Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20 Sikap Tidak Adil Nenek
...Bab. 20...
...SIKAP TIDAK ADIL NENEK...
Keith baru keluar dari restroom saat Ronan menutup telepon.
"Siapa yang menelepon?" tanya Keith.
"Kakak Edeline. Dia menyuruhmu tutup toko nanti, kuncinya ada di laci mejanya. Setelah pulang antarkan kunci itu ke rumahnya!" jawab Ronan seperti yang disampaikan Edeline.
"Apa dia bilang dia pergi ke mana?" tanya Keith. Ia agak cemas.
"Tidak. Aku juga lupa menanyakannya," jawab Ronan agak menyesal.
"Ya, sudah tidak apa-apa," ujar Keith.
"Kakak Keith. Apa kamu merasa hari ini kakak Edeline sedikit aneh? Dia tidak bicara apapun ataupun menyapaku sejak pagi. Dia bahkan meninggalkan toko sejak siang. Selama aku bekerja di sini aku belum pernah melihat kakak Edeline seperti itu," tutur Ronan. Ia sangat memperhatikan sikap Edeline.
Sedangkan Keith justru diam berpikir, ada apa dengan Edeline hari ini? Ke mana dia pergi?
Saat Keith mengantar kunci toko ke rumah Edeline. Mama Edeline juga tidak tahu putrinya itu pergi ke mana. Bahkan Edeline belum pulang ke rumah. Keith semakin cemas. Dia pun pergi meninggalkan rumah Edeline. Keith pergi ke teluk berharap menemukan Edeline di sana. Tapi bukan Edeline yang ditemukan Keith melainkan Ariana. Gadis itu berdiri sendirian di tepi jembatan. Mencengkeram pagar pembatas dengan tatapan lurus ke teluk yang jauh.
"Ariana ... Apa yang kamu lakukan di sini? Oh ya, aku masih belum membalasmu karena menaruh garam di tehku. Anak nakal! Kamu sengaja melakukannya, ya?!" seru Keith dengan muka garang yang dibuat-buat.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Keith! Maksudku Kakak ...," balas Ariana, agak aneh memanggil Keith kakak karena belum terbiasa.
"Panggil nama saja tidak masalah. Memang sulit menerima kenyataan. Oh ya, jadi kenapa kamu di sini?" tanya Keith.
"Aku rindu pada ayah dan ibu. Seperti katamu memang sulit menerima kenyataan, bahwa sekarang aku sendiri. Kesepian dan tidak ada yang peduli," tutur Ariana dengan amat sedih.
"Kata siapa kamu sendiri? Kamu masih punya bibi, nenek, dan sekarang ada aku!" hibur Keith.
"Memang cuma bibi Amera yang mau menerimaku. Mungkin bibi-lah yang masih peduli padaku. Nenek tua itu tidak pernah sekalipun mempedulikan ku. Di matanya aku tidak ada dan tidak akan pernah ada. Apalagi setelah ayah dan ibu tiada, aku juga seperti sudah tiada baginya," ungkap Ariana dengan putus asa.
"Hei, jangan bicara seperti itu! Bukankah nenek sudah minta maaf padamu?" Keith mengingatkan.
"Minta maaf?! Itu hanya ucapan di mulut saja. Kenyataannya dia tidak pernah berubah!" kata Ariana. Ia berbalik menatap Keith dengan kesal. Lalu berkata, "Apa kamu tahu?! Barusan ... Aku berbaik hati datang mengunjunginya, membawakan buah kesukaannya, tapi ... apa yang dia katakan padaku?"
Ariana mengingat kejadian barusan. Neneknya membuang buah yang dibawanya hingga jatuh berserakan di lantai. Kemudian berkata dengan kasar. "Aku tidak butuh apapun darimu! Jangan berlagak baik padaku hanya karena aku sudah minta maaf. Bukan berarti aku benar-benar mengucapkannya dari hati. Sampai kapanpun aku tidak akan menerimamu. Cucuku hanya satu dan dia laki-laki bukan perempuan! Jadi, bawa buah murahan ini pergi dan jangan menginjak rumah ini lagi!"
