Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.
Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.
Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.
Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.
Semakin dekat, semakin sulit berhenti.
Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:
Menjaga masa depannya...
atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dosen Lain Curiga
BAB 34 — Dosen Lain Curiga
Sementara Adrian dan Alena baru saja melewati momen reuni yang penuh emosi dan berjanji untuk saling menjaga, mereka tidak sadar bahwa ancaman terbesar tidak hanya datang dari Sophia.
Ada mata lain yang mengawasi. Mata yang lebih tajam, lebih berkuasa, dan lebih berbahaya karena memiliki wewenang penuh di dalam institusi ini.
👴🏻 Sosok yang Mengintai
Prof. Richard Hayes. Dosen senior, kepala departemen, dan orang yang sangat dihormati sekaligus ditakuti di Kingston University. Pria paruh baya itu dikenal sangat tegas, sangat disiplin, dan memegang teguh kode etik kampus dengan tangan besi.
Selama beberapa minggu terakhir, Prof. Hayes tidak bisa lepas dari perasaan tidak nyaman.
Gosip tentang Dr. Adrian Vale dan seorang mahasiswi bukan lagi rahasia umum, tapi sebagai atasan, dia butuh bukti, bukan cuma omongan.
Awalnya dia menganggap itu cuma fitnah biasa. Adrian kan muda, tampan, dan pintar, wajar kalau jadi bahan omongan.
Tapi semakin dia mengamati, semakin banyak hal aneh yang dia temukan.
📊 Pola yang Janggal
Malam itu, di ruang kerjanya yang gelap, Prof. Hayes duduk di balik meja kerjanya yang besar. Di depannya terbuka berkas-berkas laporan absensi, jadwal bimbingan, dan catatan log akses gedung.
Kacamata bacaannya didorong sedikit ke atas, saat dia membandingkan dua data di hadapannya.
"Lihat ini..." gumamnya pelan, jarinya yang keriput menunjuk ke layar monitor.
Data menunjukkan bahwa Alena, mahasiswi tahun kedua itu, memiliki frekuensi pertemuan bimbingan pribadi dengan Adrian yang jauh lebih tinggi dibandingkan mahasiswa lainnya. Bahkan sering kali di jam-jam yang tidak wajar—sore hari sampai malam buta.
Bukan cuma itu.
Dari catatan sistem keamanan (meski tidak ada rekaman CCTV langsung), terlihat bahwa mobil Adrian dan mobil Alena sering tercatat masuk dan keluar dalam jarak waktu yang berdekatan, baik di kampus maupun di area kompleks apartemen mewah tempat tinggal Adrian.
"Terlalu sering... terlalu sering untuk sekadar urusan akademis," bisik Prof. Hayes dingin.
Dia juga ingat betapa anehnya sikap Adrian belakangan ini. Pria itu terlihat sangat tegang, sangat protektif, dan anehnya... justru menjaga jarak berlebihan dari Alena saat ini.
Bagi orang awam, itu tanda mereka putus atau tidak ada hubungan.
Tapi bagi mata terlatih Prof. Hayes... itu justru tanda paling jelas bahwa mereka sengaja menutupi jejak.
🕵️ Penyelidikan Rahasia
Prof. Hayes tidak diam saja. Dia mulai menyuruh staf kepercayaannya untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.
Foto-foto yang beredar di grup mahasiswa dia kumpulkan dan perbesar menggunakan teknologi pemrosesan gambar.
Wajahnya memang buram, tapi postur tubuh, cara berpakaian, dan ciri khas lainnya... 100% cocok dengan deskripsi Adrian dan Alena.
"Dan ini..." Prof. Hayes mengambil selembar kertas berisi daftar nilai. "Nilai Alena di mata kuliah Adrian melonjak drastis dalam dua semester terakhir. Dari rata-rata B menjadi A+ berturut-turut. Bukan tidak mungkin, tapi perubahannya terlalu cepat dan terlalu sempurna."
Keraguan berubah menjadi keyakinan.
