NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipecat

Keesokan paginya, suasana kantor sudah mulai sibuk. Xarena berjalan cepat koridor dengan langkah agak tergesa, memeluk beberapa map laporan di dadanya. Kantung mata tipis di wajahnya tidak bisa berbohong—ia hampir tidak tidur semalaman karena ucapan Mommy Bela terus berputar di kepalanya.

​Baru saja ia menaruh tasnya di kubikel sekretaris, interkom di mejanya langsung berbunyi nyaring.

​Breezzz...

​"Xarena, ke ruangan saya sekarang. Bawa semua berkas laporan audit bulan lalu," suara bariton Alan terdengar tegas dari seberang sana.

​Xarena menghela napas panjang, mencoba menata detak jantungnya yang mendadak tidak karuan. "Baik, Pak. Segera ke sana."

​Ia mengambil napas dalam-dalam, merapikan kemeja kerjanya, lalu melangkah menuju pintu besar di ujung ruangan. Setelah mengetuk dua kali, ia melangkah masuk. Alan sedang duduk di balik meja eksekutifnya, kemeja putihnya digulung hingga sikut, memberikan kesan kasual namun tetap berwibawa.

​"Ini berkas yang Bapak minta," ujar Xarena formal, meletakkan map tersebut di meja Alan.

​Alan tidak langsung memeriksa berkas itu. Ia malah menatap Xarena lekat-lekat. "Kamu kurang tidur?"

​"Saya rasa itu bukan urusan pekerjaan, Pak Alan," jawab Xarena sedingin mungkin, menjaga jarak profesionalitas mereka.

​Alan menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tersenyum tipis—senyuman yang dulu selalu membuat Xarena meleleh, namun sekarang terasa seperti ujian berat bagi hatinya.

​"Mulai hari ini, kamu pindah kerja di dalam ruangan saya," ucap Alan santai.

​Xarena terbelalak. "Maaf? Tapi meja saya di luar sudah sangat memadai, Pak."

​"Saya tidak menerima penolakan, Xarena. Di pojok sana ada meja kosong. Pindahkan laptop dan perlengkapanmu sekarang. Saya butuh sekretaris yang fast response dan bisa saya awasi kerjanya setiap detik," kilas Alan dengan alasan yang dibuat-buat.

​"Tapi, Pak—"

​"Ini perintah atasan, Xarena. Atau kamu mau saya potong gaji?" ancam Alan sambil menaikkan satu alisnya.

​Xarena mengepalkan tangannya di balik rok. Ia tahu ini hanya taktik Alan agar bisa terus berdekatan dengannya dan mengulik rahasianya. Meski hatinya terasa sesak dan membatu, Xarena tidak punya pilihan. Ia butuh pekerjaan ini untuk biaya hidup Mommy Bela dan Ciara.

​"Baik, Pak. Saya pindahkan sekarang," jawab Xarena datar tanpa ekspresi.

Alan tersenyum puas melihat Xarena hanya bisa patuh melakukan apa yang dia perintahkan.

​Satu jam berlalu. Xarena kini sudah duduk di meja daruratnya yang berada di sudut ruangan Alan. Suasana hening, hanya terdengar suara jemari Xarena yang mengetik di atas keyboard. Alan sesekali meliriknya dari balik layar monitor besarnya, pura-pura sibuk membaca dokumen padahal matanya terus mencuri pandang pada wajah Xarena.

​"Xarena," panggil Alan memecah kesunyian.

​"Ya, Pak?"

​"Tolong buatkan saya kopi. Hitam, tanpa gula," perintah Alan.

​Xarena berdiri. "Baik."

​Tak lama kemudian, Xarena kembali membawa secangkir kopi hangat dan meletakkannya di meja Alan. Baru saja ia mau berbalik, Alan menahan pergelangan tangannya. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan familiar yang membuat Xarena membeku.

​"Kamu masih ingat kan, kalau saya suka kopi pahit?" bisik Alan dengan suara rendah, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Xarena.

​Xarena menarik tangannya dengan perlahan namun pasti. Hatinya yang sudah mati-matian ia batasi tetap terasa kaku. "Semua sekretaris di perusahaan ini pasti tahu selera kopi atasannya, Pak Alan. Itu ada di file profil Anda."

