"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Apa aku menyerah saja?
Bab 24— Apa aku menyerah saja?
"Hei pincang! Aku suka padamu."
Varisha tertidur di balik pintu kamar mandi dengan pakaian yang masih lecek.
Byur!!
Sebuah siraman air langsung mengguyur dirinya. Secara mendadak Varisha terbangun dengan kaget.
"Gimana, seger gak mandinya?" tanya Adinda yang berdiri di hadapan Varisha.
Ia tidak sendiri. Di sana juga ada Zayn yang tersenyum sinis menatap dirinya dengan hina.
"Ayo buruan bersiap, loe harus jadi asisten pribadi ghe hari ini!" ujar Adinda lalu keluar dari kamar mandi.
Varisha masih terdiam menatap mereka dengan tatapan sedih sembari mengusap wajahnya yang basah.
Zayn langsung membungkuk dan menatap wajah Varisha dari dekat.
"Nah, loe dengar sendiri, kan? Lakukan perintahnya."
Zayn ingin bangkit. Namun, tangannya ditahan oleh Varisha.
"Aku bukan pembantu kalian," tegasnya.
Zayn yang kesal langsung mencengkeram bahu Varisha kuat. Tentu saja, Varisha langsung merasa kesakitan.
Bersamaan dengan itu, Zayn langsung menempelkan wajahnya di sela leher Varisha.
Varisha memberontak, merasa sakit di area leher.
Zayn melepaskan diri lalu tersenyum sinis sembari mengusap bibirnya.
"Kamu pria brengsek, mas!" teriak Varisha menatap tajam Zayn dengan air mata di pelupuk matanya.
Zayn bisa melihat jelas hasil ulahnya sendiri yang kini membekas merah di area leher Varisha.
"Zayn sayang~" panggil Adinda manja.
Sebelum pergi, Zayn sempat menatap tajam Varisha.
Varisha yang kesal seketika meneteskan air matanya dengan kasar.
•••
Zayn berjalan dengan lengannya yang digandeng oleh Adinda. Dengan Varisha yang berjalan kesusahan di belakang mereka.
Rasanya aku ingin kabur saja, batin Varisha.
Ia tak suka melihat Zayn bersama wanita lain.
'Cemburu pun percuma, Varisha.' batinnya.
Tiba-tiba rasa pusing menghampiri dirinya.
"Hei pincang! Buruan dong!" kesal Adinda menoleh ke belakang.
Varisha berusaha berjalan lebih cepat.
Sesekali Zayn melirik ke belakang.
Melihat Varisha yang seperti biasa kesusahan berjalan dengan tongkat.
"Sayang, kamu lihatin apa sih?" rajuk Adinda.
“Tidak apa-apa kok, yang.” dusta Zayn dengan mata masih melirik ke belakang.
•••
Zayn dan Adinda duduk di kursi depan mobil. Sedangkan Varisha duduk di kursi belakang.
Varisha hanya diam menatap ke luar jendela.
"Zayn, apa kau ingin permen?" tanya Adinda.
"Mau."
"Nih, ambil sendiri." ujar Adinda yang telah memasukkan permen tersebut ke dalam mulutnya.
Bersamaan dengan itu, Varisha melihat kejadian tersebut.
Melihat Zayn yang mengambil permen dari mulut Adinda. Tentu saja membuat bibir mereka saling bersentuhan.
Buru-buru Varisha langsung membuka jendela.
Hatinya terasa sakit.
Ia pun mengeluarkan earphone dari tas kecilnya dan memasangnya di telinga.
'Aku memang bodoh.' batin Varisha.
Tak lama mereka tiba di sebuah pantai.
Pantai yang indah dan begitu ramai. Tempat yang cocok didatangi di musim panas seperti ini.
Adinda sudah mengganti pakaiannya dengan bikini. Sedangkan Zayn mengenakan celana pendek.
Tubuhnya terlihat atletis sekali.
Mereka benar-benar tampak sempurna.
Varisha yang melihat hal tersebut jadi tak percaya diri.
Ia hanya duduk di atas pasir menikmati suasana laut.
'Dibandingkan dengan Adinda, aku hanya remahan roti saja.' batin Varisha.
Ia menatap kaki kanannya.
Tiba-tiba ia merindukan Adam.
Hanya Adam yang mencintainya setulus hati.
'Saking malunya, Zayn juga malu membawaku ke mana pun.' batin Varisha lagi sembari melihat Zayn dan Adinda yang sedang berenang di dalam air.
Terlihat romantis.
Adinda mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Zayn.
Mereka lalu berciuman.
Varisha langsung membuang muka.
Ia pun beranjak pergi dari sana.
"Kau harus tahu diri, Varisha."
"Zayn tak akan bisa menerimamu. Ia begitu mencintai Adinda."
Ia sedang duduk di atas jembatan kecil yang mengarah ke tengah laut.
Ia memilih duduk di sana.
