Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Satu Minggu
Queen masih memeluk guling sambil memainkan ponselnya. Jarinya bergerak cepat membuka aplikasi chat berkali-kali.
Revan yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya bertanya. "Kamu sedang chat dengan pacar kamu?"
Queen mendengus. "Iya."
"Lalu? Di balas?"
"Nggak di bales." Revan mengangkat alis.
Queen langsung menunjukkan layar ponselnya. "Lihat nih."
Belasan pesan terlihat memenuhi layar. Dan semuanya hanya centang satu. Revan memperhatikan sebentar.
Queen menghela napas kesal. "Saya lagi kesel karena dari semalam Nathan nggak bales pesan saya."
"Hm."
"Tadi saya telepon juga nomornya nggak aktif."
Revan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Mungkin dia sedang sibuk."
Queen langsung mendelik. "Sibuk apaan sih?"
"Banyak kemungkinan." Revan hampir tersenyum. "Ya mungkin sibuk kerja."
"Nathan nggak kerja."
"Atau mungkin sedang sibuk dengan hal lain."
"Hal lain apa?"
Revan menjawab santai. "Misalnya sedang sibuk dengan wanita lain."
DEG.
Queen yang tadinya rebahan langsung duduk tegak. Matanya membulat. "Maksud Bapak apa?"
"Tidak ada."
Queen menyipitkan mata. "Pak Revan."
"Hm?"
"Yang tadi bapak katakan itu tuduhan."
"Saya tidak menuduh."
"Bapak tadi bilang Nathan sibuk sama wanita lain."
"Saya bilang mungkin."
"Tetap saja menuduh."
Revan mengangkat bahu santai.
Queen semakin kesal. "Jangan pernah fitnah pacar saya, Pak."
"Saya tidak memfitnah." Revan menatapnya datar.
Queen mendengus keras. Lalu tiba-tiba matanya menyipit curiga. "Tunggu."
"Hm?"
"Saya tahu."
"Tahu apa?"
Queen menunjuk Revan. "Bapak ngomong begitu karena cemburu kan."
Revan terdiam. Kini ekspresi pria tersebut terlihat sedikit berubah.
Sedangkan Queen terlihat semakin yakin. "Nah kan!"
"Apa?"
"Bapak cemburu."
"Cemburu?"
"Iya."
"Sama siapa?"
"Sama Nathan lah."
Revan memijat pelipis.
Queen langsung melipat tangan di dada. "Karena saya nggak mau dijodohin sama Bapak."
"Oh begitu?"
"Iya."
"Hm."
Queen mengangguk mantap. "Saya ngerti kok."
"Kamu ngerti?"
"Iya."
"Apa yang kamu mengerti?"
Queen menunjuk dirinya sendiri. "Saya ini cantik."
Revan terdiam. "Saya juga baik. Terus saya pintar." Revan mulai merasa pembicaraan ini mengarah ke tempat yang aneh.
Queen melanjutkan dengan percaya diri. "Nggak gitu Pak!"
"Terus bagaimana?" tanya Revan santai.
Diam dulu, saya belum selesai bicara. "Jadi wajar kalau Bapak cemburu."
Beberapa detik kamar menjadi hening. Lalu, Revan justru tertawa pelan.
Queen langsung membelalak. "Pak! Jangan ketawa."
"Ok saya tegaskan, saya tidak cemburu."
"Bohong."
Revan menggeleng kecil. "Queen."
"Apa?"
"Percaya diri itu bagus. Tapi jangan berlebihan."
Queen langsung mengambil bantal dan melemparkannya.
BUGH!
Revan menangkap bantal itu dengan mudah.
"Pak Revan!"
"Hm?"
"Bapak nyebelin."
"Kamu baru sadar?"
Queen mendelik.
Sedangkan Revan menaruh bantal itu kembali. Lalu untuk sesaat wajahnya kembali serius.
"Queen."
"Apa lagi?"
"Tadi saya melihat Nathan."
Queen yang tadinya masih kesal langsung terdiam. "Apa?"
"Saya melihat dia di depan kampus."
"Kapan?"
"Setelah jam kuliah selesai."
Queen langsung menatapnya.."Terus?"
Revan berpikir sejenak. "Saya hanya ingin bilang. Jangan terlalu cepat percaya pada seseorang hanya karena kamu menyukainya."
Kali ini Queen benar-benar diam. Karena meskipun ia kesal pada Revan, entah kenapa nada bicara pria itu terdengar jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Kini Revan tidak terlihat sedang bercanda sama sekali.
Queen masih menatap Revan beberapa saat setelah pria itu selesai berbicara. Entah kenapa, ucapan terakhirnya membuat hati Queen tidak nyaman.
"Apa maksud Bapak sih?" tanyanya pelan.
Revan tidak langsung menjawab.
Sedangkan Queen kembali memeluk gulingnya erat. "Saya nggak suka kalau Bapak ngejelek-jelekin Nathan."
