NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selalu di ungkit

Penting!

(Bukan update bab baru, tapi pergeseran Bab karena REVISI. 🙏)

Selamat membaca! 😊

...**~**...

Saat jam istirahat, Jeni mengajak Nadia ngobrol tentang Laura. Jeni menceritakan apa yang dia ketahui kemarin dari Rio. Nadia mendengarkan tanpa memberi sanggahan atau pun pertanyaan lainnya.

"Gue yakin sih, Laura pasti curhat juga kan sama lo?"

"Hmm." Nadia mengangguk. "Laura pernah cerita tentang hal itu, tapi gak sebanyak yang lo tau." Nadia berbohong.

"Terus menurut lo gimana? Apa lo juga mikir sama kayak gue."

"Mikir tentang?"

"Ya, gue rasa ada kesalahpahaman sih antara Laura sama Rio."

"Mungkin, karena waktu Laura cerita, gue sih juga merasa ada yang aneh, janggal aja gitu. Tapi, ya lo tau gue gak mungkin memaksa Laura untuk percaya tentang pandangan gue terhadap masa lalunya itu."

"So, gimana sekarang! Lo mau kan bicara sama Laura. Ya, coba untuk bujuk dia supaya mau ngasih kesempatan Rio, setidaknya untuk sekedar menjelaskan semua kesalahpahaman antara mereka."

Cukup lama Nadia diam, berpikir sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Oke, nanti gue coba bicara sama Laura."

Setelah Nadia mendengar cerita dari Jeni, malamnya begitu pulang bekerja Nadia mengajak Laura ngobrol. Mereka ngobrol santai sambil nonton acara musik di televisi.

"Beb, lo udah mendingan?"

Laura yang sedang menikmati mie rebus pun menoleh pada Nadia. "Udah, gue udah enakan sekarang. Kenapa, beb?"

"Gak, nanya aja."

Kening Laura mengkerut, matanya menyipit menatap wajah Nadia yang datar tapi justru itu membuat Laura curiga. "Ada apa sih, beb. Ada sesuatu kan!"

Nadia tersenyum, dia mengubah duduknya menghadap langsung pada Laura. "Ra, gue gak ada maksud apa-apa. Tapi, gue mau nanya sesuatu..." Kalimat itu berhenti saat Laura juga mengubah posisi duduknya hingga mereka saling berhadapan.

"Nanya tentang apa?"

Helaan napas Nadia terdengar berat. "Andai... andai mantan lo itu datang lagi dan dia benar-benar memohon untuk minta kesempatan bicara sama lo, apa lo akan kasih dia kesempatan?"

Laura menggeleng pelan, kedua sudut bibirnya melengkung keatas. "Kok tiba-tiba nanya gini. Gue tau lo Nad. Lo bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. So, apa yang membuat lo nanya kek gini ke gue."

Nadia menunduk sebentar sebelum mulai menjelaskan apa yang diceritakan Jeni tadi siang tentang mantan pacar Laura itu yang ternyata teman dekat Kevin.

Nadia menceritakan semuanya seperti yang Jeni ceritakan padanya tanpa mengurangi atau pun melebihkan. Laura pun mendengar tanpa menyela sedikitpun. Matanya bahkan berkaca-kaca setelah mendengar keseluruhan cerita itu.

"Sebenarnya Jeni juga gak percaya sama apa yang dikatakan mantan lo itu, tapi Kevin yang meyakinkan Jeni kalau apa yang di katakan mantan Lo itu semuanya benar, dia bicara jujur. Gue sama Jeni sama sekali gak bermaksud maksa lo untuk percaya. Kita cuma ingin membantu lo karena lo sahabat kita, Ra." Nadia menatap dalam mata Jeni yang mulai merah dan berair.

"Lo gak harus memaafkan dia. Lo juga gak harus berhubungan baik lagi sama mantan Lo itu. Tapi, setidaknya dengan memberi dia kesempatan buat menjelaskan apa yang mungkin selama ini dia pikir harus dia kasih tau ke lo, siapa tau hati lo jadi lebih baik dan siapa tau lo bisa melangkah dengan lebih baik untuk menjalin hubungan dengan seseorang lagi kedepannya." memegang kedua tangan Laura.

