NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERINGKAT SATU PALING TENGIL

  Salsa Kirana tidak pernah membayangkan bahwa memulai hari Senin bisa terasa seberat memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Pagi itu, koridor SMA Garuda sudah ramai oleh hiruk-pikuk murid-murid yang baru saja datang. Aroma lantai yang baru dipel dan parfum remaja yang bercampur aduk memenuhi udara, tapi bagi Salsa, hanya ada satu hal yang menarik perhatiannya: papan pengumuman besar di dekat ruang guru.

  Dengan langkah yang dihentak-hentakkan, Salsa menerobos kerumunan siswa kelas sepuluh dan sebelas yang sedang asyik bergosip. Matanya yang tajam tertuju pada selembar kertas putih berstempel sekolah yang baru saja ditempel oleh petugas tata usaha. Itu adalah daftar peringkat paralel untuk ujian tengah semester kali ini. Salsa menarik napas panjang, merapikan bando birunya yang sedikit miring, lalu mulai menyusuri barisan nama dari urutan paling atas.

  Satu. Arkananta Putra. Nilai rata-rata: 98,5.

  Dua. Salsa Kirana. Nilai rata-rata: 98,2.

  Salsa memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang karena rasa kesal yang mendadak meluap. Hanya selisih nol koma tiga! Bagaimana mungkin? Dia sudah belajar sampai begadang, menghafal setiap rumus fisika sampai ke akar-akarnya, bahkan rela tidak menonton drama Korea favoritnya demi ujian ini. Sementara itu, cowok yang namanya bertengger di posisi pertama itu? Salsa yakin Arkan pasti lebih banyak menghabiskan waktunya di warung belakang sekolah sambil main game online daripada memegang buku pelajaran.

  "Aduh, ada yang mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika nih," sebuah suara berat yang sangat familiar terdengar tepat di belakang telinga Salsa.

  Salsa tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Aroma parfum maskulin yang segar tapi menyebalkan itu sudah cukup menjadi bukti. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum berbalik dan menghadapi musuh bebuyutannya.

  Arkan berdiri di sana dengan gaya andalannya. Seragam yang tidak dimasukkan dengan rapi, dasi yang hanya dikalungkan asal-asalan, dan rambut yang berantakan seperti tidak pernah tersentuh sisir. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke tembok, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan sebuah seringai tipis menghiasi wajahnya yang, sialnya, memang harus Salsa akui cukup tampan.

  "Minggir lo, Arkan. Gue lagi nggak mood bercanda," cetus Salsa sambil berusaha melewati cowok itu.

  Arkan justru sengaja menggeser tubuhnya, menghalangi jalan Salsa. "Yah, jangan galak-galak dong, Sa. Harusnya lo selamatan. Peringkat dua itu udah bagus banget buat ukuran cewek yang ambisnya minta ampun kayak lo. Ya, meskipun tetep aja di bawah gue sih."

  Salsa mendongak, menatap mata Arkan dengan tatapan membunuh. "Lo itu cuma beruntung, tahu nggak? Gue yakin lo dapet bocoran soal atau apa gitu. Nggak mungkin orang yang kerjaannya cuma tidur di kelas bisa dapet nilai hampir sempurna."

  Arkan tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah tapi di telinga Salsa itu seperti ejekan yang paling menyakitkan. "Bocoran? Sa, lo tahu sendiri otak gue emang udah dirancang buat jadi jenius tanpa perlu usaha keras. Daripada lo stres mikirin nilai gue, mending lo mikirin gimana cara dapet parkiran pagi ini. Tadi gue liat motor matic lo kepanasan di ujung lapangan karena spot favorit lo udah gue tempatin."

  Mata Salsa membulat. "Arkan! Lo sengaja kan? Gue udah dateng pagi-pagi banget biar bisa dapet parkiran di bawah pohon itu!"

