Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemburu yang Menjadi Target
Rick menelan ludah.
Ternyata FBI. Baru kali ini Rick berurusan dengan pihak Pemerintahan.
Adeline menatap Rick tajam. “Sudah kubilang jangan berurusan dengan Robert Ng.”
Rick mencoba bicara, tapi Adeline memotong, kata-katanya meledak cepat, benar-benar seperti popcorn, hanya kali ini bukan lucu.
“Kau mengganggu jalurku,” kata Adeline. “Robert Ng itu agen cyber yang menjual perangkat nuklir Amerika. Ini tingkat internasional. Bukan untuk orang sepertimu yang mentah, Paper.”
Rick terpaku.
Kata 'mentah' membuatnya down, namun itu kenyataan. Dalam pemetaan ruangan, yang di tunjukkan Adeline sewaktu di cafe membuat Rick menyadari arti 'mentah'. Rick baru menyadari betapa pentingnya itu, Pemetaan ruangan.
Sekarang Adeline tahu code name-nya.
Adeline menunjuk ponsel Rick di tangannya. “Kau lapor saja ke broker-mu bahwa kau berhasil. Foto mayatnya sudah ada di HP-mu.”
Rick ingin protes: itu bukan aku yang menembak. Tapi mulutnya menutup sendiri. Ia paham permainan: kredit itu bisa dipinjam, asalkan ia tetap hidup.
"Aku... " Rick, hendak menanyakan bagaimana dia tahu tentang Fred Tucker, namun belum sempat dikatakan FBI itu memotong.
"Aku tidak akan menjelaskan apapun tentang lima tahun lalu... "
Adeline mencondongkan tubuh, suaranya menajam:
“Kalau kau sudah jadi Rank S, hubungi aku dan aku akan menjelaskan.”
Rick mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Jangan tanya apa pun padaku sebelum jadi Rank S,” potong Adeline. “Nomorku juga sudah ada di HP-mu. Kau lihat... sekarang aku sangat sibuk. ”
Rick menelan ludah.
Adeline melangkah mundur satu langkah dan berkata dingin:
“Pergi sekarang, atau aku tangkap kamu.”
Rick menatapnya, lalu mengangguk perlahan. Tidak membantah. Tidak mencoba jadi pahlawan. Ia sudah belajar: pahlawan mati paling cepat.
Satu lagi rahasia peristiwa lima tahun lalu akan terbuka tapi harus menunggu Rank S. Menghadapi Fox juga harus rank S. Ini membuat kesal Rick.
Rick berbalik, berjalan menuju jalan keluar parkiran dengan langkah cepat tapi tidak berlari.
Rick sempat melirik wanita popcorn. Di belakangnya, Adeline masih menatap, memastikan Rick benar-benar pergi. Sangat pro.
Malam itu, di apartemen, Rick duduk lama menatap ponselnya.
Foto Robert Ng yang tewas ada di sana.
“Bukti” yang akan membuat Violet percaya bahwa Paper menyelesaikan tugas Rank A.
Rick memang berhasil.
Tapi kreditnya bukan miliknya.
Dan lebih buruk: Robert Ng memanggilnya “Paper” seolah code name itu sudah lama diketahui oleh orang yang seharusnya jadi target.
Artinya jaringan lebih bocor daripada yang Rick kira.
Rick menghembuskan napas panjang.
Ia menulis satu kalimat untuk dirinya sendiri, pelan:
Di dunia ini, kemenangan pun bisa bukan milikmu.
Namun tetap, kemenangan itu membuka pintu.
Dan Adeline baru saja menegaskan satu hal:
Kalau Rick ingin jawaban, ia harus naik sampai puncak.
Sampai Rank S.
Karena di sana, baru orang seperti Adeline mau bicara.
Dan di sana, baru Fox akan merasa terganggu.
Keesokannya, Rick meninggalkan Singapore. Kembali ke tempat Mercer. Tapi peristiwa Singapore tidak bisa lepas dari kepalanya, termasuk cara wanita popcorn melakukan pemetaan ruangan.
Malam itu ruang tamu rumah Mercer terasa seperti ruang rapat yang tidak pernah diundang siapa pun.
Lampu menyala hangat, tapi udara dingin. Di luar jendela, ladang sunyi dan angin bergerak pelan. Di dalam, tiga orang duduk mengelilingi meja kecil: Mercer, Maëlle, dan Rick.
Maëlle masih menggunakan tongkat. Lehernya masih menahan sakit; Tapi masih bicara dengan dengan memaksa suara pelan. ia lebih baik tidak bicara, hanya menatap dengan mata tajam yang kembali hidup. Jari-jarinya siap mengetuk sandaran kursi kapan pun ia ingin
“berbicara”.