"Saya tidak sedang menjelekkan dia."
"Menurut saya iya."
"Kalau begitu anggap saja saya salah."
Queen mendengus kesal. "Pokoknya saya nggak mau dengar."
"Baik."
"Dan saya juga nggak mau bahas soal Nathan lagi."
"Baik."
"Dan saya nggak mau bahas soal perjodohan itu juga."
"Baik."
Queen langsung melotot. "Kok semuanya baik sih?"
Revan mengangkat bahu. "Karena memang tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sedang marah."
"Pak Revan!"
"Hm?"
"Keluar dari kamar saya."
Revan mengangguk pelan. "Baik."
Queen sedikit terkejut karena kali ini pria itu tidak membantah. Revan berdiri dari kursinya lalu merapikan lengan kemejanya. Saat sudah sampai di dekat pintu, langkahnya tiba-tiba berhenti.
"Queen."
"Apa lagi?" Gadis itu masih cemberut sambil memeluk guling.
Revan menoleh ke arahnya. "Kamu boleh galau. Kamu boleh kesal. Kamu juga boleh marah. Tapi ada satu hal yang tidak boleh kamu lupakan."
"Apa?"
"Skripsimu."
Queen langsung memejamkan mata. "Astaga..."
"Saya serius."
"Pak, hidup saya sekarang lagi berantakan."
"Dan skripsimu tetap harus selesai."
Queen mengambil bantal lagi.
"Jangan lempar," ucap Revan cepat.
Bantal itu akhirnya turun kembali ke kasur.
Revan melanjutkan dengan tenang. "Kamu mau marah sama saya, sama Tante Farah, sama siapa pun, silahkan."
"Terus?"
"Tapi jangan jadikan itu alasan untuk menghancurkan masa depan kamu sendiri."
Queen terdiam. Karena meskipun menyebalkan, ucapan itu ada benarnya.
Revan kemudian berkata lagi. "Kalau dalam seminggu ini kamu bisa menyelesaikan skripsimu..."
Queen langsung mengangkat kepala.
"Saya akan coba bicara dengan Mama kamu."
Queen membeku. "Hah?"
"Saya akan bernegosiasi soal rencana pernikahan kita."
Mata Queen langsung membulat. "Beneran?"
"Ya. Saya juga tidak setuju kalau keputusan sebesar itu dipaksakan."
Kini ekspresi Queen sedikit melunak. "Tunggu."
"Hm?"
"Jadi Bapak nggak mau nikah minggu depan?"
Revan terlihat berpikir sesaat. "Saya tidak bilang begitu."
"Pak!"
"Tapi saya juga tidak setuju kalau kamu dipaksa tanpa diberi waktu."
Queen menatapnya lekat-lekat. Kali ini Queen merasa ada seseorang yang benar-benar mendengar pendapatnya.
Revan kemudian membuka pintu kamar. "Satu minggu."
Queen mengernyit. "Satu minggu apa?"
"Kamu selesaikan skripsimu."
"Lalu?"
"Saya urus Tante Farah."
Queen langsung duduk tegak. "Serius?"
"Iya saya Serius."
Kini ada secercah harapan muncul di wajahnya.
Namun sedetik kemudian Revan menambahkan dengan santai. "Tapi kalau skripsimu tidak selesai..."
Senyum Queen langsung hilang.
"Maka saya tidak punya alasan untuk membela kamu."
"Pak Revan!"
Revan akhirnya tertawa kecil. Sebelum Queen sempat melempar bantal lagi, pria itu sudah keluar dari kamar dan menutup pintu.
Kamar kembali sunyi. Queen masih duduk di atas tempat tidur dengan wajah kesal bercampur bingung. Beberapa detik kemudian ia menoleh ke arah laptop yang tergeletak di meja belajar.
"Astaga...".Ia menjatuhkan diri ke kasur. "Kenapa hidup gue jadi taruhan skripsi begini sih?"
Kini pikirannya tidak lagi sepenuhnya dipenuhi amarah. Karena sekarang ia memiliki target baru. Menyelesaikan skripsi, seketika ia juga mulai penasaran apakah Revan benar-benar akan menepati janjinya.
Setelah pintu kamar tertutup. Untuk beberapa detik Revan hanya berdiri di depan kamar Queen sambil menghela napas pelan.
Entah kenapa, setelah berbicara dengan gadis itu, pikirannya justru semakin penuh. Di dalam kamar, Queen masih keras kepala, mudah marah, dan terlalu percaya pada pacarnya.
Namun di sisi lain, gadis itu juga terlihat terluka. Dan Revan tidak menyukai kenyataan bahwa Queen merasa hidupnya sedang diputuskan oleh orang lain.
"Pak Revan!"
Teriakan kesal Queen dari dalam kamar tiba-tiba terdengar lagi.
"Jangan lupa tutup pintunya yang rapat!"
Seketika sudut bibir Revan terangkat tipis. "Iya."
Saling support sabi kali ya😉