Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pengakuan Rian
Pagi itu, suasana kelas XI MIPA 1 terasa seperti medan perang yang dingin. Cinta datang lebih pagi dari biasanya, sengaja agar ia tidak perlu berpapasan dengan siapa pun di gerbang. Ia duduk di bangkunya, menatap lurus ke papan tulis hitam yang masih bersih. Ia sedang menjalankan misi yang disarankan mamahnya yaitu menjadi dinding yang tidak bisa ditembus. Dingin, kaku, dan hanya peduli pada tugas.
Ketika deru motor besar yang sangat familiar terdengar berhenti di parkiran bawah, jantung Cinta berdenyut nyeri. Ia mengeratkan pegangannya pada buku agenda sekretaris kelas. Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat memasuki kelas.
Rian.
Cowok itu tidak langsung duduk. Ia berdiri di samping meja Cinta, menatap gadis itu yang bahkan tidak mendongak sedikit pun. Rian terlihat berantakan; kantung matanya menghitam dan rambutnya tidak serapi biasanya.
"Cinta," panggil Rian pelan.
Cinta tetap diam. Ia pura-pura sibuk mencatat daftar absensi yang sebenarnya sudah lengkap.
"Cinta, soal semalam di cafe... aku butuh bicara. Tolong, dengarkan aku sebentar saja," suara Rian terdengar memohon, sebuah nada yang sangat langka keluar dari bibir seorang Rian yang angkuh.
Cinta akhirnya menoleh, namun matanya tetap sedingin es. "Daftar absen sudah selesai, Rian. Kalau tidak ada urusan kelas, tolong kembali ke kursimu."
Rian tidak bergeming. Ia justru menarik kursi di depannya dan duduk menghadap Cinta, mengabaikan tatapan heran dari beberapa murid yang baru datang. "Aku tidak sedang ingin bahas absen. Aku mau bicara soal Clarissa."
Mendengar nama itu, Cinta merasakan denyut emosi yang hampir meledak. "Untuk apa? Aku tidak tertarik mendengar agenda jalan-jalan kalian atau sejarah kalian."
"Dia punya rahasia dariku selama di Jakarta, Cinta!" Rian memotong dengan nada mendesak, suaranya diturunkan agar tidak terdengar seluruh kelas.
"Clarissa tahu sesuatu yang... yang membuatku tidak punya pilihan selain menuruti maunya untuk sementara. Termasuk saat dia memintaku mengantarnya ke cafe semalam. Aku terjebak, Cinta. Dia mengancam akan menyebarkan hal itu jika aku tidak bersikap baik padanya."
Cinta meletakkan pulpennya dengan bunyi yang cukup keras. Ia menatap Rian dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan rasa jengah.
"Rahasia? Ancaman?" Cinta tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar getir. "Rian, itu terdengar seperti plot drama yang sering aku tulis di novelku. Dan jujur, itu alasan yang sangat payah."
"Ini serius, Cinta! Aku diancam sama Clarissa."
"Lagipula," Cinta melanjutkan, suaranya kini bergetar meski ia berusaha keras menahannya.
"Untuk apa kamu memberitahuku hal ini? Kenapa kamu harus klarifikasi padaku? Aku bukan siapa-siapamu, Rian. Aku bukan pacarmu, bukan tunanganmu, dan bukan pemilik hidupmu. Kamu mau jalan dengan Clarissa, mengantar dia ke ujung dunia sekalipun, itu hak kamu. Tidak ada gunanya kamu menjelaskan semua ini padaku."
Kalimat Cinta seperti tamparan bagi Rian. Cowok itu terdiam, menatap meja dengan rahang yang mengeras. Keheningan di antara mereka terasa begitu mencekik selama beberapa detik.
"Kamu benar," ucap Rian akhirnya, suaranya mendadak serak. "Kamu memang bukan siapa-siapaku saat ini."
Rian mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Cinta. Kilat di matanya kini bukan lagi kecemasan, melainkan sebuah keberanian yang nekat.
