Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Demam Di Hari Minggu
Setelah selesai bermain futsal, Kael langsung pulang dan mendapati Aeros tengah membereskan buku-buku Sael yang tersebar di ruang tamu.
Peluh keringat masih membasahi lehernya, "Mana Sael, Kak?" tanyanya sambil mencuci wajahnya di wastafel.
"Udah tidur lah, kamu pikir ini jam berapa, cuman futsal sampai tengah malam pulangnya," jawab Aeros.
Tangannya dengan cekatan menata buku-buku dan dokumen diatas meja.
"Iyaa iyaa bawel," Kael beranjak pergi ke kamarnya untuk segera mandi.
Setelah menyelesaikan beres-beres nya Aeros kembali ke rumahnya.
Pagi harinya, karena 𝘸𝘦𝘦𝘬𝘦𝘯𝘥 seperti biasa Kael bangunnya molor, dengan mata masih setengah sadar, ia turun kebawah, sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Orangtuanya masih berada di luar kota baru pulang nanti sore. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. "Tumben Sael belum bangun" gumamnya heran.
Ia bergegas menuju kamar Sael, lalu membuka pintu kamarnya, terlihat gorden yang masih tertutup rapat.
Di atas ranjang, Sael bergelung di dalam selimut tebalnya.
"Sael?" ia mendekat ke ranjangnya. Melihat wajah Sael yang kini memerah padam, napasnya terasa panas dan berat.
Kael panik setengah mati. Ia berulang kali menempelkan punggung tangannya ke dahi Sael, lalu mondar-mandir di dalam kamar seperti ayam kehilangan induk.
"Sael jangan gini dong, jangan tinggalin aku sendirian, aku belum bisa masak," cerocos Kael asal karena panik, membuat Sael yang setengah sadar hanya bisa mendelik lemah.
Tanpa pikir panjang, Kael langsung meraih ponselnya dan menelepon satu-satunya orang yang paling bisa diandalkan dalam situasi ini: Aeros.
Tidak butuh waktu lima menit, pintu depan rumah Sael terbuka dengan kasar. Aeros berlari menaiki anak tangga dengan napas memburu, masih mengenakan kaus rumahan santai.
"Mana Sael?" tanya Aeros cepat begitu sampai di ambang pintu kamar.
"Itu, Kak! Badannya panas banget. Aku nggak tahu harus ngapain," adu Kael frustrasi, menjambak rambutnya sendiri.
Aeros langsung melangkah lebar mendekati ranjang. Ia berlutut di tepi tempat tidur dan dengan lembut menempelkan telapak tangan besarnya ke dahi Sael. Kulit Sael terasa panas.
"Sael... Kamu bisa denger aku?" panggil Aeros khawatir. Gadis yang semalam masih santai aja keesokan harinya malah terkena demam.
Sael membuka matanya sedikit. "Kak Aeros..." gumamnya lemah, suaranya parau.
Aeros menoleh ke arah Kael yang masih berdiri kikuk di dekat lemari. "Kael, ambil baskom isi air hangat sama handuk kecil di dapur. Sekarang."
"Siap!" Kael langsung melesat turun dengan kecepatan penuh, merasa lega karena Aeros sudah mengambil alih situasi.
Setelah Kael kembali membawa baskom, Aeros dengan telaten memeras handuk hangat dan melipatnya, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas dahi Sael. Sentuhan dingin dari handuk itu membuat Sael melenguh nyaman,
"Kael, di dapur masih ada bahan makanan apa? Sael harus makan sebelum minum obat," tanya Aeros tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sael.
"Mungkin ada beras, sama ayam di 𝘧𝘳𝘦𝘦𝘻𝘦𝘳, Kak. Tapi aku nggak tahu cara bikin bubur yang bener. Entar kalau gosong kasihan Sael," jawab Kael jujur.
Aeros mengembuskan napas pendek. "Ya udah, kamu jagain Sael di sini. Ganti kompresan nya kalau udah agak dingin. Aku turun ke bawah buat bikin bubur."
"Beres, Kak. Serahkan aja sama aku," ucap Kael sembari duduk di kursi kerja Sael,
Di dapur sepi, Aeros bergerak dengan cepat. Ia merebus ayam, menanak beras menjadi bubur halus, dan memastikan takaran rasanya pas.
Tiga puluh menit kemudian, Aeros kembali ke kamar membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih beserta obat penurun panas.
