Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Matahari siang di kota Jakarta sangat panas, nampak menyinari Kampus Pelita Bakti dengan berbagai aktivitas kesibukannya.
Mahasiswa dan Mahasiswi juga Dosen saling lalu lalang setelah kelas usai.
Tapi bagi Melina dunia sekitarnya sudah membeku, gadis ini duduk di salah satu bangku taman kampus dengan buku terbuka di pangkuannya.
Melina hari ini mengenakan celana kulot berwarna biru cerah, di padukan dengan atasan biru tua berbahan rayon dengan gambar mickey mouse yang sangat ikonik.
Bangku yang memanjang terbuat dari semen yang di haluskan, wajahnya nampak melamun memikirkan kejadian kemarin.
Tangannya memegang buku tebal---buku digital marketing, sementara tas ranselnya yang berwarna coklat tergantung di bahunya.
Gadis ini memikirkan sebuah kejadian.
Kejadian yang membuatnya hampir berhubungan intim dengan sang suami, hal ini membuatnya larut dalam lamunannya dengan buku di tangannya.
Hanya saja matanya memandang ke arah lain dengan lamunan.
Setelah menikah dirinya tak pernah sekalipun ceria, pikirannya masih kembali melayang kejadian kemarin di kamar.
Flashback On Di Kamar.
Suasana kamar setelah Ishan menjambak rambut Melina, pria itu dengan tega menggiring sang istri dengan menarik rambutnya.
Rambut Melina di tarik dan tubuhnya dengan kasar di banting ke kasur, dan Melina wajahnya sudah pucat.
"Ohh, kamu butuh kepuasan?" tanya Ihsan wajahnya mendekat ke wajah Melina.
"Mas--Mas mau ngapain?" tanya Melina dengan suara bergetar ketakutan.
Melina dengan kasar rambutnya di tarik dan Ihsan lempar tubuh itu ke atas ranjang, Melina ketakutan wajahnya pucat.
Seolah ingin di nodai, padahal Ihsan adalah suaminya.
Ishan sudah membuka kaos polo dan menyisakan tubuhnya yang atletis.
Melina memejamkan matanya dengan pasrah.
"Ya allah tolong hamba, engkau memberikan Ihsan sebagai imam untuk hamba. Tolong ya allah untuk melakukan ibadah ini bantulah hambamu yang lemah ini."
Melina memejamkan matanya, jemarinya meremas sprei dengan tubuh gemetar ketakutan.
Napas Ishan terasa saat menerpa kulit wajahnya, dengan kemarahan yang meledak-ledak------------Ishan menatap wajah istrinya yang terpejam ketakutan.
Sesaat amarahnya menjadi goyah, tak menyangka meski wajah istrinya sangat Indonesia.
Fitur wajah Melina sangat imut dan menggemaskan di bawah cahaya lampu remang.
"Cantik juga," gumamnya dengan lirih.
Sebuah pengakuan yang dirinya sendiri tak sudi di katakan, kenapa dirinya baru sadar jika istrinya secantik ini.
Ishan menunduk demi mencium bibir Melina, dengan secepat kilat pria itu menjauhkan dirinya dari sang istri.
Ishan segera turun dari ranjang, tangannya meraih kaosnya---Lalu mengenakannya kembali dengan gerakan kasar.
Pria itu jengkel seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Nggak sudi saya menyentuh wanita sepertimu," ucap Ishan dingin, tanpa rasa kasihan sedikit pun, sebelum akhirnya meninggalkan Melina yang masih terpaku lemas.
"Ingat yaa, saya akan kirim orang untuk mengawasi kamu!" tunjuk Ishan kepada Melina.
Melina terduduk menutupi tubuhnya dengan tangan, dan gadis ini hanya diam.
"Mas...soal perceraian kapan akan dilakukan?" tanya Melina.
Ishan yang mendengar itu menatap tajam ke arah Melina, lalu tangannya mencengkram dagu Melina.
"Kamu harus hamil dulu," ucapnya dengan nada merendah.
Hamil? bagaimana mungkin seorang anak akan di lahirkan jika kondisi orangtuanya seperti ini.