"Tapi aku memberitahumu karena aku menyukaimu, Cinta."
Dunia seolah berhenti berputar. Cinta merasa telinganya berdenging. Ia menatap Rian dengan mulut yang sedikit terbuka, tidak mampu memproses kalimat yang baru saja ia dengar.
"Aku memberitahumu yang sebenarnya karena aku takut kamu salah paham. Aku takut kamu berpikir aku sedang mempermainkanmu dengan membawa Clarissa ke sini," lanjut Rian, suaranya kini lebih mantap.
"Aku suka kamu, Cinta. Sejak hari pertama kamu meminjamkan buku catatanmu, sejak kamu berani menatap mataku saat semua orang takut. Jadi, tolong... jangan bilang kalau klarifikasi ini tidak berguna. Ini sangat berguna bagiku, karena aku tidak mau kehilangan awal yang baru yang sedang aku bangun bersamamu."
Cinta mematung. Dadanya terasa sesak, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena sebuah ledakan emosi yang tidak bisa ia definisikan. Pengakuan itu begitu tiba-tiba.
Selama beberapa detik, mereka hanya saling menatap dalam bisu. Cinta bisa melihat ketulusan di mata Rian, namun di sisi lain, bayangan Clarissa yang manja dan menyebalkan masih menari-nari di ingatannya. Kesal dan senang bercampur menjadi satu, menciptakan badai yang luar biasa di dalam kepalanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Cinta segera berdiri. Ia segera berlari keluar kelas, mengabaikan seruan Rian yang memanggil namanya.
Cinta terus berlari melewati koridor yang mulai ramai, mencari tempat yang paling sepi. Ia berakhir di area belakang sekolah, di bawah pohon beringin besar yang menghadap ke arah pagar belakang. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok, napasnya tersengal-sengal.
Ia mengangkat tangannya, menggigit jarinya sendiri seolah sedang menahan sesuatu yang akan meledak. Wajahnya terasa panas luar biasa. Jika ada cermin di depannya, Cinta yakin ia akan melihat pipinya yang sudah merah merona, bahkan mungkin sampai ke telinga.
"Apa-apaan dia..." gumam Cinta lirih.
Ia merasa sangat salah tingkah. Kata-kata Rian terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak. Bagian dari dirinya ingin melompat kegirangan, ingin berteriak bahwa perasaannya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, bagian lain dari dirinya masih merasa sangat kesal.
"Suka tapi jalan sama mantan! Diancam sama cewek aja takut! Dasar cowok aneh!" umpatnya sambil menendang kerikil kecil di depannya.
Cinta memegangi pipinya yang masih terasa seperti terbakar. Pengakuan Rian barusan adalah hal paling manis sekaligus paling menyebalkan yang pernah ia alami. Ia merasa martabatnya sebagai sekretaris kelas yang dingin telah hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik.
"Kenapa dia harus bilang sekarang. Padahal kalau mau mengungkapkan perasaan harusnya di tempat romantis." Cinta merutuk, namun sudut bibirnya justru sedikit terangkat.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak beraturan. Meskipun ia masih sangat kesal dengan keberadaan Clarissa dan rahasia-rahasia misterius Rian, setidaknya sekarang ia tahu satu hal pasti yaitu Rian sedang berjalan ke arahnya, bukan ke arah masa lalunya.
Tapi tetap saja, ia tidak akan memaafkan Rian semudah itu. Enak saja! Setelah membuatnya menangis semalaman, Rian pikir pengakuannya bisa menyelesaikan segalanya?
"Lihat saja nanti, Rian. Kamu harus berjuang lebih keras dari ini," bisik Cinta pada angin, sembari mencoba mendinginkan pipinya yang masih merah membara.
Tak lama Cinta melamun sambil memikirkan rahasia apa yang diketahui Clarissa sehingga Rian takut kepadanya. Apakah rahasia tentang kepindahan Rian kesini? Atau rahasia lain yang Cinta tidak tahu?