NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20. pergolakan batin Chris

"Masuk!"

Satu kata yang terdengar begitu tegas keluar dari mulut perempuan yang sebentar lagi akan mengakhiri masa lajangnya. Dialah Amalia, kakak perempuan Maya.

"Tapi..." Maya masih saja memandangi wajah Chris, berharap laki-laki itu akan membantunya berbicara, atau setidaknya langsung pergi meninggalkannya saja.

Namun, kenyataannya Chris masih saja berdiri di samping Maya. Ia hanya diam sambil membalas tatapan dingin Lia

"Kak, kemarin aku —" Maya bisa melihat raut wajah ketidaksukaannya sang kakak terhadap Chris, dan mau tidak mau, hal itu membuat Maya takut.

"Maya, kakak bilang padamu sekali lagi, masuk ke rumah, Maya! Sekarang!" Lia, kakak perempuan satu-satunya yang begitu disiplin, memberikan perintah kepada Maya. Sifat yang diturunkan dari sang ayah kepada Lia.

"Kak.."

Melihat kemarahan Lia yang meledak-ledak, Chris tetap berdiri tenang walau rahangnya tampak mengeras menahan emosi. Ia menarik napas dalam, lalu menoleh pada Maya yang berdiri di sampingnya dengan tubuh gemetar dan kepala tertunduk dalam.

“Maya,” ucap Chris dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. “Masuklah.”

Maya menoleh perlahan, ragu-ragu. Matanya mencari isyarat di wajah Chris, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan bentuk penolakan atau pengusiran. Tapi yang ia temukan hanyalah tatapan tulus dan sorot mata penuh pengertian.

“Jangan bikin kakakmu tambah khawatir,” lanjut Chris tersenyum sambil menyelipkan bingkisan plastik hitam ke tangan Maya.

Maya menelan ludah dan menggigit bibirnya kuat-kuat, masih berat melangkah. Ditatapnya wajah Chris cukup lama. Lalu akhirnya, perlahan-lahan ia berjalan menuju gerbang rumah, melewati Lia tanpa berkata sepatah kata pun. Hatinya masih berkecamuk.

Bahkan, saat Maya akan masuk ke dalam, ia masih mencuri pandang ke belakang, menatap Chris yang saat ini juga tengah menatapnya dengan melemparkan sebuah senyuman menenangkan milik lelaki itu.

Chris...

...****************...

"Sudah sampai, mas."

Suara serak dari supir taksi itu membuat Chris kembali sadar dari keterdiamannya yang panjang.

Setelah mengantar Maya pulang dan memastikan gadis itu masuk ke dalam rumah dengan selamat, Chris masih berdiri disana dan berbicara dengan Lia sebentar.

Matanya kosong, pikirannya menjadi rumit. Chris menarik nafasnya dalam-dalam, lalu diberikannya sejumlah uang kepada supir muda itu.

"Eh, Mas, ini kembaliannya..."

Supir taksi muda yang tadi ia gertak sempat menawarkan uang kembalian, tapi Chris hanya mengangkat tangan singkat, lalu keluar dan melenggang masuk ke dalam kosnya. Chris mengabaikan supir itu.

Langkahnya lambat saat tiba kembali di kosan. Ia juga tidak menjawab sapa Alif dan Riski yang tengah duduk di ruang tamu sambil menonton televisi, Chris masih setia bungkam dan hanya melewati mereka begitu saja. Tidak seperti biasanya. Keduanya pun saling pandang, heran, tapi memilih tak ikut campur.

Chris kemudian naik ke lantai atas melewati beberapa pintu kamar yang mengarah pada sebuah tangan spiral. Rooftop, tempat pelariannya dari segala keruwetan dunia.

Chris menapaki satu persatu anak tangga dengan pelan. Lalu, dibukanya sebuah pintu besi berwarna hitam. Atap datar itu disambut oleh udara pagi yang cukup menyegarkan, dihirupnya dalam-dalam udara pagi yang menerpa wajahnya.

Chris merebahkan tubuhnya di sana, di sebuah papan kayu dengan kedua tangan terlentang. Matanya menatap tepat pada langit Yogyakarta yang hari ini tampak begitu cerah.

Di balik tatapan kosongnya, pikirannya memutar ulang kejadian demi kejadian bersama Maya. Pertengkaran, kecanggungan, kemarahan, dan ciuman singkat yang membuat hatinya berdetak terlalu kencang. Semua seperti parade kenangan dalam satu malam panjang.

