Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Hutan di belakang desa bukan tempat untuk bersantai. Pohon-pohonnya tua, akarnya menjalar seperti ular raksasa yang siap membelit kaki siapa saja yang lengah. Kabut tipis menempel di kulit, membuat segala sesuatu terasa lembap dan licin.
Raka bergerak pelan. Napasnya diatur ritmis, hampir tak terdengar. Matanya menyapu setiap semak, setiap celah antara batang pohon. Dia tidak mencari musuh. Dia mencari akar Sengkuang Merah.
[!] Deteksi tanaman target: Jarak 15 meter.
[!] Peringatan: Area memiliki jejak aktivitas manusia baru.
Raka berhenti. Matanya menyipit. Di atas tanah berlumpur, ada bekas sepatu bot. Besar. Dalam. Bukan milik pemburu lokal yang biasanya memakai sandal jepit atau sepatu karet usang.
Ini milik orang kota. Atau lebih buruk lagi: anak buah Bima.
Raka menunduk, memeriksa arah jejak itu. Jejak itu mengarah ke utara, menuju gua kecil yang sering digunakan sebagai tempat persembunyian oleh pencuri kayu.
Dia punya dua pilihan: Mengabaikan dan mengambil akar dengan cepat, atau mengikuti jejak itu untuk memastikan tidak ada ancaman yang mengintai gubuknya.
Raka memilih opsi kedua. Informasi lebih berharga daripada akar obat.
Dia mengikuti jejak itu dengan hati-hati. Setiap langkahnya ditempatkan di atas batu atau akar kering untuk meminimalkan suara. Tubuhnya rendah, siap untuk menerjang atau menghindar.
Sepuluh menit kemudian, dia mendengar suara.
Suara tertawa. Kasar. Meremehkan.
Raka mengintip dari balik semak belukar. Di depan mulut gua, tiga pria berdiri. Mereka mengenakan baju hitam seragam. Di dada kiri, ada logo kecil berbentuk kepala harimau. Lambang keluarga Bima.
Salah satu dari mereka, pria berbadan besar dengan rambut gondrong, sedang menendang-nendang tumpukan kayu kering.
"Dasar tikus," geram pria itu. "Kabur ke gunung, pulang bawa muka tebal."
Temannya, seorang pria kurus dengan pisau di pinggang, menyeringai. "Bos bilang jangan dibunuh dulu. Mau dilihat dulu seberapa kuat dia sekarang. Kalau cuma jadi pemulung biasa, kita habisi aja malam ini."
Pria gondrong itu meludah ke tanah. "Membosankan. Aku harap dia melawan. Biar ada alasan buat patahin tulangnya satu-satu."
Raka menahan napas. Jantungnya berdetak kencang, tapi wajahnya datar. Dia tidak marah. Dia tidak takut. Dia hanya mencatat.
Tiga orang.
Bersenjata.
Niat membunuh.
Dia melihat sekeliling. Tidak ada akar Sengkuang Merah di dekat sana. Tapi dia sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan: konfirmasi bahwa Bima sudah mengirim tim pengintai.
Raka mundur perlahan. Selangkah demi selangkah. Hingga dia cukup jauh dari jangkauan pendengaran mereka. Baru kemudian dia berbalik dan lari kembali ke arah gubuk.
Saat Raka tiba di gubuk, matahari sudah mulai condong ke barat. Laras duduk di beranda, sedang menumbuk daun-daunan hijau di dalam lesung batu. Suaranya teratur. Dug. Dug. Dug.
Raka masuk tanpa bicara. Dia melemparkan tas kecil berisi beberapa akar yang berhasil dia ambil di tepi hutan ke meja. Lalu dia duduk di lantai, melepas sepatunya yang penuh lumpur.
Laras berhenti menumbuk. Dia menatap Raka. Menatap lumpur di kakinya. Menatap keringat di dahinya.
"Ketemu mereka?" tanya Laras. Datang. Tanpa basa-basi.
"Tiga orang," jawab Raka. Dia mengambil gelas air, meneguknya habis. "Anak buah Bima. Logo harimau."
Laras mendengus. Dia melanjutkan menumbuk daun. Dug. Dug.
"Berani banget masuk ke halaman belakang kita," katanya. Suaranya dingin. "Mereka kira kita masih sama seperti dulu?"
"Mereka kira kita lemah," kata Raka. Dia memijat betisnya yang kram. "Mereka salah."
Laras berhenti lagi. Kali ini, dia menatap Raka lebih lama. Matanya menelusuri wajah Raka yang lelah tapi waspada.
"Keras kepala sih iya," kata Laras akhirnya. Ada nada sinis tipis di suaranya. "Tapi setidaknya nggak mati di tengah hutan. Itu udah lumayan."
Dia bangkit, mengambil kain basah dari ember. Melemparkannya ke wajah Raka.
"Bersihkan. Bau lumpurmu mengganggu bau ramuanku."
Raka menangkap kain itu. Basah. Dingin. Dia mengusap wajahnya. Rasa segar menyebar di kulitnya yang panas.
"Terima kasih," gumam Raka.
Laras tidak menjawab. Dia hanya kembali menumbuk daun. Dug. Dug. Dug.
Raka bersandar ke dinding gubuk. Memejamkan mata. Otot-otot punggungnya yang tegang sejak pagi akhirnya melemas. Dia mendengarkan irama lesung batu itu. Irama yang monoton, tapi menenangkan.
Di luar, angin berhembus. Membawa suara daun kering yang bergesekan.
Mereka aman untuk saat ini.
Tapi Raka tahu, ketenangan ini hanya jeda napas sebelum pertarungan sebenarnya dimulai.
Dia membuka matanya. Menatap tangannya yang masih kotor sisa lumpur. Tangan yang tadi siang hampir memegang gagang pisau untuk membela diri.
Besok, dia harus berlatih lebih keras.
Teknik Bayangan belum bisa dia kuasai. Tapi insting survivalnya sudah tajam.
Dan itu, untuk sekarang, sudah cukup.
Bersambung.