Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.Keceplosan
Vino juga terlihat terkejut melihat kondisi Donni yang begitu menyedihkan.
Namun berbeda dengan mereka, Vely justru langsung mendorong tubuh Lora dengan kasar.
“Apa yang kamu lakukan pada Kak Donni, Lora? Aku yakin ini adalah perbuatanmu, bukan? Apa kamu tidak puas sudah membuat tangan Kak Donni digips, sekarang kamu malah memukulinya seperti ini?”
Vely berbicara dengan nada penuh amarah, seolah-olah ia sedang membela keluarga besar mereka. Sikapnya bahkan tampak seperti pahlawan yang ingin menarik simpati dari kakak ipar dan suaminya.
Lora hanya mengibaskan tangannya dengan kesal saat pakaiannya dicengkeram oleh Vely.
“Tanya saja pada kakak ipar bancimu ini.”
Ia menekan kata-katanya dengan nada penuh ejekan.
“Apa maksudmu, ha?”
Sinta langsung mencengkeram tangan Lora dengan kuat, matanya menyala penuh emosi.
Namun Lora justru menatapnya dengan dingin.
“Lepaskan, atau jika kamu tidak ingin berakhir seperti tangan suamimu.”
Ancaman itu membuat Sinta langsung melepaskan tangan Lora dengan cepat.
Tatapan Lora menyapu mereka satu per satu sebelum ia kembali berbicara dengan nada santai namun penuh tekanan.
“Jika ingin mencelakaiku, pastikan saldo ATM kalian lebih banyak dari saldo suamiku. Karena apa pun bisa aku lakukan, termasuk membalikkan perintahmu sendiri.”
Lora lalu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya dengan ekspresi mengejek.
“Jadi bagaimana, Kakak ipar? Apakah rasanya enak menikmati senjata makan tuan?”
Setelah mengatakan itu, Lora berbalik dan berjalan pergi dengan langkah anggun, berlenggok santai meninggalkan mereka semua.
“Kurang ajar!”
Donni berteriak penuh amarah.
Umpatan kasar keluar dari mulutnya, diikuti dengan kemarahan Sinta, Vely, dan Vino yang sama-sama menatap punggung Lora dengan kebencian.
Namun Lora tidak menoleh sedikit pun.
Ia terus berjalan meninggalkan mereka, seolah kemenangan kecil itu sudah cukup untuk membuatnya puas hari ini.
_______
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu terdengar di depan mansion keluarga Morrix. Fauzi dan Maharani berdiri di sana dengan ekspresi serius di wajah mereka. Kedua orang itu sengaja datang jauh-jauh dari kampung untuk mengunjungi kediaman megah tersebut. Tujuan mereka hanya satu—melihat keadaan putri kesayangan mereka, Vely.
Akhir-akhir ini Vely sering mengeluh kepada mereka melalui telepon. Ia terus menceritakan bagaimana Lora bersikap seolah-olah seluruh kekayaan keluarga Morrix adalah miliknya. Cerita-cerita itu membuat Fauzi dan Maharani semakin khawatir. Apalagi sekarang Vely sedang mengandung cucu pertama mereka. Mereka tidak ingin anak kesayangan mereka mengalami stres yang bisa membahayakan janin maupun kesehatannya.
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka.
David, kepala pelayan di mansion itu, berdiri di sana menyambut mereka dengan sikap sopan. Ia sudah mengenali kedua tamu tersebut sebagai orang tua dari Vely.
“Silakan masuk, Tuan dan Nyonya. Bisa menunggu Nona Vely di dalam.”
David mempersilakan mereka masuk dengan ramah.
Maharani langsung melangkah masuk, tetapi wajahnya menunjukkan sedikit ketidaksabaran.
“Memangnya ke mana anakku? Kenapa dia tidak ada di rumah?” tanya Maharani.
“Karna Tuan Donni mengalami keretakan pada tulang tangannya, jadi semua keluarga pergi mengantar Tuan Donni ke rumah sakit, kecuali Nona Lora dan Tuan Devon.” jawab David dengan tenang.
Maharani langsung mendengus sinis.
“Tentu saja mereka tidak ikut. Mereka kan bukan bagian dari keluarga Morrix.”
Nada suaranya terdengar merendahkan.
Fauzi yang berdiri di sampingnya ikut menyambung dengan senyum penuh arti.
“Pada akhirnya yang akan menjadi nyonya dan pewaris kekayaan Morrix adalah Vely, karena dia sedang mengandung cucu keluarga Morrix.”
David sempat terdiam sejenak mendengar pernyataan itu. Namun kemudian ia tetap menjawab dengan sikap profesional.
“Aku rasa tidak, Tuan. Karena yang menjadi pewaris resmi kekayaan Morrix adalah Tuan Devon dan Nona Lora saat ini, jadi kecil kemungkinan jika itu semua akan jatuh ke tangan Nona Vely.”
Wajah Fauzi langsung berubah masam.
“Apa maksudmu? Kamu hanya pelayan rendahan berani-beraninya menyela!”