Ariana mengusap air matanya yang mulai jatuh dengan cepat. Rasa kaget pun terlihat jelas di wajah Keith. Ia tak menyangka neneknya bisa sekejam itu pada Ariana yang juga cucunya sendiri. Keith berusaha menghibur Ariana sampai perasaannya membaik.
"Kamu lihat deretan bangunan di sana?! Salah satunya adalah Luiga Cloth & Textile, toko tekstil yang cukup terkenal di kota ini. Sebelumnya itu adalah usaha milik keluarga ayah. Kakek dan nenekku hanya punya seorang anak yaitu ayahku. Sejak kakek nenek meninggal toko itu diwariskan kepada ayahku. Sekarang ayah sudah tiada, kerabat, dan saudara sepupu ayah masing-masing sudah memiliki usaha sendiri. Agar usaha itu terus berjalan maka nenek mengambil alih mengelolanya." Ariana menjelaskan sambil menunjuk ke deretan bangunan pertokoan megah yang jauh di depan.
"Kamu tahu apa yang paling menyedihkan?! Saat mereka mendengar nama Ariana Luiga, mereka berpikir gadis itu hidup mewah sebagai satu-satunya pewaris Luiga Cloth & Textile yang masih muda. Kenyataannya aku harus bekerja keras untuk menghidupi diriku sendiri. Peninggalan ayah dan ibu yang seharusnya menjadi hakku sama sekali tidak pernah aku dapat. Kadang aku sangat malu ketika mengenalkan diri sebagai Ariana Luiga. Tapi aku selalu sadar siapa diriku, dibanyak kesempatan aku justru tidak memakai nama Luiga. Karena lebih mudah menjadi diri sendiri yang ada apanya dari pada berpura-pura demi sebuah nama yang tidak pernah dianggap ada. Oh ya, aku baru tahu alasan mengapa nenek tua itu tidak merestui pernikahan ayahmu dan ibu. Ya, ayahmu dulu miskin. Ayahmu hanya seorang pegawai biasa yang kebetulan mendapat tugas kerja di kota ini. Sedangkan ayahku seorang pengusaha sukses yang menurut nenek mampu menjamin masa depan ibu. Satu lagi status sosial mereka setara." Ariana bercerita dengan panjang lebar.
Mendengar semua kisah Ariana, Keith malah diam tidak tahu harus berkata apa. Sedikitnya ia membenarkan ucapan Ariana tentang ayahnya karena dari dulu ia memang tahu bagaimana kondisi ayahnya.
"Kamu tidak perlu khawatir sekarang. Nenek pasti akan lebih baik padamu. Kamu hanya sedikit kurang beruntung diawalnya saja. Kamu akan mendapatkan lebih dari apa yang pernah hilang dulu. Aku yakin itu!" ujar Ariana. Ia mulai berjalan pergi.
"Apa maksudmu, Ariana?" tanya Keith.
"Sesuatu yang baik akan datang ku rasa. Nenek tua itu tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya," jawab Ariana. Langkahnya sudah semakin jauh.
"Ariana ...." Keith masih memanggil.
"Jangan pedulikan aku! Aku akan baik-baik saja bersama bibi Amera. Aku mau pulang dulu! Jangan ikuti aku! Aku hanya ingin sendirian," sahut Ariana terus berjalan tanpa menoleh.
...🌼🌼🌼...
Keith sedang menunggu di luar, tak lama kemudian pintu dibuka oleh Ciara; pelayan nenek yang masih muda.
"Apa nenek ada di rumah?" tanya Keith. Ciara membawa Keith menemui neneknya yang duduk di ruang baca.
"Oh, cucuku Keith! Ada apa kamu menemui Nenek malam-malam begini?" tanya Ny. Martha dengan hangat.
