Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Badai Merayap di Toko Obat [2]
Tengah malam tiba diiringi oleh lolongan angin musim dingin yang menusuk tulang. Seluruh jalanan di sekitar toko obat tampak sunyi senyap dan gelap gulita.
Meilin berdiri tegak di tengah ruang utama lantai satu toko, memunggungi pintu masuk. Ia sengaja membiarkan satu buah lilin menyala di atas meja kasir, menciptakan siluet tubuhnya yang ramping namun memancarkan aura membunuh yang luar biasa pekat. Pengendalian Qi internalnya kini telah mencapai tingkat menengah, membuat indra pendengarannya mampu menangkap getaran sekecil apa pun.
Sreeek...
Suara gesekan kain sutra yang sangat tipis terdengar dari arah langit-langit atap kayu. Dalam hitungan milidetik, tiga sosok bayangan hitam meluncur turun tanpa suara dari sela-sela balok atap, memegang pedang tipis yang berkilau keperakan di bawah cahaya lilin.
Syuut! Syuut! Syuut!
Tiga tebasan pedang horizontal mengincar leher dan dada Meilin secara bersamaan. Namun, kecepatan reaksi mantan agen top The Ghost berada di level yang berbeda. Meilin merunduk rendah dengan gerakan yang sangat lincah, membiarkan mata pedang musuh menebas angin kosong di atas kepalanya.
Sebelum ketiga pembunuh itu sempat menarik kembali senjata mereka, Meilin menggerakkan tangan kanannya secepat kilat. Dua jarum perak yang telah dilumuri racun kelumpuhan saraf ekstrak kecubung liar melesat maju.
Slep! Slep!
Dua pembunuh di sisi kiri dan kanan langsung membeku di tempat. Mata mereka membelalak ngeri saat seluruh otot tubuh mereka lumpuh total dalam sekejap, membuat mereka ambruk menghantam lantai seperti patung batu.
Pembunuh ketiga, yang tampaknya merupakan pemimpin tim, terkejut melihat dua anak buahnya dilumpuhkan hanya dalam satu detik. Ia segera melompat mundur tiga langkah, menjaga jarak waspada dari Meilin. From balik topeng hitamnya, suara parau terdengar penuh amarah. "Kau... kau bukan tabib biasa! Beladiri macam apa ini?!"
Meilin perlahan menegakkan tubuhnya, memutar belati perak di jemarinya dengan gerakan yang sangat anggun namun merindingkan. "Jenis beladiri yang akan mengirimmu ke neraka jika kau tidak memberi tahu di mana markas utama Sekte Teratai Hitam."
"Sombong! Rasakan ini!" Pemimpin pembunuh itu menghentakkan kakinya ke lantai, mengerahkan Qi internalnya yang padat ke bilah pedangnya hingga memancarkan getaran angin yang kuat. Ia menerjang maju dengan serangkaian tusukan cepat yang mengincar tujuh titik vital di tubuh Meilin.
Meilin tidak menggunakan taktik adu kekuatan secara mentah. Ia menerapkan prinsip beladiri taktis modern: defleksi dan counter-attack. Ia menggeser posisi kakinya sedikit ke samping, membiarkan ujung pedang musuh meleset beberapa milimeter dari jubah hitamnya. Tangan kiri Meilin melesat maju, mencengkeram pergelangan tangan sang pembunuh, memutarnya dengan memanfaatkan momentum dorongan musuh sendiri hingga terdengar bunyi klek yang mengerikan.
"Ugh!" Pemimpin pembunuh itu mengerang kesakitan saat sendi tangannya patah. Pedangnya terlepas dari genggaman dan langsung ditangkap oleh tangan kanan Meilin.
Tanpa memberi ruang napas, Meilin menggunakan gagang pedang rampokan tersebut untuk menghantam ulu hati sang pemimpin dengan keras, membuatnya terbatuk darah dan berlutut di lantai dalam kondisi tidak berdaya.
Meilin mengarahkan ujung pedang yang dingin tepat ke bawah dagu pria bertopeng itu. "Sekarang, bicara. Siapa yang memerintahkan kalian kemari?"
Sebelum pria itu sempat menjawab, sebuah tepukan tangan yang pelan dan berirama terdengar dari arah sudut ruangan yang gelap di dekat pintu masuk.
Prok... prok... prok...
"Pertunjukan yang sangat luar biasa, Permaisuriku. Teknik beladirimu selalu berhasil membuat jantungku berpacu lebih cepat setiap kali melihatnya."