Kael yang melihat kedatangan Aeros langsung bangkit. "Wah, baunya enak banget. Sael, bangun, kak Aeros udah bawa makanan."
Aeros meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan lembut membantu Sael untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal. Tubuh Sael masih lemas, kepalanya terasa berputar, membuat tubuhnya tanpa sadar agak limbung ke arah Aeros.
Dengan sigap, lengan kekar Aeros menahan pinggang Sael.
"Makan sedikit, ya? Biar bisa minum obat," bujuk Aeros, menyendok bubur itu dan meniupnya perlahan sebelum menyodorkannya ke depan bibir Sael.
Ia membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari Aeros.
Kael yang menyaksikan pemandangan itu dari sudut kamar diam-diam tersenyum tipis.
"Nah, gitu dong, diabisin," puji Kael ikut senang melihat mangkuk bubur yang tersisa setengah. "Kak Aeros, makasih banyak ya. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu lagi harus gimana."
Aeros terkekeh tipis, memberikan obat penurun panas kepada Sael yang langsung meminumnya. "Kamu keluar aja, Kael. Istirahat atau main 𝘨𝘢𝘮𝘦. Biar aku yang jaga Sael di sini."
Kael mengangguk paham, ia menepuk bahu Aeros sekilas dengan penuh rasa hormat antar-lelaki. "Aku percayakan kembaranku sama kamu, Kak. Jangan diapa-apain, entar Papa pulang aku yang digantung," canda Kael sebelum melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Setelah Kael pergi, Sael kembali merebahkan tubuhnya di bawah selimut, matanya perlahan mulai memberat karena efek obat penurun panas yang mulai bekerja.
Namun, jemari kecil Sael tiba-tiba keluar dari balik selimut, dengan lemah menggapai dan meremas ujung kaus Aeros yang masih duduk di tepi ranjangnya.
"Kak... jangan pergi," bisik Sael teramat pelan, Sael yang sedang sakit berubah menjadi sangat manja, ini pertama kalinya ia melihat sisi Sael yang ini.
Aeros tertegun. Jantungnya berdesir hebat. Ia menatap tangan Sael yang menahan kausnya, lalu dengan perlahan, ia menyelipkan jemari besarnya untuk menggenggam tangan Sael yang terasa panas. Ia membawa tangan mungil itu ke atas kasur, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya sendiri.
"Aku nggak akan ke mana-mana, Sael. Aku di sini," balas Aeros lembut,
Aeros membungkuk sedikit, menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap sisa keringat dingin di pelipis Sael, lalu menyelipkan anak rambut gadis itu ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat berhati-hati. Matanya menatap wajah tidur Sael yang perlahan mulai rileks.
Efek obat penurun panas yang diberikan Aeros perlahan-lahan mulai bekerja pada tubuh Sael. Napas gadis itu yang semula berat kini berangsur-angsur lebih teratur. Namun, genggaman tangannya di jemari Aeros sama sekali tidak melonggar.
Aeros menggeser duduknya di tepi ranjang, memposisikan dirinya senyaman mungkin. Ia mengambil handuk kecil yang mulai mendingin dari dahi Sael, mencelupkannya kembali ke dalam baskom air hangat yang dibawakan Kael tadi, memerasnya dengan satu tangan, lalu meletakkannya kembali di atas dahi Sael .
"Eungh..." Sael melenguh tipis, tubuhnya sedikit gemetar.
"Dingin..." gumam Sael lirih, bibirnya yang sedikit pucat bergetar halus.
Tanpa banyak bicara, Aeros menarik selimut tebal Sael hingga menutupi batas bahunya.
"Udah mendingan?" tanya Aeros lembut.
Sael tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk lemah, lalu dengan gerakan perlahan, ia menarik tangan Aeros yang sedang menggenggamnya untuk didekap di depan dadanya, menyandarkan pipinya yang terasa panas di atas punggung tangan besar Aeros.
𝘋𝘦𝘨.
Jantung Aeros berdegup dua kali lebih cepat. Tindakan manja Sael ini benar-benar serangan telak bagi pertahanan batinnya. Aeros membeku, menahan napasnya selama beberapa detik sementara matanya terpaku pada wajah polos Sael yang kini memejamkan mata dengan raut wajah yang jauh lebih tenang.
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara denting sendok yang beradu dengan gelas dari arah dapur. Kael tampaknya sedang sibuk membuat teh atau mencari camilan di bawah.