"Aku hanya ingin bilang, tidak seharusnya Nenek memperlakukan Ariana sampai seperti itu. Itu sangat keterlaluan," protes Keith langsung ke intinya.
"Rupanya dia mengadu padamu!?" cemooh Ny. Martha.
"Tidak. Aku yang bertanya padanya. Nenek tidak melihat bagaimana sedihnya dia selama ini tidak dianggap ada oleh Nenek. Apa Nenek tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana perasaannya?" tanya Keith.
"Itu bukan urusanku! Aku tidak suka membuang waktu untuk hal sepele seperti itu. Kamu seharusnya tidak terlalu mengurusi anak manja itu. Dia hanya sedang mencari simpati darimu," tukas Ny. Martha amat tak peduli.
"Mungkin Nenek bisa anggap itu sepele. Tapi jika orang tuanya di surga melihat keadaannya sekarang, mereka pasti akan sangat sedih. Aku permisi!" tukas Keith mengakhiri kata-katanya dan langsung berbalik pergi.
Ny. Martha hanya bisa diam saja menatap kepergian Keith.
...🌼🌼🌼...
Pagi ini Keith sudah mau berangkat bekerja. Baru saja keluar dari halaman rumahnya, sebuah mobil datang dan berhenti di depannya. Dari dalam mobil Ny. Martha keluar. Dia mendekati Keith.
"Keith, ikutlah sebentar dengan Nenek! Nenek ingin bicara banyak denganmu," pinta Ny. Martha dengan senyum lebar di wajahnya.
"Aku harus bekerja, Nenek!" jawab Keith.
"Hanya sebentar saja! Nenek ingin tahu lebih banyak tentang dirimu. Masa kamu tidak mau meluangkan waktu sebentar untuk Nenek?" tanya Ny. Martha dengan wajah memelas.
Keith agak tak tega mendengar Ny. Martha berkata begitu. Dengan terpaksa dia masuk ke mobil bersama Ny. Martha. Mobil melaju pergi. Namun Ny. Martha justru tidak banyak bicara di dalam mobil.
"Nenek bilang ingin bicara denganku. Sebenarnya apa yang ingin Nenek bicarakan?" tanya Keith. Ia mulai merasa tak nyaman.
"Nenek ingin membawamu ke suatu tempat. Nanti kamu akan tahu!" jawab Ny. Martha.
"Tapi aku akan terlambat bekerja, Nenek ...," ujar Keith.
"Lupakan pekerjaanmu sebentar, Keith! Bolos sehari juga tidak akan merugikanmu dibanding apa yang akan Nenek tunjukkan padamu! Lagipula pekerjaanmu itu tidak akan membuatmu menjadi kaya!" tuntut Ny. Martha agak ngotot.
Keith agak tersinggung dengan ucapan neneknya itu. Namun ia memilih diam tak ingin berdebat lebih banyak. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan pertokoan megah. Ny. Martha mengajak Keith keluar. Tulisan Luiga Cloth & Textile terpampang besar di atasnya. Ny. Martha menggandeng Keith memasuki toko tersebut.
Suasana di dalam toko yang besar itu sangat nyaman. Meski begitu banyak jenis kain, namun semua tersusun rapi pada tempatnya. Semua karyawannya juga berpenampilan rapi. Beberapa karyawan toko menyapa dengan sopan. Ny. Martha berhenti di tengah ruangan kemudian memanggil para karyawannya untuk berkumpul.
"Aku ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian. Ini Keith, cucuku yang baru kembali setelah terpisah lama denganku. Aku juga ingin sampaikan pada kalian semua, kelak cucuku inilah yang nantinya akan menjadi penerus Luiga Cloth & Textile!" Ny. Martha membuat pengumuman yang membuat Keith terkejut. Semua karyawan bertepuk tangan menyambut dengan senang.
"Apa? Nenek ... Tolong, semuanya tenang!" teriak Keith. Tepuk tangan itu berhenti.
