NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perburuan harta Karun

Sore itu, Jinyu kembali melangkah menuju gunung. Kali ini bukan sekadar mencari gosip atau kabur dari kebosanan. Ia punya misi.

["Kau ingat janjiku kemarin?"] suara sistem bergema di kepalanya.

"Janji? Janji apa? Kau muncul tiba-tiba, mana langsung nyuruh-nyuruh lagi"

["Eh bodoh, aku menyusul mu menghabiskan banyak point, herbal itu juga bisa dijadikan poin yang selama ini ku gunakan. Lagi pula Kalau kau bantu aku mengumpulkan herbal yang cukup, aku kasih hadiah."]

Jinyu mengangkat alis. "Hadiah?"

["Peta harta karun."]

Langkah Jinyu terhenti. "Peta harta karun? Sungguhan? Kalau kau berbohong, aku tidak mau mengumpulkan lagi. Huh"

["Lebih asli dari pada emas, lagi pula sistem tidak pernah bohong. Di gunung ini ada beberapa gua berisi harta peninggalan zaman dulu. Aku punya koordinatnya. Tapi untuk mendapatkannya, kau harus bekerja dulu."]

Jinyu tersenyum lebar sesuatu yang jarang terjadi. "Herbal, ya? Oke, ayo cepat. Suruh ambil apa saja."

Yoyo yang melingkar di lehernya mendesis geli. Shshsss~ "Baru dengar ada hadiah, langsung semangat, dasar mata duitan."

"Diam, kau ular. Ini kesempatan."

Dan mulailah ekspedisi herbal paling intens yang pernah Jinyu lakukan.

["Itu! Jahe hutan! Gali!"]

Jinyu mencangkul tanah dengan tangan.

["Itu! Akar dangshen! Di bawah pohon besar!"]

Jinyu merangkak di bawah semak.

["Itu! Jamur reishi! Di batang lapuk!"]

Jinyu memanjat pohon tumbang.

["Itu! Kelinci lewat! Tangkap!"]

"Apa?! Yang benar saja, kata mu hanya herbal!!" Jinyu menoleh. Seekor kelinci liar melompat di semak-semak. Dengan kecepatan kilat, ia menangkapnya. "Ini buat apa?"

["Tidak ada sih lagipula bisa di simpan dimensi. Nanti bisa dimakan."]

Tak lama kemudian, seekor burung pegar terbang rendah. Jinyu melempari batu kecil tepat sasaran. Burung itu jatuh.

["Bagus! Refleksmu meningkat."]

Shshsss~ "Dia mantan ratu iblis, wajar."

Jinyu memasukkan kelinci dan burung pegar ke ruang dimensi. "Lanjut."

Satu jam berlalu. Jinyu sudah mengumpulkan puluhan jenis herbal—ginseng liar, jahe merah, jamur lingzhi, astragalus, dan berbagai tanaman lain yang namanya bahkan tak ia pahami. Bajunya kotor, rambutnya berantakan, tapi matanya berbinar.

["Cukup. Kau sudah memenuhi kuota."]

"Akhirnya. Sekarang, hadiahku."

Seberkas cahaya muncul di depan matanya—hanya terlihat olehnya. Selembar peta kuno terbentang, dengan beberapa titik merah menandai lokasi.

["Lima gua. Tersebar di sepanjang punggung gunung ini. Yang terdekat sekitar 2 kilometer dari sini."]

Jinyu mempelajari peta itu. "Gua pertama... di sebelah timur."

Ia menatap pepohonan di sekelilingnya, lalu tersenyum. Selama empat bulan tinggal bersama keluarga Su, ia rajin berolahraga bersama Ayah Su setiap pagi. Lari keliling kompleks, memanjat tali, bahkan latihan keseimbangan. Fisiknya yang tadinya lemah kini sudah mulai terbentuk.

"Yoyo, pegang erat."

Shshsss~ "Mau apa?"

Jinyu melompat ke cabang pohon terdekat. Lalu ke cabang berikutnya. Dan berikutnya. Ia melompat dari pohon ke pohon dengan lincah, seperti monyet hutan.