"Melina Khairunisa, gadis panti asuhan yang malang. Apa kamu berharap menjadi istriku?" tanyanya menatap Melina.
Melina hanya memejamkan mata menggelengkan kepalanya, dirinya tak berharap itu.
"Aku siap bercerai, Mas. Tapi...bantu aku mengembalikan beasiswaku," ujar Melina.
Ishan hanya tertawa menatap Melina, dan dirinya hanya terkekeh.
Ishan mencengkram dagu Melina dengan keras, hal membuat gadis ini meringis kesakitan.
"Dasar miskin, kamu mau nikahin aku karena harta kan?" tanya Ishan.
Melina hanya diam mendengar penuturan Ishan yang berulang, dirinya tak menginginkan harta Ishan.
Hal yang di inginkan Melina sederhana hanya ingin kuliah dan bekerja freelance sebagai pembantu rumah tangga.
Setelah lulus dan uangnya terkumpul, dirinya akan memulai bisnis.
"Jika aku mau harta sudah lama aku viralkan kelakuan kamu, Mas."
Ucapan Melina membuat cengkraman tangan Ishan sedikit mengendur, dan ekspresi wajah Ishan berubah.
Flashback Off Di Kampus.
Tiba-tiba lamunannya terhenti saat merasakan seseorang duduk di sampingnya, dan buru-buru dirinya menyeka matanya yang berkaca-kaca.
Alvaro sudah duduk di sampingnya.
Pemuda itu mengenakan kaos hitam dengan tulisan 'Slank' yang sudah menjadi ciri khasnya.
Di padukan dengan celana jeans biru.
Alvaro menepuk bahu Melina membuyarkan lamunannya.
"Mel," panggil Alvaro sambil menepuk bahunya.
Melina menoleh ke samping dan tersenyum.
"Kenapa sih, kok lu bengong?" tanya Alvaro lembut mencoba menarik perhatian Melina.
Melina mencoba tersenyum, meski di paksakan.
"Nggak kok Al, cuman mikir tugas aja," jawab Melina.
Alvaro tidak percaya begitu saja, karena sudah berkali-kali Melina terlihat menanggung beban dan kadang ada luka lebam di tubuhnya.
"Mel, jangan bohong."
Alvaro bicara, seolah melihat betapa lelahnya mata Melina.
"Lu keliatan lagi nanggung beban berat banget, 'kan gua udah bilang kalo ada apa-apa...gua siap buat dengerin."
Melina hanya bisa menunduk, karena tak tahu harus menjawab apa pertanyaan sahabatnya.
"Al sorry gua sibuk, gua lupa belom ngerjain tugas bahasa Inggris," ucap Melina berusaha menghindari Alvaro.
Melina teringat jika suaminya pasti menyuruh orang mengawasinya disini.
Gadis ini segara membawa barang-barangnya dan membawa tas ranselnya di punggung.
Langkahnya mau pergi meninggalkan Alvaro, tapi di tahan oleh pemuda ini.
"Gua nggak akan biarin lu pergi, sebelum lu cerita sama gua!" titahnya.
Alvaro mendekat dan memegang kedua bahu Melina lalu menatapnya dengan seksama.
"Lu pasti di siksa ama suami lu?'" tanya Alvaro menatap Melina.
"Mel, jawab gua! Gua bisa rasain apa yang lo rasain," lanjut Alvaro dengan nada tegas.
Terlihat Melina seperti menahan beban, sebuah beban yang di sembunyikan.
"Gua nggak tahu harus gimana Al," jawab Melina dengan nada lemah dan mata sayu.
Alvaro langsung memeluk Melina, hal ini mampu menguatkan hati Melina.
"Gua akan selalu ada buat lu, Mel." Alvaro bicara dengan nada lirih.
Melina saat ini sudah menumpu beban berat, dan tak tahu harus bersandar ke siapa.
Pelukan Alvaro membuatnya nyaman, seolah semua beban masalah hilang----namun pelukan ini yang akan menjadi awal petaka di rumah.
Ishan dalam tiga hari sedang ke Bali untuk syuting show, dan akan pulang hari keempat.
Orang suruhan Ishan ada di kampus untuk memantau Melina.
*
*
*
*
*