Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fist Crush, First Love, First Heartbreaker
"Ehem!" Ren membersihkan kerongkongannya yang tiba-tiba serak.
"Maaf atas kelancangan saya telah mencampuri urusan pribadi Anda," kata Ren datar. Lia terdiam.
"Saya akan menerima hukuman sesuai kontrak," lanjut Ren sambil berjalan menuju sofa ruang tengah, mengambil jas dan tas kerjanya, lalu masuk ke kamarnya.
"Hukuman..." gumam Lia sambil menatap ponselnya lalu menatap piring bekas makan Ren.
"Urusan pribadi? Bukankah setelah menikah seharusnya kita tak punya privasi apapun terhadap pasangan? Tapi... pernikahanku spesial. Kami bahkan tak perlu memikirkan keturunan," gumam Lia sambil membereskan meja makan.
Saat Lia akan berjalan ke dapur, dia melirik sejenak ke arah ponselnya di atas meja makan.
"Kak Radit jelas nggak akan nelepon aku lagi setelah Tuan Muda mengatakan hal itu tadi kan?" tanya Lia pada dirinya sendiri lalu berjalan menuju dapur.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Ren berjalan mondar-mandir, merutuki tindakannya yang tak dapat dia pahami sendiri. Ada rasa kesal saat melihat Lia terlihat terganggu dengan dering ponselnya.
"Dia yang terganggu. Kenapa aku yang jadi kesal?" tanya Ren pada dirinya sendiri, bingung dengan perasaannya.
"Aku cuma ingin membantunya. Ya. Membantu. Dengan begitu, pria itu tak akan menghubunginya lagi kan? Harusnya dia berterimakasih padaku," gumam Ren, mencoba membela diri atas tindakannya.
Ren mendudukkan dirinya di tepi tempat tidurnya lalu mengusap wajahnya kasar. Ren mencoba memahami perasaannya yang membingungkan. Pagi ini, dia merasa kesal karena seorang pria menarik lengan Lia di dalam lift. Karena itu, Ren tidak ragu mendaratkan kecupan tipis di bibir Lia. Sore ini, dia lagi-lagi merasa kesal karena pria yang sama terus menelepon Lia hingga membuat Ren mengatakan hal yang mungkin membuat pria itu menjauh dari Lia.
"Bagaimana kalau pria itu kekasihnya? Mereka sedang berantem. Dan keadaan semakin buruk dengan sikap ku?" gumam Ren.
"Tunggu. Dia bilang dia belum pernah pacaran sebelumnya. Jadi, pria itu..."
Ren berusaha mengingat obrolannya dengan Lia seputar pria yang disukainya.
'Dia pria yang menolaknya? Kenapa sekarang menghubunginya lagi? Dia mau mempermainkan perasaannya?'
***
Lia memantas diri di cermin. Dia tak begitu yakin apakah mengenakan gaun berwarna hitam di acara makan malam keluarga merupakan hal yang pantas. Lia hanya sempat memasukkan satu gaun saat berkemas di malam sebelum pernikahannya. Dan gaun hitam itu adalah gaun terbaru yang belum sempat ia pakai.
"Aku rasa nggak masalah. Lagi pula gaun ini cukup sopan. Atau malah... ini terlalu berlebihan?" gumam Lia sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Tok... Tok..." pintu kamar Lia diketuk.
"Ah! Ya. Sebentar, Tuan Muda," kata Lia sambil mengambil tas tangan dan ponselnya.
Lia membuka pintu kamarnya perlahan. Ren terlihat mengenakan setelan jas mahal seperti yang biasa dia pakai. Lia berjalan perlahan keluar dari kamar menuju ruang tamu dimana Ren berdiri menunggu sambil menatap smart watchnya.
"Maaf, Tuan. Saya ragu apakah gaun ini pantas dipakai untuk menemui Tuan Besar?" tanya Lia ragu-ragu.
Ren menoleh ke arah Lia. Ren terpaku saat menatap Lia yang mengenakan gaun hitam satin panjang midi dengan lengan panjang tipis dan detail mutiara kecil di manset. Riasan Lia yang minimalis dan segar, membuat penampilan Lia terlihat sangat berbeda dari hari-hari biasa. Ren tak berkedip menatap keanggunan Lia malam itu.
"Tuan?" panggil Lia sambil melambai-lambaikan tangan di depan mata Ren. Ren mengerjapkan kedua matanya, seolah tersadar dari hipnotis kecantikan Lia.