Shshsss~ "JINYU! KASIH TAU DULU!" teriak Yoyo panik, melingkar makin erat di lehernya.

Jinyu tertawa kecil. "Tenang. Aku sudah latihan dan udah pro."

Shshsss~ "LATIHAN LARI, BUKAN LOMPAT-LOMPAT POHON!"

Tapi Jinyu tak peduli. Angin menerpa wajahnya, dedaunan berdesir di sekeliling. Ini pertama kalinya ia bergerak secepat ini setelah bertransmigrasi. Rasanya... membebaskan.

Sepuluh menit kemudian, ia tiba di lokasi gua pertama. Mulut gua tersembunyi di balik semak lebat dan air terjun kecil. Jinyu menyusup masuk.

Gelap. Tapi mata iblisnya sudah terbiasa.

Langkah pertama aman. Langkah kedua aman. Langkah ketiga—

Cklek!

Jinyu menghentikan langkah. Di bawah kakinya, lantai batu terasa sedikit berbeda. Ia menunduk. Sebuah batu loncatan yang longgar.

"Jebakan," gumamnya.

Ia mengamati sekeliling. Di dunia akhir zaman, ia sudah melewati ribuan jebakan. Polanya selalu sama hanya bentuknya yang berbeda. Ia tersenyum meremehkan.

Lima menit kemudian, ia sudah melewati sepuluh jebakan tanpa satu pun tersentuh. Batu loncatan yang memicu panah, tali-tali yang memicu jerat, lubang jebakan tertutup dedaunan semua ia lewati dengan mudah.

Shshsss~ "Kau seperti sudah hafal."

"Karena jebakan di dunia kiamat ribuan kali lebih canggih. Ini... mainan anak-anak."

Akhirnya, ia sampai di ruang utama gua. Di sana, berjejer peti-peti kayu setidaknya dua puluh peti dengan berbagai ukuran. Jinyu membuka satu.

Cahaya keemasan memantul di wajahnya.

"Wah..."

Peti itu penuh dengan emas batangan. Peti berikutnya giok hijau dan putih, diukir indah. Peti berikutnya vas-vas porselen dari berbagai dinasti. Peti berikutnya gulungan kaligrafi kuno dengan aksara yang indah. Peti berikutnya perhiasan, liontin, gelang, mahkota.

Mata Jinyu berbinar-binar.

Bukan karena serakah, pikirnya. Tapi karena... ini pertama kalinya aku lihat harta karun beneran. Di dunia kiamat, semua tinggal ambil gratis. Tapi ini... ini punya sejarah.

["Jangan bengong bodoh. Cepat simpan."]

"Iya iya, kau cerewet sekali"

Jinyu tersadar. Ia membuka pintu dimensi dan mulai memasukkan peti-peti itu satu per satu. Hanya butuh beberapa menit, semua peti berpindah tempat.

"Gua berikutnya."

Gua kedua lebih dalam, penuh lukisan dinding kuno dan patung-patung perunggu. Jinyu mengambil beberapa yang kecil—patung Buddha, patung kuda, patung prajurit.

Gua ketiga berisi senjata-senjata kuno: pedang, tombak, busur panah berlapis emas. Jinyu yang mantan ratu iblis langsung jatuh cinta. Ia mengambil beberapa pedang pendek dan sebuah busur indah.

Gua keempat—buku-buku kuno. Ribuan gulungan bambu dan manuskrip kulit. Jinyu tidak terlalu tertarik, tapi sistem memerintahkannya mengambil semua.

["Buku ini berisi ilmu-ilmu kuno. Bisa berguna suatu hari."]

"Baiklah, baiklah. Asalkan jangan pengobatan dan sejarah, aku benci keduanya"

["Tidak heran, kau selalu bolos di kedua mata pelajaran ini"]

Jinyu : ... Terimakasih pujiannya

Gua kelima adalah yang terjauh, di sisi barat gunung. Matahari sudah mulai merambat turun saat Jinyu tiba. Ia bersembunyi di balik semak, mengamati mulut gua.