Chris menghela napas berat. Untuk pertama kalinya, dia merasa lelah bukan karena tugas kuliah, bukan karena skripsi, tapi karena seorang gadis bernama Maya yang tanpa sadar, telah membuatnya kehilangan arah. Kemudian, ingatannya kembali pada beberapa menit lalu. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana percakapannya dengan Lia.

Kilas Balik

Lia berdiri diam beberapa detik setelah Maya masuk ke dalam rumah. Tatapannya tajam mengarah pada Chris yang masih berdiri di luar pagar.

"Maaf, Maya..." Chris berusaha memecah keheningan, tetapi wanita itu memotong kalimatnya secara tiba-tiba, dan membuka mulut tanpa basa-basi.

"Ini pertama kalinya Maya menginap di rumah orang lain. Tanpa memberi kabar."

Chris terdiam, sadar bahwa ini semua adalah kesalahannya.

"Kamu pasti tahu bagaimana sifat Maya. Dia masih terlalu kekanak-kanakan di usianya yang seharusnya menunjukkan kematangan dan kedewasaan."

Chris mengangguk pelan, mengingat bahwa Maya memang seperti itu.

"Manja dan mau menang sendiri sudah menjadi sifat dasarnya sejak kecil. Sifat dasar yang tumbuh karena kesalahan kami yang selalu memberikan apapun yang Maya inginkan. Memang salah kami karena telah membesarkan Maya seperti itu."

Chris sekali lagi memilih untuk diam dan mendengarkan kata-kata wanita itu.

"Satu lagi sifat yang nggak kamu tahu. Sifat yang banyak sekali orang gak tahan berteman dengannya dan menjauhinya. Maya sangat sensitif. Dia mudah sekali marah dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya."

Lia kembali melanjutkan. “Maya juga terlalu jujur, terlalu serius, dan terlalu banyak berpikir. Dia tidak bisa berpura-pura ramah kalau dia sudah merasa tak nyaman. Dia juga gampang merasa bersalah, gampang cemas, dan terlalu keras sama dirinya sendiri. Sering kali, Maya sendiri yang menyakiti perasaannya sendiri.”

"Iya, saya tahu." Chris menunduk sedikit, meresapi tiap kata.

Mereka terdiam, tetapi beberapa saat kemudian Lia kembali bersuara. "Banyak dari teman kerja ayah kami yang berusaha meminang Maya menjadi istrinya. Tapi pada akhirnya, mereka semua membatalkan nya karena sifat asli Maya. Alasan mereka sebenarnya hampir sama, mereka tidak menyukai sifat Maya."

Lia menatap Chris lebih dalam.

“Jangan bikin dia ketergantungan sama kamu, Chris. Jangan ajari dia menggantungkan harapannya ke orang yang belum tentu bisa dia percaya sepenuhnya. Karena begitu kamu jadi tempat dia bergantung, kamu juga akan jadi orang yang paling bisa menghancurkan dia.”

Chris menggertakkan rahangnya, tapi masih diam.

“Kalau kamu nggak yakin bisa jadi tempat aman buat Maya, lebih baik kamu menjauh sekarang. Jauh sebelum dia benar-benar menyerahkan hatinya.”

Chris tidak bodoh. Ia paham arah pembicaraan Lia kepadanya.

"Satu lagi, kalian sangat berbeda. Satu keyakinan dalam menjalin hubungan itu sangat penting. Aku yakin kamu pasti paham dengan maksud ku barusan."

Chris mengangkat wajahnya dan menatap wanita dengan potongan rambut sebahu itu dengan serius.

“Aku tahu Maya nggak sempurna. Tapi dia adikku. Dan aku tahu betul, sekali Maya jatuh cinta, dia bakal nyerahin semuanya. Dan akan sangat sulit untuk Maya bisa kembali bangkit. Dan kalau disakitin, dia akan hancur. Jadi, pikiran baik-baik apa yang aku katakan saat ini kepadamu. Ini demi kebaikan kalian. Kecuali..."

Lia mengambil jeda sejenak, lalu kembali berkata, "... kecuali kalau kamu mau menikah dengan Maya."

Lia menarik napas panjang, lalu berbalik meninggalkan Chris. Kata-katanya menggantung di udara, menyisakan keheningan yang berat. Chris menatap punggung Lia yang menjauh, dengan tatapan penuh pergolakan.

Kilas balik berakhir

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!