NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 24.

Pagi datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Sinar matahari menembus celah tirai, menghangatkan sudut kamar yang semalam dipenuhi keheningan.

Liora mengerjapkan mata perlahan. Hal pertama yang ia sadari adalah... dirinya kembali berada dalam pelukan Dewangga. Satu lengan pria itu melingkari pinggangnya, sementara dagunya bertumpu ringan di atas kepala Liora. Posisi mereka begitu dekat hingga ia bisa mendengar embusan napas pria itu yang masih teratur.

"Kenapa sih, hobi banget meluk..." gumam Liora pelan.

Ia berusaha melepaskan diri sedikit demi sedikit agar Dewangga tidak terbangun. Namun baru bergeser beberapa sentimeter, pelukan pria itu justru mengencang.

"Liora... jangan pergi."

"Dewangga, aku cuma mau bangun."

"Nggak."

"Dewangga..."

"Nanti aja."

Liora mengembuskan napas pasrah. Saat hendak membujuk lagi, ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh di bibirnya. Tanpa sadar, ujung jarinya terangkat meraba bibir bawahnya yang terasa sedikit tebal.

Dahinya mengernyit pelan, "Kenapa bibirku bengkak begini?"

Dewangga yang mendengar gumaman itu langsung menegang, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Seketika ingatannya melayang pada kejadian semalam. Setelah Liora benar-benar tertidur pulas dalam pelukannya, ia berkali-kali mencuri kecupan singkat di bibir perempuan itu. Awalnya hanya sekali, tetapi entah mengapa ia terus mengulanginya. Bibir Liora terasa begitu lembut hingga tanpa sadar membuatnya ingin menciumnya lagi dan lagi.

Bibir lembut istrinya itu seolah membuatnya ketagihan hingga sulit berhenti.

Sial! Jangan sampai ketahuan...

Dewangga buru-buru memejamkan mata lagi, berpura-pura masih mengantuk. Ia bahkan sengaja menguap kecil agar terlihat alami. Kalau Liora mulai curiga, semua kepura-puraannya bisa berantakan.

Liora perlahan melepaskan belitan tangan Dewangga dari pinggangnya. Kali ini, pria itu tidak merengek atau menahannya lagi. Setelah berhasil membebaskan diri, Liora turun dari ranjang, mengenakan sandal rumah, lalu melangkah menuju meja rias. Ia berdiri beberapa saat di depan cermin, menatap pantulan wajahnya dengan saksama.

"Aneh..." gumam Liora pelan. Ia mengusap bibir bawahnya dengan ujung jari, masih merasakan sedikit bengkak di sana. "Semalam rasanya biasa saja. Apa jangan-jangan aku kegigit sendiri waktu tidur?"

Mendengar alasan yang dibuat Liora sendiri, Dewangga nyaris tertawa. Untung saja ia berhasil menahannya.

Dengan wajah yang masih dipenuhi tanda tanya, Liora kembali menghampiri ranjang. Ia duduk di tepinya, lalu mengusap pelan rambut Dewangga dengan lembut.

"Nah, sekarang... cepat bangun. Kita mandi, terus sarapan."

Dewangga langsung duduk sambil mengucek kedua matanya. “Oke."

Ia mengikuti Liora masuk ke kamar mandi seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal. Begitu tiba di depan pintu kamar mandi, Dewangga berhenti melangkah.

“Liora, aku nggak mau mandi sendiri. Tapi juga nggak mau dimandiin Codet…”

Liora mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk pasrah. “Ya sudah, aku bantu. Tapi kamu harus nurut, ya.”

"Nurut nurut iya..."

Di balik wajah polosnya Dewangga hampir tersenyum, dia memang sengaja ingin mengerjai istrinya.

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam kamar mandi. Liora mencuci wajah dan menyikat gigi, sementara Dewangga juga melakukan hal sama. Selesai menyikat gigi, Liora berbalik.

“Ayo, sekarang buka baju tidurmu.”

Dewangga langsung menggeleng pelan. “Nggak bisa buka sendiri.”

Liora menghela napas, lalu memijat pelipisnya. “Kenapa nggak bisa?”

“Liora yang buka.”

Permintaan itu membuat Liora terdiam beberapa saat. Wajah Dewangga tetap polos, tanpa sedikit pun tanda bercanda, seolah hal itu memang sesuatu yang wajar.

Akhirnya Liora kembali mengembuskan napas panjang. “Ya sudah... sini.”

Perempuan itu mendekat, lalu mulai membuka satu per satu kancing piyama yang dikenakan Dewangga dengan gerakan rapi dan cepat. Tatapannya sengaja dialihkan ke arah lain, berusaha mengabaikan rasa canggung yang mulai muncul.

Begitu kancing terakhir terbuka, Liora segera menarik tangan mundur dan berdehem pelan.

“Pakai handuk dulu, tunggu sebentar. Aku siapkan dulu bak mandi dengan air hangat.”