Dan di sana, di depan pintu masuk, lima atau enam orang sedang berkumpul.

Jinyu mengernyit. Dengan cepat dan tanpa suara, ia memanjat tebing di samping gua, bersembunyi di celah batu tepat di atas mereka. Dari sana, ia bisa mendengar percakapan.

"...sudah kita kirim laporan ke markas?" suara seorang pria, logatnya aneh seperti orang asing belajar bahasa Mandarin.

"Sudah. Mereka akan kirim kapal minggu depan. Kita bawa semua harta ini ke negara Sakura."

"Sakura..." ulang yang lain. "Kakek buyutku dulu ikut perang, katanya mereka meninggalkan banyak harta di sini. Sekarang kita ambil kembali."

"Jangan sebut perang! Itu urusan dulu. Sekarang kita bisnis."

Jinyu menajamkan telinga. Orang Sakura? Jepang?

["Mereka penyusup,"] bisik sistem. ["Mencari harta peninggalan zaman perang. Ini wilayah negara Naga, bukan milik mereka."]

Jinyu mengangguk pelan. Matanya menyipit dingin.

Enam orang. Bersenjata? Mungkin. Tapi bagi mantan ratu iblis...

Tanpa berpikir panjang, Jinyu melompat.

Ia mendarat tepat di tengah-tengah mereka. Keenam pria itu terkejut, tapi sebelum sempat bereaksi, tubuh kecil Jinyu sudah bergerak. Pukulan ke ulu hati, tendangan ke kepala, sentakan ke sendi.

Buk! Buk! Buk!

Dalam hitungan detik, lima orang terkapar. Satu orang tersisa, mencabut pistol tapi Jinyu sudah lebih dulu di depannya. Tinju mungilnya menghantam pergelangan tangan pria itu, pistol jatuh. Lalu tendangan ke rahang ke pria itu sampai roboh.

Jinyu menghela napas. "Ribet, mana lemah lagi. Masa kalah sama bocah umur 4 tahun"

Ia mengeluarkan tali dari dimensi, persediaan yang selalu ia siapkan. Satu per satu, ia mengikat mereka dengan rapi, seperti menggulung tikar. Lalu, dengan susah payah, ia menyeret mereka ke dalam gua.

Shshsss~ "Kau... kuat juga."

"Latihan sama Ayah."

Di dalam gua kelima, Jinyu tertegun. Bukan karena jebakan, gua ini tidak berjebakan. Tapi karena isinya.

Sepuluh peti besar, masing-masing seukuran peti mati. Jinyu membuka satu.

Emas. Bukan emas batangan biasa, tapi emas dalam bentuk koin kuno, perhiasan kerajaan, mahkota bertabur permata.

Peti kedua berisi giok. Ratusan keping giok hijau giok, ukiran naga dan phoenix.

Peti ketiga berisi vas porselen biru putih, tingginya setengah badan Jinyu.

Peti keempat berisi kaligrafi emas, gulungan demi gulungan.

Dan seterusnya.

Jinyu berjalan di antara peti-peti itu, matanya berbinar tapi juga berpikir. Ini terlalu banyak. Bahkan untukku.

["Kau mau ambil semua?"]

"Tidak." Jinyu menggeleng. "Aku sudah ambil banyak dari gua-gua sebelumnya. Ini biar untuk negara."

["Sok peduli, padahal dimensi mu isinya lebih tidak masuk akal"]

"Aku hanya suka benda berkilau, lagipula benda seperti itu tidak berfungsi di dunia kiamat"

Ia memilih beberapa barang kecil—beberapa keping emas, sebuah liontin giok kecil, sebuah gulungan kaligrafi yang menarik. Sisanya, ia biarkan.

Tapi keenam orang itu? Mereka akan jadi "hadiah" untuk Ayah.

Jinyu keluar dari gua, memastikan pintu masuk tertutup rapat. Orang-orang yang terikat di dalam masih pingsan—pukulannya memang akurat. Besok pagi, ia akan "menemukan" mereka bersama Ayah.