Namun David tidak terpancing emosi. Ia hanya menundukkan kepala sedikit sebelum kembali berbicara dengan nada sopan.
“Aku hanya mengingatkan agar Tuan dan Nyonya tidak terlalu berharap. Karena pada akhirnya yang akan menjadi pewaris kekayaan keluarga Morrix adalah anak-anak dari Tuan Devon dan Nona Lora. Aku permisi dulu.”
Setelah mengatakan itu, David segera mengundurkan diri dari ruang tamu.
Begitu pelayan itu pergi, Maharani langsung mendengus kesal.
“Sialan! Bahkan pelayan rendahan seperti dia berani-beraninya membanggakan anak haram itu kepada kita, Mas. Tidak akan aku biarkan Lora bergelimang harta sebanyak ini. Ini semua harusnya milik Vely.”
Fauzi hanya mengangguk setuju sebelum mereka berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk di sana sambil menunggu Vely dan yang lainnya kembali dari rumah sakit.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari dari arah lorong rumah.
Dua anak kembar muncul di sana.
Maharani dan Fauzi langsung mengerutkan kening saat melihat dua anak kecil yang berada di dalam mansion tersebut. Namun beberapa detik kemudian Maharani teringat sesuatu.
Vely pernah menceritakan tentang dua anak gelandangan yang ditampung Lora di rumah keluarga Morrix. Ia bahkan sempat mengeluh panjang lebar tentang hal itu kepada ibunya.
Namun sebelum mereka sempat berkata apa-apa, kedua anak kembar itu justru berlari mendekat.
Tanpa berkata apa pun, salah satu dari mereka langsung memeluk Fauzi erat.
“Kakek!”
Suara kecil itu terdengar begitu spontan.
Fauzi dan Maharani langsung terkejut.
“Kakek?” ulang Fauzi dengan wajah bingung.
Maharani pun ikut terperangah ketika kedua bocah itu memanggil suaminya dengan sebutan kakek.
Gea tiba-tiba tersadar atas apa yang baru saja ia katakan. Wajah kecilnya langsung berubah panik. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dan menarik tangan Gian agar ikut menjauh.
“Oh maaf, kami berdua kira Bapak adalah kakek kami. Sepertinya kami salah. Maaf, Pak.”
Ia buru-buru memberi alasan seperti yang sudah diajarkan sebelumnya.
Namun Fauzi justru memandang mereka dengan tatapan penuh jijik. Ia bahkan mengibaskan pakaiannya seolah-olah baru saja terkena sesuatu yang kotor.
“Dasar anak gelandangan. Pasti kalian sedang berusaha menarik simpatiku, bukan?”
Ia menatap mereka dengan ekspresi merendahkan.
“Asal kalian tahu, aku sama sekali tidak sudi memiliki cucu seperti kalian berdua.”
Nada suaranya terdengar kasar dan menghardik.
“Akh, pakaianku jadi ternodai dan penuh kuman karena kalian.”
Ia terus mengibaskan bajunya dengan wajah penuh rasa jijik.
Namun berbeda dengan Fauzi, Maharani justru memandang wajah anak perempuan itu dengan cukup lama. Tatapannya tajam, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.
Ada sesuatu yang terasa sangat familiar dari wajah kecil itu.
Sementara itu Gea justru mencibir dengan wajah kesal.
“Cih… baju murahan seperti itu saja sok ternodai. Kami bahkan memegang baju ratusan juta milik Epon setiap saat.”
Ucapan itu membuat Fauzi semakin kesal.
“Dasar anak nakal tidak tahu sopan santun! Anak haram itu benar-benar memungut anak jalanan yang persis sepertinya.”
Namun Gea dan Gian hanya kembali mencibir mendengar kata-kata itu.
“Kami bukan anak jalanan. Kami berdua punya orang tua. Kami hanya dititipkan sebentar pada Bibi Lora karena ibu kami bekerja.”
Gea mengatakan kalimat itu persis seperti yang pernah diajarkan Lora kepada mereka untuk menjawab jika ada orang yang bertanya.
“Sudahlah, ayo Gian. Tidak ada gunanya kita berbicara dengan kakek jelek ini. Ternyata dia benar-benar jelek jika dilihat dari dekat.”
Gea menarik tangan Gian untuk pergi menjauh dari sana.
Namun tiba-tiba Maharani berdiri dan menahan tangan anak perempuan itu.
Tatapannya kini berubah tajam.
Ia akhirnya menyadari sesuatu dari wajah kecil yang sejak tadi terasa begitu familiar itu.
“Kamu adalah anak Lora, bukan?”
Ucapan itu membuat Gea langsung terbelalak.Begitu juga dengan Gian yang ikut membeku di tempat.
"Apa maksudmu Sayang?."ucap Fauzi yang ikut terkejut dengan tuduhan istrinya.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Hayo loh ntar nyesel loh Fauzi udah bilang gitu ke cucu kandung sendiri .
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian