Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tas Dirusak, Buku Diremukkan
Setelah kejadian menyakitkan di kantin, Lana mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk kembali ke ruang kelas. Ia mencuci wajahnya berkali-kali di wastafel toilet, mencoba menghapus jejak air mata dan sisa bedak yang kini terasa seperti beban. Namun, setiap kali ia menatap cermin, ia tidak lagi melihat "putri" yang dipuji Bumi; ia hanya melihat seorang gadis yang hancur.
Ia masuk ke ruang kelas terakhir hari itu, mencoba duduk setenang mungkin di barisan tengah. Selama dua jam kuliah hukum perdata, Lana tidak mampu mencatat satu kalimat pun dengan benar. Pikirannya terus melayang pada kata-kata keji Sisca. Setiap kali ada mahasiswa yang berbisik atau tertawa kecil di belakangnya, Lana berjengit, merasa tawa itu ditujukan padanya.
Begitu dosen menutup perkuliahan, Lana adalah orang pertama yang membereskan barang-barangnya. Ia ingin segera pulang. Ia ingin kembali ke dekapan aman penthouse, tempat di mana dunia luar tidak bisa menyentuhnya. Namun, saat ia merogoh kolong mejanya untuk mengambil tas kulit cokelat pemberian Arka, tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan lengket.
Lana menarik tasnya keluar, dan seketika ia mematung.
Tas kulit berkualitas tinggi yang tadinya mulus itu kini penuh dengan coretan spidol permanen berwarna merah darah. Tulisan-tulisan seperti "Gadis Desa Gatel", "Parasit", dan "Kampungan" memenuhi permukaannya. Tidak hanya itu, seseorang telah menumpahkan sisa kopi susu yang sudah basi ke dalam tasnya, membasahi kain bagian dalam yang mahal.
"Oh, tidak..." bisik Lana, suaranya tercekat di tenggorokan.
Dengan tangan gemetar, ia membuka ritsleting tas itu. Hatinya mencelos. Buku-buku catatan yang ia tulis dengan rapi setiap malam—buku-buku yang merupakan tiketnya menuju masa depan yang lebih baik—kini sudah diremukkan. Lembaran-lembarannya sobek seolah sengaja ditarik dengan paksa. Beberapa buku referensi yang dipinjamkan Rian pun tak luput dari serangan; sampulnya robek dan halamannya basah kuyup oleh tumpahan kopi.
Lana melihat sekeliling kelas. Ruangan itu hampir kosong, hanya menyisakan beberapa mahasiswa di pojokan yang pura-pura sibuk dengan ponsel mereka, namun sesekali melirik dengan senyum mengejek. Sisca dan gengnya sudah tidak ada, namun jejak kejahatan mereka tertinggal dengan sangat nyata di atas meja Lana.
Lana mencoba menyelamatkan buku catatannya, namun kertas yang basah itu hancur saat ia menyentuhnya. Air matanya kembali jatuh, kali ini jatuh tepat di atas tulisan tangannya yang kini luntur. Ia merasa seolah-olah impiannya sedang diremukkan bersama kertas-kertas itu. Tas ini adalah pemberian Arka, simbol perlindungan pertamanya. Buku-buku ini adalah harapan Rian agar ia menjadi pintar. Semuanya kini rusak.
Ia membawa tas yang rusak itu dengan pelukan protektif, mencoba menyembunyikan tulisan-tulisan kasar di permukaannya dari mata orang-orang di koridor. Ia berlari menuju toilet wanita di lantai bawah, berharap bisa menemukan air bersih untuk setidaknya membersihkan tasnya.
Di dalam toilet yang sunyi, Lana meletakkan tasnya di atas meja wastafel yang dingin. Ia menyalakan keran, mencoba menggosok noda spidol merah itu dengan tisu basah, namun noda itu justru semakin melebar, menciptakan warna merah yang mengerikan di tangannya.
"Kenapa kalian jahat banget..." isaknya sendirian.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di salah satu bilik toilet yang pintunya terbuka sedikit. Ada tumpukan benda yang ia kenali. Lana melangkah mendekat dengan kaki gemetar. Di lantai toilet yang basah dan kotor, ia menemukan sisa-sisa buku cetakannya. Halamannya sudah sobek-sobek, tersebar di lantai seperti sampah yang tak berharga. Beberapa lembar kertas catatannya bahkan dimasukkan ke dalam lubang kloset.