​Alan menghela napas kecewa melihat respons dingin itu. "Xarena, sampai kapan kamu mau bersikap seperti orang asing? Apa pernikahanmu dengan... siapa namanya, Hasan? Apa sesempurna itu sampai kamu lupa semua tentang kita?"

​Mendengar nama Paman Hasan disebut, dada Xarena berdenyut sakit. Ia harus tetap mempertahankan kebohongan ini demi kebaikan Alan.

​"Pernikahan saya bukan urusan Anda, Pak. Dan tolong, panggil saya Sekretaris Xarena jika sedang di kantor," jawab Xarena tegas, meskipun di dalam lubuk hatinya ia ingin sekali berteriak dan memeluk pria itu. Rasa rindu dankhawatir serta kecewa bercampur aduk menjadi satu, namun Xarena tetap berusaha tenang dari luar.

​Alan mengepalkan tangannya di atas meja. "Kamu benar-benar sudah berubah ya, Ren."

​"Waktu mengubah banyak hal, Pak," sahut Xarena lirih, lalu kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya dengan hati yang kian membatu, menutup rapat-rapat segala emosi yang bergejolak.

​BRAAAK!

​Pintu ruangan kerja Alan tiba-tiba terbuka dengan kasar tanpa ketukan sama sekali. Xarena tersentak kaget, begitu pula Alan yang langsung menegakkan posisi duduknya dengan dahi berkerut kesal.

​Seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor, perhiasan berlian yang mencolok, dan kacamata hitam bertengger di kepalanya masuk dengan langkah angkuh. Nyonya Monique, yang adalah istri sah Alan. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel yang menampilkan aplikasi live streaming CCTV ruangan Alan. Rupanya kemarin, Monique sengaja memasang akses kamera pengawas itu di ponselnya agar bisa memantau gerak-gerik suaminya dan, tentu saja Alan.

​"Alan! Apa-apaan ini?!" seru Nyonya Monique dengan suara melengking, langsung menunjuk ke arah meja Xarena.

​"Monique? Kenapa kamu masuk gak ketuk pintu dulu? Ini kantor, Monique," ujar Alan dengan nada tertahan, menahan amarahnya.

​Nyonya Monique tidak memedulikan teguran suaminya. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi berbunyi nyaring di atas lantai marmer saat ia berjalan mendekati Xarena. Matanya menatap sinis dari ujung rambut hingga ujung kaki Xarena, penuh dengan pandangan merendahkan.

​"Oh, jadi jalang miskin ini yang bikin kamu mindahin meja kerja ke dalam ruanganmu, hah?!" bentak Nyonya Monique kasar.

​Xarena langsung berdiri dari kursinya, wajahnya memucat namun ia berusaha tetap tegar. "Selamat pagi, Nyonya Monique."

​"Gak usah sok manis kamu ya! Saya sudah lihat semuanya dari CCTV!" Monique mengacungkan ponselnya di depan wajah Xarena. "Dasar perempuan tidak tahu diri! Dulu keluarga kamu bangkrut, ayah kamu dipenjara karena kriminal, dan kamu sengaja ninggalin Alan demi laki-laki lain yang lebih kaya, kan? Sekarang setelah melarat, kamu mau menggoda suami saya lagi?!"

​"Monique! Cukup!" bentak Alan, berdiri dari kursinya dengan napas memburu.

​Namun Nyonya Monique mengabaikan Alan. Ia beralih menatap Xarena dengan pandangan yang kian menjijikkan. "Heh, sekertaris murahan! Keluar kamu dari ruangan ini sekarang! Angkat kaki dari perusahaan suami saya! Saya gak sudi melihat muka pembawa sial kayak kamu di sini. Keluar!" teriak Monique sambil mendorong bahu Xarena dengan kasar hingga wanita itu hampir kehilangan keseimbangan.

​"Nyonya, saya di sini hanya bekerja secara profesional—"

​"Halah, profesional macam apa yang kerjanya berduaan di ruangan tertutup begini?! Keluar saya bilang! Budek ya kamu?!" usir Monique lagi dengan kata-kata yang semakin menusuk jantung.

​Melihat ibunya memperlakukan Xarena sekasar itu, emosi Alan benar-benar mencapai puncaknya. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang, dan tangannya di atas meja mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarah yang meledak-ledak.

​"MONIQUE!! CUKUP!!!" teriak Alan dengan suara menggelegar, membuat seisi ruangan mendadak senyap mencekam.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!