slayer.

Cahaya biru kini menyilaukan. Tanah di bawah kakinya retak-retak, batu-batu berjatuhan dari langit-langit gua. Energi aneh terasa menggelitik kulit, seolah seluruh gunung sedang bernapas.

Dan di sana, di tengah debu dan cahaya, ia melihatnya. Sebuah sosok manusia berlari. Rambut hitam berantakan, gerakannya berat dan tertatih, tapi terus memaksakan diri.

“Arven!”

Teriakannya hampir tenggelam oleh suara gemuruh. Di belakang pemuda itu, bayangan raksasa muncul. Lebih tinggi dari rumah, lebih besar dari kereta api. Man-Slayer mengejar dengan langkah yang menghancurkan bumi. Cakarnya nyaris mengenai punggung Arven berkali-kali.

Darah Liora terasa membeku. Ia memaksakan sisa tenaganya, tapi jarak masih terlalu jauh.

Tepat saat ia hampir mencapai area terbuka—

BOOOOOOOM...

Cahaya biru meledak. Seluruh gua diselimuti terang menyilaukan. Liora terpaksa menutup mata. Gelombang angin menerpa tubuhnya seperti badai, debu dan kerikil beterbangan ke segala arah. Beberapa monster di sekitarnya lari ketakutan sambil menjerit.

Saat ia membuka mata kembali, pemandangan di depannya membuatnya membeku.

Man-Slayer terlempar ke udara. Tubuh raksasa itu terpental seperti boneka karet yang dipukul palu.

CRASH...

Ia menghantam dinding batu dengan kekuatan yang menghancurkan, membuat bebatuan runtuh menimpanya.

Penyebabnya adalah sebuah batu besar seukuran rumah, yang kini tergeletak di lantai, terlempar dengan kekuatan luar biasa.

Debu perlahan menurun, dan Liora melihat di tengah area itu, sesuatu berdiri. Sosok itu tinggi, terbuat dari logam kuno yang tertutup debu. Bentuknya menyerupai mesin tambang raksasa, tapi kini ia bergerak.

Kepalanya terangkat. Logam tua berderit nyaring. Garis-garis biru menyala di celah-celah tubuhnya, mengalir seperti energi yang baru bangun dari tidur panjang. Sepasang mata biru bersinar terang.

“...Astraeus?” bisik Liora tercekat.

Namun hal yang lebih mengejutkan, tidak ada siapa-siapa yang mengendalikannya. Mesin itu berdiri sendiri.

Dan tepat di depannya, Arven berdiri. Tubuhnya penuh luka dan debu, napasnya tersengal, tapi ia tak bergerak. Ia hanya menatap sosok raksasa itu, seolah menyaksikan legenda yang bangkit kembali.

Di tengah cahaya yang berdenyut, Titan itu menundukkan kepalanya sedikit, menatap ke arah Arven seolah ia mengenali sosok kecil di hadapannya.

Dalam kebisuan itu, sebuah kenyataan yang mustahil menjadi nyata.

Astraeus telah bangkit.

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
T28J: sudah rilis bab pemberitahuannya a'. How to Play Card-nya
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
ini mah benar terinspirasi dari lord of the ring, yang satu panah yang satu gada
alicea0v
"Aliceee!!!" teriak Xena histeris. "Ada penduduk sebelah mau matiii!!" wanita penyihir itu berlari memutar panik, disetiap langkahnya membuat debu mengepul ke udara.

Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.

"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.

"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)
alicea0v: 🤣🤣🤣🤣 aku ngakak sumpah..
total 2 replies
alicea0v
sabar-sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!