  "Siapa cepat dia dapat, Salsa Kirana," Arkan mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan santai meninggalkan Salsa yang masih berdiri mematung sambil mengepalkan tangan.

  Rasanya Salsa ingin sekali melemparkan sepatu ketsnya ke arah kepala Arkan yang sok tahu itu. Sejak mereka masuk ke SMA Garuda, Arkan selalu menjadi penghalang bagi Salsa. Cowok itu adalah definisi dari kata menyebalkan. Dia pintar tanpa usaha, populer tanpa perlu jadi ketua OSIS, dan yang paling parah, dia selalu tahu cara membuat emosi Salsa meledak-ledak hanya dengan satu kalimat pendek.

  Salsa berjalan menuju kelasnya, 11-IPA-1, dengan perasaan dongkol. Dia duduk di bangkunya dan langsung mengeluarkan buku paket Fisika yang tebalnya sudah seperti bantal. Dia harus belajar lebih keras lagi. Dia tidak boleh kalah lagi di ujian berikutnya.

  Suasana kelas mulai ramai saat bel masuk berbunyi. Bu Ratna, guru fisika yang dikenal sangat disiplin, masuk ke dalam kelas dengan membawa setumpuk map berwarna cokelat. Salsa langsung duduk tegak, menyiapkan alat tulisnya, sementara di pojok belakang, dia bisa melihat Arkan yang baru saja masuk dengan santai, bahkan sempat-sempatnya menyapa teman-temannya dengan tos yang berisik.

  "Selamat pagi semuanya," suara Bu Ratna memecah keramaian. "Hari ini saya akan membagikan hasil proyek mandiri kalian yang kemarin. Tapi sebelum itu, saya punya pengumuman penting."

  Salsa merasa firasatnya tidak enak. Biasanya, kalau Bu Ratna sudah bicara dengan nada serius seperti ini, pasti ada sesuatu yang besar akan terjadi.

  "Sekolah kita akan mengadakan proyek kolaborasi sains tingkat kota bulan depan. Nilainya akan sangat besar, bahkan mencakup empat puluh persen dari nilai rapor semester ini. Karena proyek ini sangat kompleks, saya tidak akan membiarkan kalian memilih kelompok sendiri. Saya sudah membagi kalian menjadi pasangan-pasangan berdasarkan hasil peringkat paralel kemarin," jelas Bu Ratna.

  Salsa menahan napas. Jantungnya berdebar tidak karuan. Dia punya perasaan buruk tentang "berdasarkan peringkat paralel" ini.

  "Peringkat pertama akan berpasangan dengan peringkat kedua, peringkat ketiga dengan peringkat keempat, dan seterusnya. Ini dilakukan agar kalian bisa saling mendukung dan menghasilkan karya yang maksimal," lanjut Bu Ratna sambil mulai membacakan daftar nama.

  Salsa merasa telinganya berdenging. Tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi.

  "Kelompok satu... Arkananta Putra dan Salsa Kirana."

  Dunia Salsa seolah berhenti berputar. Dia menoleh ke belakang dengan gerakan lambat, dan di sana, di bangku paling belakang, dia melihat Arkan sedang menatapnya sambil memberikan senyum kemenangan yang paling menyebalkan yang pernah ada. Cowok itu bahkan sempat melambaikan tangannya dengan santai, seolah-olah baru saja memenangkan undian berhadiah miliaran rupiah.

  "Bu! Saya keberatan!" Salsa langsung berdiri, membuat seluruh isi kelas menoleh ke arahnya.

  Bu Ratna menaikkan kacamatanya, menatap Salsa dengan heran. "Keberatan kenapa, Salsa? Arkan adalah siswa dengan nilai tertinggi. Kalian berdua adalah tim impian untuk kelas ini."