Untuk sekarang, ia pulang.

Saat melompat dari pohon ke pohon menuruni gunung, senja mulai merambat. Langit jingga keemasan, angin sore sepoi-sepoi. Yoyo melingkar di lehernya, kali ini sudah terbiasa dengan goyangannya.

Shshsss~ "Hari yang produktif, ya?"

"Produktif banget."

["Jangan lupa, herbal yang kau kumpulkan tadi juga berharga. Nanti bisa dijual."]

"Bisa dijual? Di mana?"

["Di toko obat tradisional. Tapi hati-hati, jangan sampai ketahuan asal-usulnya."]

Jinyu mengangguk. "Nanti kupikirkan."

["Aku tau kau malas, lebih baik gunakan menjadi bahan obat. Gingseng itu bisa kau tanam di tanah hitam dimensi mu"]

"Hehe, kamu terlalu mengingat ku. Lagipula disini aku bisa hidup damai, mungkin. "

Makan malam keluarga Su selalu hangat. Malam itu, Ibu Liu memasak sup ayam, ayam kampung yang dibelinya pagi tadi. Su Weimin sudah pulang dengan cerita tentang ujian sekolahnya. Ayah Su baru saja tiba dari markas, masih dengan seragam hijau tentaranya.

Mereka makan bersama di meja bundar. Jinyu diam-diam menikmati sup sambil merapikan kalimat di kepala.

"Ayah," panggilnya tiba-tiba.

Su Yichen menoleh. "Iya, Yuyu?"

"Aku tadi sore main ke gunung."

Ibu Liu mengernyit. "Jangan terlalu sering main ke gunung, Nak. Bahaya."

"Aku tahu, Bu. Tapi aku menemukan sesuatu." Jinyu memasang wajah polos. "Ada gua, dan di dalam gua ada enam orang tidur. Mereka terikat."

Su Yichen menghentikan suapan. "Apa?"

"Iya, Ayah. Mereka pake baju aneh, ngomongnya aneh. Aku takut, jadi aku lari pulang."

Weimin yang mendengar langsung bersemangat. "Orang jahat?! Yuyu, kamu hebat nemuin orang jahat!"

"Su Weimin!" Ibu Liu menegur. "Jangan senang-senang! Jinyu bisa bahaya!"

Tapi Su Yichen sudah serius. "Jinyu, kau yakin mereka terikat?"

Jinyu mengangguk mantap. "Iya, Ayah. Kayak diiket sama tali."

Su Yichen meletakkan sumpitnya. "Besok pagi, Ayah akan periksa. Kau tunjukin tempatnya."

"Baik, Ayah."

Malam itu, setelah semua tidur, Jinyu berbaring di ranjangnya. Yoyo muncul dari dimensi, melingkar di perutnya.

Shshsss~ "Kau bohong, Jinyu."

"Aku tidak bohong. Mereka memang terikat."

Shshsss~ "Tapi kau bilang takut? Mana mungkin ratu iblis takut."

Jinyu tersenyum tipis. "Ayah dan Ibu perlu percaya aku masih anak kecil. Biar mereka tidak curiga."

["Strategi bagus,"] puji sistem. ["Besok kau antar Ayahmu ke gua kelima. Urusan gua-gua lain, biar jadi rahasia kita. "]

"Iya dan jangan lupa gingseng ku kamu rawat"

["Baik-baik, dasar cerewet. Aku akan off dulu-"]

Jinyu memejamkan mata. Di ruang dimensinya, bertumpuk harta karun dari empat gua, puluhan jenis herbal, dua ekor kelinci, tiga burung pegar, dan sebuah peta yang sudah tidak berguna karena semua titik sudah dikunjungi.

Hari yang produktif, memang.

Shshsss~ "Jinyu."

"Hm?"

Shshsss~ "Kau sadar, kan, sekarang hidupmu nggak damai-damai amat?"

Jinyu tersenyum dalam gelap. "Iya. Tapi... menyenangkan."

Di luar, angin malam berdesir. Jinyu tertidur dengan senyum kecil.

1
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!