Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 menikah?
"Hmph, dasar sekumpulan orang kurang kerjaan yang cuma bisa bergosip," gerutu Yan Ning sambil mengepalkan tinjunya ke arah punggung ibu-ibu yang sudah menjauh, wajahnya tampak merah padam karena kesal.
Saat berbalik, dia melihat Nara malah sedang menopang dagu dengan tangan kirinya yang sehat, menatap kosong ke arah aliran air sungai yang mengalir tenang.
Yan Ning pun mendekat lalu berkata dengan hati-hati, "Kak, jangan dimasukkan ke dalam hati ya. Kakak kan tahu sendiri mulut mereka memang sekotor itu."
Nara mengalihkan pandangannya, menatap adik kecilnya itu sambil tersenyum tipis.
"Gadis bodoh, kamu pikir kakakmu ini selemah itu sampai gampang kepikiran omongan mereka? Kakak sudah melewati banyak hal, bahkan sudah pernah merasakan mati sekali, mana mungkin hal sepele begini bisa membuatku goyah? Kamunya aja yang hobi membuang-buang napas buat berdebat sama mereka," ujar Nara santai.
Yan Ning mengembuskan napas panjang, lalu mulai menggulung kedua lengan bajunya ke atas.
"Lalu, dari tadi Kakak sedang melamunkan apa sampai pasang wajah serius begitu?" tanya Yan Ning.
Dia mulai mengambil tumpukan baju basah dari dalam baskom kayu, lalu memukul-mukul pakaian itu menggunakan bilah kayu dengan gerakan yang sudah sangat cekatan.
"Kakak lagi memikirkan cara, bagaimana agar Ibu akhirnya setuju untuk keluar dan lepas dari Keluarga Yan," jawab Nara lirih.
Gerakan tangan Yan Ning seketika terhenti mendengar jawaban itu. Dia mendongak menatap lurus ke arah Nara, mengetatkan bibirnya sejenak, lalu bertanya, "Kak, apa Kakak benar-benar serius mau pergi dari sini?"
Nara tersenyum sinis. "Memangnya kamu merasa di rumah ini kita bertiga pernah dianggap sebagai manusia?"
Yan Ning terdiam, tidak mampu membantah kenyataan pahit itu.
"Ke mana pun Kakak dan Ibu pergi, aku pasti bakal ikut kok," ujar Yan Ning kembali tersenyum setelah sempat terikat keheningan sejenak.
Nara mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut kepala adiknya.
Dia memperhatikan telapak tangan Yan Ning yang tampak sangat kasar dan kapalan karena terlalu sering dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga dan ladang.
"Tenang saja, Kakak janji bakal membuat hidupmu jauh lebih baik nanti. Di masa depan, kamu tidak perlu lagi menyentuh pekerjaan kasar seperti ini, bakal ada pelayan yang mengurus semua kebutuhanmu," ucap Nara, setengah berjanji sekaligus menahan rasa iba di dadanya.
Yan Ning mengira kakaknya cuma sedang menghibur hatinya, jadi dia hanya menyahut dengan anggukan manis dan senyuman riang.
Meskipun kedua kakak beradik itu pergi ke sungai untuk mencuci baju, Nara tidak bisa berbuat banyak karena luka di tangan kirinya belum sembuh.
Begitu semua pakaian selesai dibersihkan, mereka berdua segera mengangkat baskom kayu tersebut bersama-sama dan melangkah berjalan pulang ke rumah.
"Kak, lihat deh, itu kan Ibu," cetus Yan Ning tiba-tiba sambil mengacungkan jarinya ke arah depan.
Nara menoleh dan melihat Nyonya Mu sedang menahan lengan seorang wanita berumur sekitar dua puluh lima tahun yang mengenakan gaun kain kasar. Ibunya tampak sedang membicarakan sesuatu dengan raut wajah yang sangat panik.
Mengandalkan sisa ingatan dari pemilik tubuh lama, Nara langsung mengenali sosok wanita itu. Dia adalah Kakak Ipar Jiang, istri dari sepupu tertua cabang ketiga Keluarga Yan.
Selama ini, Kakak Ipar Jiang memang terkenal paling ramah dan sering membantu Nyonya Mu, tetapi saat ini wajahnya justru kelihatan sangat serba salah.
Nara dan Yan Ning saling bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya mempercepat langkah kaki mereka. Potongan percakapan antara Nyonya Mu dan Kakak Ipar Jiang pun mulai terdengar jelas di telinga mereka.
"Aku sama sekali tidak menuntut mahar atau uang hantaran, Kak. Asalkan pria itu bisa memperlakukan Nara dengan baik, memberi makan yang cukup, baju yang layak, dan tempat tinggal, itu sudah lebih dari cukup buatku," ujar Nyonya Mu dengan nada suara yang terdengar sangat mendesak.
"Kakak Ipar, tolong kasihanilah anakku Nara. Tolong bicarakan hal-hal yang baik tentangnya di depan keluarga pria itu, Nara pasti bakal jadi istri yang penurut dan berbakti," mohon Nyonya Mu pasrah.
Kakak Ipar Jiang menghela napas berat, wajahnya tampak penuh rasa iba.
"Bibi, aku ini sudah menganggap Nara seperti adik kandungku sendiri. Tapi masalahnya, ibu dari pemuda itu terkenal sebagai wanita yang sangat galak dan keras kepala."
"Begitu mendengar gosip tentang kondisi fisik Nara, dia langsung mengeluarkan kata-kata yang sangat kasar. Kalau Nara tetap nekat dinikahkan ke sana, sebaik apa pun tabiat si pemuda, Nara pasti bakal habis disiksa oleh ibu mertuanya."
"Bibi pasti tidak mau kan kalau Nara malah keluar dari sarang penyamun di sini cuma buat masuk ke dalam lubang neraka yang baru?" jelas Kakak Ipar Jiang berusaha memberikan pengertian.
Mendengar penuturan itu, bibir Nyonya Mu seketika bergetar hebat dan air matanya langsung tumpah begitu saja.
Dia menyeka pipinya menggunakan punggung tangan sambil terisak pilu. "Nara-ku sayang... kenapa nasibmu bisa semalang ini? Kenapa kamu harus lahir dari rahim ibu yang tidak berguna sepertiku?"
"Bibi, jangan menangis..."
"Ibu," potong Nara sambil melangkah maju dengan kening berkerut dalam.
Nyonya Mu yang terkejut buru-buru mengusap air matanya dan memaksakan sebuah senyuman. "Oh, kalian berdua sudah selesai mencuci rupanya."
Nara memberikan anggukan sopan terlebih dahulu kepada Kakak Ipar Jiang, setelah itu dia langsung meraih tangan ibunya yang terasa dingin. "Ibu sedang merencanakan apa sebenarnya?"
"Sudah, kamu sama Yan Ning masuk ke kamar dulu saja ya. Ibu cuma sedang mengobrol santai kok sama kakak iparmu," ucap Nyonya Mu sambil menepuk pelan tangan Nara, berusaha menutupi kepanikannya.
Nara diam-diam menghentakkan kakinya ke tanah karena merasa gemas dengan sikap ibunya.
Dia mengetatkan rahangnya rapat-rapat, lalu berkata dengan nada tegas, "Ibu, tolong berhenti mengurusi masalah ini lagi. Aku tidak akan pernah mau menikah!"