  "Tapi Bu... kami... kami nggak cocok! Maksud saya, gaya belajar kami beda banget. Saya nggak bisa kerja bareng orang yang nggak disiplin kayak Arkan!" Salsa mencoba mencari alasan yang masuk akal, padahal dalam hatinya dia hanya ingin teriak karena tidak sudi menghabiskan waktu berjam-jam dengan cowok itu.

  Arkan tiba-tiba ikut bicara, suaranya terdengar sangat tenang tapi penuh provokasi. "Saya sih nggak masalah, Bu. Saya justru senang bisa bantu Salsa biar nilainya nggak makin merosot. Kasihan kalau dia harus peringkat dua terus selamanya."

  "Lo bilang apa tadi?" Salsa berbalik, menunjuk Arkan dengan jarinya.

  "Sudah, sudah!" Bu Ratna mengetukkan penggaris kayu ke meja. "Salsa, keputusan saya sudah bulat. Proyek ini harus dikerjakan secara berkelompok. Kalau kamu tidak mau, silakan, tapi nilai fisika kamu semester ini akan saya kosongkan untuk bagian proyek kolaborasi. Apa kamu mau?"

  Salsa terdiam. Nilai kosong? Itu artinya peringkatnya akan anjlok drastis. Dia bisa saja terlempar dari sepuluh besar. Dengan berat hati, Salsa kembali duduk di bangkunya sambil menggerutu pelan. Dia merasa ini adalah konspirasi alam semesta untuk menghancurkan hidupnya yang tenang.

  Sepanjang pelajaran, Salsa tidak bisa fokus. Pikirannya melayang membayangkan betapa mengerikannya hari-hari ke depan yang harus dia lalui bersama Arkan. Mereka harus melakukan penelitian, membuat laporan, dan presentasi bersama. Itu artinya dia harus bertemu Arkan di luar jam sekolah. Membayangkannya saja sudah membuat Salsa ingin migrain.

  Bel istirahat berbunyi, dan seperti yang sudah diduga, Arkan langsung menghampiri meja Salsa. Cowok itu duduk di kursi kosong di depan Salsa, menatapnya dengan dagu yang ditumpu oleh tangan.

  "Jadi, partner, mau mulai kapan kita ngerjain tugasnya?" tanya Arkan dengan nada yang dibuat-buat manis.

  "Jangan panggil gue partner. Kita cuma rekan kerja karena terpaksa," balas Salsa ketus sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan kasar.

  "Galak banget sih. Padahal gue udah punya ide bagus buat proyek kita. Gimana kalau kita bahas nanti siang di kafe deket sekolah? Gue yang traktir deh, sebagai tanda perdamaian."

  Salsa menghentikan gerakannya. Dia menatap Arkan dengan curiga. "Lo? Traktir gue? Pasti ada maunya ya? Lo mau gue yang ngerjain semua laporannya sementara lo cuma numpang nama, kan? Ngaku lo!"

  Arkan tertawa terbahak-bahak, membuat beberapa siswa yang masih ada di kelas menoleh ke arah mereka. "Sumpah ya, Sa, isi kepala lo itu negatif banget sama gue. Gue cuma mau kita dapet nilai bagus. Meskipun gue pinter, gue tetep butuh ketelitian lo yang super duper berlebihan itu buat nyusun laporan. Jadi, jam empat di Kafe Kopi Senja, oke?"

  "Gue nggak bisa jam empat. Gue ada les bahasa Inggris," jawab Salsa dingin.

  "Jam tujuh malem?"

  "Nggak boleh keluar malem sama Papa."

  Arkan menghela napas, terlihat sedikit gemas. "Terus maunya kapan, Nyonya Besar?"

  "Besok pulang sekolah di perpustakaan. Nggak ada kafe-kafean, nggak ada traktiran. Kita fokus kerja, titik."

  Arkan mengangkat bahu. "Oke, terserah lo. Tapi jangan nyesel ya kalau di perpus lo bakal bosen liat muka gue yang ganteng ini dalam suasana hening."

