Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
Long Wei duduk sendirian di dalam ruang pribadinya. Tangannya sibuk merapikan beberapa perkamen tua di atas meja, sebuah kebiasaan kecil yang kerap dia lakukan saat batinnya sedang didera kebisingan pikiran. Memang, saat ini pikirannya melambung tinggi, memikirkan beban internal faksi yang kini bertumpu di atas kedua belah pundaknya. Kepemimpinan Sekte Naga Hitam dipenuhi oleh intrik yang terbilang kelam, terutama cara pandang ayahnya yang kejam itu serta tidak pernah sejalan dengan cara berpikirnya.
Meskipun dunia luar melabeli dirinya sebagai bagian dari barisan orang-orang jahat, Long Wei merasa ayahnya telah melangkah terlalu jauh dalam menumpahkan darah. Cara ayahnya memimpin terlampau sadis, sebuah metode tirani yang tidak dia sukai. Pemuda itu merasa terperangkap di dalam jalur kegelapan ini, terikat oleh rantai takdir yang tidak memberikan celah pilihan lain bagi masa depannya. Dan karena itu pula, dirinya harus terus melangkah maju menjadi wujud pemimpin yang kuat, demi mengimbangi kegilaan sang ayah yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan faksi dari dalam.
Daun pintu ruangan besar itu perlahan terbuka tanpa menimbulkan banyak suara. Seorang pria dengan potongan rambut cepak serta selembar kain hitam yang membebat mata sebelah kirinya melangkah masuk ke dalam ruangan. Langkah kakinya terasa berat saat menapak lantai, namun pria itu memiliki kontrol energi murni yang sangat baik sehingga tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu.
"Yang Mulia," ucap pria berpedang raksasa itu dengan penuh rasa hormat.
Long Wei memalingkan wajahnya demi menatap orang kepercayaannya itu. "Bagaimana situasi di garis depan perbatasan, Xiao Zhi?"
"Ada laporan penting dari Selendang Ungu," lapor Xiao Zhi sembari memosisikan tubuhnya menunduk khidmat. "Anak buah pilihan yang dia utus berhasil menyusup ke desa perbatasan. Target awal kita sudah tercapai dengan sempurna."
Long Wei sedikit mengangkat alis mata sebelah kanannya, menunjukkan ketertarikan taktis. "Ada perlawanan dari Divisi Khusus Garuda Putih?"
"Mereka ada di sana, Yang Mulia," jawab Xiao Zhi dengan lugas. "Total ada tiga anggota divisi yang bersiaga di lokasi itu, termasuk murid baru yang belakangan ini sering dibicarakan, Zhao Fei."
Long Wei sampai membisu selama beberapa saat, mencerna susunan kekuatan musuh sebelum kembali melayangkan satu pertanyaan krusial. "Apa Liu Xue ada di sana?"
"Gadis itu tidak ada di lokasi," jawab Xiao Zhi.
Long Wei menyunggingkan senyuman kecut di sudut bibirnya yang dingin saat mendengar kenyataan itu. Kemudian bangkit berdiri dari kursi kayu besarnya, lalu melangkahkan kaki menuju sudut ruangan pribadi yang sepi. Dia menjulurkan tangan kanan untuk mengambil sebuah kotak kayu kecil yang tersimpan di atas rak penyimpanan pusaka. Penutup kotak itu dibuka dengan sangat perlahan, dan di dalam wadah kecil itu, terhampar sebutir bunga tiruan yang terbuat dari jalinan kain perca. Warna kainnya telah berubah menjadi biru pucat, dengan beberapa bagian tepi kelopak yang terlihat sudah lusuh dimakan usia. Dia memegang kuntum bunga kain itu dengan tingkat kehati-hatian yang teramat tinggi, memperlakukan benda mati itu laksana sebuah objek paling berharga yang ada di atas muka bumi.
"Kau boleh keluar dan kembali bersiaga di depan," perintah Long Wei tanpa mengalihkan pandangan matanya dari kuntum bunga kain.
Xiao Zhi membungkuk hormat sebelum berbalik untuk keluar.
Sementara Long Wei kembali duduk di atas kursi kebesarannya. Sepasang matanya memaku pandangan menatap sisa-sisa warna biru pucat dari kuntum bunga kain perca di genggamannya.
"Liu Xue..." ujar Long Wei dengan lirih. "Apa kau masih ingat bunga kain ini? Dulu kita membuatnya sama-sama waktu kecil. Tepat sebelum ayahku... datang memisahkan kita dan menyeret paksa diriku ke tempat terkutuk ini."
Pemuda agung itu mengembuskan napas panjang, meratapi busuknya takdir yang memisahkan mereka.