Mata yang tadi hanya berair, kini air itu akhirnya tumpah juga. "Jujur, gue gak tau harus gimana. Gue takut ketemu dia, tapi ya gitu hati kecil gue.... Gue rindu dia."

Melihat Laura menangis, Nadia tidak tinggal diam. Nadia membawa tubuh sahabatnya itu masuk dalam pelukannya.

"Lo gak harus memaksakan diri, beb. Lo gak harus memberi jawaban terburu-buru. Lo punya banyak waktu untuk memikirkan semuanya."

"Makasih ya beb."

Nadia mengangguk, melepaskan pelukan untuk menyeka air mata di pipi Laura.

...>~<...

Pagi ini terasa lebih lega, Laura pun merasa begitu lega dan ringan setelah banyak bercerita dengan Nadia tadi malam. Namun tidak bagi Nadia, pagi ini justru terasa menyesakkan.

"Beb, lo kenapa?" Laura sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Nadia yang terlihat aneh.

Sudah hampir sepuluh menit Nadia duduk di atas motornya, tangannya memegang kunci dan berusaha memasukkan kunci kedalam lubangnya tapi tak kunjung berhasil. Tatapan mata Nadia kosong, wajahnya datar.

"Lo sakit!" Laura menyentuh keningnya, memeriksa suhu tubuh yang ternyata normal.

"Gue gak apa-apa kok. Kayaknya gue ngantuk deh, beb. Lo aja yang bonceng gue ya!" sahutnya sambil memberikan kunci motor pada Laura dan bergeser kebelakang.

"Lo yakin cuma ngantuk aja!"

"Iya. Gue ngantuk banget." melingkarkan kedua tangannya di pinggang Laura dan merebahkan kepalanya di pundak Laura.

"Ya udah, pegangan yang erat. Gue gak akan ngebut kok."

Laura membawa motor dengan kecepatan sedang agar Nadia bisa tidur nyaman di belakang, lumayan kan untuk menghilangkan sedikit rasa ngantuk.

Nadia sendiri sebenarnya tidak tidur. Dia hanya melamun, memikirkan pesan yang dikirim ibu-nya tadi malam.

Astrid meminta agar Nadia segera mengirim uang akhir minggu ini.

Ibuk: Jangan lupa kirim uangnya akhir minggu ini.

Nadia: Maaf buk, aku belum gajian.

Ibuk: Alasan! Aku gak mau tau, kirim uangnya akhir minggu ini. Kamu pikir kamu bisa punya pekerjaan, makan enak, tidur enak, kuliah, itu semua karena kerja keras kamu! Tidak Nadia. Semua yang kamu miliki sekarang itu karena kemurahan hati aku. Coba saja kalau aku tidak mengizinkan suamiku memungut kamu dari bak sampah waktu itu, kamu pasti sudah di makan binatang buas atau mungkin belatung, bisa juga rayap. Kamu tu harus ingat itu, aku yang paling berjasa dalam hidup kamu!

Nadia: iya buk, aku akan kirim uangnya. Terimakasih ya buk, karena ibu berbaik hati mau merawat bayi malang itu.

Ibuk: Aku tau kamu marah karena uang tabungan yang suamiku kumpulkan untuk biaya kuliah kamu dan uang asuransi suamiku sudah aku habiskan. Tapi itu wajar, Nadia. Uang itu harusnya memang punya aku, Nina sama Nino. Mereka darah daging kami. Dan kamu harus sadar diri, suamiku kerja banting tulang, hujan-hujanan, panas-panasan cari uang demi kamu sampai dia lupa keselamatan nyawanya sendiri. Suamiku mati karena kamu! Jadi, kamu harusnya gak usah merasa terbebani, karena memang tugas kamu yang menggantikan suamiku untuk membiayai kehidupan aku, Nina dan Nino.

Rasanya sangat menyakitkan terus terusan mendengar omongan Astrid. Rasa percaya diri yang mulai muncul, kini kembali tenggelam. Nadia mulai memikirkan banyak hal, termasuk tentang keinginan untuk bisa memutar waktu, agar dia tidak terlahir ke dunia ini.

Air matanya perlahan menetes, tidak deras, tidak juga pelan. Tuhan, apa harusnya aku akhiri saja semuanya? Haruskah aku susul ayah...

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!