NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Rio

Kalimat terakhir itu menghancurkan pertahanan diri Rio seketika. Ancaman itu sudah bukan lagi soal geng, soal kekuasaan, atau soal harga diri. Ini sudah masuk ranah kriminal. Ini ancaman nyawa. Kevin dan Rian, atas perintah Raka, benar-benar mengancam keselamatan ibunya. Mereka mengintimidasi seorang wanita tua yang tidak tahu apa-apa, hanya untuk menekan Rio.

Kemarahan Rio kini berubah menjadi amarah dingin yang mematikan. Matanya menajam, tatapannya kosong namun mengerikan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena keinginan meledak untuk segera menghancurkan mereka semua sampai tidak ada sisa.

Namun, saat ia melihat air mata ibunya yang jatuh membasahi pipi keriput itu, Rio sadar. Ia tidak boleh marah di sini. Ia tidak boleh membiarkan ibunya melihat sisi gelapnya. Ia harus menenangkan wanita itu dulu, apa pun yang terjadi.

Rio berlutut di depan ibunya, memegang kedua tangan wanita itu dengan lembut dan erat, menatap mata ibunya dalam-dalam.

"Bu... dengerin Rio baik-baik ya," ucap Rio dengan suara tegas namun penuh kasih sayang, berusaha menyalurkan ketenangannya ke dalam nada bicaranya. "Semua omongan mereka itu gak bener. Itu cuma fitnah, Bu. Itu cuma omongan orang jahat yang gak suka sama Rio karena Rio rajin belajar, karena Rio mau maju. Mereka cuma mau nakut-nakutin Ibu biar Rio takut, biar Rio berhenti sekolah, biar Rio jadi penakut. Itu semua bohong, Bu."

"Tapi... mereka kelihatan serius banget, Rio..." isak Bu Sari pelan. "Mata mereka... mata mereka jahat, Nak. Ibu takut... Ibu takut kenapa-napa sama kamu. Ibu cuma punya kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu... Ibu gimana?"

Rio mengusap air mata ibunya dengan ibu jarinya, tersenyum lembut meski hatinya sedang berdarah.

"Gak bakal ada apa-apa sama Rio, Bu. Janji. Rio anak kuat. Rio anak pinter. Rio tau mana yang bener mana yang salah. Rio gak bakal berantem sembarangan, Rio gak bakal bikin masalah. Dan yang paling penting... Rio bakal jagain Ibu. Rio bakal pastiin gak ada satu orang pun, satu nyamuk pun, yang berani nyakitin Ibu atau ngomong kasar sama Ibu. Mereka cuma berani ngomong doang, Bu. Mereka pengecut. Kalau mereka beneran berani, mereka bakal ngomong langsung sama Rio, bukan sama Ibu."

Rio bangkit berdiri, memeluk ibunya erat-erat, berusaha menanamkan rasa aman yang sepenuh hati.

"Udah ya, jangan nangis lagi. Nanti sakit matanya. Mulai besok, Rio bakal anter jemput Ibu ke pasar. Gak peduli jam berapa, Rio bakal nemenin. Di rumah, pintu dan jendela harus dikunci rapat dari dalem. Kalau ada orang asing atau orang yang Ibu gak kenal dateng... jangan dibukain, langsung panggil tetangga atau teriak aja. Dan percaya sama Rio... Rio bakal selesain masalah ini secepatnya, biar kita bisa tenang lagi kayak dulu."

Bu Sari mengangguk pelan dalam pelukan anaknya, perlahan ketakutannya mereda tergantikan oleh rasa percaya yang besar pada anak semata wayangnya itu. Ia tahu Rio bukan pembohong. Ia tahu anaknya anak yang baik.

"Iya... Ibu percaya sama kamu, Rio. Maafin Ibu ya... Ibu cuma khawatir banget."

"Gak apa-apa, Bu. Ibu khawatir wajar kok. Udah yuk, makan malem ya. Rio laper banget nih," kata Rio sambil melepaskan pelukan dan kembali tersenyum ceria.

Namun, saat ibunya berbalik badan menuju dapur untuk menyiapkan makanan, senyum itu langsung lenyap dari wajah Rio. Punggungnya menegang kaku, matanya menatap tajam ke arah jalan raya yang terlihat samar dari balik jendela. Di balik kegelapan malam itu, Rio tahu Raka sedang tertawa puas. Raka pikir dia sudah menang. Raka pikir dengan mengancam ibunya, Rio akan menyerah, akan tunduk, akan jadi budak.

"Lo salah, Raka..." batin Rio bergemuruh, suaranya dingin dan penuh tekad besi. "Lo pikir ancaman ini bikin gue takut? Lo pikir ini bikin gue mundur? Lo salah besar. Lo baru aja ngelakuin hal paling bodoh dalam hidup lo. Lo nyentuh ibunya gue. Lo bikin urusan ini bukan lagi soal kekuasaan atau gengsi. Sekarang urusan ini jadi pribadi banget. Dan sekarang... gue gak bakal lagi nahan diri. Gue gak bakal lagi mikirin aturan sekolah, mikirin aturan main, atau mikirin siapa yang bener siapa yang salah. Lo mau perang kotor? Oke. Gue bakal kasih lo perang kotor yang lo gak bakal pernah lupain sampe lo mati."

Sepanjang makan malam itu, Rio makan dengan diam, jarang bicara, dan pikirannya melayang jauh. Di kepalanya, strategi baru mulai tersusun dengan cepat, jauh lebih kejam, jauh lebih terencana, dan jauh lebih mematikan dibandingkan sebelumnya. Ia tidak akan menyerang Raka sembarangan. Ia akan menyerang di titik paling lemah Raka—persis seperti cara Raka menyerangnya.

Setelah makan selesai dan ibunya masuk ke kamar untuk beristirahat dengan hati yang sedikit lebih tenang, Rio duduk sendirian di beranda rumah yang remang-remang. Ia menatap langit malam yang penuh bintang, memegang ponsel genggamnya erat-erat. Jari-jarinya bergerak lincah menekan tombol-tombol kecil, mengirim pesan singkat yang sangat penting ke dua nomor yang sudah ia simpan: Bara dan Dinda.

Pesan ke Bara:

"Raka udah main kotor. Dia kirim anak buahnya ke rumah gue, ngancem nyawa Ibu gue. Batas udah lewatin. Mulai sekarang, kita ubah strategi. Kita gak main aman lagi. Besok pagi, kumpulin semua pasukan Macan Putih. Kumpulin Gilang juga kalau bisa. Kita harus gerak cepet. Gue mau tau semuanya tentang Raka: di mana dia tinggal, siapa keluarganya, apa kebiasaan dia di luar sekolah, siapa koneksi dia. Gue mau tau segalanya besok pagi. Ini urusan hidup mati."

Pesan ke Dinda:

"Dinda, minta tolong banget. Pake koneksi OSIS dan temen-temen cewek lo, cari tau rahasia Raka. Semua yang gak orang lain tau. Dia punya musuh di luar? Dia punya kebiasaan jelek? Dia punya rahasia aib? Apa aja. Raka udah nyakitin orang yang gue sayang. Gue harus jatuhin dia secepatnya. Hati-hati, jangan sampe ketauan."

Pesan terkirim. Rio meletakkan ponsel itu di meja kecil di sampingnya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap jalanan sepi di depan rumah. Angin malam berhembus dingin menerpa wajahnya, tapi Rio sama sekali tidak merasakannya. Api pembalasan dendam di dalam dadanya sudah cukup untuk membakar segala rasa dingin dan rasa takut.

Ia teringat kembali pesan Bara kemarin: "Takhta di balik seragam itu penuh darah dan dosa."

Rio tersenyum sinis ke arah kegelapan.

"Kalau emang harus penuh darah dan dosa buat ngelindungin orang yang gue cinta... ya udah," bisik Rio pelan pada dirinya sendiri, matanya menyala terang seperti sepasang bara api di malam yang gelap. "Gue bakal ambil takhta itu. Gue bakal ambil semuanya. Dan gue bakal pastiin... Raka bakal nyesel banget pernah lahir ke dunia ini, apalagi pernah berani nyentuh keluarga gue."

Di kejauhan, seekor burung hantu bersuara panjang, memecah kesunyian malam. Di sekolah, di rumah mewahnya, Raka mungkin sedang tidur nyenyak dengan mimpi kemenangan. Tapi malam itu, di sebuah rumah sederhana di gang sempit, lahirlah musuh terbesarnya—seseorang yang bukan lagi sekadar anak baru yang berani melawan, melainkan seseorang yang berubah menjadi badai pembalasan yang tak terhentikan.

Perang sesungguhnya baru saja benar-benar dimulai. Dan kali ini, tidak ada lagi aturan main. Tidak ada lagi wasit. Tidak ada lagi belas kasihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!