"Aku hanya ingin kau mengingatku lagi, sama seperti waktu dulu," lanjut Long Wei, tepat sebelum sepasang matanya mendadak berubah menjadi sangat tajam berkilat penuh ambisi maut.
"Aku bersumpah akan melakukan segala cara untuk merebut hatimu lagi, apa pun risiko dan konsekuensi yang harus kukorbankan nanti.”
Di tempat yang terpisah, kesadaran jiwa Zhao Fei perlahan kembali terbuka. Atau setidaknya, pikiran bawah sadar pemuda itu meyakini bahwa dirinya baru saja membuka sepasang kelopak matanya secara nyata.
Dia mendatangkan pandangan pada kondisi raga yang sedang berdiri sempurna di bagian tengah sebuah kawasan hutan yang asing. Kondisi alam di sekeliling tempat itu terlihat sangat ganjil, dipenuhi oleh barisan pohon-pohon tua yang gersang, sama sekali tidak memiliki selembar pun daun hijau di rantingnya. Gelombang kabut putih yang tebal pun menyelimuti seluruh area, membatasi jarak pandang indra penglihatannya.
Guna memastikan kondisi kesadarannya, tangan kanan Zhao Fei bergerak menampar permukaan pipinya sendiri dengan cukup kuat. Rasa sakit yang nyata itu seketika menjalar di area wajahnya. Ini jelas memiliki esensi yang berbeda dari sebuah mimpi biasa, namun tempat ini juga diakui memiliki hubungan dari kenyataan dunia luar.
Kondisi tubuhnya saat ini masih didera oleh efek sensasi terbakar dari arah dalam. Energi obat dewa dari satu botol penuh pil murni yang tertelan secara tidak sengaja masih belum mereda, bahkan intensitas panasnya terasa semakin menjadi-jadi mengoyak jaringan meridiannya.
Kekuatan fisiknya berada di titik terendah hingga membuatnya nyaris ambruk ke atas tanah, sampai sesuatu yang merah dan hangat tampak mengalir lambat dari sudut bibirnya yang pucat.
Zhao Fei mencoba untuk memfokuskan seluruh sisa kekuatan pikiran spiritualnya, dan mulai membayangkan wujud dari cincin kuno yang melingkar di jarinya, demi mencoba memicu jalur koneksi spasial menuju ke dalam gudang persembunyian rahasianya di Alam Dewa.
Namun, cincin kuno itu sama sekali tidak memberikan respons magis apa pun bagi jiwanya. Tidak ada hantaran gelombang hangat, tidak ada getaran energi pelindung. Objek logam di jarinya itu justru terasa dingin laksana sebongkah es batu.
Mengapa fenomena ganjil ini bisa bergulir? batin pemuda itu dengan rasa panik yang mulai merayap naik menembus dinding kesadarannya. Akses cincin dewa ini tidak pernah sekali pun menderita kegagalan fungsi di masa lalu. Dia kembali memaksakan fokus pikirannya untuk mengulang ritual pemanggilan spasial, namun hasil yang didapatkan tetaplah ketiadaan.
Sanpai pada waktunya di mana gema tawa itu bergaung dengan sangat nyaring. Suara ejekan itu datang dari segala penjuru koordinat secara bersamaan, bergaung dari arah depan, dari balik punggung, dari langit atas, hingga dari permukaan tanah bawah tempatnya memijak.
Suara tawa dari seorang wanita misterius.
"Kau tidak akan bisa melakukan apa pun di sini, anak muda," ucap gema suara misterius itu penuh superioritas. "Tempat ini adalah domain mimpi yang berada di bawah kendali penuh jiwaku. Di dimensi khusus ini, akulah penguasa tunggal atas takdirmu."
Zhao Fei segera mengedarkan pandangan matanya secara penuh tiga ratus enam tahu derajat, mencoba memetakan letak sumber suara itu berasal. Ketiadaan wujud fisik yang tertangkap oleh matanya. Gema untaian kalimat itu tertangkap dari seluruh arah mata angin secara simultan, memanipulasi indra pendengarannya.
"Siapa kau sebenarnya?" tuntut Zhao Fei dengan sisa kekuatan vokalnya.
Gema suara wanita misterius itu kembali meledak dalam rentetan tawa dingin yang mengejek.
"Hatimu sebenarnya sudah tahu siapa aku," balas suara itu penuh teka-teki maut. "Hanya saja, egomu yang besar menolak keras untuk mempercayai kenyataan ini."
Zhao Fei hanya bisa berdiri memaku di tengah kepungan gelombang kabut tebal yang terus bergerak merapat. Kondisi ketahanan raga barunya dirasa semakin melemah secara drastis dari menit ke menit, sejalan dengan peningkatan hawa panas yang membakar seluruh rongga dadanya akibat timbunan obat dewa.