Sesosok tubuh tinggi besar melangkah keluar dari kegelapan malam. Itu adalah Kaisar Long Feng. Pria itu mengenakan jubah dalam hitam kasual tanpa lencana kerajaan, namun aura dominasi mutlak seorang penguasa tertinggi tetap memancar kuat dari tubuh tingginya. Di belakangnya, Gao Zan berdiri berjaga dengan pedang terhunus.
Meilin tidak menurunkan pedangnya, ia hanya melirik Long Feng dengan sepasang mata elangnya yang dingin. "Yang Mulia, apakah kau juga bagian dari Sekte Teratai Hitam yang gemar menyelinap di malam hari?"
Long Feng tertawa rendah, suara baritonnya yang jantan terdengar sangat seksi di tengah keheningan malam toko obat. Ia berjalan mendekati Meilin, mengabaikan pembunuh yang terluka di lantai, dan berhenti tepat di depan istrinya.
"Aku datang untuk melindungi investasiku, Meilin," ujar Long Feng, matanya menatap lekat-lekat wajah cantik Meilin yang tertutup bayang-bayang. Ia mengulurkan tangan besarnya, dengan lembut mengambil pedang dari tangan Meilin dan menyerahkannya kepada Gao Zan. "Pasukan pengawal bayanganku telah mengepung seluruh area radius satu mil dari toko ini. Tiga puluh pembunuh Sekte Teratai Hitam lainnya di luar... sudah dibersihkan tanpa sisa."
Meilin sedikit terkejut mendengar efisiensi pasukan Long Feng. "Kau tahu mereka akan datang?"
"Sekte Teratai Hitam telah mengincar Giok Dinasti Long sejak lama. Ketika mereka melihat keluarga Hua hancur dan kau mendirikan toko ini, mereka pasti mengira giok itu ada di sini," Long Feng maju satu langkah, mengikis habis jarak di antara mereka hingga dada bidangnya menempel pada tubuh Meilin. Ia menundukkan wajahnya, berbisik sangat pelan tepat di telinga Meilin. "Mereka tidak tahu... bahwa permata paling berharga dari Dinasti Long saat ini sedang berdiri di depanku, memegang belati dengan wajah galak."
Meilin merasakan embusan napas hangat Long Feng yang memicu desiran aneh di dadanya. Benteng es di hatinya kembali bergetar akibat perlakuan posesif sang Kaisar. Ia melangkah mundur satu langkah untuk menjaga jarak taktis. "Yang Mulia, kita sedang berada di tengah interogasi, bukan perjamuan romantis."
Long Feng tersenyum penuh kemenangan melihat rona merah tipis yang sempat melintas di telinga Meilin. Ia berbalik menatap pemimpin pembunuh yang masih berlutut di lantai. Senyuman hangat di wajah Kaisar seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi kejam seorang penguasa tirani.
"Gao Zan, bawa bajingan ini ke ruang interogasi khusus bawah tanah istana. Siksa dia menggunakan metode pengulitan perlahan sampai dia membongkar lokasi persembunyian ketua sektenya," perintah Long Feng dingin tanpa ada belas kasihan sedikit pun.
"Baik, Yang Mulia!" Gao Zan dengan cepat menyeret sisa pembunuh tersebut keluar dari toko.
Kini, di dalam ruang lantai satu toko obat yang sunyi, hanya menyisakan Lin Meilin dan Kaisar Long Feng di bawah cahaya lilin yang mulai meredup.
Long Feng kembali menoleh ke arah Meilin, mengulurkan kedua tangannya untuk melingkari pinggang ramping wanita itu, menariknya masuk ke dalam dekapan hangat jubah bulu hitamnya. "Malam ini toko obatmu sedikit berantakan, Rubah Kecil. Bagaimana kalau kau membayar 'biaya pengamanan' dari pasukanku dengan cara kembali tidur di pelukanku di istana?"
Meilin menatap mata elang Long Feng yang dipenuhi oleh binar cinta dan keinginan kuat untuk melindunginya. Sebuah helahan napas pasrah keluar dari bibir cantiknya, namun diiringi oleh senyuman tipis yang sangat menawan. "Baiklah, Yang Mulia. Tapi jika besok kas tokomu berkurang karena biaya pembersihan ini, aku akan menagihnya kembali padamu di ruang sidang."
Long Feng tertawa lepas, lalu mengangkat tubuh ramping Meilin ke dalam gendongannya, melesat menembus kegelapan malam musim dingin kembali menuju Istana Fengxiang. Di tengah badai yang merayap dari dunia luar, aliansi taktis dan jeratan cinta di antara sang agen rahasia dan kaisar agung kini terjalin semakin erat dan tak terpisahkan.
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