Ketika hendak ke toilet, Maëlle dapat berdiri, masuk toilet, keluar dan duduk di kursi roda.
Mercer membuka pembicaraan tanpa basa-basi, suaranya datar namun berat.
“Ini sangat mencurigakan,” katanya. “Dua kesalahan data.”
Rick mengangkat alis. Mercer melanjutkan, menatap map-map yang tersebar di meja.
“Pertama, kamu disodori target yang ternyata bukan sekadar Rank C. Kamu dipaksa berhadapan dengan assassin kelas S, Martina. Kedua, kamu dikirim ke Robert Ng, dan dia sudah tahu code name-mu. Seolah-olah kamu diarahkan untuk… mati.”
Rick menelan ludah. Kata “mati” dari mulut Mercer selalu terdengar bukan seperti ancaman, melainkan seperti angka statistik.
Mercer menatap Maëlle sebentar, lalu kembali ke Rick.
“Kalau kamu dibiarkan mati di lapangan, itu memutus rantai. Memutus kita,” kata Mercer. “Dan kalau kamu mati, siapa yang paling rugi? Aku.”
Rick merasakan sesuatu mencubit dadanya. Ia teringat kalimat Robert Ng di basement: Paper, kau langsung menghadapiku padahal belum sampai satu tahun kau jadi assassin.
Seperti Robert Ng bukan hanya “target”, seperti Robert Ng sedang menunggu kedatangan Rick.
Rick menyandarkan punggung. “Robert Ng bilang broker-ku menghina dia. Dia bilang… dia punya jaringan kuat. Saat aku menunggu di lobby, dia sudah selidiki aku.”
Mercer menghela napas pelan, mata tajam menatap ruang kosong seolah mengukur bentuk musuh yang tidak terlihat.
Rick, yang masih membawa amarah dari duel dan dari rasa dipakai, meledak dalam satu kalimat:
“Kalau begitu kita basmi Violet. Seperti kita basmi si gendut.”
Mercer langsung menggeleng.
“Jangan,” jawabnya cepat. “Kalau kita bunuh Violet, kita memutus sumber informasi paling dekat yang kita punya. Kita hanya akan menang satu langkah… dan kehilangan arah selamanya.”
Rick menggigit bibir. Ia benci jawaban itu karena masuk akal.
Maëlle mengetuk sandaran kursinya, pelan, teratur. Rick menoleh. Ia sudah terbiasa membaca pola ketukan Maëlle, tidak sempurna, tapi cukup.
Rick mengeja dalam hati.
… — …
— —
…
Ia menyusun kata-katanya pelan.
Maëlle berkata:
“Robert Ng bukan target.”
Rick menelan ludah. Mercer menatap Maëlle, lalu meminta dengan mata: lanjut.
Maëlle mengetuk lagi, lebih panjang.
Rick mengeja:
“Targetnya Rick.”
Maëlle mengetuk lagi.
“Kalau targetnya Rick… target resminya Mercer.”
Kalimat itu membuat ruangan jadi lebih sunyi daripada ladang di luar.
Mercer tidak terlihat terkejut, tapi rahangnya mengeras. Seolah Maëlle baru saja mengucapkan sesuatu yang Mercer sudah curigai namun tidak ingin mengakuinya.
Mercer menatap Rick. “Ada yang mengikutimu?”
Itu pertanyaan sederhana, tapi di dunia mereka pertanyaan itu bisa berarti hidup atau mati.
Rick menggeleng tegas. “Bersih.”
Mercer menyipitkan mata. “Yakin?”
Rick mengangguk. “Bersih. Tidak ada kotoran.”
“Kotoran” adalah istilah yang Mercer tanam di kepala Rick sejak awal: tail. Bayangan yang mengikuti.
Rick tidak merasa diikuti. Tidak ada pola yang sama. Tidak ada wajah yang muncul dua kali. Tidak ada mobil yang menempel terlalu lama. Ia yakin.
Mercer berdiri, berjalan ke jendela, menatap ladang sebentar seperti orang menenangkan amarah dengan pemandangan. Lalu ia berbalik.
“Kita tetap kembali ke Violet,” kata Mercer. “Seolah tidak terjadi apa-apa.”
Rick membuka mulut, tapi Mercer mengangkat tangan.
“Dan jangan bicara soal rank,” Mercer menambahkan. “Jangan bicara soal Robert Ng ‘tahu’. Kamu hanya bilang: tugas selesai. Bukti ada. Selesai.”
Rick mengangguk pelan.
Maëlle mengetuk satu kali, pendek, kode yang Rick pahami sebagai: ikut rencana.