  Arkan bangkit dari duduknya, tapi sebelum dia pergi, dia membungkuk sedikit sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Salsa. "Satu lagi, Sa. Jangan terlalu benci sama gue. Kata orang, benci sama cinta itu bedanya tipis banget. Gue nggak mau tanggung jawab kalau tiba-tiba lo malah naksir sama gue pas lagi ngerjain rumus bareng."

  Salsa merasakan panas menjalar ke pipinya. Bukan karena tersipu, tapi karena benar-benar marah. "Dalam mimpi lo, Arkan! Gue lebih milih jomblo seumur hidup daripada suka sama cowok tengil kayak lo!"

  Arkan hanya tertawa sambil berjalan keluar kelas, meninggalkan Salsa yang sedang berusaha mengatur napasnya agar tidak meledak. Teman sebangku Salsa, Dini, yang sejak tadi hanya menyimak, akhirnya berani bicara.

  "Sa, lo sadar nggak sih? Tiap kali kalian berantem, suasana kelas langsung jadi kayak ada percikan api gitu. Seru banget tau liatnya," goda Dini.

  "Seru apanya? Yang ada gue bisa mati muda kalau tiap hari harus ngadepin dia, Din. Lo liat sendiri kan gimana kelakuannya? Dia itu nggak punya sopan santun sama sekali!"

  "Tapi dia pinter banget, Sa. Lo harus akuin itu. Selama ini kan nggak ada yang bisa ngalahin lo di pelajaran hitungan, cuma dia doang yang bisa. Mungkin kalian emang ditakdirin buat jadi rival abadi."

  Salsa mendengus. "Rival sih rival, tapi kenapa harus jadi partner tugas juga? Ini namanya ujian hidup yang sebenernya."

  Sisa hari itu di sekolah terasa berjalan sangat lambat bagi Salsa. Setiap kali dia melewati koridor, dia merasa seperti sedang diawasi. Dan benar saja, beberapa kali dia berpapasan dengan Arkan yang sedang asyik bermain basket di lapangan atau sekadar nongkrong di kantin, cowok itu selalu menyempatkan diri untuk sekadar melambai atau memberikan senyum miring yang membuat Salsa ingin melemparnya dengan botol minum.

  Salsa mencoba mengalihkan pikirannya dengan pergi ke kantin bersama Dini. Dia memesan bakso super pedas untuk melampiaskan kekesalannya. Sambil mengunyah, dia terus memikirkan strategi bagaimana caranya agar proyek ini cepat selesai tanpa dia harus banyak berinteraksi dengan Arkan.

  "Gue bakal bagi tugasnya secara adil," gumam Salsa di sela-sela makannya. "Gue bagian teori dan penyusunan laporan, dia bagian eksperimen dan data. Jadi kita nggak perlu sering-sering ketemu."

  "Emang bisa gitu? Proyek kolaborasi biasanya butuh diskusi intens loh, Sa," sahut Dini sambil meminum es tehnya.

  "Gue bakal usahain bisa. Gue nggak mau lama-lama deket dia. Lo tahu nggak, tadi pagi dia sengaja nempatin tempat parkir favorit gue? Itu bener-bener tindakan perang, Din!"

  Dini terkekeh. "Masalah parkiran aja lo anggep perang. Lo berdua itu lucu ya. Kayak kucing sama anjing. Padahal kalau dipikir-pikir, kalian itu sebenernya mirip."

  Salsa tersedak kuah baksonya. "Mirip dari mananya? Gue rajin, dia pemalas. Gue teratur, dia berantakan. Gue sopan, dia... ah sudahlah, nggak usah disebut."

  "Mirip pinternya, Sa. Dan mirip keras kepalanya. Nggak ada yang mau ngalah," Dini menepuk-nepuk bahu Salsa. "Saran gue sih, mending lo coba buat lebih santai dikit. Siapa tahu Arkan nggak seburuk yang lo pikir."