Tak lama, bak marmer besar perlahan terisi air hangat yang mengepulkan uap tipis. Dewangga menurut tanpa banyak bertanya. Tak lama kemudian, ia sudah duduk di dalam bathtub dengan kedua lengan disandarkan di tepinya. Dan handuk yang tadi menutupi tubuhnya, kini tergeletak di lantai kamar mandi. Pria itu membiarkan air hangat merendam seluruh tubuh telanjangnya.

Liora mengambil spons mandi, lalu berdiri di belakang pria itu. Baru kali ini ia benar-benar menyadari bentuk tubuh Dewangga. Ternyata meski selama setahun terakhir pria itu hidup dengan mental seperti anak kecil, tubuhnya tetap terawat. Bahunya lebar, punggungnya bidang, dan otot-otot di lengannya masih tampak jelas.

Pantas aja, jas apa pun selalu kelihatan pas di badannya... — batin Liora.

Ia buru-buru menggeleng kecil, lalu mulai menggosok pelan punggung Dewangga.

"Kalau terlalu keras bilang, ya."

"Oke."

Liora berusaha fokus menggosok bagian punggung dan bahu tanpa sekalipun mengarahkan pandangannya ke depan.

Sementara Dewangga, diam-diam tersenyum tipis. Melihat wajah istrinya yang begitu canggung ternyata jauh lebih menghibur daripada yang ia bayangkan.

"Liora."

"Hm?"

"Kurang bawah."

Liora menghela napas pelan, lalu menunduk sedikit agar bisa membersihkan bagian punggung bawah.

"Nah, sudah."

Beberapa detik kemudian...

"Liora."

"Apa lagi?"

"Belakang leher."

"Kamu banyak maunya."

"Tapi Liora baik loh..."

Kalimat itu membuat Liora tak bisa menahan senyum kecil. "Iya, iya."

Ia kembali menggosok bagian belakang leher Dewangga. Tepat ketika Liora hendak meletakkan spons, Dewangga tiba-tiba bangkit dari dalam bathtub.

"Eh—"

Liora sontak membelalak dan refleks membalikkan badan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dan pria itu justru berdiri dengan santai tanpa rasa canggung sedikit pun.

“DEWANGGA! Siapa suruh berdiri?!" Suara Liora meninggi tanpa sengaja.

Pria itu malah berkedip pelan, sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. “Kenapa?”

“Kenapa apanya?! Pakai handuk dulu!”

Dewangga menatap sekeliling kamar mandi, lalu menunjuk handuk yang sudah jatuh di lantai. “Ini tadi jatuh.”

Liora masih menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terdengar berat karena panik dan malu bercampur jadi satu.

“Ya Tuhan… kamu ini benar-benar…”

“Benar-benar apa?”

“Benar-benar nggak tahu aturan!”

Dewangga terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kecil seolah sedang mencerna informasi. “Oh…”

Liora perlahan menurunkan tangannya, masih enggan menoleh pada pria itu. “Cepat duduk lagi, aku ambilkan handuk baru dulu!”

“Oke.” Dengan tenang, Dewangga kembali duduk ke dalam bak mandi tanpa protes.

Liora segera mengambil handuk bersih dari rak, tapi langkahnya agak kaku karena masih menahan rasa canggung. Ia melemparkan handuk itu ke arah Dewangga tanpa menatap.

“Nih, pakai.”

“Liora nggak mau lihat?”

“NGGAK ya!” Liora ingin sekali memaki seseorang saat itu juga.

Dewangga terdiam. “Kenapa?”

“Jangan banyak tanya, cepat pakai handuknya.”

Mendengar itu, Dewangga justru tertawa kecil. “Liora lucu.”

“Diam.”

Namun Liora masih berdiri di tempat yang sama, memastikan semuanya aman. Ia menghela napas panjang. “Kalau mau berdiri, jangan tiba-tiba.”

“Kenapa?”

“Karena itu berbahaya.”

Dewangga mengangguk lagi, kali ini lebih serius. “Berbahaya buat siapa?”

“Buat aku!” Liora menoleh cepat, menatap suaminya tajam.

“…Oh.”

Pria itu langsung mengangguk patuh. “Oke, Dewangga nggak berdiri telanjang lagi.”

Liora terdiam sesaat, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. Ia tidak menyangka Dewangga bisa mengatakan hal seperti itu dengan begitu santai, justru membuatnya semakin merasa canggung.

Sudahlah, Liora. Sabarrr.....

Perempuan itu pun melangkah keluar kamar mandi sambil bergumam pelan. “Benar-benar… tiap hari hidupku makin nggak normal.”

Sementara itu, Dewangga terus tersenyum kecil. Semakin lama ia bersama Liora, semakin sulit baginya menganggap perempuan itu hanya bagian dari rencananya. Liora kini menjadi seseorang yang ingin ia lindungi, dan bukan lagi bagian dari sandiwara. Perempuan itu menjadi pilihan yang mulai ia sadari, datang dari hatinya sendiri.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!