Lana berlutut di lantai toilet yang dingin. Ia memunguti sobekan kertas itu satu per satu dengan tangan yang kotor oleh tinta dan kopi. Ia tidak peduli lagi dengan kebersihan. Ia hanya ingin menyelamatkan sisa-sisa harapannya. Namun, semakin ia mencoba memungutnya, semakin ia menyadari bahwa kerusakan ini sudah tidak bisa diperbaiki.
"Lana?" sebuah suara terdengar dari arah pintu toilet.
Lana tersentak dan menoleh. Itu adalah salah satu petugas kebersihan kampus. Wanita paruh baya itu menatap Lana dengan pandangan iba yang mendalam. "Neng, kenapa bukunya di situ semua? Sini, Ibu bantu pungutin."
"Enggak usah, Bu... ini udah rusak," jawab Lana di sela isak tangisnya. Ia memeluk tumpukan kertas basah itu ke dadanya, tidak peduli bajunya kini kotor dan basah.
Rasa sakit yang ia rasakan saat ini jauh lebih dalam daripada sekadar kehilangan barang materi. Benda-benda ini adalah jembatan antara dirinya yang dulu dan dirinya yang ingin ia capai. Merusak buku-bukunya sama saja dengan merusak jiwanya. Perlakuan fisik ini membuat Lana menyadari bahwa ia tidak benar-benar memiliki tempat di sini. Sekeras apa pun ia mencoba, ia akan selalu menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa memiliki derajat lebih tinggi.
Lana bangkit berdiri, meninggalkan sisa-sisa buku yang tak tertolong di lantai toilet. Ia hanya membawa tasnya yang penuh coretan, memeluknya erat-erat seperti sedang melindungi bayi yang terluka. Ia berjalan keluar dari toilet dengan tatapan kosong.
Sepanjang jalan menuju lobi, ia merasa setiap pasang mata memperhatikannya. Beberapa mahasiswa tertawa sambil menunjuk tasnya yang penuh coretan merah. Lana tidak menoleh. Ia tidak lagi mencoba untuk berdiri tegak. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk sedalam mungkin, membiarkan rambut panjangnya menjadi tirai yang menyembunyikan wajahnya yang hancur.
Ia sampai di depan gedung fakultas, menunggu mobil jemputan. Namun, setiap detik terasa seperti siksaan. Ia merasa kotor. Ia merasa gagal menjaga amanah dari Arka dan Rian. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa tas mahal itu kini penuh makian? Bagaimana ia harus bilang pada Rian bahwa buku-buku referensi pilihannya kini basah di lantai toilet?
Lana merasa harga dirinya telah diremukkan bersama kertas-kertas itu. Ia merasa kembali menjadi Lana yang tidak punya apa-apa, yang hanya memiliki air mata sebagai pembelaan diri. Keberanian yang kemarin dibangun dengan susah payah oleh Bumi, Kenzo, dan Ezra, kini runtuh seketika oleh kebencian yang tidak berdasar.
Mobil hitam mewah Arka akhirnya tiba. Lana masuk ke dalam dengan cepat, meringkuk di kursi belakang, dan menangis tanpa suara. Sopir Arka yang melihat kondisi Lana dari spion tampak sangat terkejut, namun ia tidak berani bertanya.
Di dalam kesunyian mobil yang melaju membelah kemacetan Jakarta, Lana menatap tasnya. Tulisan "Gadis Desa Gatel" itu seolah berteriak padanya. Ia merasa dunia luar terlalu besar dan terlalu kejam untuknya. Ia menyadari bahwa bedak tipis dan lipbalm tidak akan pernah cukup untuk melindunginya dari kebencian manusia.
Sore itu, mendung di langit Jakarta akhirnya tumpah menjadi hujan yang deras, seolah ikut menangisi hancurnya harapan seorang gadis kecil yang hanya ingin belajar. Dan di dalam mobil itu, Lana menyadari bahwa luka di tas dan bukunya hanyalah awal dari luka yang lebih besar yang akan segera menggores jiwanya. Ia merasa benar-benar putus asa, merasa terjebak di antara dua dunia yang sama-sama tidak bisa ia kuasai: dunia mewah yang terlalu tinggi, dan dunia luar yang terlalu kejam.