"Aku payah, ya. Aku bahkan tak bisa membuktikan cintaku tulus. Aku memang pecundang. Tapi melihat mereka, aku tak yakin dengan diriku. Perlakuannya saja kasar padaku."
“Apa aku menyerah saja?”
Ia menyeka air matanya.
Ia melihat foto dirinya dan Zayn saat hari pernikahan.
Rasa sakit di kepalanya kembali mengganggu dirinya.
"Pasti efek tidur di kamar mandi tadi malam," gumam Varisha.
Bahkan dari sini ia masih bisa melihat Adinda dan Zayn yang asyik berpacaran.
•••
"Zayn ayolah lakukan itu di sini," rengek Adinda.
Zayn tahu maksud dari ucapan Adinda.
Di dalam air memang ada banyak pasangan yang melakukan hal tidak senonoh.
"Apa kau lupa? Aku tak suka hal begituan," tegas Zayn.
Matanya sibuk menatap ke pinggir pantai.
Ia seperti sedang mencari seseorang.
Adinda kembali menarik wajah Zayn agar menatap dirinya.
"Kau ini pacarku atau bukan sih? Teman-temanku saja sudah pernah melakukannya dengan pacar mereka."
Zayn meraih tangan Adinda.
"Aku bukan mereka, sayang. Aku tak suka menyentuh sesuatu yang belum resmi di hadapan Tuhan."
Adinda masih memasang wajah masam.
"Tapi kapan kau akan menikahiku?"
"Sabar ya..." Zayn meraih wajah Adinda dengan lembut.
Namun, sorot matanya masih menatap ke pinggir pantai.
Seseorang yang ia cari sudah tidak ada di sana.
"Kamu lihatin siapa sih, sayang?" heran Adinda sembari mengikuti arah pandangan Zayn ke tepi pantai.
"Loh, si pincang itu ke mana, sayang?" Adinda juga ikut bingung.
Matanya sibuk mencari keberadaan Varisha di sekitar pantai.
"Tas aku juga sama dia."
Adinda terus mencari Varisha.
Hingga matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di dekat jembatan.
Ia melihat Varisha yang sedang mengobrol dengan seorang pria.
"Lihat tuh, ternyata dia lagi merayu pria asing di sana!" tunjuk Adinda.
Zayn mengikuti arah pandangan Adinda.
Melihat Varisha yang tampak akrab mengobrol dengan pria lain membuat sorot mata Zayn yang semula teduh berubah tajam.
"Ayo kita keluar dari air!" ajak Zayn.
"Ayo. Aku juga sudah mulai bosan. Aku juga mau marahi tuh si Varisha, bisa basah tasku dibuat olehnya," omel Adinda.
"Nggak nyangka ya, meskipun dia pincang masih ada aja yang deketin. Pakai merayu cara apa dia? Jual diri?" celetuk Adinda asal.
Mendengar pernyataan Adinda, entah kenapa semakin membuat dada Zayn panas.
Ia berjalan dari dalam air semakin cepat.
"Zayn tungguin!" gerutu Adinda yang kesusahan mengikutinya.
Namun, Zayn tak peduli.
Matanya sibuk menatap Varisha yang asyik mengobrol.
Pria itu bukan Brian, melainkan orang lain.
Dan itu adalah Antony.
"Ternyata, kamu asyik juga ya diajak ngobrol." puji Antony sambil tersenyum tipis.
Varisha ikut tersenyum.
"Kamu juga begitu."
"Ayo ikut aku!" ujar Zayn yang langsung menarik tangan Varisha dengan kasar.
Varisha tentu saja kaget dengan kedatangan Zayn yang begitu mendadak.
"Hai Zayn, kita berjumpa lagi!" sapa Antony ramah.
Zayn menatap Antony dengan kesal.
"Gue gak Sudi ketemu sama loe," sarkas Zayn.
Ia semakin menarik tangan Varisha dengan kuat, memaksa wanita itu berdiri.
Tentu saja hal itu membuat Varisha kesusahan.
"Hati-hati dong, bung. Dia itu istrimu, bukannya barang yang bisa asal ditarik begitu saja," tegur Antony.
"Bukan urusan loe," balas Zayn sengit.
Zayn membawa Varisha pergi dari sana.
Dengan Varisha yang mengikuti langkahnya dengan susah payah.
"Pelan-pelan, Zayn!" ujar Varisha.
Zayn tak peduli.
Adinda pun datang.
"Ada apa ini, Zayn?"
Ia cemburu melihat Zayn menggenggam tangan Varisha.
"Kamu pulang sendiri, ya. Aku ingin membuat perhitungan dengan cewek tukang selingkuh ini," ujar Zayn yang kembali melangkah.
"Tapi, Zayn—"
Zayn tak peduli.
Ia terus berjalan dengan Varisha yang mengikuti dari belakang dengan kesusahan.
Antony yang melihat hal itu mulai tersenyum sinis.
"Kelemahan loe masih sama kayak dulu, Zayn " gumamnya.
To Be Continued...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya