Judul: Napas Terakhir Lumina
Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Gema di Balik Reruntuhan
Debu obsidian dan salju kelabu masih menari-nari di udara, menciptakan tirai buram yang menutupi sisa-sisa kehancuran Kuil Air Mata. Keheningan yang menyusul ledakan Jantung Kegelapan terasa lebih menyakitkan daripada dentuman perang mana pun. Kai berlutut di tengah reruntuhan altar, napasnya tersengal, paru-parunya terasa seperti menghirup serpihan kaca.
Tangannya yang melepuh masih gemetar hebat. Di bawah lututnya, ia melihat jubah putih Sena. Jubah itu robek, ternoda abu, dan kosong. Tidak ada tubuh, tidak ada jejak sihir, hanya kain tak bernyawa yang tertinggal sebagai saksi bisu pengorbanan sang mentor.
"Guru..." bisik Kai. Suaranya kering, pecah oleh keputusasaan yang merambat naik dari ulu hatinya.
Ia mencoba bangkit, namun rasa sakit yang tajam menusuk dari telapak tangannya. Kai menjerit kecil dan melihat tangannya sendiri.
Pecahan kristal hitam itu—serpihan kecil dari Jantung Kegelapan—telah tertanam dalam di dagingnya. Urat-urat di lengannya kini menghitam, berdenyut dengan irama ungu yang jahat, seolah-olah kristal itu telah menemukan tempat tinggal baru di dalam aliran darahnya.
"Kai! Kai, kau di mana?!"
Suara Elara membelah kabut. Kai melihat sosok wanita itu berlari menembus reruntuhan, diikuti oleh Mara dan Jace yang nampak kelelahan. Saat Elara sampai di hadapan Kai, ia langsung jatuh berlutut dan memeluk muridnya itu.
"Syukurlah... syukurlah kau selamat," isak Elara. Namun, saat tatapannya jatuh pada jubah Sena yang kosong, pelukannya mengendur. Wajahnya berubah pucat pasi.
"Di mana dia, Kai? Di mana Sena?"
Kai hanya bisa menggeleng pelan, air mata mulai mengalir membelah debu di pipinya. "Dia melindungi aku... saat Jantung itu meledak... dia hilang."
Bayangan yang Tak Mati
Mara segera mendekat, mencoba menyentuh tangan Kai yang terluka untuk merapalkan sihir penyembuh. Namun, saat jemari Mara bersentuhan dengan kulit Kai, sebuah percikan energi ungu meledak. Mara terlempar mundur, tangannya mengalami luka bakar ringan.
"Apa itu tadi?" Jace bertanya, tangannya refleks memegang hulu pedang, matanya menatap waspada pada tangan Kai yang menghitam.
"Jangan mendekat," bisik Kai, suaranya terdengar berbeda—lebih dingin, lebih berat.
"Ada sesuatu yang salah. Aku bisa merasakannya. Dia... dia masih di sini."
Elara menatap tangan Kai dengan ngeri.
Sebagai ahli sihir kuno, ia mengenali tanda-tanda itu. "Lilith tidak hancur bersama batunya. Dia mengikat sisa esensinya pada artefak itu... dan sekarang kau membawanya di dalam dirimu, Kai."
Kai mencoba berbicara, namun kepalanya mendadak didera rasa pening yang luar biasa. Pandangannya berputar. Di dalam kegelapan pikirannya, ia melihat bayangan Lilith sedang tersenyum, duduk di atas takhta yang terbuat dari kenangan-kenangan pahit Kai.
"Kau adalah wadah yang sempurna, Penjaga Kecil," suara Lilith bergema di dalam tengkoraknya, halus dan berbisa. "Cahayamu yang murni adalah makanan terbaik bagi kegelapanku."
"Keluar dari kepalaku!" teriak Kai, memegangi kepalanya dengan tangan yang menghitam.
Kepulangan yang Pahit
Perjalanan pulang ke Hutan Lumina tidak terasa seperti kemenangan. Meski pasukan sekte Lilith telah kocar-kacir kehilangan arah tanpa pemimpin mereka, suasana di rombongan Kai sangatlah kelam. Mereka membawa berita tentang hilangnya Sena—sosok yang merupakan tiang penyangga moral bagi seluruh dunia cahaya.
Saat mereka melewati gerbang Hutan Lumina, tidak ada perayaan. Penduduk hutan menatap mereka dengan cemas. Pohon raksasa pusat nampak masih sakit, daun-daunnya yang menguning berguguran seperti air mata emas yang layu.
Kai dikurung di dalam Menara Isolasi di puncak tertinggi hutan. Elara bersikeras bahwa ini demi kebaikan Kai, agar pengaruh Lilith tidak menyebar ke akar pohon pusat.
Namun bagi Kai, ini terasa seperti pengkhianatan. Ia merasa seperti monster yang dibuang oleh keluarganya sendiri.
"Kami sedang mencari cara untuk mengeluarkan pecahan itu, Kai," ucap Elara dari balik jeruji sihir yang berpendar biru. Matanya tampak sangat lelah, ia nampak menua sepuluh tahun hanya dalam beberapa hari.
"Guru Sena... apa ada kabar?" tanya Kai lirih.
Elara menunduk. "Jace masih mencari di reruntuhan Kuil. Tapi... ledakan itu adalah manipulasi dimensi. Ada kemungkinan Sena terlempar ke Ketiadaan."
Kai terdiam. Setiap kali ia menutup mata, ia merasakan denyut kristal di tangannya semakin kuat. Ia mulai bisa melihat dalam gelap tanpa sihir cahaya. Ia mulai bisa mendengar bisikan-bisikan pohon yang sedang menderita, bukan sebagai nyanyian, melainkan sebagai jeritan kemarahan.
Musuh dalam Selimut
Malam ketiga di menara, Kai terbangun oleh suara desiran halus. Pintu selnya terbuka. Bukan oleh sihir Elara, tapi oleh bayangan yang merayap di lantai.
Sesosok figur masuk. Kai mengira itu adalah Lilith yang bermanifestasi, namun saat figur itu mendekat ke cahaya bulan, ia terkejut. Itu adalah Lia, gadis pengindera energi yang ikut dalam misi Oakhaven.
"Lia? Apa yang kau lakukan di sini?"
Lia tidak menjawab. Matanya yang biasanya bening kini sepenuhnya ungu. Ia mengangkat tangannya, dan Kai menyadari bahwa Lia adalah pengikut sekte yang selama ini belum terdeteksi.
"Dia menunggumu, Kai," ucap Lia dengan nada monoton. "Ratu tidak akan membiarkanmu membusuk di sini. Hutan ini lemah. Mereka takut pada kekuatanmu. Tapi kami tidak."
Lia menyentuh jeruji sihir Elara, dan dengan sekali sentuhan, energi pelindung itu terserap habis ke dalam tubuhnya. "Ayo. Mari kita jemput Guru Sena."
Mendengar nama Sena, Kai bangkit. "Kau tahu di mana Guru?"
Lia tersenyum misterius. "Dia ada di tempat di mana cahaya dan kegelapan bertemu. Tempat yang hanya bisa dibuka oleh kunci yang ada di tanganmu."
Kai mengikuti Lia keluar dari menara, menyelinap di antara bayang-bayang pohon raksasa. Namun, saat mereka sampai di kaki pohon pusat, Kai menyadari bahwa Lia telah menjebaknya. Di sana sudah berdiri sisa-sisa komandan sekte Lilith. Mereka tidak menyerang Kai; mereka justru berlutut.
"Selamat datang, Tuan Muda," ucap salah satu komandan. "Mari kita selesaikan apa yang dimulai Ratu."
Kai merasakan tangan hitamnya berdenyut panas. Tiba-tiba, dari dalam akar pohon pusat, muncul sebuah retakan dimensi berwarna ungu gelap. Di dalam retakan itu, Kai melihat sosok Sena. Tapi Sena tidak sedang ditawan.
Sena berdiri dengan baju zirah hitam yang sama dengan milik Lilith, matanya memancarkan cahaya ungu yang menyilaukan. Di tangannya, ia memegang tongkat yang kini siap menerima pecahan terakhir yang ada di tangan Kai.
"Kai..." suara Sena terdengar berat, seperti guntur yang jauh. "Berikan pecahan itu padaku. Mari kita akhiri penderitaan dunia ini dengan kegelapan yang abadi."
Kai mundur selangkah, jantungnya berpacu hebat. Apakah itu benar-benar Sena yang telah berpindah pihak, ataukah Lilith sedang memainkan trik visual yang paling kejam? Di saat yang sama, Elara dan para Penjaga Cahaya lainnya muncul dari kegelapan, mengepung tempat itu.
"Kai, jangan dengarkan dia! Itu bukan Sena!" teriak Elara.
Namun, Sena (atau mahluk yang menyerupainya) mengangkat tangannya, dan energi yang keluar darinya adalah teknik rahasia "Napas Matahari" yang hanya diketahui oleh Sena dan Kai—namun kini dalam versi hitam yang menghancurkan.
"Jika itu bukan dia, bagaimana dia bisa tahu mantra ini, Elara?" tanya Kai dengan suara bergetar.
Pecahan di tangan Kai mulai bersinar terang, menarik tubuh Kai menuju retakan dimensi itu. Kai harus memilih: menyerang sosok yang sangat ia cintai, atau menyerah pada tarikan kegelapan demi bisa menyentuh mentornya sekali lagi. Di saat kritis itu, kristal di tangan Kai meledak keluar dari kulitnya, berubah menjadi belati hitam yang kini tertuju tepat ke jantung Elara, digerakkan oleh kehendak yang bukan milik Kai.
"Kai! Berhenti!" teriak Elara, namun belati itu sudah meluncur.
jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.