  Salsa hanya memutar bola matanya. Tidak mungkin. Arkananta Putra adalah gangguan terbesar dalam hidupnya yang selama ini tertata rapi. Dan mulai besok, gangguan itu akan masuk lebih dalam ke dalam rutinitasnya.

  Malam harinya di rumah, Salsa tidak bisa tidur nyenyak. Dia terus terbayang-bayang wajah tengil Arkan di papan pengumuman tadi pagi. Dia membuka laptopnya, mencoba mencari referensi untuk proyek sains mereka. Topiknya tentang energi terbarukan. Salsa sudah punya beberapa ide cemerlang, tapi dia ragu apakah Arkan akan setuju atau malah menertawakan idenya.

  Dia mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi pesan singkat. Dia mencari kontak bernama Arkan yang dia simpan dengan nama MANUSIA PALING MENYEBALKAN. Dia ragu-ragu ingin mengirim pesan.

  Salsa: Besok jangan telat ke perpus. Gue udah buat list alat yang perlu kita beli.

  Dia menunggu beberapa menit. Centang dua biru muncul. Arkan sedang mengetik.

  Manusia Paling Menyebalkan: Siap, Bos. Perlu gue bawain bunga juga nggak biar suasana diskusinya lebih romantis?

  Salsa melempar ponselnya ke atas kasur. "Bener-bener ya nih cowok! Nggak bisa serius dikit apa?" teriaknya frustrasi ke arah bantal.

  Dia mengambil kembali ponselnya dan membalas dengan singkat.

  Salsa: Bawa otak lo aja. Itu udah lebih dari cukup.

  Arkan tidak membalas lagi, hanya mengirimkan stiker kucing lucu yang sedang hormat. Salsa menghela napas panjang, mencoba memejamkan mata. Dia tahu, mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. SMA Garuda akan menjadi saksi bisu bagaimana dua orang yang saling membenci ini dipaksa untuk bekerja sama.

  Antara ambisi Salsa untuk menjadi yang terbaik dan sikap santai Arkan yang selalu berhasil memenangkan segalanya, ada sebuah dinamika yang tanpa disadari mulai terbentuk. Salsa mungkin merasa sangat membenci Arkan saat ini, tapi dia tidak tahu bahwa di balik sikap tengilnya, Arkan punya alasan tersendiri kenapa dia selalu suka mengganggu cewek ambisius itu.

  Bagi Arkan, Salsa adalah satu-satunya orang yang bisa mengimbangi otaknya, dan melihat Salsa marah adalah hiburan tersendiri yang tidak bisa dia temukan di mana pun. Dan bagi Salsa, Arkan adalah tantangan terbesar yang harus dia taklukkan, meski dia belum sadar bahwa terkadang, musuh yang paling kita benci adalah orang yang paling kita butuhkan untuk membuat hidup jadi lebih berwarna.

  Pagi esok akan segera datang, dan babak baru persaingan mereka akan segera dimulai di sudut perpustakaan sekolah yang tenang, yang mungkin tidak akan setenang biasanya saat mereka berdua ada di sana. Salsa hanya bisa berharap dia tidak akan kehilangan akal sehatnya sebelum proyek ini selesai.

  Sementara itu, di rumahnya yang cukup mewah namun terasa sepi, Arkan sedang menatap layar ponselnya, melihat foto profil Salsa yang tampak serius dengan buku di tangannya. Dia tersenyum kecil. "Besok bakal jadi hari yang panjang, Sa. Siap-siap aja ya," gumamnya pelan sebelum akhirnya mematikan lampu kamar dan tidur dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

  Rivalitas ini memang baru dimulai, tapi benih-benih dari sesuatu yang lain mungkin sudah lama tertanam, menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh di tengah adu mulut dan perdebatan tentang rumus-rumus fisika yang rumit. Dan di SMA Garuda, semua orang tahu, kalau Arkan dan Salsa sudah bertemu, suasana tidak akan pernah membosankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!