"Nenek, aku tidak mengerti dengan semua ini! Aku tidak tahu apa yang Nenek pikirkan. Aku sama sekali tidak memiliki hak atas tempat ini. Luiga Cloth & Textile adalah milik Ariana! Dia-lah penerus sebenarnya!" ungkap Keith dengan serius. Para karyawan yang masih berdiri di sana berbisik-bisik. Ny. Martha mengibaskan tangan pada mereka menyuruh mereka semua bubar.
"Omong kosong! Anak perempuan seperti dia sama sekali tidak memiliki kemampuan apa-apa. Saat ini Nenek yang memiliki wewenang untuk menyerahkan usaha ini padamu! Lihat semua yang ada di sini! Kamu tidak perlu lagi bersusah payah bekerja dengan orang lain dengan penghasilan yang tak seberapa. Kamu akan memiliki Luiga Cloth & Textile!" ujar Ny. Martha dengan entengnya.
"Nenek tidak pernah memberinya kesempatan, bagaimana dia bisa membuktikannya? Dan ... Satu lagi, penghasilanku memang tidak akan membuatku kaya, tapi itu lebih dari cukup untuk mengenyangkan perutku dan membeli semua kebutuhanku. Untuk apa semua ini? Untuk apa aku harus menjadi kaya kalau aku kehilangan hati nurani? Nenek, Ariana juga cucu Nenek. Nenek tidak seharusnya bersikap tidak adil seperti ini hanya karena dia perempuan. Semoga Nenek bisa bersikap lebih bijak!" balas Keith kemudian pergi begitu saja dari hadapan neneknya.
Ny. Martha masih mematung di sana dengan tatapan sembunyi-sembunyi dari para karyawan. Ia melangkah masuk ke ruangannya dengan kesal. Tidak pernah dirinya ditolak di depan karyawannya. Dia merasa sangat malu.
Sedangkan Keith berjalan sendiri kembali ke toko bunga Edelweis. Dia sudah melewatkan setengah hari waktu kerjanya. Tidak tahu apakah Edeline akan memarahinya. Awalnya supir Ny. Martha menawarkan tumpangan tapi ia menolak.
...🌼🌼🌼...
Aku sedang membantu Ronan menyelesaikan pesanan bunga meja.
"Ronan, apa kamu tahu kenapa Keith tidak masuk?" tanyaku.
"Tidak, Kakak. Kemarin dia tidak mengatakan apa-apa padaku," jawab Ronan.
Hari sudah siang dan Keith belum datang. Ia tidak pernah tidak masuk tanpa kabar. Aku hanya beranggapan mungkin dia sedang sakit. Karena tak menemukan alasan lain yang jadi penyebab ia tak kerja hari ini. Mungkin aku bisa menjenguknya sore nanti. Ya, Jikalau sakit kepala ku ini tidak semenyiksa seperti sekarang. Semua terlihat seperti sedang berputar-putar. Sudah dua malam ini tak bisa tidur. Nafsu makan juga langsung hilang.
"Kakak Edeline, wajahmu terlihat pucat. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ronan yang terus memperhatikanku.
"Aku baik-baik saja, Ronan! Aku pikir hari ini tidak usah menerima pesanan dulu. Akan repot jika kamu harus mengerjakannya dan mengantar sendiri. Untungnya ini pesanan dari toko depan jadi kamu tidak perlu jauh-jauh mengantarnya," jawabku.
"Em, baik. Kakak Edeline, kamu belum makan siang kan?! Sebaiknya Kakak makan dulu, ini biar aku yang kerjakan, lagipula tinggal sedikit," ujar Ronan.
"Iya, aku serahkan padamu sisanya! Tolong, ya!" balasku. Kepalaku sudah semakin berat rasanya. Aku pikir setelah makan siang bisa langsung minum obat. Berharap sakitnya hilang tapi baru saja berdiri semuanya jadi nampak gelap. Dan tiba-tiba ... brugh! Tidak tahu apa yang terjadi lagi hanya samar-samar terdengar suara Ronan memanggil namaku.
^^^bersambung...^^^
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
basa basi