Keyakinan berubah menjadi kemarahan profesional.
Baginya, ini bukan sekadar kisah cinta terlarang. Ini adalah pelanggaran etika berat. Ini adalah penyalahgunaan wewenang. Ini merusak citra universitas dan prinsip keadilan bagi mahasiswa lain.
"Adrian... aku menganggapmu anak emas yang berbakat. Tapi kenapa kau melakukan kesalahan fatal sebesar ini?" gumam Prof. Hayes kecewa.
Dia tidak membenci Adrian secara pribadi, tapi dia membenci pelanggaran aturan. Dan sebagai penjaga gerbang moral kampus, dia punya kewajiban untuk menindak tegas siapapun yang melanggar, sekalipun itu dosen sekaliber Adrian Vale.
⚠️ Bahaya yang Semakin Dekat
Keesokan harinya, suasana di kampus terasa biasa saja, tapi sebenarnya sangat mencekam.
Saat Adrian sedang berjalan menyusuri lorong menuju ruang kelas, dia berpapasan dengan Prof. Hayes.
"Selamat pagi, Prof," sapa Adrian sopan, mencoba tersenyum biasa saja. Tapi jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ada sesuatu pada tatapan Prof. Hayes yang membuat bulu kuduknya meremang.
Prof. Hayes berhenti tepat di hadapannya. Dia menatap Adrian dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan tajam, menilai, dan penuh selidik.
"Kabar baik, Adrian. Sibuk ya?" tanya Prof. Hayes pelan, nada suaranya datar namun mengandung banyak makna.
"Ya, Prof. Banyak tugas dan jurnal yang harus diselesaikan."
"Oh begitu... Hati-hati saja bekerja. Jangan sampai terlalu lelah atau terlalu memihak pada satu pihak saja ya. Ingat, kita ini pendidik. Harus adil dan menjaga jarak profesional."
Kalimat itu terdengar biasa saja, tapi penekanannya begitu kuat. Adrian bisa merasakan sindiran halus itu menusuk tepat di ulu hatinya.
"Te-terima kasih nasihatnya, Prof. Saya ingat selalu," jawab Adrian terbata-bata sedikit.
Prof. Hayes tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. "Bagus. Kalau begitu silakan."
Saat pria tua itu berlalu pergi, Adrian menghela napas panjang sekali. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Dia tahu... Dia pasti tahu atau setidaknya dia sangat curiga.
🗡️ Keputusan yang Tegas
Kembali di ruangannya sendiri, Prof. Hayes duduk termenung sejenak. Dia memandang tumpukan bukti yang sudah dia kumpulkan di atas meja. Foto, data absensi, catatan waktu, dan kesaksian tidak langsung dari beberapa staf.
Semua itu sudah cukup untuk memulai penyelidikan resmi.
Sudah cukup untuk memanggil Adrian dan menghadapkannya dengan dekan.
Dan sudah cukup untuk menghancurkan karier Adrian serta mencoret nama Alena dari daftar mahasiswa.
Prof. Hayes menghela napas panjang, wajahnya tampak serius dan tak kenal ampun.
Dia tidak peduli seberapa hebat Adrian mengajar.
Dia tidak peduli seberapa besar kontribusi pria itu.
Aturan adalah aturan. Etika adalah etika.
Dengan tangan gemetar sedikit karena emosi dan tanggung jawab, dia menutup berkas tebal itu rapat-rapat, lalu memberinya cap merah besar bertuliskan "RAHASIA - DITINDAK LANJUTI".
Matanya menyala tegas, penuh dengan tekad baja yang tidak bisa digoyahkan oleh apa pun.
Dengan suara rendah, berat, dan penuh otoritas, Prof. Richard Hayes berbisik pada dirinya sendiri, mengukuhkan keputusan finalnya:
“Aku akan membongkar ini.”
"Tidak ada yang kebal hukum. Tidak ada yang bisa sembunyi selamanya. Kebenaran harus terungkap, dan sanksi harus dijalankan."