"Ayo berangkat. Semoga jalanan tak macet," kata Ren salah tingkah. Lia menaikkan kedua alisnya mendapati pertanyaannya tak dijawab Ren.
"Baiklah. Aku anggap ini pantas," gumam Lia sambil berjalan mengikuti Ren.
Ren melajukan mobil sportnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Ren melirik ke arah Lia yang sedari meninggalkan apartemen hanya melihat keluar jendela.
"Ehem!" Ren berdehem membuat Lia menoleh ke arah Ren.
"Untuk tadi sore... maaf. Saya seharusnya tidak bertindak yang melanggar batas privasi," kata Ren sambil fokus menatap jalanan. Lia tersenyum.
"Tak masalah. Saya hanya terkejut, Tuan tiba-tiba menjawab panggilan telepon di ponsel saya," kata Lia sambil ikut menatap jalanan di depan mereka.
"Saya hanya... saya pikir, saya coba membantu Anda," kata Ren akhirnya.
"Membantu?" tanya Lia sambil mengerutkan kedua alisnya. Ren mengangguk.
"Anda terlihat terganggu dengan panggilan telepon itu. Jadi... saya rasa, saya dapat membantu menjauhkannya dari Anda. Maaf," jelas Ren. Lia menoleh menatap Ren.
Entah mengapa, malam ini, Lia merasa Ren tak sedingin biasanya. Lia tersenyum.
"Terimakasih sudah memikirkan saya," ucap Lia membuat Ren menoleh sesaat ke arahnya. Jantung Ren berdenyut aneh. Dengan cepat, Ren kembali fokus ke jalanan.
Hening kembali menyelimuti Lia dan Ren. Lia kembali menatap keluar jendela. Entah mengapa, beberapa hari terakhir —sejak dia menikah dengan Ren— hari-harinya selalu penuh kejutan dan terasa begitu melelahkan.
"Dia —pria yang di dalam lift tadi pagi— adalah kakak kelas saya dari SMP sampai kuliah. He was my first crush, my first love, and my first heartbreaker," kata Lia tanpa mengalihkan pandangannya dari menatap keluar jendela.
"Saya mengambil jurusan arsitektur interior karena saya ingin selalu melihatnya. Polos sekali saya waktu itu," lanjut Lia sambil tersenyum kecut.
"Hingga akhirnya, di hari ulangtahun saya yang kedua puluh, saya mendapat jawabannya. Dia mempunyai seorang kekasih yang saat itu tak pernah saya tahu dia punya! Saya pikir perasaan saya bersambut saat itu. Tapi, ternyata tidak. What a pity!" tutup Lia.
Ren menoleh ke arah Lia yang masih menatap keluar jendela dengan tatapan penuh luka dan sedikit kebencian disana. Ren kembali fokus ke arah jalanan tanpa mengucapkan apapun.
"Semalam saya terkejut tiba-tiba dia mengirim pesan pada saya setelah sekian lama. Dan pagi ini, saya mendapati dia adalah salah satu anggota dari tim tamu VVIP saya, Mr. Sebastian Hartmann, seorang interior designer tersohor di dunia," kata Lia.
"Saya pikir, saya tak akan bertemu dengannya lagi. Tapi... semesta sepertinya sedang ingin bercanda dengan saya," lanjut Lia sambil tersenyum kecut, memandang ke arah jalanan.
"Tapi, saya rasa saya beruntung bertemu dengannya di saat saya sudah mendapat status sebagai Nona Muda Damaris," kata Lia kemudian sambil tersenyum lebar ke arah Ren. Ren menatap Lia sesaat dengan tatapan bingung.
"Karena saya bisa buktikan padanya, kalau ada pria —yang lebih segala-galanya dari dirinya— yang mau memilih saya untuk menjadi isterinya, di antara lautan nona muda yang ada disana pada waktu itu," lanjut Lia, masih tersenyum lebar.
Ren sama sekali tak memahami wanita yang duduk di sampingnya itu. Di saat Ren terpuruk karena patah hati dua belas tahun lalu dan menutup hatinya untuk wanita, wanita di sampingnya ini justru ingin membuktikan pada pria yang telah menghancurkan hatinya bahwa dia masih hidup dengan baik dan jauh lebih baik tanpa pria itu.
'Ternyata dia... begitu kuat,'
***